Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 18. Bisa cemburu.


__ADS_3

Bang Jenar mengambilkan buah anggur yang baru saja di belinya secara online dan menatanya di sebuah piring buah lalu membawanya ke hadapan Lintar.


"Ini nyonya gusti majikan ndoro juragan" ucap Bang Jenar.


"Terima kasih" Lintar memasang wajah ketus.


Lintar mengunyah anggurnya tanpa lelah. Sudah sisa setengah ia merasakan perutnya sakit sekali, sampai wajahnya sedikit memucat.


"Abang.. perut Lintar sakit" kata Lintar tiba-tiba.


"Sebentar.. Abang ambil tas terus kita ke rumah sakit" panik Bang Jenar. Ia kemudian masuk ke dalam kamar setengah berlari lalu kembali cepat untuk segera membawa Lintar ke rumah sakit.


"Iihh.. nggak Bang. Lintar lapar"


"Kenapa tidak bilang dari tadi" ucap Bang Jenar dengan jengkel. Calon bapak itu pun berjalan ke dapur dan mencari bibi.


"Bi.. masak apa malam ini? Lintar kelaparan tuh bi"


"Masak rendang jengkol, sayur asem sama balado telur pak" jawab Bibi.


"Tolong ambilkan bi, Jangan sampai dia lapar terlalu lama. Bisa di terkam saya nanti" Bibi tertawa mendengar ocehan Bang Jenar yang kini sudah lebih banyak bersuara, membuat rumah tidak sunyi lagi.


...


Bang Jenar, Lintar dan bibi sedang makan malam. Tak lama ada suara ketukan pintu. Bibi yang sudah selesai makan berdiri untuk membuka pintu sedangkan Bang Jenar menyuapi Lintar yang sedang mogok makan nasi.


"Ayo makan, kalau kamu lemas.. Abang jadi mual"


"Pak, ada yang mencari bapak.. seorang wanita" kata bibi mengalihkan sejenak perhatian Bang Jenar untuk Lintar.


Bang Jenar melihat Lintar sekilas. Istrinya itu seperti jauh dari kesan cemburu.


"Siapa bi?" tanya Bang Jenar.


"Eehmm.. itu pak, dia bilang namanya non Lyta, calon istri pak Jenar" ucap bibi pelan.


"Wanita jaman sekarang sungguh tidak tau aturan" gumam Bang Jenar masih duduk di tempatnya.


"Sudaahh.. temui sana Bang. Nanti Abang nyesel lho nggak kawin sama dia" goda Lintar.


"Abang kalau mau kawin juga pilih-pilih lawannya" Bang Jenar pun berdiri.


"Nanti kamu nyusul Abang ke ruang tamu..!!" perintah Bang Jenar.


"Malas" jawab Lintar ketus.

__ADS_1


Bang Jenar menahan senyum menghadapi istrinya.


"Haaaahh.. cantiknya Lyta, bahenol, sexy, bohay" desah Bang Jenar di hadapan Lintar.


"Lintar ikut sekarang..!!!" Lintar menyudahi acara makannya, menyambar toples kacang dan mengikuti langkah Bang Jenar menemui Lyta ke ruang tamu.


~


"Pak Jenar serius atau hanya bohong bilang sudah menikah dengan Lintar?" tanya Lyta.


"Mana ada pernikahan hanya untuk main-main. Hukumannya berat" jawab Bang Jenar.


"Apakah Lintar sengaja menggoda bapak?" tanya Lyta lagi.


Lintar masih setia memeluk satu toples sedang kacang bawang yang bibi buatkan khusus untuknya. Ia mengunyah kacang bawang kesukaannya itu seolah tak peduli akan pembicaraan Bang Jenar dan Lyta.


"Dia tidak pernah menggoda saya" jawab Bang Jenar datar.


"Saya tau dia menggoda bapak sebab bapak bertemu dengan Lintar saat ia bekerja sebagai wanita malam" Lyta berusaha menggoyahkan pendirian Bang Jenar.


"Analisa yang menakjubkan. Sayangnya tidak seperti itu kejadiannya. Dan saya minta tarik kata-kata mu untuk menyebutnya wanita malam. Dia istri saya, Istri Kapten Jenar..!!" tegas Bang Jenar.


"Lalu bagaimana dengan nama kita yang sudah naik ke pusat??" Lyta tetap memaksakan keinginannya.


~


Lyta pulang menaiki mobilnya dengan geram. Ia membanting pintu dengan kencang.


Lintar masih duduk di tempat tanpa bicara sedikit pun.


"Kamu ini istri Abang atau patung?? Kenapa diam tidak menjawab sejak tadi???" tegur Bang Jenar bernada keras dan kesal.


"Masa Lintar harus marah pada manusia lain yang punya hati dengan Abang, bukankah perasaan suka tidak bisa di paksa, kalau Abang nggak suka sama dia..lalu buat apa Lintar marah?" kesal Lintar sambil terus mengunyah dan memasukan kacang ke dalam mulutnya.


"Kalau Abang suka sama Lyta???" pancing Bang Jenar.


Lintar menatap tajam membunuh pada mata Bang Jenar.


"Biiiii... tolong ambilkan parang!!! Ada timun minta di beset nih" teriak Lintar.


Bibi hanya tersenyum mendengar perdebatan majikannya.


"Huuusstt... Abang bercanda. Jangan bicara macam-macam..!!" Bang Jenar menjepit bibir Lintar dengan telunjuk dan ibu jarinya.


"Abang yang punya niat macam-macam" Lintar marah. Ia berdiri lalu pergi ke arah dapur untuk minum.

__ADS_1


Lintar meneguk minuman dengan kesal, suara tegukannya pun terdengar sampai telinga Bang Jenar.


Bang Jenar melihat istrinya begitu tidak nyaman. Matanya memerah menahan perasaan, bahkan Lintar meletakkan gelas yang sudah kosong itu dengan kasar.


"Abang nggak akan mengkhianati kamu. Hanya kamu yang Abang sayang" tangan Bang Jenar tiba-tiba sudah memeluk Lintar dari belakang.


Tangan kekar itu mengusap perut Lintar yang masih datar.


"Jangan mudah marah, bilang sama Abang apa yang ada di hatimu. Kita sudah bersama, kita harus saling berbagi sekecil apapun masalah kita. Kamu sudah punya Abang sebagai sandaran hidupmu dan kamu adalah belahan jiwa Abang sekarang. Tanpa mu ibadah Abang tidaklah sempurna sayang"


Lintar berbalik lalu memeluk Bang Jenar dengan erat. Ia menangis di dada bidang suaminya.


"Lintar cemburu Bang" ucapnya pelan.


"Abang tau! Istri wajib cemburu agar suami selalu sadar ada wanita yang sangat mencintai nya dan sedang menunggunya di rumah" Bang Jenar mengusap punggung Lintar.


Lintar mengelus perutnya dan menghembuskan napas berkali-kali.


"Kenapa??" tanya Bang Jenar cemas.


"Lapar Bang"


"Bukannya belum ada setengah jam kamu makan dek?" Bang Jenar heran melihat Lintar. Raut wajah Lintar berubah menjadi kesal lagi, ia memalingkan wajah.


"Eehh..iya..iya.. Mau makan apa sayang" bujuk Bang Jenar.


"Nasi Madura"


"Astaga.. mau cari dimana itu nasi malam begini?" Bang Jenar berdecak bingung.


"Mas nggak mau cari????"


"Mau..mau sayangku.. Pipinya jangan ngembang seperti ikan koi gitu aahh" kata Bang Jenar menahan gemas merasakan keribetan bumilnya.


"Jadi Lintar sekarang mirip ikan???????"


"Nggak sayang.. Duuuhh Abang harus bilang apa nih, tiap bicara seperti bom bunuh diri aja" Bang Jenar mengacak rambutnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2