Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
52. Aku disini.


__ADS_3

Plaaakk.. plaaaaakkk...


Bang Rakit benar-benar marah pada kedua ajudannya.


"Kalian lihat. Fia lecet semua. Bagaimana kerja kalian????" Omel Bang Rakit. "Sudah sepuluh menit masuk ruang tindakan, Fia belum sadar juga."


"Siap salah Kapten..!!"


"Rakiit.. saya rasa suaramu yang buat Fia malas bangun. Coba kamu tenang sedikit" kata dokter senior menegur Bang Rakit secara halus karena terus terang Bang Rakit memang sangat mengganggu. Para anggota kesehatan mulai waspada melihat kehadiran Kapten paling meresahkan sedunia.


"Siap Komandan" Bang Rakit mengurangi intonasi suaranya. Ia memilih mondar-mandir menghilangkan rasa gelisah dalam hati.


:


"Kenapa belum sadar??? Saya stress sekali mikirnya" kata Bang Rakit pada juniornya di bagian kesehatan.


"Ijin Bang, sebenarnya kami yang stress karena Abang ngomel terus" jawab juniornya.


"Kamu ini..!!!!!!"


Tak lama Fia bergerak dan mulai tersadar. "Aaahh.. sakit"


Tiba-tiba sikap Bang Rakit berubah menjadi cool dan memasang wajah tegas.


"A_bang..!!" Air mata Fia seketika meleleh, samar ia melihat Bang Zeni dalam pandangan matanya namun bayang itu hanya sekedar harapan dan sirna saat ternyata sosok yang di lihatnya adalah Bang Rakit. "Bang Rakiit??"


"Iya dek.. ini Abang"


Sekilas ada kemiripan yang Fia lihat dari paras wajah Bang Rakit. Baru kali ini juga Fia bisa menatap wajah itu sangat dekat. Jika Bang Zeni memiliki paras wajah tampan, Bang Rakit memiliki paras wajah tampan yang terselip semu manis, kulitnya pun sedikit lebih gelap.


"Apa ada badan yang sakit?" Tanya Bang Rakit dengan nada datar.


Fia seakan mengenali sorot mata itu, tapi entah dimana.


Pintu terbuka. Langkah kaki kecil berlarian masuk ke kamar rawat Fia. Bang Rakit menoleh, langkah itu pun terhenti.


Mata pria kecil itu tertegun tapi kemudian berlari cepat menghambur ke arah Bang Rakit.


"Pa_paa" ucapnya dengan sangat jelas.


Refleks Bang Rakit berlutut menyambut pria kecil yang memanggilnya Papa.


"Jagoan Papa sudah besar. Siapa namanya?"


"A_sen" jawab Arsene dengan logatnya yang belum sempurna.


"Siapa Papa terhebat???" Tanya Bang Rakit tegas.


"Mayon Je_ni"


"Siapa Papa yang paling ganteng??" Tanya Bang Rakit.


"Ka_pen Sakiiit..!!!" jawab Arsene penuh semangat.

__ADS_1


"Yowes ora opo-opo.. di maafkan. Kapten memang lagi Sakit. Sakit hati dikit asaaal.. bisa main sama boboho iniii..!!!" Bang Rakit menggelitik perut gendut Arsene membuat Fia melongo.


Mama membelai rambut Fia yang terlihat syok dengan kedekatan putranya dan si kecil Arsene.


Arsene tertawa terbahak bercanda bersama Bang Rakit. Fia tak tahan melihatnya, ia menangis memeluk Mama begitu pula Mama ikut terharu melihat kedekatan Bang Rakit dengan Arsene.


"Fia.. Papa paham perasaan mu, tapi Arsene juga butuh sosok Papa" kata Papa Galar.


"Maksud Papa bagaimana. Fia nggak ngerti"


"Menjagamu dan Arsene bukan hal yang mudah. Papa tidak akan selalu bisa menjagamu ndhuk. Menikahlah dengan Rakit..!!" Pinta Papa Galar.


"Fia tidak mencintai Abang. Lagi pula bagaimana dengan istri Bang Rakit?"


"Papa memintamu menikah dengan Rakit, berarti Rakit tidak terlibat hubungan dengan perempuan manapun. Rakit itu duda ndhuk" jawab Papa Galar.


Fia menunduk dan menangis. "Fia tidak mencintai Abang. Fia juga takut Bang Zeni marah karena cemburu Fia dekat dengan pria lain." Ucap Fia dengan lugunya.


Bang Rakit tetap bercanda dengan Arsene tapi telinganya tetap mendengar segala ucap Fia.


"Itu saja?" Tanya Papa Galar.


"Bang Zeni tidak pernah kasar dengan Fia. Abang sayang sekali dengan Fia" jawab Fia sesenggukan tak bisa menahan perasaannya.


"Paaa.. kenapa bahas itu?? Itu biar jadi urusanku" kata Bang Rakit.


Papa dan Mama tak sanggup menjawab apapun. Dengan membawa wajah mendung mereka berdua keluar dari ruangan.


Fia semakin menunduk dan menangis apalagi melihat wajah Bang Rakit yang jauh dari keramahan lingkungan.


Fia menghapus air matanya. "Bibirmu sudah sembuh dari sariawan Bang? Bukankah tanganmu juga di cakar kucing?" Fia rasanya gemas sekali melihat kekakuan pria di hadapannya. Pengalaman sudah mengajarkan banyak perubahan pada dirinya walaupun tiga persen saja.


"Uhuukk.." Bang Rakit tersedak ludahnya sendiri. "Kucing darimana? Abang nggak pelihara kucing" kata Bang Rakit menyembunyikan rasa malunya.


"Ma_ma jangan galak" Arsene terlihat tidak suka Fia berkata sengit pada 'Papanya'.


"Tuh dengar anaknya ngomong. Jangan galak sama Papa. Nggak baik Ma" ucap Bang Rakit semakin membuat kesal hati Fia.


Arsene mengangguk seakan paham ucapan Papanya.


"Ma.. ikut Papa yuk..!! Papa pindah tugas ke daerah M di ujung Timur Ma" dengan caranya yang lembut Bang Rakit menjelaskan kepindahannya ke daerah Timur.


"Bilang sama Papa. Berangkat sendiri..!!" Jawab Fia dengan ketus. Matanya pun masih memerah.


Bang Rakit menyimpan senyum karena Fia mau membahasakan putranya untuk memanggilnya 'Papa'.


"Mama nggak mau ikut Bang, kita jalan-jalan aja yuk..!!" Bang Rakit mengajak Arsene keluar kamar.


"Abang mau kemana???" Fia mulai cemas saat Bang Rakit membawa Arsene keluar dari kamar.


"Ha_lan Mama.." jawab Arsene.


...

__ADS_1


"Kalau nggak ada ikatan di antara kalian.. Papa tidak ijinkan kamu membawa Fia."


"Minggu depan aku berangkat. Ku pastikan dia ikut Pa"


"Percaya diri sekali." Ejek Papa Galar tidak percaya.


Bang Rakit sengaja memainkan alisnya naik turun dengan nakal. Ia paham betul Papanya adalah orang yang sangat militan dan taat.


"Jangan bikin aneh-aneh kamu Rakit..!!"


"Apa sih yang aneh. Masa Arsene punya adik aja aneh" jawab Bang Rakit.


"Ya Allah Rakiiiiiiittt.. Kenapa otakmu itu tanggap sekali kalau bagaian seperti ini????" Papa Galar sampai lemas dengan kelakuan putranya.


"Sudah terlalu lama puasa Pa. Mesin minta di panaskan..!!!"


"Astagfirullah Rakiit.. sholat le biar pikiranmu adem."


Mama hanya bisa mengelus dada mendengar dua pria tersebut.


"Abang Arsene masuk ke kamar Mama yuk. Kasihan Mama sendirian..!!" Ajak Bang Rakit dan Arsene mengangguk menurut pada Papanya. "Oiya, jagoan Papa sudah makan apa belum nih Oma??" Bang Rakit menanyai Mamanya.


"Belum.. Arsene belum makan" jawab Mama.


"Sekarang kita beli makan dulu untuk Abang ya, sekalian kita beli makan buat Mama..!!"


...


Setelah makan soto ayam Arsene pun tidur pulas di ranjang penunggu pasien. Hanya tinggal Fia dan Bang Rakit yang masih terjaga.


Bang Rakit tanpa sungkan malah memilih duduk di ranjang Fia.


"Daripada menangis saja lebih baik kamu cerita sama Abang..!!" Tegur Bang Rakit karena sampai malam Fia hanya menangis saja. "Makanan sampai dingin, anak nggak mau lihat, kalau ada yang mengganjal dalam hatimu katakan saja. Jangan di tahan..!!"


"Fia takut menjalani hubungan yang baru. Abang berbeda dengan Bang Zeni"


"Kita sudah sama-sama dewasa. Takut itu boleh, wajar kita waspada tapi jangan menjadikan semua itu menjadi duri dalam tubuhmu. Abang ya jelas berbeda dengan Zeni. Kamu juga tidak sama dengan Sindy. Abang ya Abang.. Kamu ya kamu.. tidak usah di sama-sama kan..!!!!" Nada Bang Rakit sedikit lebih keras. Ia ingin mental Fia lebih kuat sebab suka tidak suka, mau tidak mau, suka atau tidak suka.. dirinya akan membawa Fia kembali ke tempat di mana mental Fia akan di uji kembali.


"Fia belum dewasa.. lalu Abang mau apa???"


"Kamu jangan menguji kesabaran ya.. kamu mau Abang dewasakan disini???"


"Abang nggak mungkin berani. Ada Arsene disini..!!" Jawab Fia.


"Kamu nantang apa kangen Non????"


"Coba saja kalau nggak pengen bibir itu di gigit kucing lagi..!!!"


"Oooohhh..." Bang Rakit berdiri menarik gesper ikat pinggang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2