
"Nggak usah banyak-banyak Kit, dua puluh biji aja cukup. Istri saya sudah senang tuh" kata Wadanyon.
Bang Rakit mengangguk kemudian membuka tutup botol air mineral tanggung lalu menenggaknya hingga hampir habis.
"Terima kasih banyak ya"
Bang Rakit hanya mengacungkan jempolnya tak bisa menjawab karena mulutnya terasa terbakar menggigit dua puluh biji cabe rawit utuh bersama sepiring tahu goreng karena kebaikan ibu Wadanyon.
"Terima kasih ya Om Rakit. Saya sudah lega" senyum Bu Wadanyon merasa puas melihat bibir Bang Rakit memerah.
"Siap Mbak." Bibir Bang Rakit sudah mampu di ajak kerjasama.
"Oya, tank nya sudah khan??" Besok semua alutsista dan pasukan kembali ke basecamp masing-masing lho"
"Siap.. sudah, terima kasih banyak Bang." Jawab Bang Rakit.
"Alhamdulillah.. semoga Fia lega ya"
Bang Rakit membuang nafas kasar. "Apanya, besok saya buat tembusan ke Matra laut karena Fia pengen naik kapal selam."
"Masya Allah.. istri Sholehah. Lanjutkan perjuanganmu. Begitulah rasanya jadi calon ayah. Kita juga berjuang demi anak istri"
"Siaap..!!"
Bang Rudra hanya bisa tertawa geli sambil menghabiskan tahu goreng yang ada. "Rasain lu, susah ya punya bini rewel" ledeknya.. pasalnya dulu dirinya tidak pernah merasakan ngidamnya Arina, kalaupun Arina mengidam itu juga ingin di usap perutnya.
"Heeh.. jangan sok tau ya Bang. Lihat saja kalau istri mu ngidam. Kau akan jungkir balik di buatnya" ucap geram Bang Rakit bagai sumpah serapah untuk Abangnya.
"Abang nggak minat" bisiknya kemudian kembali tertawa.
Lirikan Bang Rakit langsung menghujam mata Bang Rudra dan seketika Abangnya diam. "Kau itu benar-benar sok Bang. Jangan sampai kau sepertiku. Habis kau sembah sungkem kejang-kejang nggak bisa jauh dari istri"
Kini Wadanyon yang tertawa melihat ekspresi wajah Bang Rudra serta ancaman Bang Rakit yang terkesan tidak main-main. "Mudah-mudahan istrimu cepat hamil" do'a Wadanyon untuk Bang Rudra.
***
Subuh sudah terdengar, Bang Rakit terbangun saat mendengar suara langkah kaki yang sangat ia kenali.
"Sholat dek??" Sapa Bang Rakit.
"Iya" jawab Fia masih ketus.
"Ayo Abang temani. Abang belum sempat bersihkan kamar mandi.. takut terpeleset"
Fia diam saja tapi tidak menolak perlakuan Bang Rakit untuknya.
~
Benar saja, tanpa sengaja Fia nyaris terpeleset saat Fia melangkah keluar kamar mandi dan Bang Rakit sigap menyangganya.
__ADS_1
"Awwwhh" Fia masih sempat berpegangan pada lengan Bang Rakit.
"Astaga.. apa Abang bilang tadi, setiap saat Abang jantungan kalau kamu sendiri di rumah" kata Bang Rakit akhirnya mengangkat Fia masuk ke kamar tamu karena Bang Rudra tidak mau tidur di kamar dan ia pun menemaninya bersama putra kecilnya yang ikut tidur bersamanya.
"Pelan-pelan Bang, perut Fia masih ada nyerinya." Pinta Fia.
"Semalam nggak minum obat pereda nyeri ya?" Selidik Bang Rakit karena Fia mulai merintih sakit.
Fia mengangguk, meski dirinya sedang marah tapi ia pun juga masih punya rasa takut pada pria ber title suami di hadapannya
"Bandel kamu..!!!! Kalau sudah begini yang sakit bukan Abang tapi kamu sendiri" omel Bang Rakit kemudian mengunci pintu kamar.
Suara berisik itu membuat Bang Rudra terbangun. Sudah wajar suara seorang tentara memiliki type suara yang khas apalagi mereka sudah terbiasa menjadi pimpinan di lapangan.
Lama semakin lama Bang Rudra tak mendengar suara apapun lagi dari dalam kamar.
Pintu kamar Fia terbuka, terlihat Ariana mengucek matanya. Pakaian tidurnya terangkat membuat rasa kantuk Bang Rudra mendadak hilang, ia sampai melompat melihat perut Ariana yang putih mulus terpampang jelas di depan wajahnya.
"Deekk.. astagfirullah.." Bang Rudra melepas sarungnya lalu menutup perut Ariana. "Kalau di rumahmu sendiri terserah apa maumu. Ini di rumah Rakit.. yang sopan. Nggak baik bertingkah seperti itu...!!!!!!" Tegur keras Bang Rudra mengomeli istrinya.
"Iya Bang, maaf" jawab Ariana pelan.
"Jangan di ulang lagi atau Abang sobek pakaianmu sekalian..!!"
Ariana mengangguk cepat dengan wajah lugunya.
//
"Masih sakit sekali nggak? sudah Abang oles obat anti nyeri" tanya Bang Rakit sembari mengusap lembut pipi si cantik hingga sebatas dagu kemudian Bang Rakit mengecup basah bibirnya penuh kelembutan. Dengan cepat Bang Rakit membuka mukena Fia.
Sentuhan itu merambat berdesir memanaskan darah Fia hingga ke sendi.
Melihat pipi Fia memerah, Bang Rakit bergeser mendekati sang istri. Ia menarik tangan Fia agar menyentuhnya dan Fia memahami maksudnya lalu segera membalas keinginan Bang Rakit. Naluri Bang Rakit sudah meninggi, ia pun menyusuri lekuk tubuh yang membuatnya selalu rindu.
"Abang butuh energi biar semangat kerja. Masih sakit nggak?" Tanya Bang Rakit menatap kedua bola mata Fia penuh permohonan.
Fia pun membuang nafas pelan, ia pun tau apa yang akan terjadi jika keinginan suaminya tertolak. "Pelan-pelan. Bisa khan?"
"Bisa" bisiknya di samping telinga Fia kemudian mengangkat Fia ke atas ranjang.
Perlahan, sunyi, senyap Bang Rakit mengadakan patroli subuh sebab di luar pintu ada Abangnya sedang sholat bersama Ariana.
//
B******n, apa dia pikir telingaku tidak dengar.
Dalam hati Bang Rudra mengumpat karena sekilas mendengar suara rintih kecil suara wanita kemudian menghilang begitu saja. Konsentrasi nya membaca do'a sampai hilang karena mendengar suara gaib dari dalam kamar tamu Bang Rakit.
"Bang, ada suara kucing terjepit" kata Ariana menggoyang lengan Bang Rudra.
__ADS_1
"Cckk.. baca do'a dulu, kenapa malah mikir kucing" tegur Bang Rudra sebab do'anya terputus tiba-tiba.
Ariana pun menurut dan kembali membaca do'a.
Lamat telinga Bang Rudra mendengar Ariana membaca do'a selesai wudhu.
"Ya Allah dek, kamu baca do'a apa??" Tanya Bang Rudra.
"Do'a selesai sholat"
"Salah do'a itu. Kamu nggak pernah sholat ya??" Tegur Bang Rudra.
"Siapa yang mau ajari sholat" Ariana menunduk kemudian menangis.
"Sudah jangan nangis. Sini duduk di depan Abang. Abang ajari kamu bacaan sholat..!!" Bang Rudra menarik tangan Ariana agar duduk di hadapannya. "Dengar apa yang Abang baca dan hafalkan..!!"
...
"Segar sekali wajahmu usai ronda Kapten. Sudah tajam itu tombak sakti??" tegur Bang Rudra setengah meledek adiknya.
Bang Rakit hanya bisa nyengir kuda padahal ia sudah berusaha meminimalkan suara apapun itu.
Keduanya pun menyeruput teh hangat buatan Fia, saat itu Ariana datang dan meletakan capcay goreng di atas meja. Ia berdiri menghadap Bang Rudra.
"Arin mau hamil Bang..!!"
Sontak teh yang masih tertahan di mulut Bang Rakit dan Bang Rudra menyembur ke udara, sisanya pun tak sengaja saling menyembur.
"Ada apa sih? Ariana khan istri Bang Rudra" kata Fia yang membawa sepiring bakwan.
Bang Rudra tersedak sampai pipinya memerah.
Bang Rakit menyambar tissue makan di atas meja lalu mengusap bibirnya. "Malah di tantangin tuh Bang, kapan adiknya Patra mau di rilis?"
"Diam lu, malah panas-panasi suasana" Bang Rudra melirik adiknya dengan kesal karena saat ini dirinya salah tingkah karena Ariana diam di tempat menunggu jawaban.
"Kapan hamilnya Bang?" Tanya Ariana yang tidak sabar.
"Ya sabar, nggak bisa buru-buru" jawab Bang Rudra setenang mungkin. Hanya Bang Rakit saja tertawa sambil menyambar sepotong bakwan melihat Abangnya mendapat tagihan yang begitu berat.
"Sanggup nolak lu Bang?" Ledek Bang Rakit.
.
.
.
.
__ADS_1