
Bang Zeni mengangguk. "Iya, Abang memang pusatnya salah, khilaf dan dosa."
Agaknya Fia lebih puas mendengarnya. "Bang, Fia pengen makan sesuatu"
Bang Zeni tertegun, sungguh hari ini dia begitu lalai hingga melupakan jika Fia belum makan nasi dan hanya makan beberapa camilan saat acara tadi. "Oiya, kamu belum makan ya. Mau makan apa dek?"
"Nasi aking. Pakai sedikit gula, garam dan kelapa parut" jawab Fia.
Untuk kesekian kalinya permintaan Fia membuat perasaannya sakit sekali. Permintaan seakan dirinya tidak sanggup memberi sang istri makanan yang sehat dan penuh gizi. "Abang nggak mau berdebat sama kamu ya dek, tapi kenapa makanan seperti itu yang kamu minta. Kamu minta beras Jepang saja Abang turuti. Ini malah nasi aking to ndhuk"
"Anak Abang maunya begini." Jawab Fia.
Dengan menarik nafas panjang dan menguatkan batin, berat sekali mengabulkan permintaan Fia. Akhirnya Bang Zeni menghubungi rekan satu kompi melalui group.
'BAGI REKAN YANG MEMILIKI NASI AKING DI RUMAH, BIAR SAYA BELI BESOK. ISTRI SAYA LAGI NGIDAM NASI AKING.'
"Siap Danki..!! Saya ada"
"Siap.. saya punya Dan.. tapi untuk pakan ayam" jawab para anggota di group kompi merespon permintaan Bang Zeni.
Satu persatu Bang Zeni membacanya dan rasanya semakin ingin menangis saja dimana nasi aking harus terbuat dari nasi sisa yang di keringkan. "Ya Allah.. Allahu Akbar, dadaku lara tenan mikirne awakmu dek" ucapnya gemas mengusap dadanya sendiri di kala pikirannya sudah buntu tak bisa berpikir tentang apapun lagi.
Fia menunduk tanpa suara, wajahnya pun melow. "Ya sudah kalau nggak boleh"
"Boleh, tapi besok kalau kamu makan.. Abang nggak mau temani." Jawab Bang Zeni dengan tegas.
Fia hanya mengangguk saja.
"Sekarang makan apa yang ada dulu ya. Abang suapi sop ayam sama rolade ya?" Bujuk Bang Zeni agar Fia mau makan. "Kasihan si kecil dek. Lapar dia.. biar ayahnya yang suapin..!!"
***
Terkumpul satu karung beras aking di kantor Bang Zeni. Ternyata banyak juga anggota yang punya beras aking. Ia pun mengeluarkan berlembar-lembar uang sesuai janjinya untuk membeli beras tersebut.
"Ijin.. tidak usah komandan.. kami ikhlas." Kata seorang anggota.
"Nggak apa-apa Danki.. saya juga ikhlas" jawab Bang Zeni kemudian menyerahkan uang yang sudah ia masukan dalam amplop satu persatu untuk para rekan anggotanya.
"Siap.. Terima kasih banyak Danki. Semoga Danki dan ibu selalu sehat dan berlimpah rejeki" do'a para anggota.
"Cukup rejeki. Alhamdulillah.. Aamiin.. terima kasih banyak" ucap Bang Zeni menjawabnya.
"Ijin.. Jika ibu berkenan, Ini dari istri saya..!!" Kata seorang anggota sepuh berpangkat Pelda menyerahkan sepiring nasi aking hangat pada Bang Zeni.
__ADS_1
Bang Zeni menerima nya tapi wajahnya tersirat kesedihan, matanya memerah menahan tangis. "Terima kasih banyak Pak"
"Ijin Danki. Ibu hamil memang kadang sangat menguras emosi dan kewarasan mental kita, nikmati saja prosesnya, support dan do'akan istri segala yang terbaik. Kita sebagai suami harus banyak sabar dan istighfar." Peltu Mujiyono menepuk bahu Bang Zeni layaknya putra sendiri. "Semua akan baik-baik saja Danki"
"Astagfirullah hal adzim..!!" Bang Zeni membuang nafas panjang kemudian mengurut dadanya pelan.
:
Dari balik jendela, Bang Zeni sedikit mengintip Fia yang sedang melahap nasi aking nya. Perasaannya terpukul dan semakin tidak tega. Ia mengusap sedikit air matanya lalu berjalan menuju ruangannya yang tak jauh dari ruangan Fia.
Tak lama ada seorang petugas piket jaga kesatrian melapor pada Bang Zeni.
"Selamat pagi Komandan.. ijin ada yang ingin bertemu..!!"
"Siapa?" Kening Bang Zeni berkerut karena ia merasa tidak membuat janji dengan seseorang.
"Ijin.. penyanyi cafe yang nanya Iis" jawab anggotanya.
"Duuhh.. Fiaaaa.. apa-apaan kamu ini dek" gumamnya pelan karena pastilah Fia yang sudah membuat janji dengan Iis di kantor kompi. "Kamu ke ruangan istri saya dan sampaikan.. saya menunggunya di ruangan..!!"
"Siap..!!"
~
//
"Kenapa arah penataan ruangannya begini Pak, sini biar Iis tata. Gorden ini juga Iis nggak suka" Iis berkeliling kesana kemari mengomentari ini dan itu di dalam ruangan khusus Danki.
Iis berjalan berniat menutup pintu ruangan tapi Bang Zeni melarangnya. Sejak tadi Bang Zeni duduk gelisah melirik-lirik apakah Fia sudah berjalan ke ruangan atau belum.
"Jadi kapan donk Pak Zeni mau karaoke bareng Iis. Kalau Pak Zeni sudah meminta Iis kesini, itu tandanya Pak Zeni sudah mulai terbuka khan dengan Iis" kata Iis percaya diri.
"Pagi Mbak Iis..!!!!" Sapa Fia masuk ke ruangan Bang Zeni membawa senyum cerah, manis dan ceria.
Fia melangkah mendekati Bang Zeni lalu mendaratkan kecup manis di bibir Bang Zeni tanpa ada kesiapan dari suaminya itu. "Maaf lama yang, si dedek rewel" ucapnya sedikit manja.
Fia mengarahkan pandangan pada Iis. "Silakan duduk mbak Iis, jangan berdiri saja.. kursi saya nggak buat ambeien kok" kata Fia.
Ada sedikit raut wajah jengkel dari Iis menghadapi Fia.
"Begini ya mbak Iis.. saya harap Mbak Iis mengerti, kita sebagai sesama wanita hendaknya menjaga sikap. Nomer yang Mbak terima dari suami saya kemarin adalah nomer ponsel saya. Jadi selama ini kita saling berbalas pesan."
"Papa ada janji mau karaoke bersama Mbak Iis?" Tanya Fia dengan senyum lembut menanyai Bang Zeni tapi tatapan itu sungguh mematikan nyali Bang Zeni hingga rasanya darah di ujung kaki merangkak naik ke ubun-ubun kepala dan membuatnya tiba-tiba keliyengan merasa mual.
__ADS_1
"Nggak Ma" jawab Bang Zeni ringan pasrah namun cukup tegas.
"Maaf mbak, Pak Danki nggak ber karaoke dengan sembarang wanita. Karena setelah karaoke biasanya Pak Danki minta suara khusus." Kata Fia memasang wajah polos yang tidak lagi sepolos yang lalu.
"Jadi dengan kata lain.. kalian menjebak saya???" Terlihat Iis kesal dan tidak terima dengan ucapan Fia.
"Saya nggak menjebak Mbak. Mbak saja yang terlalu percaya diri. Yaaa.. tapi kalau suami saya memang mau sama mbak ya terserah. Saya masih cantik dan banyak yang mau sama saya. Saya perawan.. dan saya mahal"
Bang Zeni melirik Fia dengan tatapan tajam. Emosinya meledakan perasaannya yang sudah panas.
"Mbak Iis silakan meninggalkan ruangan saya. Kita akhiri pertemuan ini sampai di sini. Saya punya keluarga dan saya tidak berharap dan tidak akan pernah punya niat mengkhianati istri saya. Harap jangan di ulangi perbuatan tidak beretika seperti ini..!!" Ucap tegas Bang Zeni.
Iis membawa wajah kesal merah padam keluar dari ruangan tanpa kata.
~
"Kamu ini ngomong apa sih dek???" Tegur Bang Zeni. "Tajam sekali ucapanmu tadi"
"Apa yang salah. Memang hanya Abang saja yang tau dan merasakan apa adanya Fia, kalau Abang suka dengan batu kerikil ya terserah. Fia bukan berlian, tapi setidaknya Fia bisa di pandang..!!"
Braaakk...
"Cukup Fiaaa..!!!!!!" Bang Zeni sampai menggebrak meja menghentikan ucap Fia. "Abang paham rasa cemburumu tapi kamu juga harus paham. Abang masih punya iman, masih waras untuk menjaga rumah tangga kita. Istri hanya sekali seumur hidup, dunia akhirat. Abang ini bukan nakal dadakan yang tanpa pikiran cari selingan disana sini" bentak Bang Zeni.
Bang Zeni menarik nafas menyabarkan diri menghadapi Fia. "Kamu yang hubungi dia, kamu yang buat janji, Abang juga yang kena marah. Ngaku nggak, siapa yang ajari kamu lantang seperti itu?"
Fia menunduk dan kembali pada mode Fia yang sesungguhnya.
"Jawab ..!!!!!"
"Bang Khobar sama Bang Fabian" jawab Fia.
Bang Zeni melirik sesuatu di telinga Fia, ia pun berdiri dan mendekati Fia. Benar saja.. ada alat yang digunakan untuk menyadap percakapan. Bang Zeni pun menariknya lalu mengucapkan sesuatu pada alat tersebut. "Heeh.. b******n. !! Kalian berdua pilih ke ruangan saya, atau saya labrak kalian di tempat..!! Benar-benar racun..!!!!!! Beraninya kalian menanggapi curhatan istri saya..!!!" Bang Zeni pun meremukan alat tersebut.
"Curhat sama laki-laki lain itu nggak sopan. Ngerti kamu dek..!!!!!!!" tegur keras Bang Zeni pada Fia yang menunduk tak berani menatapnya.
"Fia cuma cerita Bang"
.
.
.
__ADS_1
.