Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
74. Ulah jahil.


__ADS_3

"Tekan tombol merah dek..!!" Perintah Bang Rakit sembari berusaha membuka pintu tank.


"Mama hilang Pa?" Tanya Arsene dengan polosnya.


"Kamu sama om-om dulu ya le. Kalau pintunya sudah terbuka, kita naik sama-sama" bujuk Bang Rakit.


Dengan cepat dan segala usaha akhirnya pintu tank terbuka juga.


Mata Bang Rakit melotot saat melihat Fia duduk berdua dengan herder dan berbagi roti strawberry yang tadi sempat ia bawa.


"Baaang.. rotinya Fia" mata Fia berkaca-kaca karena kehilangan sebagian roti.


"Sini sayaang.. Jangan nangis nanti Abang belikan lagi yang banyak. Megan tau perasaan mu, kalau kamu nangis dia marah" kata Bang Rakit mengulurkan tangannya agar Fia bisa turun.


Megan melirik Fia. Anjing penjaga batalyon itu memang pintar dan mudah merasakan sesuatu.


Fia menggapai tangan Bang Rakit dan perlahan Fia turun dari tank. "Rotinya Fia"


Megan, anjing ganas milik batalyon itu berdiri dan membuka mulutnya bersiap menerkam. Bang Rakit pun sigap menarik Fia ke belakang punggungnya. "Sit down..!!!" Suara Bang Rakit membuat hewan buas itu duduk diam dan kembali makan.


Bang Rakit berbalik badan melihat keadaan Fia. "Kamu nggak apa-apa dek?? Ada yang sakit?? Megan mengigitmu??" Matanya melihat kesana kemari takut Fia lecet karena di sakiti hewan betina bernama Megan.


"Rotinya Fia..!!"


Bang Rakit segera mengambil uang di dompetnya. "Tolong belikan roti strawberry di toko yang tadi Bas. Cepat ya..!!" Bang Rakit menyerahkan dua lembar uang merah pada Om Bastian.


"Siap...!!" Saat akan pulang dari rumah sakit tadi, Fia menoleh pada sebuah toko roti. Aroma roti tercium hingga keluar toko dan Fia meminta pada Bang Rakit untuk membelikan roti strawberry tersebut apalagi roti tersebut masih hangat karena baru saja matang.


"Dua Bas, yang fresh baru matang ya..!!" Imbuhnya lagi memberi perintah.


Siaap..!!"


Bang Rakit menghapus air mata Fia. "Makanya lain kali jangan nyelonong aja, tunggu Abang masuk dulu. Masih untung kamu nggak di cemilin si Megan" tegur Bang Rakit, suaranya sudah tidak kencang lagi karena takut Fia akan mual mendengar suaranya. "Duduk dulu sama Arsene disana ya, Abang mau urus si Megan"


~

__ADS_1


"Siap salah..!!" Lima orang anggota mendapat sikap tobat karena murkanya Kapten Rakit.


"Makanya kalau kerja itu jangan sembarangan. Sejinak apapun hewan, tetap harus di ikat, paling tidak kamu pegangi kalau ada latihan semacam ini..!!" Bentak Bang Rakit sambil membanting sarung tangan dengan kasar, ia benar-benar marah karena keteledoran anggotanya.


"Sudah.. marahmu itu ganas sekali, sebelas dua belas sama si Megan." Ledek Bang Rudra. "Lagipula itu bukan salah anggotamu, si Cemar yang melepaskan Megan tapi lupa kembalikan" kata Bang Rudra.


"Apaaa???? Lalu dimana Cemar sekarang????" Ubun-ubun Bang Rakit rasanya sudah mau merekah merasakan ulah Bang Cemar.


"Itu.. lagi berbincang berdua sesama pria jantan" tunjuk Bang Rudra ke arah Bang Cemar yang sedang mengobrol penting bersama Arsene.


"Astaga.. jangan sampai si Cemar mencemari otak anakku." Bang Rakit segera menghampiri Bang Cemar yang sedang nyemil berdua menghabiskan jajanan Arsene.


"Kau ini ceroboh sekali. Kenapa bawa Megan keluar kandang. Kau khan tau Fia mau naik tank siang ini..!!!" Tegur keras Bang Rakit.


"Itu ucapan selamat datang dariku" jawab Bang Cemar dengan senyum bangganya.


"Kau gilaaaa..!! Selamat datang gundhulmu... Bagaimana kalau Fia di gigit Megan. Megan hanya kenal wajah kita Mar..!!" Suara Bang Rakit menanjak tinggi.


"Kau khan tau Megan itu pelacak. Dia instingnya sangat kuat sama hal yang baru di lihat" Bang Rakit masih belum bisa menerima ulah Bang Cemar yang hampir mencelakai Fia.


"Iya Pak"


"Jangan Pak donk. Saya masih muda nih" goda Bang Rudra membuat kedua batin littingnya itu tergugah untuk berulah yang sama.


"Dia sih duda sekarat dek, kalau di kiri saya ini Danki duda yang terpaksa kawin. Kalau Abang mah sudah punya istri, tapi kalau mau jadi istri kedua Abang ya nggak apa-apa. Asal jangan ribut sama mbak Gina. Ngalah sama Mbak Gina." kata Bang Cemar dengan tak tau malunya.


"Matamu nggak ribut. Punya modal apa lu pengen istri dua? Satu aja nangis terus pakai mau nambah. Nggragas tenan kowe yo" tegur Bang Rakit tidak terima di remehkan.


"Tau nih, ngomong nggak di ayak" jawab Bang Rudra.


"Tapi cantik khan? Aku pengen kenalan" Kata Bang Cemar sambil melirik Fia yang sudah berdiri di belakang punggung Bang Rakit.


"Lu tau aja barang bagus. Kalau nggak ingat Fia, sudah ku bawa kabur itu anak orang" Dengan nakalnya Bang Rakit menanggapi Bang Cemar.


Plaaaaakkk..

__ADS_1


Seketika tabokan sebuah sandal mendarat sempurna di kepala Bang Rakit.


"J****k.. sopo iki????" Suara bariton Bang Rakit begitu mantap mengudara mengisi ruang depan kantin. Bang Rakit menoleh dan melihat wajah Fia sudah merah membawa murka.


"Abang marah sama Fia???? Padahal Abang yang punya niat selingkuh di belakang Fia." Suara Fia tak kalah tingginya.


"Astaga.. kamu disini dek?? nggak dek.. tadi itu.. Astagfirullah.. belibet amat mulutku ya" Bang Rakit kelabakan melihat Fia marah padanya. "Konco a*u tenan kok kowe iki pot" gerutu Bang Rakit melirik Bang Cemar yang sudah tersenyum licik.


Bang Rudra pun menunduk menyembunyikan tawa melihat adiknya dalam situasi mencekam. "Tak sawang-sawang kowe ayu tenan, rasane.. aku pengen kenalan..!!" Bang Rudra berdendang ikut mengerjai Bang Rakit dengan ulah jahilnya.


Mendengar itu Fia berdiri sesenggukan. Bang Rakit semakin kelabakan, dirinya yang belum bisa menenangkan Fia malah harus semakin di repotkan dengan ulah jahil sahabatnya. "Yank.. cantiknya Bang Rakit" bujuk Bang Rakit.


Fia meninggalkan Bang Rakit tanpa kata. Bang Rakit ingin meraih tangan Fia namun tak sampai.


"Kalian berdua ini memang kurang ajar. Senang sekali ya kalian lihat aku ribut sama Fia"


Tawa Bang Rudra dan Bang Cemar akhirnya pecah juga.


"Selamat membujuk istri ya Bang" goda Bang Cemar.


"Lu kudu temani Abangmu ini.. nggak ada jatah preman" kata Bang Rudra.


"Jangkrik, wedhus..!!!!!"


"Ingat.. bini hamil..!!" Bang Cemar mengingatkan.


"Astagfirullah.." Bang Rakit pun beristighfar mengusap dadanya. "Setan kalian berdua..!!!!!!" Tak tanggung-tanggung Bang Rakit kembali membuang suaranya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2