Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 31. Ikhlas melepasmu.


__ADS_3

"Nggak Pa.. Papa bohong khan??" Mama Fia syok mendengar menantunya telah gugur dalam medan tugas.


Flashback kehilangan Papa Zeni kembali membayang pilu dalam batin Mama Fia. Ia pernah merasakan kepahitan itu dan kini sang putri harus merasakan hal yang sama dengan dirinya.


"Ini kehendak Allah Ma, mama jangan selemah ini, kasihan Lintar..!!"


-_-_-_-


Awan mendung menyelimuti Batalyon. Lintar melangkahkan kaki. Bendera setengah tiang sudah di kibarkan di Batalyon. Ingin menangis tapi hanya ratapan tanpa suara melingkupi hati Lintar.


Tak lama ambulans batalyon datang bersama beberapa orang anggota disana. Air matanya mulai meleleh, ia menahan tangisnya hingga dadanya terasa sesak.


Mama Fia menghambur memeluk putri kecilnya. "Menangis lah sayang..!!"


"Lintar nggak mau Abang pergi Ma." Isak lirih Lintar.


"Mama tau sayang. Mama paham perasaanmu" kata Mama berusaha menenangkan.


Lintar melihat Bang Arsene menghampiri nya. Dirinya memang lumayan dekat dengan Abang pertamanya itu.


"Bang.. Lintar nggak kuat" Ucapnya terdengar sesak.


"Iya ndhuk" Bang Arsene mengusap punggung Lintar dan menyandarkan pada perut datarnya.


Tak lama seorang pria menghampiri. Kapten Panca, litting Bang Arsene menghampiri. "Jenazah mau di turunkan..!!"


"Kamu handle ya, adik ku nggak bisa di tinggal"


"Siap Pot" jawab Bang Panca.


:


Lintar tak sanggup memberikan penghormatan pada jenazah sang suami untuk terakhir kalinya. Ia hanya memeluknya dalam tangis pilu. Tangannya mengepal meremas bendera penutup peti jenazah dengan kuat.


"Terima kasih banyak Bang, Abang sudah menjadi suami yang sangat baik dan bertanggung jawab. Lintar pasti baik-baik menjaga buah hati kita. Lintar akan menjaganya dan mendidiknya seperti yang Abang inginkan. Lintar bangga sama Abang" ucap Lintar. "Abang sudah memenangkannya. Lintar akan penuhi permintaan Abang. Keluar dari kedinasan"


Cukup kaget semua yang mendengarnya, namun mereka belum bisa berkomentar apapun sebab Lintar masih berada dalam fase terendahnya.


Bang Gesang Wira yang baru saja tenang segera memberikan penghormatan terakhirnya. "Selamat jalan.. Mayor anumerta Jenar Sentanu Rawisrengga. Anda adalah prajurit terbaik kami"

__ADS_1


"Allahu Akbar.." Kapten Panca menopang tubuh Lintar yang tiba-tiba tak sadarkan diri kemudian membawanya ke ambulans.


Bang Gesang hanya bisa meliriknya cemas. Bukan karena cinta yang tersisa untuk istri almarhum Jenar, namun batinnya seketika koyak mengingat Nasha tidak sehat dalam menjalani kehamilan ke tiga nya.


'Jika terjadi sesuatu padaku. Tak sanggup aku membayangkan bagaimana kesedihan istriku Nasha. Mudah-mudahan Allah menjagaku, menjagamu, menjaga anak kita. Aku pun tak sanggup merasakan kehilangan terutama kalian.'


...


Papa Rakit memeluk Mama Fia yang juga lemas, di saat semuanya tengah sibuk dengan banyak hal. Matanya menatap sosok Kapten Panca yang dengan telaten nya mengurus Lintar.


"Hati-hati..!!!" Perintah tegas Kapten Panca melihat petugas kesehatan memasang jarum infus di punggung tangan Lintar. "Pelaaann..!!!!!" Katanya kembali mengingatkan.


"Ada apa Bang?" Tegur Bang Panji.


Bang Panca tak menjawabnya. Wajahnya terlihat datar saja.


"Pelan sedikit..!!" Perintah Kapten Panji yang paham kecemasan Bang Panca. "Bang, Mohon ijin kesediaan nya untuk menghandle pemakaman adik ipar saya. Abang bisa meninggalkan Lintar. Biar saya yang jaga..!!"


Bang Panca mengambil ponsel di sakunya dan benar saja, ponsel itu mati. "Baiklah.. akan saya lakukan semampu saya. Saya tinggal dulu."


"Siap.. Terima kasih juga sudah menjaga Lintar"


Bang Panca tersenyum kemudian meninggalkan Bang Panji.


...


"Aku yang salah ma, aku terlalu berani mengirim Jenar. Aku sudah kehilangan dia. Keponakanku bagaimana Maaa" tangis sesal Bang Arko.


"Iya Pa, Mama ngerti perasaan Papa."


"Kenapa nggak aku saja yang mati. Aku sudah tua Ma" gumamnya.


Batalyon sungguh berduka. Lintar sudah lebih baik, ia pun ikut dalam pemakaman almarhum Bang Jenar.


"Tidak ada yang salah Bang, ini resiko memiliki seorang abdi negara dalam hidup kita. Lintar tau rasanya begitu berat.. tapi kita sudah tau bahwa nyawa kita juga untuk negara."


...


"Pa, Papa tampan sekali sebelum berangkat. Hari ini.. Hari dimana Mama melihat Papa paling tampan dan sangat tampan. Pa.. Papa harus dengar, Mama jatuh cinta sama Papa. Maaf Mama terlambat mengatakannya, Papa yang tenang di sana ya. Mama sama adek sangat sehat dan baik-baik saja. Ini mama bawakan Papa anggur. Kemarin Papa mau anggur ini khan? Mulai sekarang.. Mama nggak akan pelit lagi." Lintar mengecup nama indah Bang Jenar. Ia segera mengusap air matanya lalu berdiri perlahan.

__ADS_1


Bang Arsene dan Bang Panji memeluk adik perempuan itu.


"Kuat dek, kamu pasti kuat..!! Ada Abang" kata Bang Arsene.


"Bang Panji akan selalu ada buat kamu" imbuh Bang Panji.


"Abaaang..!! Lintar nggak mau nangis. Please Bang. Bang Jenar hanya tidur, Bang Jenar nggak kemana-mana..!!"


"Surga terindah dalam pembaringan suamimu. Beliau tidak mati. Beliau hidup untuk kita. Masih ada dalam rahim mu" Bang Panji memeluk erat tubuh Lintar.


"Lintar mencintainya Bang..!!"


"Abang paham dek. Sehat-sehat lah kamu. Masih ada Ayah dan Daddy nya"


Bang Arsene yang lebih kalem seketika ikut memeluk kedua adiknya.


"Kamu tenang ya dek. Ayahnya tidak akan meninggalkan dia" imbuh Bang Arsene.


Papa Rakit tersenyum bangga melihat putra putrinya yang saling mendukung. "Kamu yang tenang ma. Badai pasti berlalu. Lintar pasti kuat seperti mu"


"Tapi dulu ada Papa yang selalu menjaga Mama dari kejauhan."


Mata Papa Rakit tak lepas dari satu sosok yang jauh disana memayungi Lintar tanpa lelah. "Bagaimana pun caranya.. Jodoh tak pernah salah Ma."


Mama Fia mengikuti arah mata Papa Rakit penuh tanda tanya.


.


.


.


.


END


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2