Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
30. Situasi buruk.


__ADS_3

"Abang nggak akan lama" pamit Bang Zeni kemudian mengecup kening Fia dengan dalam dan sayang. Saat itu pula perasaan Bang Zeni sungguh tidak tega, merasakan sakit yang tidak ia pahami.


"Iya Bang, Fia ngerti" Fia menjawab ucapan Bang Zeni di sertai senyum tapi semua begitu terasa lain bagi Bang Zeni. Senyum Fia tidak tulus dan menyimpan tanda tanya besar dalam hati Bang Zeni.


Ini bukanlah perang, tapi rasa ini seakan aku akan berangkat menuju medan laga. Bang Zeni segera berbalik dan berangkat daripada harus melihat wajah Fia yang membuatnya akan semakin berat.


Beberapa langkah berjalan, Fia berlari dan memeluk punggung Bang Zeni dengan erat. Rasa sedih itu sampai terasa menembus perasaan Bang Zeni. "Cepat pulang ya Abang, Fia rindu..!!"


"Belum juga Abang berangkat Neng" jawab Bang Zeni menahan perasaan. "Iya, Abang pasti cepat pulang" meskipun ada hati tidak tega, Bang Zeni tetap melepas pelukan Fia.


...


"Laporan ini kamu tulis dan ketik ulang plus kamu pikirkan program kerja untuk kompi juga Batalyon..!!" Perintah ibu Najib.


Fia tertegun sejenak. Ia yang tidak pernah berhadapan dengan komputer dan laptop sangat canggung. Ia hanya pernah menyentuh komputer hanya dasar saja di sekolahnya sekitar setahun yang lalu.


"Bisa tidak?? Masa istri perwira tidak bisa? Om Zeni itu laki-laki yang sangat pintar lho.. tidak ada yang tidak bisa beliau taklukan. Masa mau punya istri yang tidak bisa apa-apa" Ledek Bu Najib.


"Siap Ibu. Saya bisa" jawab Fia. Ia berani mengambil resiko apapun, biar dunia menghinanya asal jangan pria yang telah mengangkat harga dirinya. Fia tau dan menyadari sebenarnya tugas ini bukanlah tanggung jawabnya tapi ia harus mampu untuk melaksanakan perintah.


...


Fia menitipkan segala hal tentang kegiatan lapangan pada Bu Jefri dan dirinya memulai kesibukan di dalam ruangan. Soal konsumsi dan kesejahteraan supporter tak lepas dari arahannya meskipun dirinya tidak bisa melihat secara langsung.


Hari sudah mulai sore namun Fia belum beranjak dari ruangan. Hanya pagi saja dirinya sempat sarapan bersama Bang Zeni sebelum suaminya berangkat. Awal hanya menerka di laptop komputer fungsi dari tiap deretan gambar kecil yang tidak seluruhnya ia pahami. Fia berusaha tetap tenang dan mengingat apa saja yang pernah Bang Zeni ajarkan padanya.


Saat berusaha mengetik, tak sengaja Fia menghilangkan berkas laporannya. Ia panik, tubuhnya sudah lelah. "Ya Allah.. Aku harus bagaimana??" Fia menyentuh ponselnya dan mengingat Bang Khobar tapi ia lebih takut dan mengingat pesan Bang Zeni untuk tidak mengatakan masalah rumah tangganya pada pria lain karena ada hati lain yang akan terluka. "Abaang.. Fia harus bagaimana?" Gumamnya sampai menitikan air mata, ia menangis sendirian di dalam ruangan.


//


"Siap.. ibu ada di ruangan. Saya sudah bertanya dan menjawab sudah makan"

__ADS_1


"Baiklah Yu, cari tau kenapa Fia tidak bisa di hubungi. Tolong sampaikan.. angkat panggilan telepon saya..!!" Perintah Bang Zeni.


"Siap laksanakan.. Danki..!!"


Bang Zeni segera mencari tau tentang Fia pada yang lain tapi tidak ada yang tau info kegiatan Fia. Khobar sedang tidak bisa di mintai tolong karena ada kunjungan kerja keluar kota hingga esok, Fabian sedang sibuk dengan istrinya yang baru saja melahirkan. "Aku hubungi siapa ya??" Ucapnya bergumam lirih.


***


Bang Zeni mendapat laporan bahwa Fia sudah berada di rumah saat jam lewat tengah malam. Hal itu semakin membuat Bang Zeni cemas. Pasalnya ini untuk pertama kalinya Fia tidak mau mengangkat panggilan teleponnya, pesan singkatnya pun tidak di balas dan Fia pulang tengah malam. "Sebenarnya Fia darimana???"


...


Bang Zeni mendengar selentingan kabar bahwa Fia pulang tengah malam saat dirinya tidak ada di tempat. Rumor pagi ini mengatakan bahwa Fia 'ada main' dengan ajudan pribadi Bang Zeni.


"Kenapa bisa ada rumor seperti ini. Sebenarnya kamu dimana? Sedang apa sampai ada kabar ini dek. Coba kamu angkat panggilan telepon Abang, tidak mungkin ada kabar miring ini" Bang Zeni duduk lemas di sebuah kantin kecil di lokasi lapangan tembak untuk latihan. Tak tau sudah berapa banyak ia menghisap rokoknya, kopi panas pun tak dirasakannya.


//


"Ijin ibu, ini balance."


"Siap ibu, memang tidak ada sumber dana resminya. Maka saya menulis sumber dana ini berasal sponsor softdrink untuk mengakali" jawab Fia.


"Nggak, saya nggak mau. Bu Zeni kerjakan lagi..!!" Perintah Bu Najib.


Dengan pasrah dan tubuh yang sangat lelah, Fia membawa kembali laporan yang ada.


~


Fia berjalan dari kantor batalyon menuju kantor kompinya dengan berjalan kaki melewati jalan tikus agar cepat sampai karena dirinya tidak pandai mengendarai motor. Ia pun tidak ingin merepotkan siapapun apalagi segala hal yang berhubungan dengan lawan jenis.


Tengah hari membawa kabut. Tidak biasanya udara ekstrim turun di siang hari. Nafas Fia terasa sesak sampai dari hidungnya mengucur darah segar. Rintik hujan mulai turun. Ia berusaha keras menutupi tumpukan buku laporan yang harus segera di kerjakan.

__ADS_1


"Ijin ibu, mari saya antar pulang. Saya mendapat perintah dari Danki untuk mengawal ibu selama Danki tidak di tempat..!!" Sapa Om Wahyu.


Hujan semakin lebat, tapi Fia tidak mau merepotkan siapapun. Mereka berada dalam lingkungan Batalyon dan tidak ingin menimbulkan masalah apapun disana. Fia menangkupkan kedua tangannya. "Terima kasih banyak Om. Tapi Abang tidak mengijinkan saya secara langsung. Kantor kompi sudah dekat. Om bisa duluan saja kesana. Katakan saja sama Abang kalau Om Wahyu sudah mengantar saya" tolak Fia dengan sopan.


"Ijin ibu, saya tidak bisa..!! Mohon maaf ibu..!!" Om Wahyu melepas seragam luarnya untuk menutupi kepala Fia. Ia juga mengeluarkan sapu tangan setengah basah dari saku karena melihat hidung Fia sudah berdarah-darah tapi ada batasan untuk tidak berdekatan secara langsung dengan istri atasannya. "Ijin ibu. Harap tidak tersinggung. Silakan pakai sapu tangan saya..!!"


Mau tidak mau Fia pun menerimanya. Ia mengusap hidungnya yang mengucur darah segar dan terhapus cepat dengan guyuran air hujan.


"Kalau ibu tidak mau saya antar, ibu bisa pakai motornya.. biar saya jalan kaki..!!" Saran Om Wahyu. "Ijin ibu, saya sudah menyelidiki dan saya sudah tau permasalahan yang ibu hadapi."


"Jangan katakan sama Abang. Abang sudah sibuk dengan pekerjaan. Saya masih mampu menghadapi situasi ini Om"


"Ijin.. bukan saya mau bersikap kurang ajar. Saya loyal dengan pimpinan.. dan disini pimpinan tertinggi saya adalah Lettu Zeni Elgash. Mohon maaf ibu" ucap tegas Om Wahyu.


Belum Fia menjawabnya, ada petir menyambar, kilat nya tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Hwaaaaa.. Abaaaanngg" pekik Fia sekuatnya. Ia berniat berpegangan pada sebatang pohon tapi Om Wahyu menarik tangan Fia dan tidak sengaja memeluknya.


"Jangan ibu.. bahaya..!!!" Langkah Om Wahyu tidak imbang hingga keduanya terperosok jatuh di sisi kebun yang curam. Takut terjadi sesuatu dengan calon anak Danki.. Om Wahyu melindungi sekitar perut Fia yang terguling bersamanya.


"Ijin ibu.. ibu baik-baik saja?" tanya Om Wahyu cemas.


Tak disangka beberapa anggota sudah berdiri di dekat mereka. "Pratu Wahyu.. kamu disini bersama istri Lettu Zeni????" Tegur petugas piket POM Batalyon yang sedang patroli.


Om Wahyu tersentak kaget dan melepas dekapan salah sasaran itu dan segera berdiri. Ia pun terlupa untuk membantu istri atasannya. "Siap..!!"


"Silakan kalian berdua ikut ke kantor..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2