
"Bawa gerobak bakso itu di depan pos tengah aja Van. Istri saya muntah terus bau aroma bakso" kata Bang Rakit memberi arahan pada Bang Ervan setelah memastikan Fia tidur dan kedua anggota istrinya pulang.
"Heeehh jangan. Aku ngidam makan bakso nih" Bang Cemar melarang keras Bang Rakit memindahkan tukang bakso untuk berhenti di dekat rumahnya.
"Kamu makannya minggir jauh. Fia muntah bau bakso" tak usainya kedua Danki ini berdebat seakan terjadi ribut besar tak terhindarkan.
"Bisa-bisanya Kapten Rakit mengusir saya" ucap Bang Cemar mengundang perhatian kedua ajudannya. Prada Khairil dan Pratu Arga yang baru datang. Mereka mengira Kapten Rakit sedang mengancam nyawa Kapten Al Khobar.
Kedua ajudan itu maju dan berhadapan langsung dengan Om Alvin dan Om Wahyu.
"Keluarkan senjata kalian. Kapten Rakit melarang kita bertahan hidup..!! Senjata SG" Perintah Bang Cemar.
"Oohh.. Siap komandan..!!" Kedua ajudan Bang Cemar meraba saku kemudian mengeluarkan senjata mereka.
Zleeeppp..
Mata Om Alvin dan Om Wahyu terbelalak seketika karena senjata yang di keluarkan oleh dua ajudan Kapten Cemar adalah sendok dan garpu.
"Jalak dan Nuri.. lindungi Elang..!!" Perintah Bang Rakit.
Kedua ajudan seketika kebingungan karena sedang tidak membawa senjata apapun di dalam kantong mereka.
"Cepat..!!!"
Melihat Danki sudah mengikuti kemiringan jalan pikir Danki sebelah, Om Alvin mengeluarkan obeng dari sakunya.. Om Wahyu pun mengeluarkan sisir.
"Kita waras.. kita mundur..!!" Perintah Bang Cemar pada kedua ajudannya. "Tebeng saya mana???" Pinta Bang Cemar pada pedagang bakso.
Pedagang bakso itu terkikik dan memberikan mangkok pada Bang Cemar. "Ini Pak, kalau bisa di borong saja biar saya cepat pulang" kata pedagang Bakso.
"Oke.. gampang" Bang Cemar mengeluarkan dompetnya dan meletakan di bangku taman lalu mengambil porsi bakso yang dia inginkan. "Perhatikan anak buah saya.. kalian harus sopan. Jangan seperti Danki sebelah ambil berporsi-porsi bolak balik. Lebih baik seperti saya. Tiga porsi jadi satu. Tidak kelihatan, kalem, tidak buat banyak pekerjaan untuk Pak baksonya"
"Siap Danki.." jawab Prada Khairil dan Pratu Arga.
Bang Rakit begitu jengah melihat ulah littingnya, ia pun meninggalkan tempat. "Kalian makan saja, nanti saya yang bayar. Saya mau lihat istri dulu" perintah Bang Rakit pada dua ajudannya.
"Siap.. terima kasih Danki"
"Ya" jawab Danki singkat.
:
Bang Rakit membuang puntung rokoknya asal. Fia sudah pulas tidur, kecemasannya pun berkurang.
__ADS_1
"Pak Rakit.. ini ada tagihan bakso" pedagang bakso itu memberikan catatan untuk Bang Rakit.
"Haaaaahh.. nggak salah nih pak. Tiga juta tujuh ratus lima puluh ribu??????" Pekik Bang Rakit setelah membaca notanya.
"Ini tagihan satu kompi Pak. Atas perintah Pak Khobar"
"Apaaaa??" Sungguh kaget Bang Rakit mendengarnya.
"Kata Pak Khobar untuk merayakan kehamilan ibu Rakit"
Sebenarnya ada rasa kesal dalam hati Bang Rakit namun ucapan 'kehamilan Bu Rakit sungguh sangat menghangatkan hatinya. Ia pun tersenyum. "Minta do'anya saja ya Pak. Bapak punya nomer rekening khan? Saya transfer saja ya. Saya nggak ada uang cash" jawab Bang Rakit.
"Bisa Pak, saya kirim ke nomer bapak ya"
"Iya Pak, silakan"
...
Sore ini Bang Rakit melihat Fia masih juga tidur, tak seperti Fia yang biasanya.. masih bisa mengurus Arsene dan untungnya Arsene anteng saja dengan segala mainan yang ia miliki.
"Ya ampun Le, kamu main sendiri? Sudah makan apa belum? Kenapa Mama biarkan kamu main sendiri??" Bang Rakit segera menggendong Arsene dan mengajaknya ke dapur.
~
Wajah Bang Rakit suram melihat putranya belum makan. Setelah menggoreng telur ia pun dengan cepat menyuapi Arsene.
"Setelah makan Abang main sebentar di ruang tv ya. Papa mau bereskan tempat tidur dulu" alasan Bang Rakit yang berniat bicara dengan Fia.
~
"Kenapa nggak urus Arsene? Badanmu juga nggak demam" tegur Bang Rakit usai menyentuh kening Fia. Hangat normal tidak sampai demam.
"Badan Fia sakit Bang, Fia pusing, perut panas, mual" jawab Fia.
"Abang nggak melarang kamu tidur, Abang nggak peduli kamu mau urus rumah atau tidak.. yang penting Arsene makan. Kalau kita lapar masih bisa cari di luar, kalau Arsene nggak bisa" nada Bang Rakit semakin meninggi.
"Hhkkk.." Fia beranjak kemudian berlari ke kamar mandi, Bang Rakit pun sigap mengikuti. "nggak mau dengar suara Abang yang keras itu. Jelek" kata Fia kemudian kembali muntah.
Bang Rakit yang sudah bersiap membuang suaranya seketika terdiam.
"Fia malas dekat sama Abang"
Bang Rakit menjadi syok mendengarnya, ia merasa sepertinya Fia baik-baik saja beberapa hari yang lalu tapi kenapa sekarang tiba-tiba Fia jadi seperti itu. "Kamu ingat Zeni lagi?" Tanya Bang Rakit terdengar sangat jelas menyentil hati Fia, pasalnya sejak malam itu hatinya hanya tertambat untuk Bang Rakit.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Bang Zeni juga suami Fia" Jawab Fia malas.
"Fiaaaaaaaaaa..!!!!!" Tangan Bang Rakit sudah mengepal erat.
Fia menutup wajahnya karena takut Bang Rakit akan menampar dan memukulnya. Terdengar suara isakan yang menyayat hati Bang Rakit.
Tau sang istri sedang ketakutan, Bang Rakit segera pun memeluknya. "Abang minta maaf dek. Abang salah" Bang Rakit mengatur nafasnya dan menekan emosinya. "Kamu kenapa to, benci sekali sama Abang"
Fia semakin terisak di pelukan Bang Rakit. "Fia nggak tau, lihat Abang rasanya kesal. Abang terlalu wangi campur bau matahari, Fia juga malas dengar suara keras Abang" jawab Fia.
Tangan Bang Rakit mengusap perut Fia. Batinnya seakan mengharapkan sesuatu disana.
Ya Allah, jika Engkau mengijinkan.. Aku ingin sekali kau berikan seorang putri kecil. Aku sudah punya jagoan, kini aku hanya ingin seorang peri cantik sebagai alarm diri.
"Abang minta maaf dek.." Bang Rakit mengeluarkan segepok uang dari sakunya. Ia paham di daerah tersebut masih lumayan sulit menggunakan pembayaran secara transfer. "Ini buat kamu, Abang dapat bonus kerja"
Tangis Fia seketika berhenti melihat gepokan uang yang ada di hadapannya. Ia menghapus air mata dan menerimanya. "Uang di kartu ATM Bang Zen masih ada Bang. Kemarin Abang juga sudah kasih Fia dua kartu ATM" jawabnya tanpa memalingkan muka dari uang yang di genggamnya.
"Simpan saja kartu ATM punya Zeni. Sekarang kamu hanya boleh memakai kartu dari Abang. Abang Papanya Arsene. Kamu dan Arsene tanggung jawab Abang" ucap tegas Bang Rakit.
"Terus uang ini buat apa Bang?"
"Ya buat istri Abang"
Mata Fia berbinar-binar penuh haru. "Fia mau buat taman bermain untuk anak-anak, mau beli freezer untuk menampung daging dan ikan, disini khan sulit dapat Bang" kata Fia yang selalu memikirkan kesejahteraan anggotanya.
Bang Rakit menarik nafas panjang lalu membuangnya. "Itu uang khusus buat kamu. Kalau mau buat aneh-aneh nanti Abang yang urus. Sekarang kamu beli saja barang yang kamu inginkan" saran Bang Rakit. Fia pun mengangguk.
"Fia mau beli baju buat Abang"
Bang Rakit sampai menepuk dahinya. "Pikir buat kamu..!!!! Minimal Arsene lah.. bukan buat Abang"
"Ya sudah, Fia mau ayam bakar" jawab Fia.
"Deeehh.." Bang Rakit sampai gemas mendengarnya. "Yo wes ayo berangkat..!!"
.
.
.
.
__ADS_1