Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
28. Tekanan.


__ADS_3

Fia membaca pesan di group nya. Group hanya khusus untuk kalangan istri perwira di Batalyon. Wajahnya datar dan terdiam.


"Ehmm.. Bang, mangganya nanti saja. Fia lebih pengen lihat pertandingan volly" kata Fia dengan senyum cerianya.


"Yang benar.. mau makan mangga atau lihat pertandingan volly??" tanya Bang Zeni memastikan.


"Iyaa Abaaang"


Melihat keceriaan Fia, Bang Zeni pun mengantar Fia ke lapangan untuk melihat pertandingan.


...


"Kamu tuduh suami saya apa?? Penggelapan dana?? Suami saya itu nggak level makan uang recehan. Anak kemarin sore saja bertingkah. Eehh bocah ingusan.. kalau kamu nggak di nikahi Om Zeni, kamu pasti masih mengemis di jalanan, minta balas kasihan orang atau mungkin tetap lanjut sebagai pemandu karaoke." Tegur keras Bu Najib di hadapan beberapa orang perwira yang merupakan istri senior Bang Zeni.


Fia begitu kaget mendengarnya tapi ia berusaha menahan perasaan.


"Kenapa?? Kamu kaget saya tau tentang masa lalu kamu???"


"Siap.. tidak mbak" jawab Fia.


"Panggil saya ibu Najib. Saya jijik punya rekan kerja seperti kamu. Anak kampung, nggak punya orang tua, bodohnya nggak ketulungan" bentak Bu Najib.


"Siap Ibu. Mohon ijin siap salah" jawab Fia mengalah dan menahan semuanya demi nama baik sang suami yang ia junjung di pundaknya.


"Dengar ya kalian. Kalian harus tegas dengan anak ingusan ini. Kecil-kecil sudah dapat gelar ibu Danki. Dia ini hanya bisa membuat kita malu saja. Uang makan saja dia ambil. Memang begitu lah kalau jadi manusia nggak pernah pegang uang gede.. kaget, bawaannya pengen nyolong" ucap Bu Najib.


"Siap.. saya mohon maaf ibu"


:


"Ada apa tadi di panggil ke ruang pengurus Batalyon?" Tanya Bang Zeni saat Fia baru saja kembali dari kantor batalyon.


Fia melebarkan senyumnya. "Biasa lah Bang, namanya juga ibu-ibu"


"Waahh istri Abang sudah pandai bergaul dengan ibu-ibu. Abang nggak perlu ajari lagi donk" goda Bang Zeni.


"Ajari lah Bang, biar nggak malu-maluin Abang" jawab Fia tapi jelas Bang Zeni merasa ada yang berbeda dari sikap Fia tapi entah apa.

__ADS_1


"Mohon ijin ibu saya menyela" kata seorang ibu pengurus ranting anggota kompinya.


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?"


"Begini Bu, soal dana konsumsi besok....." Bu Ferdi seakan tidak enak untuk menyampaikan hal itu.


"Baik Bu, kita bicarakan disana. Nggak enak ya ada ya suami saya" tunjuk Fia pada bangku kosong di samping lapangan. Senyum Fia tetap tersungging cantik.


~


"Begini Bu Zeni.. Bu Najib meminta seluruh keuangan konsumsi kompi ini"


"Begitu ya Bu. Sebenarnya uang kompi ini adalah privasi dari kompi dan bukan lagi kewenangan Batalyon. Apalagi Bu Najib khan menjabat sebagai sie budaya, bukan olahraga" jawab Fia.


Bu Ferdi duduk mendesah di samping Fia. Ia sedikit gelisah duduk di samping Fia. "Sebenarnya ibu tidak seperti yang kami bayangkan dan saya tidak pernah sekalipun menganggap ibu remeh, tapi saya tidak tau alasannya kenapa Bu Najib dan genk nya bisa berkata seperti itu"


"Sudahlah Bu, jangan di ambil hati. Inilah lingkungan kita yang kental dengan senioritas. Saya harap di kompi saya tidak ada yang namanya genk-genk an. Saling mencela dan merasa paling unggul. Kita ini hidup merantau Bu. Jadi tetangga juga merupakan saudara kita meskipun tidak sedarah tapi kita ini satu tujuan untuk mendampingi suami agar jiwanya aman dan tentram menjalankan tugas." Jawab Fia kemudian menunduk, ia sedikit mengusap perutnya. "Saya bahagia ikut Abang bisa sampai disini. Mudah-mudahan keberadaan saya disini tidak hanya menjadi beban bagi ibu-ibu terutama bagi suami saya. Saya takut hanya bisa mempermalukan beliau.. pria baik yang sudah mengangkat harkat dan martabat saya sebagai seorang wanita karena saya menyadari, saya ini wanita bodoh Bu" air mata Fia menitik perlahan.


Bu Ferdi tidak bisa membendung rasa harunya. Beliau langsung memeluk Fia. Ia mengusap air mata Fia. "Jangan menangis Bu Zeni. Ibu adalah perempuan yang hebat, saya tidak melihat cela dalam diri ibu. Usia dan latar belakang bukanlah patokan kedewasaan dan kepandaian seseorang betapapun tingginya ijazah yang ia dapatkan"


"Sama-sama ibu. Jadi bagaimana ibu.. ijin arahan..!!"


"Begini saja Bu Ferdi.........."


...


Malam hari Bang Zeni terbangun dari tidurnya, tidak biasanya ia mendengar Fia mendengkur dalam tidurnya. Ia membalik tubuh Fia, betapa kagetnya Bang Zeni melihat bantal Fia penuh dengan noda darah. Istrinya itu tidak sadar jika sedang mimisan, badannya pun demam.


"Astagfirullah dek, kamu pasti kecapekan ya??" Bang Zeni cemas bukan main pasalnya sebelum tidur ia merayu-rayu Fia untuk melayani hasratnya. Bang Zeni mencoba untuk membangunkan Fia tapi istrinya itu seakan tak mendengarnya.


~


"Kalau Abang terlalu kasar atau nggak enak.. kamu tegur Abang dek. Kalau tau akhirnya seperti ini lebih baik Abang puasa.. Abang nggak apa-apa kalau demi kamu sama si dedek"


Fia selalu tersenyum menanggapi Bang Zeni. "Bukan Abang yang salah, memang ada kalanya manusia bisa lelah khan Bang. Fia hanya butuh istirahat sebentar saja, nanti juga baikan. Abang khan tau Fia sudah berdua, wajarlah Bang adaptasi suasana." ucapnya menenangkan Bang Zeni.


Bang Zeni mengecup kening Fia. Istrinya itu memang belakangan ini sudah sangat pintar hanya memang untuk manja dan polosnya, ia sudah sangat memaklumi di luar kepala dan tidak pernah mempermasalahkan.

__ADS_1


-_-_-_-


Hari masih sangat pagi. Jam enam pagi Fia sudah berangkat ke kantor kompi. Sebenarnya Bang Zeni tidak setuju Fia sudah berangkat sepagi itu tapi nampaknya memang ada kegiatan yang harus di kerjakan.


"Dimana istri saya?" Tanya Bang Zeni pada anggotanya yang lain.


"Ijin.. ibu sedang mempersiapkan snack box untuk rapat anggota di Batalyon" jawab seorang anggota.


"Lho.. memangnya harus istri saya ya? Bukannya sudah ada bagian tugas per seksi??" Bang Zeni sedikit bingung dengan kegiatan para ibu pengurus cabang.


"Siap.. tidak tau Danki"


...


"Ijin ibu, benar tidak ada yang datang untuk kompi kita. Hanya konsumsi markas saja yang datang" laporan Bu Jefri pada Fia. "Saya sudah menyiapkan snack dan makan siang sesuai arahan ibu"


"Ya sudah Bu, Bu Jefri istirahat dulu. Ini sudah siang"


"Ijin Ibu, lebih baik ibu juga istirahat. Kasihan yang di perut" saran Bu Jefri.


Baru saja Fia bersiap untuk duduk. Pintu ruang rapat Batalyon terbuka. "Ooohh.. ternyata Bu Zeni enak-enakan ngadem di ruangan. Seniornya sedang sibuk Bu, bantu donk.. jangan mau enaknya sendiri" tegur Bu Najib.


"Siap Bu. Ijin bertanya Bu, apa konsumsi untuk ibu-ibu pendukung kegiatan volly di kompi saya sudah datang?" Tanya Fia.


"Sudah kok. Memangnya kenapa?"


"Ijin ibu, saya dengar belum" Fia mencoba menanyakan lagi.


"Kamu hanya masalah kecil saja sampai tanya saya. Ini nih kalau Istri Danki tidak dewasa, main tuduh.. nggak siap dalam segala hal." Jawab Bu Najib.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2