
"Fia takut nggak berani menghadapi Bu Najib"
"Tapi Abang sudah bilang sama kamu.. jangan pernah minta bantuan Cemar dan Fabian lagi..!! Kamu nggak percaya suamimu??????" Ucap Bang Zeni tak sengaja membentak.
"Ma_af Bang..!!"
"Sampai kapan kamu tidak percaya diri????? Ini demi kebaikanmu dek. Abang tidak mungkin selalu ada di samping mu meskipun Abang sangat menginginkannya." Kata Bang Zeni menatap mata Fia. "Abang ketakutan.. cemas jika umur Abang tidak panjang dan kamu masih seperti ini. Bagaimana kamu dan anakku nanti. Tolong sayang.. berusaha lah berani, bukan untuk Abang, tapi untuk dirimu sendiri."
Fia terisak ketakutan dan akhirnya Bang Zeni memeluk Fia dengan erat. "Demi apapun Abang sangat menyayangi mu. Ibarat daun jatuh menimpa rambutmu.. daunnya yang Abang salahkan" sungguh Bang Zeni tak bisa lagi bersikap kaku di hadapan Fia karena dirinya sangat mencintai Fia. "Biarkan Bu Najib dan Mayor Najib merenung atas kesalahannya. Tidak ada toleransi untuk pindah tugas mereka minggu depan"
Fia mengangguk cepat, ia pun menyadari hatinya yang masih sangat kecil dan belum kuat.
\=\=\=\=
Satu bulan kemudian.
Pagi ini Fia memakai pakaian kebesarannya. Hatinya gelisah jedag jedug menunggu hasil dari benda kecil di atas meja riasnya. Tak lama senyum itu merekah.
...
Danyon mengguyur tubuh Bang Zeni dengan air kembang. "Percuma saja jambulmu itu ngacung Dankii.. tersiram air juga roboh" ledek Danyon dengan senyum.
"Siap salah Komandan"
"Selamat atas kenaikan pangkatmu. Semoga kamu lebih amanah menjalankan setiap tugasmu..!!" Kata Danyon.
"Siap komandan.. terima kasih..!!" Jawab Bang Zeni.
Tak lama giliran Fia, ia tersenyum penuh arti.
"Cepat guyur dek.. Abang sudah kedinginan nih" punya Bang Zeni.
"Nanti Fia hangatkan Bang" bisik Fia.
"Nakal pula ini si Ling-Ling. Mau cari perkara rupanya" alis Bang Zeni naik turun dengan nakalnya.
Fia hanya tertawa saja. Bang Zeni semakin gemas melihat tingkah Fia. Ia pun menyergap Fia dan memeluk nya erat.
"Kenapa sejak tadi rasanya kamu nakal sekali."
"Awwwhh.. jangan erat-erat Bang. Kasihan dedek" pekik Fia.
"Dedek siapa??" Bang Zeni masih gemas memeluk Fia.
"Ini Bang, dedek di perut Fia" jawab Fia.
Refleks Bang Zeni melepas pelukannya. "Serius kamu dek?? Jangan bercanda ya. Nggak lucu..!!"
Fia mengambil benda kecil dari saku roknya. "Fia hamil Bang"
Bang Zeni masih terpaku namun sesaat kemudian matanya berkaca-kaca antara percaya dan tidak.
"Abang nggak suka?" Tanya Fia kehilangan senyumnya.
__ADS_1
Bang Zeni pun merosot dan bersujud. "Alhamdulillah.. terima kasih banyak atas rejekimu Ya Allah" Bang Zeni tak bisa menahan laju air mata yang meluncur deras. Ia pun bangkit menengadah menatap mata Fia yang seakan syok menatap tingkahnya. Bang Zeni mencium punggung tangan Fia. "Terima kasih banyak sayang..!!"
Mata Fia pun ikut berkaca-kaca melihat reaksi Bang Zeni. Suaminya itu kemudian menciumi perutnya.
"Assalamu'alaikum sayangnya Papa.. sehat-sehat kamu nak. Berjanjilah untuk selalu kuat di rahim Mama. Kamu jagoan kebanggaan Papa"
"Wa'alaikumsalam Pa. Iya.. dedek pasti sehat. Papa juga harus janji untuk selalu sehat sampai dedek lahir" jawab Fia.
"Papa janji nak..!!" Bang Zeni berdiri kemudian memeluk Fia dengan erat.
Para anggota melihat adegan tak terduga itu.
"Ijin Dan.. ibu hamil?" Tanya Om Wahyu.
"Alhamdulillah.. iya Yu" jawab Bang Zeni dengan rona wajah bahagia.
"Alhamdulillah.." rasa bersalah Om Wahyu sedikit berkurang, Fia hamil lagi saja sudah membuat kelegaan tersendiri untuk nya.
"Ada apa Wahyu??" Bang Ervan melihat rasa bahagia Bang Zeni disana.
"Ijin Danton.. ibu hamil lagi"
"Waaahh.. kabar bahagia juga. Alhamdulillah.. selamat ya Bang...!!" senyum Bang Ervan ikut bahagia disana.
"Terima kasih Van" jawab Bang Zeni mengurai senyumnya.
"Ijin Danki. Saya mau ke tempat istri saya dulu" pamit Om Wahyu.
"Siap laksanakan Komandan..!!"
...
"Fia ini bukannya lumpuh Bang, Fia bisa beraktivitas" protes Fia karena Bang Zeni sungguh memanjakan dirinya.
"Abang tau, memangnya kenapa kalau Abang ingin meratukan istri Abang?" Jawab Bang Zeni sambil memijat kaki Fia.
"Fia malu Bang, banyak Om-om disini..!!"
"Laahh.. di manjain suami kok malu. Kalau Ervan yang begini.. baru kamu malu." Cerocos Bang Zeni.
"Siap salah..!!" Sambar Bang Ervan mendengar namanya di sebut Danki yang terkenal garang itu.
Beberapa saat kemudian ada empat buah mobil masuk ke lahan kompi. Tak hanya Danyon saja yang kaget, seluruh anggota pun kaget tak terkecuali Bang Zeni dan Bang Ervan sendiri.
"Selamat pagi semuanya..!!" Sapa seorang pria yang ternyata adalah seorang panglima.
"Selamat pagi Panglima" Bang Zeni pun memberikan penghormatan kepada Panglima.
"Kapten nggak tau aturan.. sok pintar.. sok jagoan. Ada masalah di pendam sendiri..!!!!!"
Plaaaaakkk..
Panglima menampar pipi Bang Zeni kemudian memeluknya. "Apa istrimu baik-baik saja sekarang"
__ADS_1
"Iya Pa."
Mama langsung menghambur memeluk menantunya. "Sayang.. maaf Mama baru bisa datang sekarang. Bagaimana kabarmu nak??" Sapa Mama.
"Fi_a baik Ma" jawab Fia.
"Fia hamil lagi Ma" kata Bang Zeni.
Langkah panglima terhenti. Bu Panglima pun tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
"Heeeehh.. serius kamu Zen??" Tanya Panglima menegaskan.
"Serius Pa"
"Aduuh Zeni.. itu bahaya le..!!" Mama sampai menangis. Bukannya tidak senang dengan berita kehamilan menantunya tapi memang Mama syok mendengarnya, ia tau Fia pasti belum pulih.
"Gila kamu Zen, main hantam aja kamu..!!" Bisik Panglima menggerutu sampai keringat dingin mendengarnya. Ia mencari-cari sesuatu di saku celananya.
"Ijin Panglima, ada yang bisa di bantu?" Tanya seorang kepercayaan Panglima yang juga litting Bang Zeni.
"Sapu tangan saya mana?"
"Siap.. saya ambilkan Panglima..!!"
"Nggak usah Kit. Itu di meja ada tissue" Panglima mengambil beberapa tissue kemudian mengusapnya di kening.
Bang Zeni tersenyum seakan meledek littingnya yang terlihat sangat gagah saat mengawal orang tuanya.
"Gagah sekali Kapten Rakit. Sudah nggak ikut tradisi kenaikan pangkat.. jalan-jalan pula. Kamu harus di jungkir dulu Kapten" ledek Bang Zeni.
"Siap.." jawab Bang Rakit biasa saja.
"Sudahlah.. kalian berdua ngobrol saja. Saya mau menjenguk menantu. Bukan jenguk si Zeni ini" kata Dan Galar.
"Siap.. Terima kasih" jawab kedua Kapten baru.
"Apa kau.. daritadi meledek ku. Kangen?????" Tanya Bang Rakit sudah berubah mode.
"Iya donk.. gelud yuk..!!" Ajak Bang Zeni.
Bang Rakit melepas seragam luarnya kemudian menyampirkannya di sandaran kursi. Ia pun langsung melayangkan tendangan, begitu pula Bang Zeni yang cekatan menangkis tiap serangan Bang Rakit.
"B******n, brutal sekali kuda-kudamu..!!" Tegur Bang Zeni.
"Tangkis saja sob..!!" Jawab Bang Rakit kemudian kembali melayangkan tendangan.
.
.
.
.
__ADS_1