
Bang Rudra hendak kembali ke Jawa karena surat pindah tugasnya belum turun. Ia masih berada disana karena panglima memintanya tinggal untuk menjaga Bang Rakit. Setelah melihat kondisi adiknya sudah merasa lebih baik, ia memutuskan untuk pulang. Ada rasa rindu pada sang putra dan juga ingin sekali melihat makam Arina.
Kini hidupnya yang hampa hanya untuk putra semata wayangnya Pengging Patrayudha, buah hatinya bersama Arina yang kini telah tenang di surga bersama putri kecilnya.
"Mumpung disini lebih baik aku beli oleh-oleh untuk Patra. Dia pasti senang kalau aku pulang cepat" gumamnya. Semangat hidupnya hanya karena putranya itu.
...
Ia melihat seorang gadis sedang mengambil foto pemandangan dari kamera.
"Ayo pulang..!!" Ajak seorang pria yang berdiri di sampingnya dengan kasar.
"Nggak mau" tolak gadis itu.
Plaaakk..
Pria itu menampar pipi gadis itu dengan keras namun tak di sangka gadis itu menghantam kamera ke wajah pria itu dengan keras pula.
"Kau berani menamparku???????" Bentak pria itu.
"Laki-laki tidak punya otak, aku lahir tidak untuk di tampar" suara gadis itu tak kalah kencang.
Pria tersebut melayangkan bogem mentah ke arah gadis itu tapi Bang Rudra menahannya. "Banci kaleng.. kau tidak lahir dari seorang perempuan??" Bang Rudra mengibaskan tangan pria tersebut.
"Kau tau apa?? Gadis ini sudah di jual keluarganya padaku sebagai jaminan keamanan. Dia budak ku. Masih untung dia ku beri makan dan kusenangkan" ucap sengit pria tersebut.
"Berapa kau beli gadis ini?????" Tanya Bang Rudra.
"Dua ratus juta"
"Aku beri kamu uang dua ratus juta, serahkan dia padaku..!!"
"Kau punya uang rupanya?? Baiklah.. Ambil saja gadis bodoh pembangkang ini. Jadi pembantu pun tidak ada gunanya." Jawab pria berkulit gelap tersebut.
~
Transaksi sudah di lakukan. Satu isi kartu ATM cadangan milik Bang Rudra sudah ludes tak bersisa. Entah apa yang ada di dalam pikirannya hingga ia mampu membuang uang sebanyak itu demi seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Terima kasih. Kamu tuanku sekarang..!!" Ucap gadis itu terdengar dingin, angkuh, namun terlihat tangannya gemetar.
"Jaga anak saya. Saya ingin kamu menjaganya, saya akan membayar tenagamu...!!"
"Dimana anak bapak?" Tanya gadis yang umurnya di perkirakan sekitar dua puluh tahunan.
__ADS_1
"Di Jawa. Tadinya saya mau pulang ke Jawa. Tapi biar besok Papa Mama saya yang akan mengantar dia kesini" jawab Bang Rudra tak kalah dingin.
"Baik Pak, saya akan menunggu putra bapak"
"Sekarang kamu tinggal dimana??" Selidik Bang Rudra.
"Ikut Gison"
"Pria tadi??" Tanya Bang Rudra.
Gadis itu mengangguk.
"Saya mau lihat identitas mu..!!" Pinta Bang Rudra.
Gadis itu segera membuka tas dan mengeluarkan identitas dari dompetnya. 'Ariana Mulia'. Cukup terkejut Bang Rudra membacanya. Nama mendiang istrinya bernama Arina sedangkan gadis ini bernama Ariana. Ia pun menatap lekat wajah gadis itu. Hatinya kembali terkejut saat mata dan bibir Riana begitu mirip dengan Arina, tapi ada yang lebih membuat Bang Rudra penasaran dengan sosok Ariana. "Siapa kamu? Kenapa ada foto dan nama Danyon di selipan mika dala identitas mu?" Selidik Bang Rudra lebih lanjut.
"Kembalikan..!! Mau lihat apa sih, lama betul" protes Ariana sambil menyambar identitas dirinya dari tangan Bang Rudra.
"Keluargamu disini??" Tangan Bang Rudra sibuk men-scroll layar ponselnya.
Ariana terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangan tak ingin menjawab pertanyaan Bang Rudra.
"Jawab..!!!!!!!!"
"Bebaskan saya..!!!!!!!" Pinta Ariana. "Saya akan mengasuh anakmu dengan sebaik-baiknya, tidak perlu di bayar apapun, Saya juga akan tinggal terpisah dengan bapak. Saya tau batasan menjadi seorang perempuan." Kata Ariana.
"Maaf Pak..!!".
"Saya akan membantu kamu, dengan syarat dan aturan yang berlaku.. jika semua tidak melanggar hukum. Katakan ada masalah apa??"
"Saya tidak punya orang tua, sejak kecil saya hidup bersama kakak. Kakak ipar saya tidak punya peringai yang baik hingga membuat kakak kandung saya terpengaruh. Dulu.. kakak ipar saya anak petani miskin yang kemudian di sekolahkan kakak saya lalu di nikahi.
"Apa hubungannya??" Bang Rudra mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya.
"Dengarkan dulu..!! Saya mau bapak bantu saya untuk lapor ke kantor polisi. Kakak ipar saya membuat Kakak saya membelot dari jalur, menjual senjata pada warga di perbatasan"
Setengah mati Bang Rudra terkejut mendengarnya tapi ia tetap bersikap santai seakan tak ada yang terjadi. Ia mencurigai sesuatu dari sebuah nama. "Siapa nama kakak kandungmu?"
"Bang Najib"
Deg..
Perasaan Bang Rudra begitu sakit mendengarnya. Karena kelakuan Letkol Najib, keluarganya harus banjir air mata karena gugurnya Kapten Zeni. Fia menderita karena kehilangan suami dan Arsene harus menjadi anak yatim. Untung saja Bang Rakit mampu menggantikan posisi almarhum Zeni dengan baik dan mencintai Fia dan Arsene dengan sepenuh hati bahkan melebihi dirinya sendiri.
__ADS_1
Mata Bang Rudra tak memalingkan pandangannya dari Ariana. Jika memang gadis ini sepintar itu, maka ia akan mencari cara lain untuk menyelamatkan diri terutama membuka rahasia besar di hadapan orang yang baru di kenalnya. Dengan kata lain gadis di hadapannya ini sangat polos dan pastinya Ariana sedang dalam bahaya.
"Kita saling membutuhkan, saya butuh informasi, kamu butuh perlindungan dari saya" kata Bang Rudra.
"Maksudnya?? Memangnya bapak siapa??" Tanya Ariana memasang wajah waspada. Ia sedikit gelisah dalam duduknya.
"Kamu dalam bahaya Ariana. Kamu tau itu khan?"
"Saya nggak ngerti Pak" Bang Rudra menegaskan keadaannya pada Ariana.
Bang Rudra terpejam berpikir keras untuk sejenak sembari mengepulkan asap rokok ke segala arah.
"Kamu harus selalu ada dekat dengan saya. Hanya itu caranya agar tidak ada satupun orang yang bisa menyentuhmu" ucap Bang Rudra tidak main-main.
"Tapi pakaian saya ada di basecamp nya Gison"
"Barang apa yang ada disana????" Tak tahan Bang Rudra melihat ekspresi Ariana.
"Sepuluh pasang baju, dua sepatu sama..........."
"Sama apa??"
"Buah melon di kulkas" jawab Ariana polos.
"Allahu Akbar.. saya belikan satu kulkas. Tinggal saja.. kamu ikut saya..!!!" Perintah Bang Rudra.
"Maaf ya, saya juga punya uang" kata Ariana dengan sombongnya.
"Berapa??"
Ariana membuka tas yang sejak tadi ia pegang dan memamerkan nya pada Bang Rudra. "Inii"
"Baaahh.. kau ini, uang enam belas ribu saja kau banggakan." Ledek Bang Rudra membuat Ariana kesal.
"Permisi.. ini tagihan meja mbaknya tadi" kata seorang pelayan wanita.
Ariana mulai gelisah karena biasanya Gison yang akan membayar tapi kali ini Gison sudah pergi.
Bang Rudra melirik Ariana yang sudah memucat. "Suruh cuci piring saja mbak, dia nggak punya uang tuh." Kata Bang Rudra dengan jelas dan berwajah dingin.
.
.
__ADS_1
.
.