
"Waah.. sudah kenyang anak Papa?" Sapa Bang Rakit saat mengajak ngobrol baby Arsene melalui sambungan video call di ponsel Prada Alvin. "Abang nggak boleh nakal sama Mama ya..!!" Pesan Bang Rakit.
~
Satu jam berlalu. Bang Rakit hanya mengoceh ngalor ngidul mengajak Baby Arsene bicara hingga terlelap.
"Vin.. antar Arsene ke Mamanya..!!" Kata Bang Rakit.
"Ijin Dan.. sepertinya ibu sedang mandi" jawab Prada Alvin.
"Ya sudah nanti curi kan fotonya ya..!!" Perintah Bang Rakit.
Mata Prada Alvin melotot. "Ijin.. foto ibu sedang mandi??"
"Heeehh.. sudah bosan nafas kamu Vin???. Saya garuk juga mukamu itu. Foto aktifitas santai lah. Secret mission yang itu tugas saya. Jangan lancang kamu..!!!!" Bentak Bang Rakit.
"Siap salah Dan..!!"
...
"Terima kasih banyak Om Alvin. Setiap habis di ajak Om Alvin, Abang Arsene tidur nyenyak lho" kata Fia senang sekali.
"Sama-sama Bu Fia" jawab Om Alvin malu-malu.
~
Hati Fia kini sudah lumayan tenang. Enam bulan kelahiran Baby Arsene menjadi pelipur lara dan hiburan tersendiri bagi Fia.
"Sayang.. hampir satu setengah tahun kita tidak sama Papa. Kadang Mama merasa sangat kesepian. Untung saja Mama punya kamu. Kamu kangen nggak sama Papa?" gumam Fia sembari membelai lembut tubuh Baby Arsene.
Baby Arsene selalu mencebik setiap sang Mama mengungkapkan kerinduannya untuk Papanya yang telah tiada.
"Okee.. okeee sayang. Mama nggak akan nangis lagi ingat Papa." Ucap Fia mengalah karena tidak ingin sang putra menangis setiap kali ia membahas sang Papa.
...
Malam itu di ruang keluarga sangat ramai. Fia berusaha mengenalkan foto Bang Zeni dari sebuah album pada putranya namun berkali-kali Arsene menolak dan merengek meminta foto Bang Rakit sedangkan foto sang Papa hanya di genggamnya saja.
"Itu bukan Papa lho Bang, itu Om Rakit" kata Fia.
Seketika Baby Arsene mengamuk dan menangis membuat Fia kaget di buatnya.
"Coba kasih saja foto Rakit..!!" Pinta Papa Galar.
Ajaibnya Baby Arsene mengerti dan memandangi foto Bang Rakit lalu mendekatkan wajahnya seolah ingin menciumnya.
"Ooohh.. manis sekali sayang" Mama ikut bahagia saat melihat senyum ceria Arsene.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu memecah suasana.
"Masuk..!!" Perintah panglima pada ajudan Bang Rakit.
"Ijin.. selamat malam. Ada kiriman paket"
"Letakan saja Bas. Terima kasih" kata Panglima.
__ADS_1
"Siap Panglima..!!" Om Bastian meninggalkan tempat.
"Dari siapa sih Pa, selalu nggak ada nama?" Tanya Fia.
"Biasaa.. dari om-om online. Mungkin dari littingnya Zeni" jawab Papa santai. "Buka saja.. mungkin ada kiriman susu dan baju untuk Arsene."
Fia membuka bungkusan itu.. benar saja, kotak paket itu berisi susu, pakaian Arsene, mainan, segala perlengkapan bayi dan yang lebih menakjubkan adalah pakaian untuk dirinya.
"Maaa... Ini siapa ya yang mengirim. Apa orang yang sama? Tapi kali ini ada pakaian dan ukuran baju ini benar ukuran Fia lho Ma"
"Sudah ndhuk biar saja. Namanya juga rejeki. Alhamdulillah"
Fia tak bisa lagi menjawab kata-kata Mama.
...
Kerudung ya, tapi.. mungkin ini saatnya aku memperbaiki diri
Fia mencoba satu persatu pakaian yang di kirim orang tak di kenal.
Perlahan Fia memakai kerudung itu, ia tersenyum melihat dirinya sendiri sampai sesekali berputar. "Tidak buruk juga" gumamnya.
***
Bang Rakit tersenyum sesekali menutup wajahnya. Pipinya merah merona melihat foto Fia mengenakan pakaian yang lebih tertutup dan lebih nyaman dalam pandangannya.
Teringat olehnya setiap moment dirinya bersama Fia walaupun hanya di balik layar. Kepolosan Fia dan tingkahnya yang terkadang di luar dugaan, sosoknya yang unik membuat jiwanya terusik, kacau meronta-ronta.
Zen.. sekarang saya tau apa yang membuatmu sangat mencintai Fia. Berapa kali lagi saya harus bersujud di tanah makam mu?
tok.. tok.. tok..
"Letakan di meja. Nanti saya periksa" jawab Bang Rakit seakan tak peduli dengan kehadiran Serda Bella.
"Ijin Kapten.. bisakah saya bicara?"
"Silakan duduk.. Ada apa?" Tanya Bang Rakit sesekali melihat lawan bicaranya.
"Soal kita"
"Maksudmu apa Bella?" Bang Rakit tak mengerti arah pembicaraan Bella.
"Kapan ada kemajuan dari hubungan kita. Kapten selalu melibatkan saya kemanapun. Bisakah sekembalinya kita dari Sudan.. kita resmikan hubungan kita?" Jawab Bella.
Kening Bang Rakit berkerut tapi ia memahami makna ucapan Bella. "Bella, saya tidak mencintai kamu" Bang Rakit tau ucapannya akan menyakiti hati dan perasaan Bella, tapi dirinya tidak ingin bertele-tele menimbun hal yang akan menjadi belati tajam dalam hidupnya kelak.
"Maksud Kapten.. jandanya Kapten Zeni yang Kapten cintai.?"
"Saya garis bawahi ucapan mu Bella. Tidak ada masalah khan dengan gelar itu. Toh Fia tidak ingin memiliki gelar itu, termasuk saya yang sebenarnya tidak ingin bergelar duda."
"Saya sudah memiliki hati pada Kapten sejak lama. Saya pikir kedekatan kita selama ini karena Kapten ada rasa sama saya" kata Serda Bella.
"Saya memperlakukan tentara wanita lainnya sama seperti mu Bella, tidak ada bedanya. Terima kasih atas perhatian mu. Tapi maaf.. saya tidak bisa membalas perasaanmu..!!" Jawab Bang Rakit. "Silakan keluar Serda Bella. Saya masih banyak pekerjaan"
\=\=\=
Panglima bahagia sekali karena bisa membawa Arsene kemanapun karena cucunya itu tidak menyusu pada Mamanya. Sejak kelahirannya, Fia terlalu stress hingga tidak bisa menyusui bayinya.
__ADS_1
Bu Panglima juga tidak malu membawa Arsene kemanapun ia pergi. Paras wajah Arsene sangat mirip dengan Papanya. Tak begitu jauh beda dengan Bang Rakit karena memang masih ada darah mengalir.
"Hati-hati Ma..!!" Panglima mengingatkan istrinya yang sedang membimbing Arsene untuk belajar berjalan di usianya yang sudah menginjak angka enam belas bulan tapi kosakatanya sudah lumayan banyak karena memang banyak orang yang mengajari pria kecil itu bicara.
"Iya Pa, Arsene nggak mau diam. Lincah sekali seperti Zeni" kata Mama yang sudah lebih bisa menerima keadaan namun mungkin tidak begitu adanya bagi Fia yang terkadang masih suka menangisi kepergian putranya itu.
...
"Kapan pulang Ma, Fia rindu Arsene."
"Nanti sore sudah sampai rumah ndhuk" jawab Mama.
"Iya deh Ma, Fia mau ke depan kompleks kediaman dulu. Sepi nih, Fia pengen bakso" pamit Fia.
"Ya sudah sana. Hati-hati ya sayang"
:
Fia mengendap pelan-pelan keluar kediaman karena jika tidak, maka Om Alvin dan Om Bastian akan membuntuti kemanapun ia pergi.
Dengan hati-hati Fia mengambil sepeda pancal karena dirinya baru bisa mengendarai benda tersebut setelah dua bulan les privat.
:
Pelan Fia mengayuh sepedanya. Karena terlalu fokus, ia tidak melihat ke arah sekitar.
"Hwaaaaaaaaaa.." teriaknya saat melihat motor besar menerjang dirinya.
"Astagaa..!!!!!"
braaaaaakk...
Fia terpental dan terpelanting dengan keras masuk ke dalam selokan yang cukup dalam. Beruntung sekali selokan tersebut kering.
"Duuuuhh piye sih iki. Wong wedhok iki numpak opo wae mesti ngawur" gerutu Bang Rakit mengomel sambil mencari wanita yang terjungkal itu.
Setelah menemukan wanita tersebut, Bang Rakit segera turun dan membantunya. Saat membalik tubuh wanita tersebut dan menyingkap kerudung nya.. jantung Bang Rakit rasanya melompat dari raga. "Astagfirullah hal adzim.. Fiaaaaaa..!!!!!"
Bang Rakit celingukan mencari keberadaan kedua ajudannya. "Kemana saja kembar sial itu. Kenapa Fia keluar rumah sendiri??" Cerocosnya mulai naik darah. "Duuh sayang.. keningmu sampai berdarah. Tanganmu lecet." Bang Rakit mengusapnya lalu meniupnya. "Siapa sih buat lubang selokan sebesar ini. Besok pagi kututup semua..!!"
"Lho astaga.. Kapten Rakit??? Sudah pulang Kapten??" Tanya seorang anggota.
"Sudah.. wawancara nya nanti saja. Bantu saya antar Fia ke rumah sakit..!!"
.
.
.
.
Untuk hari Senin mohon berkenan vote nya ya. Mohon untuk mengurangi menjadi silent readers dan aktif memberi dukungan karena dukungan adalah salah satu semangat Nara. Jika memang karya Nara masih memberikan manfaat dan hiburan mohon bantuannya karena Nara tidak promosi karya di manapun. Karena di karya Nara sangat minim vote. Terima kasih 🙏.
.
.
__ADS_1
.
.