
Duuuuhh.. pakai acara mati lampu segala. Fia pasti takut nih" gerutu Bang Zeni.
Ada seseorang menepuk bahu Bang Zeni. "Bang..!!"
"Hwaaa.. Allahu Akbar..!!" Setengah mati Bang Zeni kaget melihat sosok berwajah putih susu di belakangnya. "Ya ampun dek.. kamu buat Abang jantungan. Ini Abang juga mau pulang"
"Abang lama, Fia takut ada ular" kata Fia di setengah perjalanan menuju kantor kompinya.
"Nggak ada. Ada yang lebih menakutkan" jawab Bang Zeni.
"Apa Bang?"
Bang Zeni mencolek dagu Fia. "Masa kamu nggak tau sih" Bang Zeni berucap nakal menggoda Fia. Ia melepas masker di wajah Fia. Tanpa perhitungan Bang Zeni langsung menarik Fia ke dalam pelukannya.
Gelap gulita dalam dinginnya malam. Bang Zeni mendekatkan wajahnya pada Fia dan sekilas mengecup bibirnya. Tak disangka Fia mengecup basah bibir Bang Zeni. "Tumben kamu mau balas Abang? Biasanya Abang harus bujuk dulu biar mau balas"
"Kangen aja" jawab Fia.
Kode aman dari Fia membuat aliran darah Bang Zeni merangkak naik ke atas ubun-ubun kepala. Tak peduli apapun lagi, ia menyambar bibir Fia dan ********** tanpa ampun.
blaaaapp..
Lampu menyala terang. Para anggota melongo tak sengaja melihat Dankinya sedang beradu mulut dengan sang istri. Secepatnya Fia mendorong dada Bang Zeni yang masih terhanyut dalam suasana syahdu mendayu.
Para anggota berbalik badan tidak ada yang berani mengomentari adegan berbahaya yang sedang di lakukan Dankinya.
"Eheem" Bang Zeni tersadar dan berdehem menyadari kesalahannya sekaligus menutupi rasa malunya. Dengan cepat ia mengusap bibirnya sedangkan Fia beralih ke belakang punggung suaminya itu. "Lampu sudah nyala. Kondisi aman, silakan kembali ke rumah masing-masing dan istirahat..!!"
"Siap Danki.. terima kasih..!!"
:
"Apanya yang gara-gara Abang. Mana Abang tau lampu jalan menyala tiba-tiba. Sudahlah.. anggota juga tidak akan berani meledek"
"Tapi khan malu Bang" kata Fia.
"Sini Abang tutup biar nggak malu..!!" Bang Zeni kembali menyambar bibir Fia yang terus berceloteh karena terlanjur malu.
Fia merasakan kelembutan seorang suami. Belaian, rasa sayang, perlakuan hangat memanjakan dirinya sungguh membuatnya terbuai.
Bang Zeni memberi jeda waktu pada Fia untuk bernafas. Kali ini dirinya memandangi wajah sang istri sebelum lampu temaram mengantar mereka malam yang penuh dengan kehangatan.
"Tidak ada wanita yang kucintai selain kamu Fia."
__ADS_1
"Bohong.. mulut buaya" jawab Fia.
"Abang tidak pernah bohong untuk mencintaimu."
Fia terdiam melihat wajah Bang Zeni.
"Kamu tau.. dunia ini hanya hiasan semata. Jika sebagai suami.. Abang tidak mengajarkanmu akhlak, ilmu, kebaikan, ibadahmu dan juga pernah menyakiti hatimu.. Abang mohon maaf. Kelak ada dunia yang lebih pantas mengajarkanmu. Abang minta.. jangan pernah menangis dan kamu harus kuat demi anak kita, jagalah adabnya dan ajarkan ilmu yang bermanfaat. Berikan nama Elgash Narotama sebagai tanda bahwa pria jauh dari akhlak baik ini telah menjadi seorang ayah"
Entah kenapa kali ini Fia begitu sedih mendengarnya. Mungkin hormon kehamilannya membuatnya sedikit melow.
"Sama seperti ucapmu Bang, Fia hanya mencintaimu saja"
Bang Zeni menutup bibir Fia dengan telunjuknya lalu mengecupnya. "Simpan di dasar hatimu yang terdalam. Abang sudah mendengarnya." Bang Zeni mendekap erat tubuh Fia, tanpa banyak kata lagi. Ia memberikan dirinya untuk membahagiakan Fia malam ini.
...
doooor...
Bang Zeni terhentak saat Fia sedang berada di puncak. Ia mempercepat laju kerjanya hingga Fia melepas cengkeraman nya.
"Suara apa itu Bang?" Tanya Fia dalam kondisi sudah lemas dan lelah.
"Anak-anak main petasan" jawab Bang Zeni. "Kamu lanjut tidur ya, Abang mau ke kompi dulu..!!" Ucap Bang Zeni kemudian memejamkan mata sesaat mengecup kening Fia begitu dalam. "Papa sayang kamu Ma. Sayaaang sekali" Bang Zeni pun beranjak tanpa menoleh lagi. Hanya titik air mata yang ia bawa bersamanya.
...
dooooorr..
"Siap Danki..!!"
Tak lama terdengar suara helikopter dan memberondong musuh dari udara. Bang Zeni pun waspada menembaki musuh membabi buta.
"Menyebar..!!!!" Perintah Bang Zeni.
"Awaaas di arah kirimu Zen..!!!" Teriakan Bang Rakit memberikan peringatan.
dooooorr..
Suara itu mengheningkan waktu untuk sesaat. Bang Rakit berlari memberondong musuh, bahkan sangkurnya mampu menggores leher lawan.
"Zenii..!!" Pekiknya penuh kecemasan kemudian menahan tubuh sahabatnya yang tumbang.
"Jangan teriak.. suaramu jelek" ucapnya.
__ADS_1
"Bagian kesehatan cepat kesini..!!!!" Teriak Bang Rakit pada team kesehatan lapangan. "Kenapa kamu nggak waspada?????" Bentak Bang Rakit melihat kondisi Bang Zeni.
"Aku menanggung nyawa seluruh anak buahku." Jawab Bang Zeni meremas dadanya yang sudah berlumuran darah.
"Kau ini memang selalu cari masalah denganku. Jangan banyak bicara.. aku akan menolong mu..!!!" Bang Rakit kelabakan ikut meremas dada Bang Zeni.
"Seperti kataku kemarin. Seumur hidup.. aku pantang menekuk lutut di hadapan mu Kapten Rakit. Aku juga tidak pernah memohon apapun padamu. Tapi kali ini aku mohon keikhlasan mu Kapten Rakit.. aku titipkan Fia dan anakku dalam perlindungan mu..!!" Ucap Bang Zeni terbata.
"B******n.. suami macam apa kamu ini Zen..!!"
"To_long antar jalanku Kapten. Negara ini di dalam jiwaku.. Fia akan selalu dalam hatiku..!!. Titip kata.. aku mencintainya."
Berat sekali rasa hati Bang Rakit. Ia menuntun kata pengantar pertemuan sahabatnya menghadap sang illahi.
Tak lama, terdengar nafas melemah perlahan. Jemari itu tak lagi meremas kuat hingga nafas benar-benar terputus dan tidak terdengar lagi.
"Zenn.. Zeniiiiii..!!!!" Bang Rakit mengguncang tubuh Bang Zeni.
"Ijin Kapten Rakit.. Danki telah gugur di medan juang..!!"
"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Zeniiiiiii.." Bang Rakit begitu histeris memeluk sahabatnya hingga akhirnya dirinya sendiri pun lemas tanpa daya.
:
"Saya tidak sanggup menghadapi reaksi Istri almarhum Kapten Zeni." Ucap Bang Rakit menatap kain loreng penutup jenazah sahabatnya.
"Kapten harus kuat. Kasihan ibu Fia." Pak Jefri mengusap punggung Bang Rakit.
Tangis Bang Rakit pecah. Ia memeluk jenazah Bang Zeni. "Bangun.. Bangun b*****t..!! Kenapa kau mengujiku seperti ini Zeennn..!!!!!!!" Teriaknya tak karuan.
Pak Jefri secepatnya memeluk Bang Rakit. "Sabar Kapten.. kendalikan diri. Kapten harus kuat.. ada janji yang harus Kapten tepati..!!"
"Saya tidak berjanji.."
"Tapi Almarhum Kapten Zeni memohon keikhlasan mu Kapten Rakit..!!" Ucap Pak Jefri yang ikut menangis memeluk Bang Rakit.
.
.
.
.
__ADS_1