Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 13. Mengawal.


__ADS_3

"Maaf Kapten.. benar adanya.. atas nama tersebut memang anggota kami. Serda Reradihan Inggil Gitarja. Juga adalah putri bungsu dari Komandan.. Senopati Rakit"


"Ya Tuhan" Bang Jenar menyandarkan punggungnya dengan kasar, ia memejamkan mata memijat pelipisnya. Kini tengkuknya terasa sangat berat.


"Tenang Kapten. Pernikahanmu tetap sah dan tanpa di minta.. kami sudah mengubah RH Kapten Jenar dan memasukan nama Serda Gitarja sebagai istrimu" kata Komandan di kantor Lintar.


"Itu berarti, selesai kontrak tugas.. Lintar harus tetap bekerja sebagai tentara wanita?" Pertanyaan Bang Jenar terdengar bodoh. Sungguh dirinya masih sangat syok, sebab dirinya menginginkan istri yang tenang di dalam rumah.


"Itu sudah pasti Kapten. Tapi kalau Kapten tidak ingin Serda Lintar terlampau sibuk.. kami akan me rolling istri kapten sebagai staff kantor saja."


Bang Jenar hanya mampu menjawabnya dengan senyum kecut.


"Tapi saya minta.. hal ini masih menjadi rahasia. Minimal hingga kontrak kerja Lintar selesai. Ini demi kebaikan dalam tugasnya..!!"


\=\=\=


"Minggu ini Lintar mengawal menteri bersama dengan Bang Jenar. Kemarahan Bang Jenar belum hilang selama seminggu ini dan ia pun mendiamkan Lintar.


"Abang mau tidur dimana?" tanya Lintar.


"Kamar sendiri!!!" jawab singkat Bang Jenar.


"Bang.. jangan marah sama Lintar terus" rengek Lintar.


"Kamu bisa merengek sama Abang atas dasar apa?" sikap dingin Bang Jenar tak lantas hilang begitu saja.


"Lintar istri Abang" jawab Lintar menunduk.


"Tadinya Abang berharap banyak sama kamu. Abang ingin punya keluarga yang manis. Ada Abang, kamu dan Abang menginginkan anak dari kamu. Kamu merawat anak kita dengan tanganmu sendiri"


"Maaf Bang" sesal Lintar.


"Dulu, Abang terlahir tanpa kasih sayang seorang ibu. Dia mementingkan karir daripada anaknya, kemudian papa dan mama berpisah.. dan berkali-kali berganti bibi yang terus merawat Abang sejak kecil" Bang Jenar menyandarkan punggungnya pada dinding kamar Lintar.


Sekarang Lintar tau sebabnya kenapa Bang Jenar menginginkan nya keluar dari pekerjaan.


"Lintar tau, Lintar salah. Lintar nggak jujur. Kalau Abang nggak mau Lintar lagi, Lintar nggak apa-apa Bang"


Ucapan Lintar kembali membuat emosi Bang Jenar kian meledak.


"Kamu pikir Abang penjahat cinta yang habis manis sepah di buang??? Setelah semua yang sudah terjadi, Abang bisa bilang 'mau atau tidak mau' begitu????" bentak Bang Jenar. "Abang mungkin pria br*****k di matamu. Tapi urusan perasaan, Allah saksinya.. hanya Abang dan Tuhan yang tau bagaimana perasaanku saat akad nikah itu Abang ucapkan" Bang Jenar pergi dari hadapan Lintar dan segera mengatur skenario pengamanan.


Lintar bimbang, disisi lain ia merasa bersalah karena sudah lalai, tapi disisi lain yang di lakukan adalah bagian dari pekerjaan.


***


Menteri sudah tiba di bandara. Bang Jenar menggunakan seragam khusus pengawalan sedangkan Lintar menyambut di sisi istri menteri. Kapten Gilang sejak tadi memperhatikan Lintar dan itu membuat Bang Jenar sangat tidak nyaman, bagaimanapun juga Lintar adalah istrinya.


Para menteri beserta jajarannya makan bersama. Lintar duduk bersebelahan dengan Bang Jenar di sebelah kanan dan Kapten Gilang di sebelah kiri.


Seusai makan, adalah acara santai sebelum kunjungan selanjutnya.


Lintar duduk menyendiri, sedari tadi matanya melihat tampilan sup sarang burung walet yang membuatnya mual dan ingin muntah.

__ADS_1


"Kamu sedang tidak fit?" tanya Gilang.


"Siap Kapten.. kurang tidur saja"


"Kalau nggak kuat, nggak perlu di paksa" saran Gilang.


Bang Jenar tidak bisa menyembunyikan rasa berangnya, tapi saat seperti ini bukan saat yang tepat untuk dia marah.


Seorang pramusaji mendorong mangkok berisi sup sarang burung, rasa mual Lintar semakin naik hingga ke tenggorokan. Ia pun berlari tanpa pamit menuju ke toilet.


Perlahan namun dengan gaya cool, ia mendekati boot dessert.


~


"Sudah setengah jam kamu begini. Kamu kembali saja ke hotel, biar Abang nanti yang lapor ke atasan" ucap Bang Jenar.


Diam-diam ikut masuk ke toilet bersama Lintar. Meskipun ia sangat jengkel dengan ulah Lintar tapi jiwa tanggung jawab dan rasa sayangnya sebagai seorang suami tetap melekat.


"Ini sudah tugas Bang, harus di tahan"


"Di tahan bagaimana?? sakit kok di tahan" tegas Bang Jenar.


"Kita beda kesatuan Bang. Nggak gampang ijinnya"


"Tapi kita satu kelompok pengawalan. Dan kelompok satu Abang Dantim nya. Apa itu belum cukup??" Bang Jenar tidak mau mendengar alasan apapun lagi.


Beberapa menit kemudian Lintar sudah merasa lebih baik tapi wajahnya tetap nampak lemas walaupun Lintar sudah menambahkan make up di wajahnya.


...


Sore ini Lintar melayani pengawalan untuk istri menteri. Bang Jenar lumayan cemas pasalnya sejak tadi Lintar terus menahan mual.


"Kamu kuat nggak? satu jam lagi kita lepas dinas" tanya Bang Jenar lirih.


"Kuat Bang" meskipun jelas sekali Lintar sangat memaksakan diri.


-_-_-_-


Malam tiba, saatnya para anggota lepas dinas dan mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Lintar berjalan pelan tapi kepalanya terasa sangat berat. Langkahnya terhenti dan ia terpaksa duduk di trotoar taman sekitar parkiran yang menuju ke arah hotel.


"Rok mu itu pendek sekali" Bang Jenar jengah sekali melihat pendeknya rok Lintar. Rasanya sakit sekali hati Bang Jenar, ia merasa gagal belum bisa melindungi tubuh istrinya.


"Namanya juga seragam dinas Bang" jawab Lintar tanpa berdebat.


"Bisakah tubuhmu ini Abang saja yang melihat dan menikmatinya? Suamimu ini sakit hati melihat tubuh istri di umbar begini. Kamu milik Abang dan selamanya milik Abang. Kamu bukan bahan konsumsi publik, paham kamu???"


Entah kenapa Lintar mendengar kata yang manis di balik ketegasan suaminya.


"Iya Bang, maaf"


"Ayo masuk ke kamar..!!" ajak Bang Jenar membantu Lintar berdiri.


"Abang mau tidur dimana?"

__ADS_1


"Tidur di kamar istri kesayangan" jawab Bang Jenar enteng.


Lintar tersenyum lalu mengikuti langkah Bang Jenar yang tidak mungkin menggandengnya agar tidak menimbulkan situasi.


...


Bang Jenar masuk ke dalam kamar Lintar. Terdengar istrinya sedang mandi, ia melepas kaosnya dan langsung berbaring di ranjang.


Lintar keluar dari kamar mandi dan kaget mendapati suaminya sudah ada di atas ranjang memakai celana pendek dan bertelanjang dada.


"Aman tidak kalau Abang ada disini?" tanya Lintar pada Bang Jenar yang sedang mengecek info melalui ponsel.


"Aman. Kalau tidak aman urusan Abang. Kamu diam saja dan urus suami dengan baik"


"Tidak semudah itu juga Bang" kesal Lintar pelan karena ia tau suaminya memang orang yang kaku.


Bang Jenar menarik tangan Lintar hingga jatuh ke dadanya.


"Tidak ada yang perlu kamu takuti di dunia ini. Yang harus kamu takuti adalah Tuhan yang memberi mu kehidupan"


Lintar menatap mata Bang Jenar, tak terasa ada getaran mengganggu perasaannya.


"Abang mau apa?" tanya lintar cemas merasakan tangan Bang Jenar mulai bergerilya. Ia takut karena banyak anggota yang mungkin saja lewat dan memergoki mereka.


"Mau sidak anggota baru" jawab Bang Jenar.


"Belum ada Bang" ucap manja Lintar.


"Makanya cepat bikin anggota baru. Gas pooolll. Abang kangen, satu Minggu belum cek amunisi"


"Salah Abang sendiri, marah terus?" Kata Lintar.


"Abang marah bukan tanpa sebab." Bang Jenar mengecup bibir Lintar.


"Apa Kapten Jenar hanya akan bersikap manis jika ada maunya?" Tanya Lintar.


"Lalu Abang harus bagaimana?" Bang Jenar membalik tubuh Lintar agar beralih posisi tepat di bawahnya.


"Sekali-kali boleh lah, Serda di rayu Kaptennya..!!"


Bang Jenar tersenyum manis mendengar permintaan sang istri. "Ijin Ibu Gitarja.. Kapten Jenar lapor datang. Ijin arahan untuk anak buah melaksanakan apel tertib..!!"


"Lanjutkan Kapten. Jangan lama-lama..!!"


Bang Jenar tersenyum gemas. "Siaapp.. siaaap sayangku."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2