
Fia sedikit grogi sampai hampir menangis. Tapi Bang Rakit membelai rambutnya. "Abang akan membuatmu selalu mengingat Abang. Ini Bang Rakit mu, yang akan selalu ada untukmu." Kata Bang Rakit. "Kenali diri Abang..!! Semua ini milikmu"
:
Bang Rakit berusaha keras untuk menyenangkan Fia namun Bang Rakit merasa setengah respon tubuh Fia bisa menerima nya namun sebagian lagi tidak bisa menerima nya. Bang Rakit frustasi merasakan batinnya tersiksa, ingin menuntaskan semua tapi rasa itu tak bisa sampai. Ia pun menyudahi semuanya di tengah jalan.
"Abang kenapa?" Tanya Fia karena Bang Rakit menyudahi semuanya.
"Nggak apa-apa" Bang Rakit beranjak berdiri tapi Fia memegangi lengannya.
"Fia salah ya Bang? Apa Fia belum bisa menyenangkan Abang?"
"Hubungan badan bukan soal senang atau tidak. Kamu memberikan harapan indah untuk Abang. Tapi kamu juga yang membanting perasaan Abang. Abang tau tidak pantas mencemburui Zeni.. dia Papanya Arsene.. karena nyawanya juga Abang bertemu sama kamu. Tapi kamu keterlaluan Fia.. Apa Abang juga harus mati agar kamu yakin sayangnya Abang sama kamu..!!" Bang Rakit membentak kasar, ia pun tau saat ini pasti Fia sangat ketakutan terlihat dari gesture tubuhnya yang menggulung selimut untuk menutupi keresahan diri. Mencoba menguatkan hati untuk menerima amarahnya.
"Dosanya Abang memarahi mu seperti ini di malam pertama kita."
"Fia minta maaf Bang, Fia salah" tangan Fia gemetar menyentuh tangan Bang Rakit.
Perlahan Bang Rakit melepas genggaman tangan Fia. Ia memungut pakaiannya. "Cepat mandi.. sholat isya..!!" Ucapnya lembut tapi terdengar dingin.
...
Bang Rakit menenangkan diri di ruang kantornya. Gelap, sepi, sendirian. Air matanya mengalir, ia membiarkan sampai batinnya tenang.
Inilah resiko mencintaimu. Mengucapkan 'sanggup' tidak semudah menjalani nya. Mungkin semua ini perkara sepele.. tapi terasa sangat berat. Kalau Abang tidak mencintai kamu.. tidak akan pernah Abang tersiksa seperti ini.
***
"Allahu Akbar.. Baang" Bang Ervan menemukan Danki duduk lemas di kursinya.. memakai celana pendek dan kaos rumahan. "Abang ini kenapa?? Ada masalah apa??"
"Kenapa saya bisa Danki?? Mental saya terlalu rendahan" Bang Rakit benar-benar terpukul dengan keadaan dirinya. "Hanya Zeni saja yang pantas. Saya ini apa Van??"
"Ada masalah apa sih Bang??? Masalah rumah tangga tidak ada kaitannya dengan pekerjaan" kata Bang Ervan sambil memapah Bang Rakit untuk pindah ke sofa.
Bang Rakit hanya diam. Tatapannya kosong.
"Abang makan ya, pasti Abang belum makan..!!" Prihatin sekali Bang Ervan melihat keadaan seniornya itu.
"Bagaimana caranya menjadi Mayor Anumerta Seno Rakit??" Ucap Bang Rakit kemudian terkulai.
"Ya Allah Bang.. istighfar..!!!!" Bang Ervan mengguncang tubuh Bang Rakit.
__ADS_1
...
Nafas Bang Rakit sudah sedemikian sesak. Belum ada perubahan darinya sampai akhirnya Bang Cemar dan Bang Fabian datang.
"Kalian semua keluarlah.. biar saya dan Fabian yang tangani..!!" Perintah tegas Bang Cemar pada petugas kesehatan. "Wahyu.. kamu panggil Ibu Fia kesini..!! Katakan Kapten Khobar menunggu di ruang Kapten Rakit...!!"
:
Fia pun datang tak kalah lemas. Matanya sembab. Bang Cemar menoleh Arsene sedang bermain dengan Alvin. Bang Fabian memijati pelipis Bang Rakit agar sahabatnya itu segera pulih.
"Kamu nggak bosan lihat Abang ada disini terus Fi?" Sapa Bang Cemar.
Fia hanya menunduk. Sesekali menatap sedih Bang Rakit yang sedang terbaring di sofa panjang yang sedang ia duduki saat ini.
"Kamu jangan salah paham Fi. Abang tidak memihak siapapun. Abang juga tau batasan untuk nggak ikut campur dalam urusan rumah tangga mu sama Rakit, tapi Fia.. Zeni sudah tiada dan sekarang Rakit adalah suamimu. Dia berhak atas dirimu" ucap Bang Cemar langsung pada pokok masalah. "Rakit cukup bersabar di balik emosinya yang sangat tinggi. Sekarang Abang tanya. Kamu ada rasa untuk Rakit atau tidak? Kalau Rakit sampai seperti ini, itu sudah jelas menyentuh batin dan mental nya. Laki-laki itu tidak pernah pakai hati tapi sekalinya main hati.. ya begini"
"Betul Fia. Abang juga nggak pernah lihat Rakit sampai seperti ini" imbuh Bang Fabian.
"Memang Fia yang salah Bang. Abang marah sekali sama Fia. Karena ingat Bang Zeni saat kami......."
"Hmm.. oke Fi.. Abang paham. Pantas saja sampai begini" Bang Cemar pun sudah memahami perkaranya. "Lha wong Lanang kuwi jiwane tarung Fi. Rakit di gawe ngono yo modiiaar tenan to."
"Sudah Fi, nanti kamu perbaiki lagi hubunganmu sama Rakit. Nanti Abang juga akan bantu melunakan hatinya yang kaku." Kata Bang Fabian.
"Sebenarnya intinya mah gampang. Mereka punya kualitas bersama yang bagus saja sudah cukup. Saling berbagi perasaan, tukar keringat, selesai. Rakit itu penyayang meskipun kakunya astaganagaa.. sedangkan Fia ini takut karena belum pernah di cek secara benar."
"Terus piye Mar??" Tanya Bang Fabian ikut bingung.
"Nanti Opa yang tangani..!!!!"
"Opaaa???" Fia cukup kaget melihat kedatangan Opa Huda yang tiba-tiba bersama Oma Ayu.
Ketiga pria disana.. Bang Cemar, Bang Fabian dan Bang Ervan memberi hormat pada Opa Huda tapi pria itu mengibaskan tangannya.
"Masa jaya saya sudah lewat. Sekarang kalian para generasi muda tidak boleh lemah, harus kuat berjuang demi bangsa ini" nasihat singkat Opa Huda.
"Kalau yang begini bagaimana Opa??" Tanya Bang Cemar.
"Aiisshh.. memang si Rakit ini kudu di tatar dulu. Urusan perempuan kacau sekali dia." Jawab Opa Huda. "Sayang.. kamu tangani Fia. Biar Abang yang tangani Danki panasan ini" pinta Opa Huda pada Mama Ayu. Rasa sayang dan cintanya untuk istri cantiknya itu tidak pernah berubah meskipun kulit Oma Ayu tidak sekencang masa mudanya dulu.
"Iya Abang" jawab Oma Ayu.
__ADS_1
"Terima kasih cantik ku" goda Opa Huda sembari mencolek dagu Oma Ayu.
"Aahh Tuhanku.. ini yang muda baper Opaaa" kata Bang Cemar. Yang lain pun ikut salah tingkah.
"Kalian apa tidak tau kalau sebenarnya Rakit ini mulut buaya dan usil???" Jawab Opa Huda melirik Fia agar cucu mantunya itu mengerti.
"Haahh.. masa Opa??" Tanya mereka bersamaan.
"Fia belum tau saja. Belum lagi kalau Rakit sudah posesif... Bukan begitu Alvin??"
"Siap.. ibu Fia masuk selokan.. selokannya yang salah" jawab Prada Alvin.
...
"Kalau Fia mau tidur sama Abang.. Fia nggak selingkuh khan Oma??" Tanya Fia.
Oma Fia tersenyum geli. "Nggak donk. Dunia mempertemukan kalian setelah kalian berpisah dengan pasangan masing-masing. Sekarang kalian berada dalam payung pernikahan yang sah. Jangan saling menyakiti lagi.
//
"Dia nolak aku terus Opa. Panas sekali rasanya aku ini" gerutu Bang Rakit.
"Tidak selamanya merayu perempuan itu harus sedikit kasar saja atau lembut saja. Apalagi menangani perempuan seperti Fia." Jawab Opa Huda.
"Maksud Opa?"
"Ya sudah.. selesaikan dengan kepala dingin..!!" Kata Opa Huda.
"Duuh.. nanti dia kepikiran Zeni lagi"
"Kamu mampu nggak. Urusan satu itu kamu yang pegang kendali..!!"
Bang Rakit pun melirik Opa Huda. "Opa meremehkan aku???? Sampai bulan depan Fia nggak bawa adiknya Arsene.. itu kebun kompi aku yang cangkul sampai habis..!!!!" Jawab Bang Rakit mulai meradang.
.
.
.
.
__ADS_1