Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
84. Tegang.


__ADS_3

"Poott..!!!!!!!" Bang Cemar mengetuk pintu mobil Bang Rakit.


"Panggil dokter Mar, Fia nggak sadar juga..!!!!!!" Setengah mati Bang Rakit panik di buatnya. "Sayang.. bangun dek..!!!!!" Tak hentinya Bang Rakit menepuk pipi Fia.


"Iyaa" Bang Cemar segera berlari mencari petugas kesehatan agar Fia di tangani lebih dulu sebelum dokter datang ke rumah dinas Bang Rakit.


:


Tanpa melihat kondisi rumah dinas tersebut, Bang Rakit langsung merebahkan Fia di sofa. Sofa inventaris yang rata-rata selalu ada di rumah dinas 'komandan'.


"Yank.. bangun..!!" Ekspresi wajah Bang Rakit sudah tak karuan, tangannya gemetar sampai keringat dingin melihat Fia tak kunjung sadar. Tubuhnya sampai ikut lemas. Di hari pertama dirinya datang ke asrama Batalyon, terjadi kerusuhan yang membuat Fia tak sadarkan diri. Ia pun sampai belum sempat lapor datang pada wakil komandan batalyon.


"Apa Bu Rakit dalam bahaya??" Tanya Bang Cemar pada petugas kesehatan.


Belum sampai petugas kesehatan menjawabnya.. Bang Rakit sudah menarik kerah seragam Bang Cemar.


"Kau ini keterlaluan sekali pot, aku khan sudah ingatkan untuk tidak buat tradisi penyambutan seperti itu di hari aku datang. Fia takut dengan suara kencang." Tegur Bang Rakit kehilangan kesabaran.


"Ya khan aku lupa pot, kalau ingat mana mungkin aku buat seperti ini" jawab Bang Cemar semakin membuat emosi Bang Rakit merangkak naik.


"B*****t kau moncong lele. Bang Rakit sudah melayangkan bogem mentah ke arah wajah Bang Cemar yang terlihat santai dengan senyum tak takut mati, tapi tepat saat itu Fia tersadar.


"Bang Rakiiiitt..!!"


Cengkeraman tangan Bang Rakit seketika terlepas, fokusnya langsung beralih pada Fia. "Dalem ( iya ) sayang. Apa yang sakit? Kepalanya pusing??" Suara itu berubah sangat lembut selembut kapas.


"Fii.. bangun fiii.. Abang bisa di cincang suamimu nih" kata Bang Cemar ikut menyadarkan Fia.


"Diaam kau..!!!!!!!!!" Bentak Bang Rakit.


"Hhkkk.." seketika Fia bereaksi dengan suara Bang Rakit.


Gulungan ombak di lambung Bang Rakit pun seketika tak bisa di tahan. KasieIntel tersebut segera berlari keluar rumah sampai tak sadar menabrak Bang Cemar yang berdiri di belakangnya.


"Allahu Akbar.. Rakiiiiiiittt..!!" Bang Cemar sampai terjungkal karena tertabrak sahabatnya itu tapi ia segera bangkit dan menyusulnya.


~


"Aku nggak kuat Mar"


Bang Cemar sampai harus menopang tubuh Bang Rakit agar tidak ambruk akibat terus saja muntah.


"Kowe ngopo sih pot????" Bang Cemar ikut prihatin melihat kondisi Bang Rakit yang mendadak drop.


"Apa Fia sudah sadar??" Tanya Bang Rakit masih mencemaskan keadaan sang istri.

__ADS_1


"Sudah, ada ibu-ibu yang menemani. Fia juga mau nyemil tuh." Jawab Bang Cemar.


"Alhamdulillah..!!" Ucap syukur Bang Rakit meskipun dirinya masih lemas. "Kau masih ada urusan denganku ya..!!!!!" Nada Bang Rakit kembali meninggi, agaknya ia masih kesal karena dentuman tadi, Fia sampai tak sadarkan diri.


"Ya Salaam.. kau masih dendam pot, tau gitu ku jungkir kau masuk ke empang..!!" Jawab Bang Cemar seketika melepaskan topangannya untuk Bang Rakit.


Bruuugghh..


"Aaarrghh.. wedhus..!!" Seperti biasa mulut Bang Rakit tak pernah lupa mengumpati Bang Cemar.


"Hwuuuuu.. angkat badan saja nggak kuat, begitu masih mau menghajarku. Lemah lu..!!" Bang Cemar mengomel tapi tangannya tetap membantu Bang Rakit untuk berdiri.


...


Para anggota menyambut kehadiran Bang Rakit di rumah dinas yang baru. Fia sudah bisa menyambut para tamunya sedangkan Bang Rakit mendapatkan sokongan infus dari pihak kesehatan karena dehidrasi.


Tadinya memang petugas kesehatan datang untuk menolong Fia tapi siapa sangka ternyata KasieIntel lebih membutuhkan pertolongan.


"Semoga cepat pulih Pak Rakit" do'a para anggota untuk Bang Rakit.


"Iya.. Terima kasih"


"Mudah-mudahan Bu Rakit selalu sehat" kata Ibu-ibu disana.


"Aamiin.. terima kasih ya ibu-ibu" jawab Fia dengan segala kelembutan hatinya.


"Al Fatihah.." sambung Bang Cemar langsung mendapat lirikan tajam dari Bang Rakit.


...


Arsene senang sekali berada di lingkungan baru apalagi rumahnya berdekatan dengan rumah Uncle Camar. Persahabatannya dengan Petir Langit tak ubahnya seperti persahabatan Bang Cemar dan Bang Rakit.


"Om Camar, ayo main kelereng..!!" Ajak anak-anak yang tidak takut berinteraksi dengan komandan Kompi bantuan tersebut.


Bang Cemar yang memang senang dengan anak-anak pun menanggapi dengan senang hati ajakan bocah-bocah yang selalu membuatnya semangat. "Ini sudah mau malam, nanti Mama kalian mencari. Besok sore selepas Om Camar pulang dinas.. kita main lagi. Ini ada Arsene lho.. anaknya Om Rakit yang baru datang tadi" kata Bang Cemar mendekatkan putra sahabatnya pada teman-teman barunya agar Arsene tidak canggung masuk di wilayah yang baru.


"Hai Arsene..!!" Sapa anak-anak.


"Haii" jawab Arsene singkat sambil menatap satu persatu kawan barunya.


~


"Arsene mau pulang atau mau tidur di sini sama Petir?" Tanya Bang Cemar menawari putra sahabatnya itu.


"Aban Asen disini akel" jawab Arsene.

__ADS_1


"Okeeyy.. Bang Arsene disini dulu ya, nanti Uncle bilang sama Papa Mama..!!"


"Akel ajan Papa ya..!!"


"Laahh.. kenapa Uncle harus hajar Papa??" Tanya Bang Cemar kaget dengan permintaan pria kecil yang sedang minum susu coklat di sampingnya.


"Papa jahat sama Mama" bisik Arsene kecil.


Kening Bang Cemar berkerut berusaha menerka ucapan Arsene. Bang Cemar pun memangku Arsene dan mengarahkan mata pria kecil itu agar terfokus pada ucapannya.


"Papa Rakit kenapa sampai Uncle harus hajar Papa Kapen Sakitmu itu"


"Gini Akel.. 'Kamu nakan ya Ma. Sini Papa ajan..!!" Kata Arsene sendu dengan gaya bahasanya.


"Owalaaaaah.. iyaa.. benar tuh Bang. Papamu memang harus di hajar" kata Bang Cemar memanasi putra sahabatnya.


...


"Arsene.. kenapa sih le, dari tadi Abang marah sama Papa. Papa salah sama Abang ya??" Tanya Bang Rakit sambil menggendong putranya padahal jarum infus masih menancap di punggung tangannya tapi wajah Bang Rakit tampak berseri, rambutnya pun mengkilap dan tersisir rapi.


"Papa nggak sayang Mama..!!"


"Siapa yang bilang le?? Papa sayang kok sama Mama" jawab Bang Rakit bertanya-tanya mengapa tiba-tiba putranya sangat marah padanya.


Bang Rakit sempat melirik Bang Cemar yang tersenyum penuh kelicikan. "Sekarang kamu buat ulah apa?? Tadi Arsene baik-baik saja. Jangan meracun ya lu"


"Idiiiihh.. makanya jadi laki jangan jahat sama istri" ledek Bang Cemar.


"Aku jahat apa?? Jangan fitnah yang nggak-nggak pot..!!"


Tak lama Fia melintas masih menggulung rambutnya yang basah dengan handuk. Baby doll panjang menutupi tubuhnya karena ada sahabat suaminya bertandang ke rumah.


"Fiii.. lehermu kenapa??? Kok memar??" Tegur Bang Cemar sok perhatian dengan jahilnya.


Seketika Fia salah tingkah, Bang Rakit pun berusaha menutupi rasa canggung nya.


"Hmm.. itu Bang, anuuuu... Alergi tongkol" jawab Fia.


"Duuhh" lirih suara Bang Rakit sekilas memejamkan matanya dan mengusap wajah dengan gusar karena tingkah lugu Fia yang tidak bisa menutupi rasa gugupnya.


"Ooohh.. tongkoooll.. iyaa.. iyaaa.. Abang paham" Bang Cemar tertawa nakal melirik Bang Rakit. "Tongkol bejaad..!!!!" Imbuh Bang Cemar.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2