Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
85. Family gathering.


__ADS_3

"Kalau ada Cemar, jangan keluar dek. Mulutnya ampuuunn" kata Bang Rakit sembari memasang plester luka di leher Fia untuk menutupi jejak nakal darinya tadi. Tapi lama-lama Bang Rakit tertawa juga. "Aseem juga kamu dek, masa alergi tongkol" Bang Rakit menepuk dahinya.


"Ya maaf Bang, yang terlintas di pikiran Fia hanya itu saja"


"Hahahaha.. kacau kamu dek. Bibit alerginya sudah masuk di perutmu tuh" ledek Bang Rakit masih terus terbahak.


"Iihh Abang..."


"Coba ulang, alergi apa tadi?? Hahahaha"


***


"Saya istri dari Kapten Seno Rakit. Mohon ijin bergabung, untuk selanjutnya.. mohon arahan dan bimbingannya..!!" Ucap Fia saat memperkenalkan diri di kesatuan yang baru.


Para istri anggota menyambut hangat kedatangan Fia dalam acara perkenalan tersebut. Sudah terdengar pula nama Ibu Fia Seno Rakit yang baik hati sejak masih menjadi istri almarhum Kapten Zeni.


"Ijin Ibu.. kebetulan kita mau buat acara Family gathering..!! Ibu ikut ya..!!" Ajak seorang istri anggota yang juga menjabat sebagai salah seorang pengurus ranting.


"Ayo ikut Bu Rakit..!!" Ajak yang lain.


Fia baru teringat akan ajakan anggotanya di kompi lama. Ajakan yang belum sempat terlaksana karena berbagai macam hal. Salah satunya adalah ijin dari Bang Rakit soal acara tersebut.


Saat itu keadaannya adalah Bang Rakit belum tau tentang kehamilan nya dan Bang rakit sudah membuat seribu pertanyaan dan alasan untuk menghindar, lalu saat tau dirinya sedang berbadan dua.. ia tak tau lagi bagaimana caranya mengatakan pada Bang Rakit.


"Mudah-mudahan suami saya mengijinkan ya Bu, suami saya susah-susah gampang untuk di bujuk" jawab Fia tidak terlalu berani memberi harapan.


...


"Kamu hamil begitu.. masa mau ikut acara Family gathering seperti itu dek?? Bahaya lho.. angin tidur di tenda, banyak nyamuk, Arsene bisa masuk angin. Nanti kalau punggung mu sakit bagaimana?" Seperti biasa arti jawaban ini adalah sebuah penolakan dari sang Kapten.


"Tapi kalau Fia pengen ikut Bang, anak Abang yang minta"


Tak tau untuk yang keberapa kalinya jika jawab Fia sudah membawa-bawa calon bayinya, pasti hatinya melemah tanpa daya.


"Kapan mau berangkat?" Tanya Bang Rakit.


"Hari Sabtu Bang. Abang mau ikut??"

__ADS_1


"Iya.. Abang ikut" jawab Bang Rakit pasrah dan tak ada alasan lagi yang keluar dari bibirnya.


\=\=\=


Karena ini adalah refreshing Batalyon sebelum minggu depan akan ada Danyon yang baru, para anggota pun mengadakan acara Family gathering sekalian membicarakan tentang acara penyambutan tersebut.


Disana, Bang Rudra pun ikut acara meskipun kemarin dirinya baru datang setelah Bang Rakit datang lebih cepat tiga hari darinya.


Fia sedang berkumpul bersama para istri khususnya ibu pengurus ranting. Ia mengusulkan penyambutan untuk ibu Panglima dan ibu Danyon yang baru adalah tarian sederhana khas daerah setempat bersama beberapa anggota.


Danyon akan datang bersama Calon panglima yang baru sebagai peninjauan langsung, utamanya sorotan atas kasus Danyon lama.


Usulan Fia bisa di terima karena memang tarian daerah tersebut amat sangat jarang di ekspose sebab rata-rata budaya hanya menyoroti hal yang familiar saja untuk di nikmati.


"Iya dek, bagus juga idemu" kata Bu Wadanyon. Mbak Yunita Bagus. Istri dari Mayor Bagus.


"Tarian daerah timur sangat indah mbak, apalagi kita tinggal di wilayah Timur. Tidak hanya gerak senamnya saja yang indah tapi tarian lokal pun banyak ragam budayanya" jawab Fia.


//


"Bawa.. tapi aku nggak mungkin biarkan Fia tidur di tanah begini. Ini namanya family gathering setengah survival. Mana bini hamil pula. Kalau ada apa-apa.. nangis gue" jawab Bang Rakit masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Alvin.. Wahyu.. bantu saya berdirikan tenda..!!" Perintah Bang Rakit.


"Siap..!!"


Bang Cemar dan Bang Rudra sampai melongo melihat prepare Bang Rakit amat sangat terperinci.


"Ya ampun.. ini mau camping apa main rumah-rumahan?" Kata Bang Rudra.


"Kau jangan kaget. Beginilah kelakuan Rakit setelah menikah dengan Fia. Posesifnya keterlaluan. Fia jalan tersandung batu pun batunya yang jadi salah" jawab Bang Cemar.


~


Bang Rakit menutup tumpukan dedaunan dengan ponco yang tebal kemudian menutup dengan bed cover hangat yang ia bawa jauh-jauh dari rumah plus dengan selimut yang tebal.


"Niat sekali kau pot, lampu emergency sampai bawa empat buah. Buat apa?"

__ADS_1


"Takut Fia jalan nabrak. Aku serba khawatir memikirkan Fia" jawab Bang Rakit.


Bang Rudra dan Bang Cemar saling menatap. "Yo wes atur-atur aja sesukamu.. kamu yang lebih tau kondisi Fia.


:


Malam ini tiba-tiba kondisi sekitar perkemahan sangat dingin, angin lumayan kencang, tak biasanya kondisi sekitar muara sedikit berkabut.


Para anggota sedang membuat api unggun untuk acara makan malam mereka.


"Isi acara donk biar nggak vacum begini. Dingin nih" kata Wadanyon.


"Kapten Rakit.. nyanyiiii...!!!" Teriak Bang Cemar membuat rusuh.


"Ijin.. saya sedang Flu, alergi dingin" jawab Bang Rakit menolak.


"Hoooee.. sejak kapan alergi dingin, kalau Bu Rakit alergi tongkol baru saya percaya." Ledek Bang Cemar membuat para anggota terkikik.


"Kalau begitu Kapten Rakit.. nyanyi..!!!!" Perintah Bang Bagus selaku Wadanyon.


"Setuju Dan.. Kapten Rakit jebolan group Tum_band, juara satu tingkat jam*an. Beri tepuk tangan..!!!!!!!!" Suara Bang Cemar yang cempreng semakin menghangatkan suasana yang dingin.


Riuh suara anggota membuat Bang Rakit mati kutu.


Lirikan Bang Rakit seakan sudah membeset kulit ari sahabat usilnya. "Setan bener lu, gue mau nyanyi apa??????" Tanya Bang Rakit jengkel.


"Potong bebek angsa juga nggak apa-apa, yang penting lu bersuara" jawab Bang Cemar.


"Potong leher Kapten Cemar bisaa???????" Bang Rakit semakin naik darah menanggapi sahabatnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2