
"Akuu??? Nggak aahh.. aku malas bertemu Bang Zeni." Tolak Fia saat Bang Cemar memintanya mengantar makanan ke asrama kompi yang saat ini masih di tempati Bang Zeni dan akan segera di tinggalkan.
"Masa aku???" Tanya Gina.
"Ya sudah.. ya sudaahh.. aku yang berangkat antar makan ke Bang Zeni. Kalau perlu laki-laki tak bisa senyum itu ku kasih racun tikus..!!" Ucapnya ketus.
"Yakin kamu berani???" Ledek Bang Cemar.
"Yaa.. sedikit" jawab Fia mengundang gelak tawa Bang Cemar dan Gina.
"Yo wes sana, cepat antarkan. Kasihan Zeni..!! Langit sudah gelap. Takut hujan lebat.. cepat kembali..!!" Pinta Bang Cemar.
//
Tak ada jawaban salam saat Fia masuk dalam rumah Bang bahkan suara hewan kecil pun tak terdengar. Fia menyalakan lampu rumah yang terlihat gelap dan sunyi. Saat cahaya menyinari seisi rumah, terlihat foto pernikahan berukuran besar terpampang di dinding rumah Bang Zeni. Dadanya bagai terhantam melihat foto wanita yang ada di foto tersebut.
Kakinya melangkah mendekati foto tersebut, di sentuhnya foto wajah dirinya. Tanpa di perintah, air matanya menetes. "Apa ini fotoku sama Bang Zeni?? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?? Apa yang salah dengan diriku???" Gumam Fia. Hatinya terguncang, ada rasa sakit tak terlukiskan. Kepalanya terasa berat dan untuk sejenak dirinya tidak bisa berpikir apapun lagi.
"Siapa?" Merasa ada yang masuk ke rumahnya, Bang Zeni pun bersuara.
Fia menghapus air matanya lalu membuka pintu kamar Bang Zeni.
Cukup kaget Bang Zeni melihat Fia berada di rumah. "Kamu disini dek?" Tanya Bang Zeni masih dengan keadaan lemas.
"Iya, bawakan Abang makan. Di suruh Bang Khobar" jawab Fia masih bernada ketus. "Itu di depan foto istri Abang?"
"Iya.. cantik sekali khan?"
Fia membuka rantang makan langsung di meja nakas kamar Bang Zeni. "Makan dulu Bang, Abang pasti belum makan"
Bang Zeni terus menatap gerak Fia. Sama seperti saat setiap hari istrinya itu menyiapkan makan untuknya. "Abang nggak mau makan kalau........."
Fia menyuap makanan itu langsung ke mulut Bang Zeni. Jauh dari rumah Bang Cemar, ia pun tidak lupa membawa sendok.
"Niat camping Neng?? Bawa sendok segala seperti Abang nggak punya sendok" ledek Bang Zeni mencairkan suasana canggung.
"Tinggal makan saja nggak usah banyak protes" jawab Fia.
__ADS_1
Bang Zeni mengunyah tiap suapan dari Fia sambil sesekali memantau informasi group yang ia abaikan sejak tadi. "Sudah dek, Abang sudah kenyang" tolak Bang Zeni kemudian menghabiskan segelas air putih di sampingnya.
"Fia bereskan kalau memang sudah kenyang" Fia beranjak dari duduknya tapi Bang Zeni menarik tangannya.
"Kenapa sikapmu berbeda??" Tanya Bang Zeni.
"Apa yang berbeda.. biasa saja" jawab Fia.
"Sejak tadi kamu tidak memandang wajah Abang. Apa ada yang aneh di wajah Abang?"
"Fia malas saja lihat wajah Abang"
"Malas atau takut rindu??" Bang Zeni mengarahkan wajah Fia agar menatapnya dan Fia enggan menatapnya. "Katakan kalau kamu memang nggak ingin dekat sama Abang..!!"
Fia tak menjawab, tapi ia pun tidak bisa lagi menolak saat mata Bang Zeni menatapnya dan menggenggam erat jemarinya, tau dirinya tidak melakukan perlawanan.. Bang Zeni menarik tangan Fia perlahan agar lebih dekat pada pria kekar hitam manis itu.
Terdengar samar suara petir dari kejauhan tanda hujan akan lebat turun menerpa bumi. Fia semakin gelisah, ia beranjak dari duduknya.
"Petir sudah terdengar. Kalau kamu pulang ke rumah Cemar pasti kehujanan." Kata Bang Zeni masih memegangi tangan Fia. "Kamu dengar itu, hujan mulai turun"
Masih terpaku pada posisinya, kilat menerangi bumi dan memberi tanda bahwa bumi akan basah.
Suara begitu keras memekakkan telinga.
"Abaaaanngg.." Fia terkejut sampai melompat menimpa Bang Zeni di atas ranjang. Lampu pun seketika padam.
Hawa dingin terasa hingga ke dalam kamar, angin kencang bersahutan mengamuk di luar sana. Tiba-tiba Fia merasa seolah pernah mengalami suasana tersebut dimana angin ribut dan hujan deras menemani dinginnya sore hari.
Suara HT memanggil, ponsel pun berdering. "Dari prenjak dua, pohon mulai bertumbangan. Ijin arahan Elang, Kasuari dan owl..!!"
"HT nya bunyi Bang. Minta arahan..!!" Kata Fia lirih namun terdengar bergetar.
"Biar saja kasuari yang menjawab. Elang juga minta arahan, ada Pipit kecil yang sangat menggangu" jawabnya kemudian Bang Zeni mematikan HT dan ponselnya.
Perlahan Bang Zeni beralih merebahkan tubuh Fia, ia pun bergeser ke atas tubuh Fia hingga tak sengaja bibir keduanya saling menyentuh.
"Bang.. Fiaaaa..!!"
__ADS_1
Bang Zeni tak membiarkan Fia mengatakan apapun. Ia mengecup bibir manis Fia. Tangan nakalnya mulai meraba ke satu arah, menyelipkan jemari nakal pada wadah penutup dua benda sama besar.
"Fia nggak mau Bang" ucapnya tapi berbeda dengan respon tubuhnya, menolak tapi mencengkeram kaos loreng itu seakan tidak ingin lelaki itu beralih.
"Nggak mau di lepas??" Tanya Bang Zeni dengan lincah melucuti pakaian Fia. Bibir dan lidah nakalnya bermain nakal disana. Tangan itu pun mengarahkan Fia untuk menyenangkan dirinya juga.
Semakin lama keduanya semakin terhanyut. Merasa tidak ada perlawanan dari Fia, Bang Zeni memberanikan diri beralih ke atas tubuh Fia. Dengan gerakan lembut, Bang Zeni memberi stimulasi pada bagian bawah Fia. "Kamu mau apa nggak sih dek? Ini minta atau nolak.?" Tanya Bang Zeni sudah frustasi pasalnya tangan Fia menolak dan mendorong tapi bawahnya tidak menolak Bang Zeni.
"Nggak mau" jawab Fia dengan nada manja yang selama ini membuat Bang Zeni begitu rindu.
"Oohh nggak mau, ya sudah kalau begitu begini saja..." Perlahan Bang Zeni pun menyamankan Fia.
~
Fia menggeliat menerima sentuhan lembut Bang Zeni dan setelah Bang Zeni yakin Fia sudah bisa di kendalikan.. ia pun kemudian menekan tubuhnya dengan kuat.
:
Tubuh Bang Zeni yang awalnya demam kini turun drastis seakan tidak pernah sakit sama sekali. "Eeegghhhh.." ia membuang nafas kelegaan setelah beberapa waktu harus merindukan Fia. "Alhamdulillah.." ucapnya mengakhiri.
"Sudah Baaang, Fia capek"
Bang Zeni pun tersenyum. "Iya.. iyaaa Bu Komandan" jawabnya pada Fia yang kemudian samar terlihat sudah tertidur. Jika biasanya laki-laki yang akan tertidur, kini terbalik Fia yang sudah melayang dan terlelap. "Dasar, tadi ngeyel nggak mau.. akhirnya keenakan tidur juga"
Bang Zeni pun menguap dan ikut mengantuk. Reaksi yang wajar bagi pria yang usai 'lepas dinas'. Tak lama ia pun ikut tertidur.
//
"Jaga saja di sekitar rumah Dankimu. Bu Fia sedang ada di rumah. Mungkin sedang istirahat sampai tidak monitor info, saya melapor di Batalyon dulu kalau pohon menimpa teras rumah Lettu Zeni." Arahan Bang Ervan yang sebenarnya paham kemungkinan yang terjadi di dalam sana.
"Siaaapp..!!" Jawab para anggota berjaga di depan teras rumah dinas Bang Zeni yang sebagian sudah tertimpa pohon kelapa.
.
.
.
__ADS_1
.