Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
44. Teror.


__ADS_3

Bang Zeni tersenyum melihat Fia tertidur pulas. "Selamat tidur sayangku. Mimpilah yang indah." Ia pun merebahkan tubuhnya yang lelah lalu memeluk Fia. "Abang sangat mencintai kalian berdua."


//


"Tolong Fia Bang, jangan pernah tinggalkan Fia..!!!!" Suara itu sangat menggangu nya. Bang Rakit pun berlalu pergi tapi Fia memeluknya dari belakang. "Fia takut hidup sendiri" Fia merosot membawa perut besarnya, membuatnya menjadi tidak tega.


Ada hati tergerak untuk menolongnya. Bang Rakit memeluk erat tubuh Fia. "Jangan takut.. ada Abang. Abang akan selalu ada untuk kamu..!!"


"Astagfirullah hal adzim..!!! Fiaaaaaa..!!!!!" Bang Rakit terlonjak kaget terbangun dari tidurnya. Sungguh dadanya terasa sakit, nafasnya pendek dan sesak. Tak tau mengapa Fia bisa masuk dalam mimpinya, istri Zeni yang baru di lihatnya sekilas mata. "Ada apa ini?? Kenapa sebegitu kurang ajarnya perasaan ku ini"


...


Fia tidak terlalu peduli dengan hadirnya Bang Rakit tapi tidak dengan Bang Rakit yang kerap kali mencuri pandang menatap Fia yang sedang menyuguhkan teh di meja ruang tamu.


"Apa istri Kapten Zeni terlalu cantik?" Tegur Bang Zeni dengan suara datar.


Bang Rakit jadi salah tingkah mendapatkan teguran dari sahabatnya, lebih tepatnya saudara angkatnya.


"Kau ini jangan cemburuan begitu Zen. Melirik saja khan tidak salah, asalkan yang melirik juga tidak punya rasa. Iya nggak Kit??" kata Papa Galar.


"Siap.."


"Kau harus bersujud di tanah kuburku jika berniat bermain hati dengan Fia." Ucap Bang Zeni tak main-main.


"Kau ini apa sih Zen. Ngajak gelut???" Bang Rakit mulai berdiri. Bang Zeni pun pantang menolak tantangan dari sahabatnya itu.


Kedua sahabat itu saling baku hantam. Tak ada yang kalah dan menang. Papa Galar pun hanya diam seakan tak peduli dengan kelakuan kedua putranya.


"Paaa.. Abang berkelahi" pekik Fia ketakutan.


"Sudah, jangan pikirkan mereka. Mereka sudah biasa begitu. Sejak mereka kecil pun selalu begitu, tapi mereka saling menjaga dan saling sayang." Jawab Papa


Buuugghh..


Kedua pria sok jagoan itu saling terpental dan terpelanting menghantam dinding.


"Wedhus..!!!!"


"Codhot..!!!!" Umpat Bang Rakit.


"Kalian berdua nggak malu sama bumil??? Sudah kumisan.. masih saja bertingkah..!!" Tegur Papa Galar.

__ADS_1


Bang Zeni dan Bang Rakit berdiri membenahi pakaiannya yang sudah kusut karena keduanya usai menguji rasa sayang mereka.


"Rakit.. cepat kamu bersiap. Kita balik ke Jakarta sekarang..!!" Perintah Papa Galar.


"Siap Panglima..!!"


...


Fia begitu sedih saat Mama berangkat menaiki pesawat militer untuk kembali ke Jakarta. Rasa nyaman bersama Mama yang tidak pernah ia rasakan selama ini membuatnya ingin selalu di manja sang Mama mertua.


"Jangan sedih, nanti kalau ada waktu kita liburan ke Jakarta ya..!!" Bujuk Bang Zeni.


Fia mengangguk pelan. Jelas sekali rasa sedih itu.


:


"Ijin Danton.. kita harus bicara...!!" Sapa Bang Ervan saat Bang Zeni baru saja mengantar orang tuanya ke bandara.


Bang Zeni mengecup kening Fia. "Kamu langsung pulang ya, biar d antar Wahyu. Abang masih ada kerjaan" Bang Zeni tersenyum tampan menatap mata indah Fia.


"Iya Bang" Fia kembali naik ke dalam mobil dan melaju pulang.


"Ada apa?"


"Oya?? Ada apa ya kira-kira?? Apa pihak kita pernah berselisih paham dengan warga?" Tanya Bang Zeni.


"Saya juga tidak tau Bang, saya masih mencari informasi terkait hal tersebut" jawab Bang Ervan.


dooooorr..


Terdengar bunyi tembakan mengarah tak jauh dari mereka berdua.


"Tiarap..!!" Bang Zeni mengarahkan Bang Ervan untuk menelungkup di atas tanah.


"Ini teror. Kita harus segera mencari penyebabnya..!!" Kata Bang Zeni. "Cari selongsong pelurunya untuk di selidiki..!!!" Perintah Bang Zeni.


...


Sampai hari hampir malam, Bang Zeni masih berada di kantor untuk menyelidiki kasus penembakan pada area kompinya. "Ijin Bang, selongsong peluru ini.. mirip seperti punya kita."


"Dugaan awal, ada yang mengirim senjata kita pada pihak asing.." kata Bang Zeni kemudian mengambil ponsel di saku seragamnya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Apa?? Gue nggak mau gelud" jawab Bang Rakit di seberang sana.


"Geludnya nanti saja. Selidiki sesuatu..!!" Perintah Bang Zeni.


"Ada masalah apa?"


"Ada penembakan di kompiku. Selongsong pelurunya mirip 'punya kita' " kata Bang Zeni. "Nanti aku foto selongsongnya. Kamu selidiki pakai bukti yang ada karena ini darurat..!!"


"Cepat kirim..!! Aku baru sampai mess. Sebentar lagi aku selidiki di Markas" jawab Bang Rakit.


"Maaf ganggu waktumu"


"Nggak apa-apa, santai saja. Ya sudah aku ganti pakaian dulu. Mau ngintip lu?" Ledek Bang Rakit.


...


Bang Rakit menyelidiki masalah apa yang terjadi pada Bang Zeni tapi semua terlihat samar untuk di pecahkan, yang ada hanya murni sebuah komunitas yang memang ingin memecah suasana dan mencari perhatian.


"Apa ada penyusup di dalam tubuh kita?" Gumam Bang Rakit berpikir keras.


"Selamat malam Dan. Ini pesanan makanan komandan"


"Terima kasih banyak Vin. Sini makan sama saya..!!" Ajak Bang Rakit pada Prada Alvin, orang kepercayaan yang biasa menemaninya. "Mana Bastian?"


"Ijin.. Serda Bastian sedang ribut dengan pacarnya di telepon" jawab Jujur Prada Alvin.


"Kamu ini. Rahasia seniormu, kamu bongkar juga. Mau jadi es kepal kamu?"


"Siap.. tidak Dan" jawab Prada Alvin.


Tak lama ada data informasi dari utusan yang sudah di perintah Bang Rakit bahwa akan terjadi serangan dadakan besok siang di kompi yang di kepalai Kapten Zeni Elgash Narotama.


"Waspada dan siapkan pasukan. Saya akan melapor pada atasan untuk kita bisa berangkat menanggulangi serangan dadakan di distrik puncak..!!!!!!!!!'" Perintah Bang Rakit.


:


Dengan negosiasi yang cepat, Bang Rakit sudah mendapatkan ijin untuk membantu Bang Zeni menghadapi teror serangan namun hatinya resah saat berkali-kali tak ada sahutan jawaban. "Kamu dimana Zen. Kenapa nggak bisa di hubungi..??????"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2