Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
94. Surga dan Neraka.


__ADS_3

Harap kebijakan dalam membaca..!!


🌹🌹🌹


Beberapa bulan kemudian.


"Saya ibu dari Kapten Rakit. Antarkan saya ke rumahnya..!!"


~


Fia membuka pintu rumah dan melihat ada sosok dengan sanggul menjulang tinggi di atas kepala.


"Mohon maaf, dengan ibu siapa ya?" Tanya Fia.


"Saya ibu dari Kapten Rakit"


"Mamaa" Fia meraih tangan Mama Nena tapi wanita setengah baya itu menyingkirkan tangan Fia.


"Saya ibu dari seorang Kapten. Jaga sikapmu..!! Kalau kamu tidak di nikahi anak saya, pasti kamu masih menjanda dan jadi gembel" ucap Mama Nena begitu menyakiti hati Fia, namun karena tau Mama Nena adalah ibu kandung Bang Rakit.. ia pun tetap menghormati nya.


"Ambilkan saya minum..!!" Perintah Mama Nena.


"Baik ma, silakan masuk dulu..!!"


"Kamu nggak usah perintah saya. Ini rumah dinas anak saya, saya bebas melakukan apapun disini" jawab Mama Nena.


~


"Saya nggak mau teh, buatkan jus..!!"


Fia pun kembali setelah salah membuatkan teh dan es sirup. "Fia sudah tanya sama Mama, tadi Mama minta es sirup" Fia setengah memprotes karena kehamilan sembilan bulan membuat tubuhnya sangat cepat lelah.


"Kamu melawan???? Saya nyonya disini..!!!" Bentak Mama Nena.


"Iya Ma, Fia buat jus dulu"


~


"Jalan jongkok..!! Nggak sopan kamu sama mertua..!!" Mata Mama Nena berkilat marah tak menyukai Fia.


Fia segera berjongkok, ingin rasanya segera beristirahat. Karena perutnya sudah begitu besar, keseimbangan tubuhnya pun jadi hilang.. Fia menumpahkan jus itu di tas dan sepatu Mama Nena.


"Kamu memang wanita bodoh..!!!!!!!" Teriak Mama Nena. "Bersihkan tas saya..!! Tas ini mahal, jilat kaki saya jika kamu masih ingin bersama putra saya..!!"

__ADS_1


Tanpa di sadari saat itu Patra dan Arsene mengintip ada seorang wanita sedang memarahi Fia. Mereka berdua segera berlari ke Batalyon dan mencari Bang Rakit.


...


"Papaaaaa..!!" Arsene menangis sesenggukan memeluk kaki Papanya, hal yang sama pun terjadi pada Patra yang memeluk kaki Papa Rudra.


"Heeii sayang.. ada apa nak?" Bang Rakit segera menggendong Arsene yang sedang gemetar ketakutan, tangannya pun dingin.


"Ada apa le?" Tanya Bang Rudra mengusap air mata putranya.


"Mama Pia, di malahi nenek tua" kata Arsene.


"Nenek tua?? Siapa??" Kening Bang Rakit berkerut menerka penuh selidik.


"Mama Pia di malahi..!!!" Jawab Patra ikut menangis.


"Ayo pot..!!" Bang Rakit mengajak Bang Rudra dan menitipkan Patra dan Arsene pada Prada Alvin.


:


"Astagfirullah hal adzim.. dek..!!" Bang Rakit sangat marah melihat Fia menjilat kaki Mama Nena. Batinnya terpukul, terhantam dan terluka melihat sang istri di perlakukan tidak layak seperti itu padahal dirinya tidak pernah sekalipun merendahkan sang istri.


Bang Rakit membantu Fia untuk berdiri. "Kenapa kamu ikuti perintah tidak manusiawi seperti ini???" Nada suara Bang Rakit sedikit lebih meninggi.


"Nggak apa-apa Bang"


"Abaang, tolong jangan bicara seperti itu..!! Mama Nena tetap ibu kandung Abang" Fia berusaha melunakan hati Bang Rakit.


"Jika Abang melihat iblis dalam wujud seorang ibu, maka dia lah orangnya..!!" Suara Bang Rakit sudah mengisi seluruh ruangan.


Fia sampai harus bersujud di kaki Bang Rakit agar suaminya itu tidak terus saja memarahi sang ibu.


"Penjilat, cari muka..!!"


"Diaaamm..!!!!!!!!!! Jangan pernah mengatakan sesuatu yang tidak pernah kamu tau tentang istri saya..!!!!!!" Bang Rakit begitu murka hingga Mama Nena sedikit menjaga jarak. "Untuk apa kamu kesini???" Mata itu berkilat penuh penekanan.


"Mama mau minta hak Mama. Rumah yang di Jogja" jawab Mama Nena tanpa sungkan.


"Hak mu???? Itu hak istri saya Fia..!!!" Ucap Bang Rakit tak melepaskan pandangan dari Nena.


"Mama yang melahirkan kamu le, Mama berhak dapat rumah itu."


"Itukah tujuanmu kesini?? Hanya demi rumah???? Seumur hidup saya.. kamu tidak pernah merawat saya. Hanya Papa Galar yang merawat saya. Tidak pernah ada campur tangan mu dalam membesarkan saya dan mendidik saya." Sakit hati Bang Rakit semakin menjadi. "Setelah saya jadi seperti ini, kamu datang dan minta di akui sebagai ibu lalu meminta harta??????"

__ADS_1


"Tapi.. anak laki-laki tetap milik ibunya"


"Dan kewajiban saya untuk bertanggung jawab secara utuh atas diri Fia" jawab Bang Rakit.


Dengan lembut Bang Rakit membantu Fia untuk berdiri.


"Tapi Fia orang luar"


"Keluar kamu dari rumah saya..!!!!!" Bang Rakit sungguh mengusir Mama Nena dari rumahnya. Bahkan Bang Rakit mengambil tas milik Mama Nena dan membuangnya ke halaman rumah.


"Mama nggak mau..!!!!" Tolak Mama Nena.


"Keluaaaaarr..!!!!!!!!!!!!!!"


Disana Bang Rudra dan yang lain sangat mengerti keadaannya. Mereka meminta Bu Nena untuk keluar dari rumah karena paham kemarahan seorang Rakit tak akan pernah berakhir baik.


"Mohon maaf ibu, lebih baik ibu tidak disini dulu"


Tak disangka ibu Nena malah meludahi wajah Bang Rudra.


"Ya Allah.. Danki..!!" Om Bastian sudah panik melihat keributan yang terjadi.


"Panggil POM..!!" Perintah Bang Rudra, tenang namun terdengar tegas.


"Siaaapp.."


Fia menggigit bibirnya kuat. Ia berjalan ke arah Mama mertuanya meskipun perutnya sudah terasa sakit dan kencang. "Maa..!!"


Dengan angkuh Mama Nena membuang muka.


"Maa.. do'akan Fia. Mudah-mudahan anak Fia lahir dengan sehat, kuat tanpa kurang suatu apapun" Fia menyentuh tangan Mama Nena.


"Karena kamu, anak saya tidak hormat dengan saya sumpahi.. anakmu akan terlahir cacat dan hanya akan membuat tangismu selamanyaaa..!!!!" Bentak Mama Nena.


"Tutup mulutmu Nenaa..!!!" Bang Rakit begitu marah dengan ulah Mama Nena.


"Bang..!!" Fia menyentuh perutnya. Seketika perut Fia terasa kram.


Perhatian Bang Rakit teralihkan. "Astagfirullah.." Bang Rakit panik melihat kaki Fia basah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2