
Fia masih menoleh melihat tumpukan mangga dan terong di kebun.
"Ayo dek, kamu mau Abang antar pulang atau ikut Abang ke rumah sakit. Kasihan nih Fabian" kata Bang Zeni.
"Fia ikut Abang" jawabnya sambil mengikuti langkah Bang Zeni.
"Aku nyusul pakai motor saja. Jangan bawa Gina, takut dia syok"
"Ya sudah ayo cepat..!!"
:
Setelah menyusul Nelis di rumah, mereka segera berangkat menuju rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari asrama.
Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit.
"Nelis nggak mau sakit Bang..!!" Pekik Nelis marah mencubiti Bang Fabian.
"Terus bagaimana sayang?? Memang begini prosesnya"
"Pokoknya Nelis nggak mau, ini sakit sekali. Bilang sama dokternya. Nelis nggak mau sakit..!!!!!" Ucapnya terus mengoceh saat akan masuk ruang persalinan.
Langkah Fia terhenti, wajahnya cemas. Ia menarik lengan Bang Zeni yang sama sekali tidak berucap sepatah kata pun.
"Kenapa dek?" Bang Zeni refleks berhenti berjalan karena Fia menarik lengannya.
"Fia nggak mau antar kesana Bang, takut..!!" Ucapnya jujur.
"Ini khan sama Abang, nggak sendirian. "Bang Zeni melihat wajah pucat Fia yang seakan tak lagi sanggup melangkah. "Kamu kenapa? Bilang sama Abang..!!"
"Fia takut di suruh melahirkan juga. Perut Fia masih rata. Mbak Gina saja nggak kesini" bisik Fia terbata-bata. Ia ikut mencemaskan sahabatnya yang tidak pernah mau di sapa 'mbak' karena takut terdengar tua.
"Astagaa.. Gina nggak kesini bukan karena takut melahirkan, tapi karena dia memang ada di rumah. Kalau pakai menjemput Gina.. akan semakin lama, belum lagi kalau Gina ketakutan, Cemar pasti repot sekali" jawab Bang Zeni. "Sudah ayo jalan..!!"
~
__ADS_1
Dokter mengatakan bahwa Nelis hamil sesuai dengan usia kandungan. Dengan kata lain selama ini Bang Fabian juga tidak tau usia kandungan Nelis karena haid istrinya itu tidak lancar.
"Apa selama ini nggak pernah USG?" Tanya dokter senior.
"Siap.. tidak Bang"
"Kenapa?? USG itu penting juga lho Bi. Jadi selama ini kamu periksaan istrimu dimana?"
"Siap.. hanya di bidan dekat Batalyon saja Bang" jawab Bang Fabian yang juga terdengar di telinga Bang Zeni dan Bang Cemar.
"Anakmu akan lahir di usia yang sewajarnya, hanya saja berat badan bayimu kurang. Mungkin asupan gizi yang di konsumsi Nelis kurang Bi" kata dokter sungguh menyentil perasaan Bang Fabian.
"Saya selalu berusaha memenuhi asupan gizinya. Memberinya vitamin dan setau saya Nelis tidak pernah makan aneh-aneh" Bang Fabian merasa tertekan dengan ucap dokter karena dirinya sudah meyakini keadaan Nelis tidak pernah bermasalah dan baik-baik saja.
"Ada berbagai macam alasannya Bi, salah satunya adalah penyakit menular se**ual."
Untuk sesaat Bang Fabian terdiam. Wajahnya pias, ia tidak bisa membendung rasa sedihnya.
"Saya paham perasaan mu Bi. Yang berlalu biarlah berlalu.. masa lalu tidak dapat di hapus. Tapi lebih baik kita perbaiki yang ada demi masa depan. Ya sudah kita bantu persalinan dulu..!! Soal anak nanti bisa di bicarakan nanti"
Bang Zeni refleks mendekap bahu Fia dan sekilas mendaratkan kecup hangat di kening Fia.
"Ada masalah apa Bang?" Tanya Fia.
Bang Zeni tersenyum membalas tanya Fia. "Nggak ada apa-apa. Makan siang yuk.. Abang lapar nih. Dedek juga pasti lapar." Ajak Bang Zeni.
"Kita nggak lihat pertandingan volly Bang??"
"Besok saja. Sekarang masih jadwal ibu-ibu kompinya Fabian" jawab Bang Zeni.
:
Bang Zeni dan Bang Cemar saling pandang sesaat. Ada rasa tidak tega sebagai sesama pria karena ikut memikirkan sahabat mereka Fabian.
"Aku takut mengingat kelakuanku sendiri Zen" kata Bang Cemar.
__ADS_1
"Sama. Aku juga nggak menyangka ada imbas yang kita lihat sekarang"
"Apa dulu Fabian pernah melakukannya sama perempuan-perempuan itu?" Tanya Bang Cemar seakan menolak menerima kenyataan pahit tentang sahabatnya.
"Pastilah Kang. Dunia kita dulu seperti apa. Keluar masuk club. Ngamar masing-masing, pulang subuh, mabuk, berantem" jawab Bang Zeni mengakui kenakalannya.
"Tapi sumpah aku nggak nyentuh semua perempuan itu sob. Aku masih membatasi diri. Ingat orang tua"
"Begitu pun aku. Aku juga tidak menyentuh Tamara meskipun yaaa.. kamu tau lah aku tidak mungkin hanya memandanginya saja. Satu-satunya perempuan yang aku sentuh hanya Fia saja." Ucap Bang Zeni mengingat masa lalunya.
"Yakin kau, masa kamu tidak tergoda tubuh Tamara??" Tanya Bang Cemar setengah meledek.
"Tergoda lah, aku laki-laki normal, jelas saja aku tergoda.. hampir gila rasanya aku menahan si Jalu tetap anteng di tempatnya. Setelahnya jelas lah kau tau bagaimana akhirnya. Tapi asal kau tau, ternyata rasa penasaranku pada Fia melebihi rasa penasaranku pada Tamara. Fia sudah buat aku lupa daratan. Bahkan sejak hari pertama aku membawanya ke rumah dinas yang seharusnya ku tempati bersama Tamara." Jawab jujur Bang Zeni.
"Hhsstt Fia datang tuh" Bang Cemar menyenggol kaki Bang Zeni.
Bang Zeni mengurai senyumnya menoleh menyambut Fia.
"Sudah dek?" Sapa Bang Zeni kemudian menarik kursi agar Fia bisa duduk menghadap ke arahnya.
"Fia mual Bang, pengen cepat pulang makan mangga muda yang pedas"
Bang Zeni mengusap rambut Fia. "Ya sudah kita pulang saja. Bongkar mangga mudanya."
"Aku duluan ya Bro. Anakku rewel nih. Lu masih mau disini apa balik pulang.?" Tanya Bang Zeni.
"Pulang aja lah, nanti aku kabari si Fabian. Lagian gue takut di godain ibu-ibu. Jadi ganteng tuh beban" jawab Bang Cemar serius.
"Semprul, mereka itu menoleh bukan karena suka.. geli aja lihat tampang lu itu" gerutu Bang Zeni.
.
.
.
__ADS_1
.