
Papa Danar menatap kedua putra di hadapannya sambil memangku Arsene dan Patra karena Mama Nadine sedang merawat kedua menantunya yang mendadak sakit. Tatapan Papa Danar begitu menusuk jantung.
"Apa-apaan kalian. Nggak bisa jaga istri sampai semuanya demam" bentak Papa Danar. "Kau lagi Rudra.. menikah nggak ada omongan apa-apa. Nggak tau aturan ambil anak gadis orang...!!!!!!"
Bang Rakit dan Bang Rudra tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan sang Papa yang akan menggantikan kedudukan Papa Galar sebagai Panglima karena kasus beberapa hari yang lalu.
"Maaf Pa"
"Maaf Pa" Bang Rudra menunduk, ia tau kekecewaan sang Papa.
"Apa Ariana hamil??" Tanya Papa.
"Nggak Pa"
"Kenapa menikah tiba-tiba???" Papa Danar terus menekan putranya.
"Ariana saudara kembar Arina.. adiknya Letkol Najib" jawab Bang Rudra dengan mata berkaca-kaca.
"Pantas ada kemiripan wajah. Lalu apa misi mu???? Balas dendam karena gugurnya Zeni?????" Ucap Papa Danar tanpa ada hal yang ia tutupi.
Bang Rudra menunduk menyimpan perasaannya sendiri.
"Kamu sudah menikahi Ariana. Kamu harus bertanggung jawab penuh atas ucapanmu di hadapan Tuhan. Papa tidak mengajarkan kamu untuk menyakiti perasaan perempuan Rudraaa..!!!!!!!" Suara Papa Danar meninggi dan penuh emosi. "Memang sakit rasanya kehilangan. Tapi bagaimana kalau kamu melampiaskan emosimu pada orang yang salah??? Sifat manusia itu berbeda meskipun dia berasal dari rahim yang sama."
"Aku nggak mencintai Ariana Pa, cintaku hanya untuk Arina" kata Bang Rudra.
"Rudraaaaaaa"
"Opa nggak boleh marah" kedua bocah dalam pangkuan Opa Danar pun memprotes suara tinggi Opanya.
"Astagfirullah..!!" Papa Danar mengusap dadanya karena sempat terlupa ada dua bocah dalam pangkuan nya. "Maaf Opa lupa. Opa salah" kata Papa Danar harus ikhlas berbesar hati.
"Opa, apa itu Mamanya Abang?" Tanya Patra kecil.
"Iya donk.. itu Mamanya Bang Patra" jawab Papa Danar sambil melirik Bang Rudra kemudian menggendong cucunya masuk ke dalam kamar melihat keadaan kedua menantunya.
~
"Hhhhhh.. aku nggak bisa nafas menghadapi Papa." Bang Rakit bersandar kasar di sofa sedangkan Bang Rudra mengusap wajahnya dengan gusar.
"Aku harus bagaimana?? Aku nggak cinta sama Arin"
"Ya kabulkan saja permintaan Arin" kata Bang Rakit.
__ADS_1
"Apa????"
"Hamil lah, mau apa lagi??" Jawab Bang Rakit.
"Gilaaa.. aku sudah janji nggak akan nikah lagi"
"Sama siapa?? Makamnya Arina?? Pikir anakmu juga Bang. Dia butuh sentuhan tangan seorang Mama. Belajarlah untuk ikhlas. Kesampingkan dulu masalah Najib pikirkan anakmu..!!" Saran Bang Rakit untuk Abangnya.
"Apakah dulu kamu sulit untuk mencintai Fia?? Bukankah semuanya mendadak??" Tanya Bang Rudra.
"Awalnya berat Bang, tapi aku pasrah dan ikhlaskan semua pada Tuhan. Dari aku hanya menjaga anaknya, timbul perasaan saat menemani kelahiran Arsene. Ada getar rasa dan sayang saat melihat Fia secara langsung setelah selama ini aku hanya bisa menatap wajahnya lewat layar ponsel dan videonya saja, dan kau tau Bang.. Allah memang sungguh indah memberi rasa. Rasa yang begitu nyata, ikhlas, lepas, tulus.. aku takut jauh dengannya, takut kehilangan dia, ibarat kata jika dia menghilang, akupun ingin ikut menghilang.. tepat sesaat aku usai menyentuh dia, aku yang merasa takluk dan tergila-gila sama Mamanya Arsene" jawab Bang Rakit.
Sejenak Bang Rudra terdiam. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan.
"Kata ikhlas memang sulit Bang, tapi hati jauh lebih tenang meskipun terasa sangat berat" imbuh Bang Rakit lagi. "Kita makhluk beragama khan? Tak ada ajaran bahwa kita membalas perempuan dengan cara yang kasar, kau tau.. Adam sangat membutuhkan Hawa untuk menenangkan batinnya. Apalah kita yang hanya manusia biasa. Kau tidak berkhianat pada istri mu Bang, biarkan dia tenang. Jalani hidupmu yang baru"
...
Bang Rudra masuk ke kamar tamu untuk melihat keadaan Ariana yang sedang tidur.
"Mama sudah pulang Pa?" Tanya Patra kecil.
"Sudah, Abang Patra kangen Mama?"
Patra kecil mengangguk. Ia terus gelisah dan bergoyang dalam gendongan Papanya.
"Mau cium dedek sepelti Arsene" jawab Patra membuat perasaan Bang Rudra semakin tak karuan, tak mungkin juga ia menolak keinginan sang putra. Perlahan ia pun menurunkan Patra dan putra kecilnya itu langsung menciumi perut Ariana. "Adek cepat besar ya, nanti main sama Abang..!!"
Terus terang hati Bang Rudra sangat terpukul mendengarnya. Mulutnya seakan tak bisa beralasan meskipun ia mampu untuk memberi alasan.
Merasa ada yang menyentuhnya, Ariana pun terbangun dan saat matanya terbuka.. ia langsung jatuh cinta pada pria kecil yang sedang mencium perutnya.
"Haii sayang" sapa Ariana.
"Mama sudah bangun? Adiknya lagi apa Ma?" Tanya Patra.
Wajah Bang Rudra berubah sendu, ia terus menatap Ariana seakan memohon jawaban terbaik bagi putra kecil satu-satunya. Hadiah terindah dari mendiang istrinya yang terdahulu.
Ekor mata Ariana melirik Bang Rudra yang terlihat begitu membutuhkan pertolongan darinya, ia pun menarik Patra ke dalam pelukannya.
"Adik sedang bertanya, siapa Abang ganteng dalam pelukan Mama? Dia berpikir keras.. apakah Papa, Mama.. atau Abang yang menginginkan adik ada di perut Mama" jawab Ariana semakin menyentil sekaligus menyentuh hati Bang Rudra.
Merasa tidak kuat menghadapi situasi ini, Bang Rudra melangkahkan kaki keluar kamar dan memilih duduk di beranda belakang rumah.
__ADS_1
:
"Kopi Bang, biar nggak ruwet tuh pikiran" Bang Rakit membawa dua gelas kopi untuk menemani malam mereka.
"Rakit.. bagaimana caramu mendekati Fia?"
Bang Rakit tertawa mendengarnya. "Kenapa harus tanya bagaimana caranya, langsung sikat saja Bang. Hati-hati tapi pasti. Kita ini pria Bang, gen pria itu selayaknya mengejar.. bukan di kejar. Kalau kita jadi pria tidak cepat tanggap.. kapan mau maju Bang, kau tau lah Bang keadaan bini kita.. agak lain dari yang lain, perlakuannya pun juga harus ekstra."
//
Saat para suami sedang berunding hal terbaik, para istri pun berjingkat dan berunding sendiri di karenakan rumah yang sepi. Papa Danar dan Mama Nadine membawa Patra serta Arsene tidur di mess transit agar tidak mengganggu istirahat mamanya yang sedang sakit.
"Baju ini nggak pernah aku pakai. Kau tau.. setelah aku pakai baju ini.. bulan depannya aku jadi hamil" kata Fia memberikan sebuah baju berwarna ungu pada Ariana.
"Iniiiiii.. baju apa?? Kenapa hanya bolong-bolong dan berenda. Kalau di pakai bisa menutupi apa??" Tanya Ariana.
"Kamu pakainya di dalam kamar dan jangan keluar kamar. Hanya Bang Rudra yang boleh lihat..!!" Ucap Fia saat ini menjadi guru dadakan untuk Ariana.
"Setelah itu aku harus apa?"
"Hmm.. begini.." Fia duduk lalu membuat sebuah pose yang sedikit terlihat panas. "Bang Rakit nggak bisa tahan kalau aku bergaya seperti ini sampai jadi barong kalau aku sudah bergaya"
"Haaahh.. aku malu Fi"
"Jangan malu. Tenang aja, nanti kalau Bang Rudra sudah mendekat.. kamu hamil dengan sendirinya."
"Setelah mendekat.. aku harus bagaimana?? pegangan dulu apa ciuman dulu seperti di TV??" Ariana masih tidak bisa menerka segalanya dan terus bertanya.
"Gimana ya, kata Abang nggak boleh buka rahasia kamar. Pokoknya kalau Bang Rudra sudah ajak tanam terong, kamu jangan banyak protes biar tanahnya nggak rusak"
"Oke aku paham. Aku mau ambil polibag di dapurmu. Aku lihat ada banyak sisa." jawab Ariana.
"Eeeehh.. kamu mau tanam beneran??"
"Maksudmu apa sih Fiaaa.. yang jelas donk"
"Duuuhh.. kamu ini polos banget ya. Pintar sedikit lah" ucap Fia seakan paling paham segalanya. "Begini deh, kalau Bang Rudra sudah masuk kamar.. kamu pose yang aku ajarkan tadi sambil kamu tanya.. 'Bang, kapan mau tanam terongnya'."
Ariana mengangguk memahami ucapan Fia.
.
.
__ADS_1
.
.