Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
92. Belajar ngasuh.


__ADS_3

Bang Rudra sungguh memanjakan Arin. Selain tentang kehamilannya, dalam hatinya telah timbul benih cinta yang tak bisa di tepisnya begitu saja.


Di pandangnya wajah Ariana yang tidak berbeda jauh dari Arina tapi kemudian ia menepis segala pemikirannya itu. Kini ia hanya ingin fokus pada satu titik hatinya saja.. yaitu cintanya untuk Arin.


"Nyenyak sekali, dan kalem kalau sudah tidur. Please jangan berulah dan ngidam macam-macam sayang. Rasanya Abang hampir gila menuruti ngidam mu" gumam nya sembari menyentuh pangkal hidung Arin hingga ke ujung.


...


"Ini Papa mu kemana ya le, sampai malam begini belum pulang juga" Bang Rakit mondar-mandir di ruangannya karena Bang Rudra tak kunjung menjemput putranya.


Saat ini Patra dan Arsene sedang tidur di ruangannya, yang ia takutkan hanyalah ketika tiba-tiba kedua bocah itu badmood saat terbangun dari tidurnya dan malah mendapati dirinya yang sedang menjaga mereka.


"Fia kenapa belum selesai kegiatan sih?? Stress sekali aku ini" gerutunya sambil bolak balik melihat jam tangan.


Tok.. tok tok..


Tak lama ada yang mengetuk pintu ruangannya. Senyum Bang Rakit merekah tapi siapa sangka malah wajah Bang Cemar yang datang dengan wig lurus sebatas bahu serta pakaian mini memakai high heels.


"Mau apa lu kesini, pakai dandan begitu lagi. Nggak jelas lu..!!" Kata Bang Rakit.


"Tadinya gue kira anak-anak masih bangun, gue mau bantu jaga mereka. Kayaknya mereka lebih butuh sosok Mama biar nggak syok lihat wajah serius mu" jawab Bang Cemar.


"Eehh ulat daun pisang, yang ada mereka semakin kejer lihat gaya lu seperti tante girang" Bukannya senang, Bang Rakit malah semakin kesal melihat ulah Bang Cemar.


"Ya sudah sih, berarti kita bahas pekerjaan saja. Malah bisa konsentrasi karena anak-anak tidur" saran Bang Cemar.


"Lu konsentrasi, lah aku????? Gedeg banget lihat dandanan mu" jawab Bang Rakit.


Bang Cemar semakin bersemangat menggoda Bang Rakit yang seakan geli melihat penampilan nya. Bang Cemar mendekati Bang Rakit lalu melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Bang Rakit. "Kapan Abang mau nikahi aku? Aku sudah terlanjur hamil anakmu Bang"

__ADS_1


Setengah mati Bang Rakit geli melihat tingkah polah Bang Cemar, namun kali ini dirinya tersenyum.. mungkin sudah saatnya dirinya rehat sejenak dari tumpukan pekerjaan yang sangat menguras pikiran dan tenaga. Sesekali ikut terlibat dengan tingkah Cemar juga tidak masalah. "Kamu mau kapan sayang?? Sekarang??? Demi anak Dajjal itu Abang siap mencari tukang las untuk menyambung cinta kita" jawab Bang Rakit.


"Iihh Abang, memangnya Cece besi tua, pakai di sambung segala" cerocos Bang Cemar yang memang memiliki suara khas jika sedang genit. Entah setan mana yang membuat Bang Rakit diam saja saat Bang Cemar bersikap manja dan memainkan telunjuknya di sekitar dada bidang Bang Rakit. "Sekarang saja kawinnya Bang, takutnya besok pagi Cece keguguran"


Tanpa di duga Fia dan Gina sudah ada di luar pintu, ia mengintip Bang Rakit sedang bermesraan dengan wanita lain. Hatinya hancur karena merasa di khianati.


"Sabar Fi, nanti bicara baik-baik sama Bang Rakit." Saran Gina.


Tak sabar dengan perasaan nya. Fia mendobrak pintu ruangan Bang Rakit dan saat itu Fia melihat Bang Rakit sedang merangkul mesra wanita jangkung di hadapannya.


"Astagfirullah dek, kenapa datang nggak bilang dulu??" Tanya Bang Rakit saking kagetnya.


"Buat apa?? Untuk melihat Abang bermesraan dengan perempuan lain?????" Bentak Fia.


Sontak Bang Rakit menjauhkan tangannya dari pinggang Bang Cemar dan parahnya, bukannya menunjukkan wajah aslinya dan memberi penjelasan.. Bang Cemar malah berjongkok dan menutup wajahnya, menangis semakin menjadi.


Kening Gina berkerut melihat pakaian yang di kenalnya, ingin memberi tau Fia namun sahabatnya itu sudah terlanjur maju untuk menyerang Bang Rakit. "Fii.. Fiaaa..!!" Namun semua percuma, Fia sudah sangat marah.


"Sayaang.. Abang nggak mungkin mengkhianati kamu. Tenang dulu dek..!!"


Melihat ada keributan, Patra dan Arsene ketakutan. Mereka menangis dan berpelukan erat.


Bang Cemar yang sudah menunggu sejak tadi pun segera menebar senyumnya dan menyapa anak-anak. "Haiiiii.. sudah bangun ya??"


Bukannya diam.. anak-anak yang melihat Bang Cemar malah semakin menangis. Mereka sampai berteriak histeris.


"Papa Akiiitt..!!!!" teriak Arsene mencari Bang Rakit.


"Papaaaaaa..!!!!!" Patra juga tak kalah keras mencari sang Papa.

__ADS_1


Tak lama Bang Rudra berlari ke ruangan Bang Rakit dan melihat ada seorang perempuan ( lain ) di dalam ruangan.


"Sayang.. dengar dulu Abang bicara..!!!! Lihat ini si Ce....... "


Tiba-tiba Fia meremas perutnya yang tiba-tiba terasa kram.


"Sayaaaang..!!!" Bang Rakit segera menopang tubuh Fia. "Kamu ini, kalau ada apa-apa itu harus di lihat dulu. Itu si Cemar..!!!" Tunjuk Bang Rakit pada Bang Cemar sembari menenangkan Fia.


Fia menoleh, tapi perutnya sudah terlanjur kesakitan. Bang Rakit setengah mati di buat panik melihat Fia.


"Ini ada apa Kit???" Bang Rudra segera menggendong Patra di lengan kanan dan Arsene di lengan kiri.


~


"Apa-apaan kamu ini. Kalau mau main sama bocah jangan pakai pakaian seperti ini..!!!! Yang tua saja panik sampai lemas, apalagi anak-anak. Bagaimana kamu ini????" Tegur Bang Rudra.


"Aku hanya meniru gaya mamanya saja. Kalau mereka lihat aku begini pasti suka" jawab Bang Cemar dengan pede nya dan menghapus lipstik di bibir.


"Suka matamu.. Fia nggak pernah pakai lipstik warna merah darah seperti drakula makan bayi" Bang Rakit ikut emosi dengan kelakuan Bang Cemar.


"Akel Camar cantik sekali" kata Arsene kecil.


"Itu.. kau dengar..!! Uncle Camar cantik sekali. Kalian saja yang berlebihan. Makanya, belajar momong anak dari ahlinya. Aku ini cepat, tepat dan terlatih, pantang kembalikan anak sebelum nangis..!!" Kata Bang Cemar merasa tersanjung dengan pujian Arsene padahal disana Fia masih lemas karena syok menyangka Bang Rakit selingkuh dengan wanita lain.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2