Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
50. Saat dia datang.


__ADS_3

"Bu Fiaa"


"Iya Om." Fia melihat dua orang ajudan Bang Rakit menghampirinya dengan terengah. Wajahnya terlihat cemas.


"Ijin ibu, masih mau jalan pagi?" Tanya Serda Bastian.


"Saya sudah capek Om"


"Aduuhh.. saya ambil motor ya Bu. Ibu jangan jalan lagi. Kalau ibu kecapekan saya yang tamat" kata Om Alvin.


Fia terkikik melihat ketakutan kedua ajudan Bang Rakit yang selama ini selalu ada di rumah Papa mertua nya terutama Om Alvin yang hampir selalu ada. "Panglima khan nggak galak om. Kenapa om-om ini setakut itu"


Kedua ajudan itu hanya nyengir saja pasalnya Fia tidak tau kalau seorang Kapten ternyata lebih menakutkan daripada seorang panglima. Panglima memang tidak galak.. yang galak itu........"


Om Bastian menyenggol kaki rekannya yang hampir saja membongkar rahasia.


Fia mengerutkan keningnya. "Siapa??"


"Ahahaha.. sa_ya yang galak" jawab Om Alvin daripada rahasia Kapten nya terbongkar.


Fia terbelalak tapi akhirnya ikut tertawa juga mendengarnya.


:


Bang Rakit tersenyum kecil melihat tawa Fia yang ia lihat melalui video pendek yang dikirimkan Serda Bastian.


"Pot, namamu sudah turun berangkat ke Sudan?" Sapa litting di Batalyon.


"Iya sudah. Mau apalagi pot, istri nggak punya.. anak nggak ada. Di minta berangkat ke Sudan ya berangkat saja." Jawab Bang Rakit meskipun dalam hatinya menyimpan gundah dan gelisah mendalam.


"Bagaimana kabar istri almarhum?"


"Alhamdulillah sehat, anaknya sudah sehat."


"Anak satu litting bro. Nggak kebayang bagaimana perjuangan istri Almarhum" Jawab littingnya.


Bang Rakit tersenyum mendengarnya. "Dia pasti kuat."


\=\=\=


Malam ini Bang Rakit menyiapkan pakaian untuk di bawa ke Sudan. Test sudah selesai di lakukan. Kini tinggal karantina pra tugas saja. Bang Rakit mendesah merasakan harus berpisah meninggalkan Fia, tapi apa daya.. istri sahabatnya itu menolak hadirnya Rasa cintanya pada Almarhum Zeni masih sangatlah besar.


Bang Rakit terduduk lemas mengingat segala hal sebelum kepergian sahabatnya itu. "Kamu memintaku menjaga Fia dan anakmu dengan cara bagaimana? Istrimu saja menolak ku mentah-mentah."


***


Lewat tengah malam mata Bang Rakit belum bisa terpejam. Terbayang wajah Fia hingga menusuk perih dalam hatinya.


Ponsel Bang Rakit berdering.


"Kenapa bro?" Tanya Bang Rakit saat menerima panggilan telepon dari Prada Alvin.


Hanya terdengar suara berisik bersahutan di seberang sana.


"Ngomong yang jelas.. Fia kenapa???" Bentak Bang Rakit.


"Ijin Dan.. Bu Fia mau melahirkan. Terpeleset di kamar mandi"

__ADS_1


"Ya Tuhan.. kenapa sampai terpeleset segala?????"


...


Papa Galar dan Mama panik mengantar Fia yang sudah berdarah-darah menuju rumah sakit.


"Papaa.. Fia mana??" Tanya Bang Rakit tak kalah panik.


"Di dalam ruang tindakan"


Nyali Bang Rakit sungguh besar, ia menerobos masuk ke dalam ruang tindakan. Papa Galar hanya bisa mengomel geram melihat tingkah putranya. "Rakiiiiiiittt.. jangan ngawur kamu..!!"


~


"Saya disini atau Abang yang keluar" ancam Bang Rakit.


"Setan kamu.. saya ini dokter, kamu bakterinya..!!!!" Ucap kesal dokter Ari.


"Saya mau temani Fia."


"Bagaimana caranya gemblung..!!! Kamu ini siapanya????????"


"Aaaahhh.. persetan. Aku tanggung dosanya"


"Ya Tuhan kamiii.. setelah ini saya nggak mau berurusan sama kamu Rakit"


"Ya sudah.. setelah ini khan, sekarang Abang ada urusan sama saya..!!!!!!!!"


"Terserah.. pakai alat-alat ini..!!!"


Bang Rakit menyambarnya lalu segera memakainya.


:


Tangan itu meremas kuat sisi ranjang. Nafasnya tersengal nyaris terputus. Tak di sangka 'perawat' yang sejak tadi menatapnya seketika memegang tangannya. Fia tau itu tangan seorang pria. Mata keduanya saling menatap. Hanya mata karena Fia tidak bisa melihat wajah perawat tersebut. Air mata Fia menitik, pria itu menghapusnya dengan lembut. Fia terdiam seakan mengenali sosoknya.


"Aaaaaaahh.." Fia kembali merintih. "Huuuuhh" perlahan Fia membuang nafasnya. Terbayang wajah Bang Zeni, hangat pelukannya dan seluruh tentang dirinya. Halusinasi nya merasa Bang Zeni tersenyum menatapnya dari kejauhan. "Fia sungguh rindu."


Tiba-tiba pria tersebut tanpa ijin memeluk dan mengecup keningnya. Tapi dalam diri Fia tak kuasa menolak. Entah dirinya yang lemah atau haus akan kerinduan belai hangat seorang suami.


"Fia.. apa kamu ingin mama menemanimu??" Tanya dokter Ari.


"Tidak dok.. biar Abang saja yang menemani ku disini" jawab Fia di antara setengah kesadarannya.


:


"Bang.. tolong lakukan apa saja biar persalinan ini cepat. Saya nggak kuat lihat Fia kesakitan"


"Ini bukan balapan yang bisa kau atur seenak udelmu...!!" Jawab Dokter Ari ikut pusing menanggapi tiap protes pria merepotkan di hadapannya.


"Eegghhh" Fia mulai mengejan sampai mencakar tangan pria tersebut bahkan sampai mengigitnya.


Bang Rakit kembali fokus pada Fia, ia hanya memejamkan mata, meringis pasrah menerima cakaran dan gigitan Fia. Tak cukup dengan itu Fia masih menarik kaosnya dengan kuat.


"Sekali lagi Bu..!!" Arahan dari Ibu bidan.


Fia terlihat begitu lemah, down di antara perasaannya yang hancur berkeping. "Fia janji.. akan membuatmu menjadi seorang ayah Bang. Mudah-mudahan Abang tenang disana."

__ADS_1


Pria itu mengecup kening Fia. "Dia sudah tenang dek. Jangan lagi tumpahkan tangismu. Sungguh tangismu membunuh Abang secara perlahan."


Fia kembali menatap wajah pria itu dan pria itu mengalungkan kedua tangan Fia di belakang lehernya.


"Mungkin kamu merasa Allah begitu jahat akan nasibmu. Tapi Allah adalah zat Yang Maha Adil. Memang begitu sakit perpisahan.. tapi itu semua hanya jalan untuk merasakan manisnya pertemuan. Dunia tidak mati disini dek.. Letakan dia di dasar hatimu. Bukalah lembar cerita yang baru. Allah tidak sejahat itu sayang...!!" pria itu menarik selimut untuk menutupi wajah keduanya, perlahan ia mendekati bibir Fia, membuka masker medis dengan cepat sampai Fia tak bisa melihat siapa pria kurang ajar itu.


Seakan obat bius terbaik dan termanis, bagai tak merasa sakit Fia sanggup mengejan dan......


"Puji Tuhan.. laki-laki" kata dokter Ari. "Heeh sudah.. perawat gadungan..!!!!" Tegur dokter Ari menghentikan kenakalan perawat gadungan tersebut.


Pria tersebut sedikit beranjak dan kembali memasang masker medis di wajahnya.


"Alhamdulillah..!!" Pria tersebut melongok mengintip bayi kecil yang baru saja mengudara, ia pun berlinang air mata. "Oohh.. B******n tengik. Mirip sekali dengan Zeni" gerutunya sembari mengusap air mata.


Tangan pria tersebut mengusap kening Fia. Matanya menatap haru.


"Siapapun Abang.. tak peduli bagaimana kurang ajar nya Abang padaku.. Terima kasih.....!!" Ucap Fia sesaat sebelum kehilangan kesadaran.


"Baang.. Fia Baaangg..!!"


"Amaann.. capek saja dia" jawab dokter Ari.


...


"Sudah di adzani ndhuk. Namanya siapa nih??" Tanya Papa Galar.


"Seperti pesan Abang. Berikan nama Elgash Narotama di belakangnya."


"Lalu siapa nama depannya?" Tanya Mama.


"Ada yang menyarankan Arsenal.. karena dulu Zeni pernah mengidolakan klub sepakbola itu. Arsenal Elgash Narotama. Jadi panggilannya Arsen saja..!!" Jawab Papa Galar.


"Terserah Papa Mama saja. Fia ikut" kata Fia masih dengan suara lemah.


"Eehh Pa. Rakit sudah berangkat khan ya?"


"Sudah Ma, satu jam yang lalu" Papa Galar menciumi cucu pertamanya itu.


"Bang Rakit kemana Pa?" Tanya Fia.


"Dinas ke Sudan. Ini dia sudah karantina pra tugas. Yaaa.. paling tidak hampir dua tahun lah kita tidak bertemu" jawab Papa Galar.


"Paa.. tadi Mama sempat fotoin Rakit waktu gendong Arsen." Mama menunjukan foto itu pada Papa. Kemudian Papa memberikan ponsel Mama pada Fia.


"Maaaa.. ini tangan Bang Rakit kenapa ya??" Tanya Fia karena foto tersebut mengingatkan Fia pada seseorang.


"Di cakar kucing katanya. Bibirnya saja sampai bengkak sariawan" kata Mama.


Fia terdiam sejenak lalu menatap Arsen dalam gendongan Opanya. Matanya berkaca-kaca.


"Kalau Rakit nggak main-main sama kucing, nggak mungkin di cakar lah ma..!!" sambar Papa Galar.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2