Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
63. Prahara lama.


__ADS_3

"Fia mau bicara..!!"


"Abang mau bicara..!!"


Ucap keduanya bersamaan.


"Kamu dulu..!!" Kata Bang Rakit.


Fia menarik nafasnya dalam-dalam. "Fia mau minta maaf.. sudah buat Abang marah. Fia tau.. Abang sakit hati" Fia mencoba menyentuh tangan Bang Rakit dengan ragu. "Maaf..!!" Ucapnya lagi.


Bang Rakit terdiam sejenak. Ia mengatur nafas merasakan sisa emosi dalam hatinya. Sebenarnya ia ingin hal spesial di malam pertama nya tapi sayang semua kacau.


"Abang maafkan" jawabnya singkat. Sebenarnya ia ingin mengomel mengungkapkan isi hatinya ia pun ingin membujuk rayu sang istri dengan caranya sendiri.


"Sungguh Bang??" Tanya Fia tidak percaya.


"Hmmm.."


"Baang.. yang benar..!!!!" Fia menarik lengan Bang Rakit. Suara itu terdengar manja layaknya seorang istri pada suaminya.


"Abang sudah maafin. Tapi kamu tidur sendiri di kamar..!!" Kata Bang Rakit.


"Fia sama Arsene"


"Arsene di bawa Opa Huda jalan-jalan ke kota. Abang mau tidur di kompi" jawab Bang Rakit bernada datar


"Katanya Abang sudah memaafkan Fia? Kenapa masih tidur di kompi?"


"Ya siapa tau ada kuntilanak cantik mau 'ngangetin' Abang. Sudah ini di puncak gunung, sepi, dingin, dahak juga sudah kental pengen di buang" cerocos Bang Rakit memberi kode pada sang istri.


"Fia bisa buatin Abang mie sama wedang jahe" jawab Fia tepat sasaran tapi bukan itu yang Bang Rakit inginkan.


Bang Rakit pun langsung berjalan keluar kamar. Entah kenapa dirinya selalu terpancing emosi setiap ada saja kata untuk menolak dirinya.


"Baang..!!" Fia mencoba mengejar Bang Rakit sampai akhirnya ia jatuh terguling karena tersandung bawah daun pintu.


"Allahu Akbar.. pelan-pelan dek. Ini kalau perutmu sudah ada isinya iso ambyar dek. Ya Allah.." Bang Rakit langsung membawa Fia kembali ke ranjang. Di lihatnya bekas tubuhnya yang terjatuh tadi. "Mana yang sakit?????"


Fia melihat Bang Rakit meniup tangan dan kakinya.


"Pintu ini besok Abang ganti..!!!!" Ucapnya dengan geram.


Fia semakin terharu melihat perlakuan Bang Rakit padanya. "Jangan pergi ya Bang..!!" air matanya sudah menggenang.


"Lahdalaah.. apa yang sakit dek??????" Bang Rakit mengambil ponselnya lalu menghubungi Alvin.


"Alvin.........."


Belum selesai Bang Rakit bicara, Fia sudah merampas ponsel Bang Rakit lalu membuangnya. Seketika ia memeluk suaminya itu. "Fia nggak apa-apa Bang, Fia hanya butuh Abang"

__ADS_1


Sejenak Bang Rakit tertegun.


"Jadi selama ini Abang yang selalu perhatian sama Fia dalam diam??"


Senyum itu kemudian menghias gurat wajah Bang Rakit. "Apa salah kalau Abang meratukan wanita yang Abang sayang. Di dunia ini Abang hanya punya kamu. Kalau ada apa-apa sama kamu. Abang nggak mau hidup lagi" ucap Bang Rakit terdengar seperti bualan, namun itulah perasaan hatinya selama ini. "Hidup Abang teramat sepi. Jika kamu hilang, Abang lebih memilih berkalang tanah"


"Jangan Abang.. jangan katakan itu, Fia nggak mau dengar..!!!!!!!" Teriak Fia sampai menjerit-jerit histeris sampai sesak memukul batinnya.


"Fiaaa.. Ya Allah dek..!!" Setengah mati Bang Rakit panik melihat Fia pucat tak sadarkan diri.


:


Dokter Ari melirik Bang Rakit. "Entah apa salah dan dosaku sampai Bapa yang di atas mentakdirkan saya bertemu kamu lagi disini" gerutu dokter Ari yang ternyata ikut pindah tugas di rumah sakit tentara disana.


"Saya nggak onar Bang, cepat periksa istri saya..!!" Bang Rakit sangat panik.


Dokter Ari mulai memeriksa Fia tapi semua itu terasa sangat lama bagi pria yang jauh dari rasa sabar sampai akhirnya Bang Rakit mengambil stetoskop dokter Ari dan memeriksa Fia sendiri.


"Ini maksudnya apa Bang????" Tanya Bang Rakit dengan gaya cool namun jelas sok tau.


Dengan geram dokter Ari merebut stetoskop nya kembali dengan kasar. "Makanya jangan sok tau..!!"


"Istriku bagaimana Bang??" Tanya Bang Rakit tak bisa menyembunyikan kecemasannya.


"Fia aman. Hanya syok saja. Sekarang juga sudah nggak apa-apa. Denyut nadinya sudah stabil" jawab Dokter Ari.


Bang Rakit duduk lemas di lantai. "Terima kasih banyak Abang..!!"


:


"Makan ya dek, Abang suapi..!!"


Sikap Bang Rakit begitu berubah melihat dirinya tidak enak badan seperti ini.


tok..tok..tok..


"Duuhh siapa nih datang malam begini?"


~


"Nggak Bu, jangan. Nanti tangan istri saya bisa biru lebam. Kalau kakinya keseleo bagaimana?"


"Siap bapak, ini hanya formalitas seperti biasa saja.. ibu masuk dalam setengah set pertandingan." Kata Bu Jefri.


"Maaf Bu, saya tidak berkenan" Bang Rakit menolak dengan tegas.


Bu Jefri tersenyum melihat perhatian Pak Rakit untuk sang istri. Jujur di lubuk hatinya yang terdalam merasa sangat lega karena Ibu Fia mendapatkan suami yang sangat menyayanginya tak kalah besar dari Pak Zeni.


"Baik Pak, saya mengerti. Biar ibu memantau dari sisi lapangan saja" jawab Bu Jefri.

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertiannya Bu"


"Siap bapak..!!"


~


Bang Rakit menemui anggota di kompi karena ada pengarahan dadakan soal acara gabungan yang belum sempat ia monitor dengan baik, selain itu dirinya juga harus menemui 'tamu' yang tidak ia harapkan.


Hanya ada Fia dan Bu Jefri di rumah dinas Bang Rakit. Mereka pun berbincang berdua.


"Pak Rakit sangat menyayangi ibu. Mulai dari pemberian pengaman pintu. Kursi di beri bantalan, tempat air galon yang lama harus steril tanpa lumut, keset di depan kamar mandi harus kering.. semua perintah Pak Rakit agar ibu nyaman"


"Kapan Abang memberi aturan begitu Bu? Kenapa saya nggak tau?" Tanya Fia cukup kaget mendengarnya.


"Kemarin Bu. Pak Rakit memang terlihat diam, seperti menyayangi ibu juga dalam diam. Suami saya sampai salut dengan segala usaha keras dan perhatian Danki untuk Ibu. Hal terkecil pun beliau pikirkan"


Fia terdiam, senyum kecil penuh haru tersungging di bibirnya. "Sungguh saya baru tau perlakuan manis suami saya"


//


"Apa kabar le?"


"Buruk, kalau melihatmu" jawab Bang Rakit malas.


"Papa mau bicara"


"Saya sibuk. Silakan anda keluar dari ruangan saya..!!" Pinta Bang Rakit pada seorang komandan tinggi wilayah tersebut.


"Sebentar saja le.. Papa ingin menjelaskan semuanya" kata Dan Giras.


"Saya tidak mau mendengar apapun lagi..!!"


"Saat itu papa tidak sengaja melakukannya dengan mama mu"


"Jangan sebut dia mama ku. Dia bukan mama ku..!!!!!!" Bentak Bang Rakit. Suaranya sampai terdengar keluar ruangan. "Kenapa tidak Mama Nadine yang menjadi Mamaku. Jika saja kau tidak berulah. Mungkin aku tidak akan terlahir dari rahim Nena. Aku tidak terima lahir dari seorang p*****r"


"Papa minta maaf le. Hingga saat ini tidak sehari pun pernah Papa lewatkan tanpa penyesalan."


"Kemana saja dirimu dulu saat aku butuh sandaran dan arahan?? Bahagia bersama istrimu Rizka??" Tanya Bang Rakit penuh rasa sakit tak terkira.


"Mama Rizka tidak tau apa-apa le."


"Sumpah demi apapun aku tidak akan mengulang kesalahan itu pada anak dan istriku. Sepedih apapun masalah dalam rumah tangga dan kehidupan ku. Aku tidak akan menyentuh wanita lain sebagai pelampiasan. Hanya istriku saja tempatku pulang menenangkan batinku yang gelisah" ucap tegas Bang Rakit.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2