
Bang Jenar masuk kembali dan mencari Lintar di dapur.
"Ada Abi di luar. Kamu buka pintu dan suruh dia pergi" perintah Bang Jenar.
Lintar segera menuruti perkataan Bang Jenar. Ia tau maksud Bang Jenar, jika ia tidak mengusir Abi.. maka penyamaran mereka akan terbongkar.
~
"Mas Abi????" Sapa Lintar menunjukkan sikap tidak percaya.
"Haii.. kamu sendirian? Aku bawakan martabak telur untuk mu" ucap Abi seolah menyogok Lintar.
"Terima kasih mas, tapi aku sudah makan" tolak Lintar.
"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan dan berenang" ajak Abi.
Di dapur, Bang Jenar sedang bersungut kesal mendengar ada yang akan mengajak istrinya berjalan jalan.
"Saya besok ada urusan mas" tolak Lintar sekali lagi.
~
Abi sudah pulang dengan banyak tawar menawar diantara Lintar dan Abi hingga Lintar harus menerima martabak telur agar Abi mau segera pulang.
"Abang benar-benar tidak tahan dengan semua pemuda yang mendekati mu" kesal Bang Jenar. Lintar pergi menjauhi Bang Jenar yang terus kesal.
Kontrak kerja Lintar masih lama. Tapi dia tidak mau berhenti kerja. Aku harus segera kembali ke Batalyon. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Lintar sendiri disini.
...
"Abang besok harus membuat laporan ke Batalyon. Kamu gimana besok?" tanya Bang Jenar.
"Sendiri saja Bang. Setelah kerja, Lintar langsung pulang" jawab Lintar.
"Baiklah, tunggu Abang datang dan jangan terlalu dekat di bagian atas pasar. Di bagian atas tidak ada pengamanan" pesan Bang Jenar.
"Iya Bang Jenar"
***
Bang Jenar sudah pergi ke Batalyon meninggalkan Lintar sendiri di pasar.
Lintar mendapat berita bahwa ada bandar di gudang bahan pokok.
"Tidak ada Bang Jenar tapi bandar ini harus segera di amankan" gumam Lintar.
Delon melihat Lintar mengintai sendiri ke gedung bagian atas sambil mengantar kopi ke para bandar.
~
"Maaf pak, Lintar lajur sendiri ke gedung bagian atas. Ada arahan untuk kami pak?" tanya Delon pada Bang Jenar melalui sambungan telepon. Mereka menyamarkan bahasa saat sedang penugasan.
__ADS_1
"Kenapa kalian tidak jalan sesuai arahan saya kemarin?? Lindungi Lintar..!!!!! Kau akan merasakan nikmatnya rumah sakit kalau sampai terjadi apa-apa pada Lintar..!!!!!!!" bentak Bang Jenar.
Delon menjauhkan ponsel dari telinganya yang terasa berdenging hebat.
"Sebegitu khawatir nya kah? Lintar bagai istrinya saja, harus selalu ia khawatir kan" gerutu Delon sambil mengawasi gerak-gerik Lintar.
//
"Benar-benar keras kepala. Aku mencemaskanmu setengah mati tapi kamu tidak menghargai cemasnya suamimu dek" kesal Bang Jenar sambil memukul setir mobil dan melaju cepat ke tempat Lintar.
//
Lintar merekam pergerakan bandar melalui kamera kecil yang di bawanya. Kecantikan Lintar memancing para bandar untuk berkenalan dengan istri kesayangan Kapten Jenar.
...
"Kenapa kamu melambung dan tidak melaksanakan tugas sesuai jalur??" tegur keras Bang Jenar di rumah kontrakan.
"Tapi cara Lintar mempercepat penyelidikan kita Bang..!!"
"Jangan membantah..!!! Abang mencemaskanmu dan Abang berusaha melindungimu dek" bentak Bang Jenar. "Tolong lah.. hargai Abang. Biarkan Abang menjagamu. Setiap hari hati Abang, cemas, ketakutan.. takut terjadi apa-apa sama kamu," ucap jujur Bang Jenar.
tok..tok..tok..
"Siapa lagi saat begini masih ada yang mencari mu" kesal Bang Jenar kemudian berjalan masuk menuju kamar.
~
Karena Bang Jenar sudah terlanjur kelaparan, ia mengikuti langkah Lintar menuju dapur.
~
"Besok jadwal kita menyelesaikan tugas. Kalau terlalu berbahaya lebih baik kamu menunggu di sini saja. Bukankah bukti kejahatan mereka sudah kamu kirim ke pusat..!!"
"Iya Bang" jawab lintar tanpa perlawanan tapi tidak dengan raut wajahnya yang berbeda.
***
Anak buah Bang Jenar sudah mengendap di sisi pasar, mengintai pengangkut sayur. Tak lama mereka sedikit terkejut nampak beberapa orang terlihat seakan melindungi Lintar yang maju memancing para bandar agar turun dari lantai atas.
Seorang pria belagak gila dan mendorong gerobak sayur hingga jatuh berantakan. Sayur yang berantakan memperlambat gerak bandar yang akan menaikan sayuran ke atas pick up.
Kepala bandar turun dengan berlari karena mendengar ada barang yang terjatuh. Kepala bandar marah besar melihat ada barang mereka yang berhamburan keluar dari sekitar pick up.
Lintar menodongkan pistol pada kepala bandar itu.
"Angkat tangan dan menyerahlah!!" perintah tegas Lintar.
"Siapa kau sebenarnya???" tanya kepala bandar penuh pertanyaan.
Bang Jenar cemas dengan keadaan Lintar yang sedang mengepung bandar tanpa koordinasi dengannya lebih dulu. Secepatnya Bang Jenar berlari berniat membantu Lintar yang ia anggap sangat ceroboh. Saat sampai di tempat.. Bang Jenar mengacungkan pistol tepat di depan wajah kepala bandar dan menyergapnya. Beberapa anggota juga telah mengepung.
__ADS_1
"Serda Gitarja" jawab Lintar.
Bang Jenar menurunkan pistolnya. Betapa terkejutnya ia mendengar bahwa yang ia nikahi adalah seorang tentara wanita.
"Kita selesaikan urusan kita nanti!!" tegas Bang Jenar menatap tajam mata Lintar sambil membekuk kepala bandar beserta anak buah beserta barang buktinya.
...
Abi dan Yuni yang melihat penggerebegan itu menjadi salah tingkah dan tidak enak hati bahwa selama ini orang yang bersama mereka adalah seorang tentara. Terlebih Yuni yang selalu memperlakukan Lintar dengan tidak baik.
Abi mencoba mendekati Lintar yang akan pergi dari lokasi. Abi buru-buru meraih tangan Lintar.
"Serda Gitarja. Bisakah kita terus berhubungan setelah ini?"
Bang Jenar melepas genggaman tangan Abi pada Lintar.
"Maaf.. dia sudah bersuami" tegas Bang Jenar pada Abi.
...
Sepanjang perjalanan Bang Jenar tak berbicara apapun. Hanya raut wajah marah yang tampak jelas terlihat.
"Abang masih marah?"
"Kenapa kamu bohong? Apa kamu tidak tau banyak resiko di balik ketidak jujuran mu itu?" kemarahan Bang Jenar menusuk hati Lintar.
"Lintar terpaksa Bang. Agar Lintar dan Abang bisa menjaga jarak. Lagi pula kata Abang . akan menanggung semua resiko yang kita lakukan?" jawab Lintar. "Abang tau janji kita pada keprajuritan.. apalagi kita staff Intel..!!"
Bang Jenar menepikan mobilnya di tepi jalan karena perasaannya begitu kacau saat ini.
"Jelas Abang akan menanggung semua resiko dari yang Abang lakukan sama kamu. Kamu istri Abang. Abang bertanggung jawab untuk itu. Tapi kamu bohong dek.. kamu anggota juga. Abang paham banyak aturan di dalamnya. Kamu terikat dinas dalam dua hal tapi kamu menyembunyikan identitas mu. Keterlaluan!!!!!" kesal Bang Jenar.
"Komandan Intel di tempat Lintar sudah tau tentang pernikahan kita, Lintar sudah melaporkan nya Bang. Semua demi tugas kita selama ini. Lintar berusaha menyelamatkan nama Abang karena Abang terlanjur membawaku saat itu"
"Jadi kamu menikah dengan Abang hanya demi tugasmu dan menyelamatkan harga diri Abang saja??? Abang tidak mempermainkan pernikahan kita dek!!! jangan main-main kamu dengan hal itu"
Bang Jenar sangat marah dengan kelakuan Lintar yang sungguh membuatnya pusing saat ini. "Abang akan cek semua nya ke seluruh jajaran Intel. Masalah ini jadi panjang karena ulahmu dek..!!"
"Maaf Bang..!!"
"Kenapa pikiran mu cetek dan menimbulkan masalah baru???? Abang sungguh mengira, kamu adalah warga sipil. Sekarang kamu membuat Abang serba salah dek" tegur Bang Jenar. "Abang terlihat sangat bodoh..!!"
"Baaang.. jangan marah...!!" Lintar mencoba menyentuh lengan Bang Jenar.
.
.
.
.
__ADS_1