
Update menyesuaikan respon pembaca ya βΊοΈπ€βοΈππ.
πΉπΉπΉ
Bang Jenar membuka pintu perlahan, seketika Lintar memalingkan wajahnya.
"Untuk apa menemui perempuan yang banyak maunya????" Ucap Lintar.
Kini Bang Jenar hanya bisa menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Benar saja, dirinya yang terkenal garang seakan kehilangan taring di hadapan istrinya sendiri.
"Abang bawa soto ceker ayam pesananmu dek"
"Lintar nggak mau"
"Mubadzir lho yank, sotonya sudah di beli" Bang Jenar terus membujuk Lintar.
"Abang saja yang makan.!!" Kata Lintar.
Tak lama bibi datang membawakan sarapan untuk Bang Jenar. "Assalamu'alaikum Pak Jenar, Bu Lintar sudah baikan?"
"Alhamdulillah sudah lumayan Bi. Yang belum baikan ngambeknya" jawab Bang Jenar.
"Bibi bawa nasi cumi hitam, ibu mau makan?" Tanya bibi menawari Lintar makan.
Lintar mengangguk, bibi tersenyum dan langsung menyiapkan sarapan untuk Lintar.
"Bapak mau sekalian sarapan?"
"Nanti saja bi, saya belum lapar. Bibi sendiri sudah sarapan?" Bang Jenar tetap memperhatikan kesejahteraan bibi yang sudah lama hidup bersama nya.
"Sudah pak, sebelum berangkat ke sini tadi" Jawab bibi.
Tanpa di minta, Bang Jenar mengambil piring yang sudah berisi makan pagi untuk Lintar. "Biar saya saya yang menyuapi nyonya Jenar..!!" Pinta Bang Jenar. "Bibi duduk saja..!!"
Bibi menurut permintaan majikannya dan segera duduk.
Bang Jenar pun mengambil tempat di samping ranjang Lintar. "Sudah lega marahnya?"
Lintar kembali memalingkan wajahnya tapi Bang Jenar mengecup manis pelipis Lintar, tak perlu banyak berdebat, ia mengungkapkan rasa sayangnya.
__ADS_1
Satu suapan mendarat di mulut Lintar dan cantiknya itu mau makan juga.
"Abang suka kok punya istri yang cerewet, ngambekan dan banyak maunya. Itu berarti Abang masih di butuhkan" kata Bang Jenar pelan. "Kita habiskan waktu berdua.. sebelum Abang berangkat tugas"
Seketika Lintar kembali menatap wajah Bang Jenar. "Abang mau berangkat tugas??"
Bang Jenar mengangguk. "Iya, kurang lebih tiga bulan"
"Kemana Bang? Kenapa Lintar nggak tau"
"Kamu sudah di keluarkan dari group misi dan pindah satuan tugas di bagian perbekalan anggota. Tidak akan lagi bertemu Wulan dan kawannya. Kantornya tepat di sebelah Batalyon Abang dan Abang lebih tenang meninggalkanmu, nanti akan banyak anggota yang membantu menjagamu. Rumdis kita pindah di batalyon saja..!!"
Sebenarnya hati Lintar begitu berat harus berpisah dengan Bang Jenar, namun ia harus menyadari Bang Jenar adalah seorang abdi negara yang harus siap kapanpun juga jika negara membutuhkan.
"Kapan Abang berangkat?" Tanya Lintar.
"Besok, setelah kamu pulang ke rumah..!!" Jawab Bang Jenar tidak tega.
"Besok kalau kamu ngidam, minta bibi dulu ya yang buatkan..!! Kalau harus cari makanan yang jauh, kamu hubungi teman Abang. Mulai besok kita sudah tinggal di rumah yang baru"
Sungguh kaget hati Lintar mendengarnya. Secepat itukah persiapan keberangkatan Bang Jenar.
"Rumah kita bersebelahan dengan Bang Wira. Kamu kenal Bang Wira?"
"Iya, beliau senior yang baik kok dek. Istrinya juga kalem." Jawab Bang Jenar. "Nggak ada senior Abang yang usil. Semuanya baik"
Lintar terdiam sejenak. Batinnya setengah mengingat kenangan masa lalu.
"Iya Bang"
"Istri Bang Black sedang hamil anak ke tiga. Hamil tiga bulan.. hmmm.. lewat sepertinya, perutnya sudah terlihat. Kamu bisa banyak tanya dari istri senior, enak khan banyak teman di asrama" kata Bang Jenar.
***
Awalnya Bang Jenar seakan melihat Nasha istri Bang Gesang menatap Lintar dengan tatapan tajam. Namun pandangan itu patah saat istri Bang Gesang menyapa Lintar.
"Hai Lintar. Kita baru bertemu hari ini" Nasha memeluk Lintar dan Lintar membalas pelukannya.
"Apa kabar Mbak Nasha?"
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat. Alhamdulillah baik dan sehat sekali"
Lintar menundukan pandangan saat tak sengaja bertemu mata dengan Bang Gesang.
"Ada apa dengan kalian?" Ledek Mbak Nasha kemudian tersenyum.
"Nggak mbak. Nggak ada apa-apa?" Jawab Lintar gugup.
Bang Gesang langsung memeluk istrinya dari belakang. "Dek..!!!!" tegur ringan Bang Gesang.
"Nasha nggak berpikir macam-macam tentang kalian. Kita sudah memiliki hidup masing-masing. Kita sudah punya Brigas dan Setha. Nasha percaya sama Abang"
Untuk sejenak Bang Jenar tertegun tak paham ucapan Nasha, namun mungkin karena tidak ingin memperkeruh suasana, Bang Gesang menatap mata Bang Jenar. "Saya pernah dekat dengan Lintar."
Cukup kaget Bang Jenar mendengarnya, bagaimana bisa hal ini ternotice dari hidupnya. Setelah sejenak berpikir.. ia pun berusaha berbesar hati, karena dirinya juga belum sepenuhnya menceritakan masa lalunya pada Lintar. Bang Jenar menarik senyumnya. "Masa lalu biarlah berlalu, anggap saja cinta monyet" celetuk Bang Jenar.
"Kamu bilang apa?????? Kamu menyamakan saya dengan monyet??????" Mata Bang Gesang berkilat membuat adrenalin nya naik turun.
"Siap salah Abang..!! Bukan begitu" Jawab Bang Jenar.
Saat perdebatan belum usai, Mbak Nasha terhuyung lemas.
"Dek.. pusing lagi??" Tanya Bang Gesang mencemaskan istrinya.
"Iya Bang" jawab Nasha.
"Saya pamit dulu Nar, saya takut Nasha pingsan disini"
Bang Jenar mengangguk paham mengapa Bang Gesang menolak menggantikan tugas. Semua tak lain karena kehamilan istri seniornya itu tidak begitu baik.
"Siap Bang"
Bang Gesang merangkul tangan Mbak Nasha, tapi istri senior Bang Jenar itu ambruk tanpa daya. "Deekk.. Allahu Akbar..!!" pekik panik Bang Gesang.
Wajah Bang Gesang sungguh takut membuat Bang Jenar seketika ikut gelisah.
.
.
__ADS_1
.
.