
Tendangan dan hantaman melayang ke wajah Bang Rudra. Fia sampai ketakutan dan melapor POM Batalyon serta POM setempat.
"Apa yang kau incar????"
Rampok itu tidak menjawab sampai beberapa mobil datang di depan rumah Kapten Rakit.
"Kamu ada urusan apa?" Bentak Bang Rakit.
Situasi semakin tidak kondusif. Sedikit perlawanan di lancarkan. Bang Rakit menghajarnya membabi buta tapi tetap rampok tersebut kalah telak melawan Bang Rakit.
POM Batalyon dan POM setempat mendobrak dan mengamankan situasi.
"Angkat tangan..!!!"
"Stoopp.. sudah jangan main perang-perangan..!!" Bentak Bang Rudra kemudian membuka maskernya.
"Ini Abang. Please.. biarin Abang nyolong..!!!!!!" Kata Bang Rudra menahan malu setengah mati.
"Abaaaanngg?????? Mau apa Abang di rumahku jam segini????????" Bang Rakit terlihat jengah melihat Abangnya membawa tomat dan cabai di sakunya.
"Arin minta aku nyolong tomat sama cabai di rumahmu..!!"
"Haaahh.. serius??? Kenapa dia???" Bang Rakit sampai melotot mendengarnya.
"Nggak tau, hamil kali. Tertular ilmu nya Fia tuh. Kalau nggak rusuh.. nggak berhenti berulah." Jawab Bang Rudra.
"Owalaah Baang.. Ya sudah lah, ambil saja apa yang mau di ambil di rumahku. Jangan sampai anakmu ngileran Bang" kata Bang Rakit.
...
Arin senang sekali melihat cabai dan tomat yang ada di tangan Bang Rudra. "Yeeeaayy.. tomatnya merah sekali Bang, Arin suka"
"Nanti siang kita ke rumah sakit ya, jangan-jangan kamu memang sudah isi" kata Bang Rudra.
"Isi apa Bang?"
"Is rebung... Ya isi anak lah, siapa tau ada adiknya Patra di perutmu."
-_-_-_-
"Aaaaahh.." Arin sangat tegang dan menjerit saat alat USG 4D menyentuh tubuhnya.
__ADS_1
"Kalem Bang..!!" Pinta Bang Rudra sedikit tidak nyaman saat Dokter Ari memeriksa Arin.
"Ini sesuai prosedur Dra" jawab Dokter Ari.
Bang Rudra menggenggam tangan Arin dan sesekali mengusap pipi Arin dengan lembut.
"Waaahh.. kelihatan kecil sekali nih Dra. Calon bayinya Kapten Rudra Pasha" kata dokter Ari.
"Alhamdulillah.." Bang Rudra mengusap wajahnya. Bagaimana pun juga ada rasa haru dalam hatinya karena sang istri tengah mengandung. Perasaannya luluh lantah, seketika cinta itu merekah begitu saja. Bang Rudra mengecup kening Arin. "Abang titip dia, tolong jaga dia, Abang sayang anak kita"
Arin mengangguk, hatinya pun ikut luluh tapi juga sedih.
...
Sepanjang perjalanan pulang Arin hanya diam, wajahnya pun sendu.
"Ada apa istri Abang? Sariawan??? Biasanya sudah komentar ini dan itu sepanjang jalan" tegur Bang Rudra.
"Arin sedih" Jawab Arin jujur.
"Sedih kenapa?"
"Abang hanya sayang sama si dedek" kata Arin.
"Tadi Abang bilang.. 'Abang sayang anak kita', Abang nggak bilang sayang sama Arin" protes Arin.
"Owalaah.. masalah begini aja bisa jadi perang dunia."
"Masalah begini aja Abang bilang?? Arin sedih Abang hanya sayang sama si dedek"
Bang Rudra menarik nafas panjang. Ia tersenyum melihat tingkah sang istri yang sedang merajuk manja. Kini hidupnya lebih terasa penuh makna. Arin sangat jauh berbeda dari Arina dulu yang tidak memiliki sifat yang Arin punya. "Mamanya minta apa sih?? Mau di sayang juga sama Papa Rudra?" Tanya Bang Rudra lembut dari biasanya.
Arin mengangguk menggelitik batin Bang Rudra.
Bang Rudra menarik Arin ke dalam pelukannya. "Abang tau pernikahan kita ini serba membingungkan, serba salah tapi kini Abang sadari.. Abang tidak bingung lagi. Mencintaimu tidak pernah salah" ucap Bang Rudra bagai menjilat ludahnya sendiri.
"Ngamar yuk..!!" Bisik Bang Rudra sembari celingukan melihat hotel yang ada di hadapannya.
"Nggak mau, Patra pasti lapar Bang. Ini jam nya Patra makan"
"Sekali-kali pikirkan Papanya Patra juga donk..!! Patra aman sama Fia." Bujuk Bang Rudra karena tau bagaimana posesif nya istri Rakit jika menyangkut kesehatan anak-anak. "Ayo yank.. jangan pikir perut anak-anak aja. Ini di bawah perut juga ada yang harus di urus"
__ADS_1
Arin masih terdiam. Pikirannya masih saja mencemaskan Patra.
"Deekk.. sayaaaang..!!" Baru kali ini Bang Rudra bersikap merayu manja.
//
"Astagfirullah.. mainnya jangan disini le. Papa kerja nih" Bang Rakit sampai pusing sendiri melihat dua bocil merusuh di ruang kerjanya padahal tugas kantornya sudah menumpuk.
Patra dan Arsene bermain tendang-tendangan hingga sepatunya melayang di wajah Bang Rakit kemudian melompat menabrak cangkir kopi di hadapannya dan tumpah membasahi kertas tugas yang sudah Bang Rakit kerjakan semalaman. "Ya Allah Tuhan.." Bang Rakit mengibaskan kertas itu. Tidak ada rasa marah pada kedua bocah cilik nakal kesayangannya itu tapi wajah garang Bang Rakit tanpa ekspresi seketika membuat Arsene dan Patra menangis.
"Papa Akit jahat"
"Iya.. ayo lapor Mama Pia..!!" Ajak Patra.
"Heeeehh.. jangan.. nanti Mamamu marah sama Papa"
~
"Papa jahaaat" jawab Arsene.
"Jahat Apa??" Fia yang sudah bisa menebak akar persoalannya segera menenangkan Arsene dan Patra.
"Nggak dek, Abang nggak bilang apa-apa"
"Papa Akit begini" Patra menirukan ekspresi wajah serius Bang Rakit yang sedang sibuk-sibuknya bekerja.
"Makanya Bang, senyum sedikit lah. Punya wajah kok seperti orang mau culik bocah"
"Wes setelan pabrik iki dek. Piye sih..!!" Protes Bang Rakit.
"Hayo senyum.. nanti mereka nangis lagi"
Bang Rakit berusaha tersenyum tapi malah kedua bocah semakin menangis.
"Duuuhh.. beli es krim Bang...!!" Kata Fia sampai ikut kesal.
.
.
.
__ADS_1
.