
"Asam lambung naik Pak, kata seorang petugas kesehatan di taman konservasi tersebut.
"Iya Pak, sejak kemarin memang istri saya sudah makan" jawab Bang Zeni.
"Ini ada obat sementara. Kalau masih belum sehat juga ya bapak harus periksakan istri ke rumah sakit"
"Baik Pak, terima kasih"
...
"Makan ya dek..!!"
Fia menggeleng tidak mau makan padahal wajahnya sudah sangat pucat.
"Kamu sudah pingsan karena nggak punya tenaga, apa mau seperti ini terus?"
"Perut Fia panas Bang, nggak enak makan. Fia hanya mau makan nasi sama sama kulit jeruk"
"Astagfirullah hal adzim dek.. kenapa harus makan yang seperti itu sih. Seperti Abang nggak sanggup kasih kamu makan aja" kata Bang Zeni dengan nada semakin meninggi. Sungguh ini adalah harga diri seorang laki-laki, juga jelas kencang terasa kecewa.
Fia kembali terdiam dan tidak menjawab. Geram Bang Zeni hampir menghantam kemudi saking gemasnya tapi Fia beringsut ke sisi pintu dan kembali mulai menangis.
"Lailaha Illallah.. Ya Tuhan, nyuwun paringi jembar sabar" Gumamnya kemudian menarik lengan Fia dan mendekapnya. Ia tak tau apa yang terjadi pada Fia tapi belakangan ia merasa sang istri begitu sensitif. "Makan di puncak ya, biar bisa lihat pemandangan hijau"
:
Sungguh dalam hati Bang Zeni ingin menangis dan berteriak tak karuan melihat Fia makan dengan sangat lahap. Bang Zeni sampai tak sanggup makan semangkok papeda di hadapannya.
"Fia sudah kenyang Bang, ada es cendol nggak?" Tanya nya.
"Ini belahan dunia mana dek? Mana ada es cendol" berhubung berkali-kali Fia sudah ngambek, sehalus mungkin Bang Zeni berbicara dengan Fia.
"Ya sudah kalau nggak ada" jawabnya meskipun dengan ekspresi kecewa.
Karena rasa tidak tega Bang Zeni, ia segera berjalan menuju ruang pemilik kedai.
:
Beberapa menit kemudian datang es cendol pesanan Fia. Ada senyum cantik melegakan hati Bang Zeni.
"Abang pesan cendol ini???"
"Iya, tadinya nggak ada tapi Abang minta mereka untuk buatkan" jawab Bang Zeni sambil menghembuskan asap rokok. Fia terlihat sangat senang. "Enak nggak?"
"Enak.. meskipun nggak seenak cendol di Jawa" jawab Fia kemudian menatap ke arah pemandangan puncak pegunungan.
__ADS_1
Pemandangan dari cafe lesehan di atas pegunungan memang begitu memanjakan mata.
"Ya maklum lah dek. Ini juga dadakan. Mudah-mudahan kamu senang."
Seketika Fia merangkak dan duduk di pangkuan Bang Zeni lalu memeluk suaminya itu. "Terima kasih Bang" kata Fia.
Bang Zeni cukup kaget. Dengan cepat Bang Zeni menurunkan tirai pembatas agar mereka berdua tidak terlihat dari segala arah. "Terima kasih saja?" Tanya Bang Zeni cukup tenang meskipun di dalam hatinya panas bergelora.
Sekarang Fia sudah lebih pintar dan mengerti maksud Bang Zeni. "Abang mau dimana?"
Bang Zeni tersenyum mendengar pertanyaan yang mengarah pada sebuah penawaran. "Menyesuaikan arahan ibu Danki"
:
"Kenapa kamu minta kesini?" Tanya Bang Zeni saat mengajak Fia pergi ke sebuah private karaoke yang Bang Zeni jelas tau fungsi terselubungnya.
"Supaya Abang tau, dulu inilah pekerjaan Fia dalam menyambung hidup.
Bang Zeni tersenyum kecut. "Berapa lama kamu menjalaninya?" Tanya Bang Zeni.
"Satu bulan sampai akhirnya Fia di pecat"
"Apa alasannya?"
"Karena Fia nggak mau di pegang" jawab Fia.
"Iya Bang, Fia ikut group band lokal dan berkaraoke di depan banyak orang" kata Fia.
"Itu namanya penyanyi cafe, bukan pemandu karaoke. Bagaimana sih kamu bicara. Salah keterangan bisa salah arti dek" tegur Bang Zeni. "Sudahlah dek. Jangan main kesini. Kalau kamu pengen nyanyi nanti Abang belikan sound sistem buat kamu nyanyi. Tapi jangan kesini ya. Perempuan baik-baik nggak pantas ada disini. Ini bukan tempat karaoke biasa"
"Khan ada Abang. Kalau Fia sendiri kesini baru bahaya" kata Fia setengah merengek.
Bang Zeni pun membuang nafas kasar, entah kenapa dirinya sangat lemah berhadapan dengan Fia.
"Satu kali ini saja Abang turuti nakalmu, lain kali jangan harap. Awas saja kamu kalau macam-macam di belakang Abang..!!" Ancam Bang Zeni.
"Fia janji Abaang..!! Ya ampun.. ini jadi nggak?"
Tanpa kata akhirnya Bang Zeni turun dari mobil dan berjalan memutar membukakan pintu untuk Fia.
...
Suara Fia memang mengalun merdu dan terdengar indah di telinga Bang Zeni. Rata-rata lagu pop negeri sendiri.
"Lagu koplo bisa nggak dek?" Tanya Bang Zeni.
__ADS_1
"Bisa, tapi Fia nggak tau artinya" jawab Fia.
"Ayo nyanyi sama Abang..!!" Ajak Bang Zeni.
"Abang bisa nyanyi juga?"
"Bisa kumur..!!" Jawabnya. "Yang penting bersuara lah"
"Oke Bang"
Bang Zeni memilih lagu dan memutar satu lagu tersebut.
"Jangan terlalu banyak minum dek, meskipun kadarnya rendah. Kasihan 'anakmu' itu" kata Bang Zeni mengingatkan Fia. Ia tau mengijinkan Fia berniat seperti itu adalah hal yang salah. Baginya biarlah semua itu menjadi urusan Yang Diatas, tapi selagi dirinya masih mampu menguasai diri dan menjaga Fia, ia melakukannya sekaligus menunjukan hal yang boleh dan tidak dilakukan tanpa dirinya. Jika benar-benar ada calon janin di rahim Fia tentu dirinya tidak akan berani mengajak Fia seperti ini dan pastinya ia akan merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.
~
"Sayangkuuu.. aku butuh konco turuuu" Fia menyanyikan lirik pertamanya. Nadanya sudah terdengar kacau karena terpengaruh minuman.
Bang Zeni yang mengajaknya tapi Bang Zeni juga yang tersipu malu.
#
"Telah lamaaa.. aku sendirian. Hidup sepiii tiada berteman.. rindu ini telah lama terpendam.. kapan bisaa untuk dapat meminang. Jangan bimbang dan jangan kau ragu.. cepat kita pergi ke penghuluuuu. Aku akan datang melamarmuuuu. Kita berduaaa jadi konco turuuu" Bang Zeni menyelesaikan bait terakhirnya.
"Waahh..suara Abang bagus juga."
"Iya donk.. siapa dulu yang nyanyi" jawab Bang Zeni menyombongkan diri kemudian mengecup kening Fia. "Kapan nih Abang bisa cek persneling?"
Fia tersenyum dengan pipi memerah, ia tau Bang Zeni sudah sangat tidak sabar karena rudal tempurnya sudah siap untuk berperang, apalagi saat Bang Zeni membuka kancing celana denimnya yang mungkin sudah terasa sesak lalu membebaskan senjata perangnya itu.
"Kunci rapat dulu pintunya donk sayang. Gendong Fia kesana..!!" Pinta Fia sambil menunjuk sofa bed di ruang karaoke. Kesadarannya sudah setengah tiang.
Dengan cepat Bang Zeni mengunci pintu lalu menggendong Fia dan merebahkan istrinya perlahan. "Abang pengen kita mampir ke hotel sebentar, tapi kamu malah sesat bawa Abang kesini."
"Fia mau di mana aja, asalkan di sayang Abang." Kata Fia dengan suara serak. "Abang ganteng banget sih" racaunya.
"Huusshh.. tumben kamu begini. Duuuhh.. sudah mabuk kamu ya???" Bang Zeni memeriksa kondisi Fia.
"Fia nggak mabuk.. Abang yang mabuk." Fia menarik kaos Bang Zeni. "Mana Bang"
Bang Zeni gemas tapi tidak bisa menolak tingkah Fia. "Apanya yang mana sayang??" Tanyanya tertular nakal.
.
.
__ADS_1
.
.