Kawin Terpaksa

Kawin Terpaksa
Bersepeda bersama ayah


__ADS_3

Novi telah lupa menelepon anaknya.


"Ayah,mengapa bunda tidak menelepon Bintang,bunda kalau bersama om Roni selalu melupakan Bintang." Bintang tampak kesal.


Remon melihat pada Bintang.


"Mungkin sebentar lagi bunda kamu menelepon." Kakek berkata pada Bintang.


"Tapi Bintang Rindu bunda kakek." Bintang tampak sedih,ia cemberut.


Kakek melihat pada Bintang,ia lalu menelepon Novi.


Berulang kali ditelepon,tapi tak ada jawaban,kakek melihat Bintang yang berharap sekali berbicara dengan bundanya.


Remon mendekati anaknya.


"Bintang mungkin bunda kamu urusannya belum selesai mungkin sebentar lagi. Remon berusaha menghibur Bintang.


"Bintang tidak suka bunda menikah dengan om Roni." Tiba tiba Bintang berkata dengan kesal.Remon melihat pada Bintang.


Bintang merajuk,air matanya mulai keluar.


"Nak apa kamu mau menemani ayah berenang?" Remon sengaja mengalihkan pembicaraan.


Bintang melihat pada ayahnya.


"Tapi Bintang mau bersepeda ayah,kata ayah banyak sepeda di sini,Bintang mau bersepeda dengan ayah." Bintang terpengaru perkataan ayahnya,terbukti ia tidak begitu sedih lagi.


Remon menatap anaknya dan tersenyum pada Bintang,ia tampak senang karna Bintang tidak sedih.


"Baiklah,ayah mau bersepeda ,tapi ingat tidak lama lama." Rwmon berkata lagi.


Bintang tampak senang.Ia melihat Pada kakek dan neneknya.


"Nenek, kakek,ayah mau bersepeda dengan Bintang." Bintang tampak senang.


Kakek tersenyum.


"Ya hati hati,jangan lama lama mengajak ayahmu bersepeda,kakek lihat ayah kamu kelihatan letih. Kakek berkata sambil tersenyum.


Bintang mengangguk.Bintang melihat dua orang mengantarkan dua buah sepeda.


Remon yang menelepon, meligat ada yang nengantar sepeda,menghentikan teleponnya,ia mendekati Bintang dan tersenyum.


"Wah nampaknya anak ayah siap bertanding dengan ayahnya."


Bintang tersenyum lucu, tingkahnya mengemaskan.


"Ayo ayah!" Bintang menaiki sepeda.


Bintang telah duduk di sepedanya.


Nenek dan kakek tersenyum


"Pak ,buk, saya bersepeda dulu sama Bintang." Kedua orang tua itu mengangguk,mereka tersenyum pada Remon.


Halaman rumah Remon luas,Bintang bisa puas bersepeda di sana.Pembantu rumah tangga yang berjumlah 5 berdiri di muka teras,mereka senang melihat majikannya yang tampak senang bersepeda dengan anaknya.

__ADS_1


"Lihatlah bapak,ia tampak senang bersepeda dengan anaknya." Salah seorang pembantu berkata.


Biasanya bapak tak pernah mau bermalam di rumah ini,sekarang ia bersama anak dan mertuanya berada di sini,saya senang ada perubahan di diri bapak. Seorang pembantu berkata pada pembantu yang lain.


"Mudah mudahan nantinya ibu juga datang ke sini ya Tun?"Bik Atun mengangguk,


"Semoga secepatnya rumah tangga bapak dan ibu kembali utuh." pembantu lain berkata.


"Iya yem,kita diperlakukan bapak sangat baik,walau rumah ini tidak di huni majikan,majikan kita, tidak memecat kita yang banyak di rumah ini.


"Tun kamu tahu ibu,maksud saya kamu pernah bertemu ibu? " Iyem bertanya,Atun mengeleng.


"Saat saya pertama kesini ibu dan bapak baru saja berpisah,kabarnya ibu pergi saat hamil Bintang." Atun berkata


"Karna apa pisahnya Tun?" Iyem tampak penasaran.


"Kalau saya tidak salah ,ibu cemburu sama bapak" Atun menerangkan..


"Kok cemburu pakai lari segala,saya rasa ada masalah lain" Iyem berkata, Atun melihat pada Iyem.


"Yem,kamu jangan ingin tahu masalah majikan,ingat cari kerja susah,kerja di sini senang,apa lagi majikan kita orangnya baik,jadi jangan mebuat masalah dengan menceritakan hal yang tidak perlu." Atun menasehsti Iyem.


Iyem terdiam.


"Saya tidak akan ingin tahu masalah majikan,saya tak mau di pecat dari sini."


Akhirnya iyem berkata. Atun mengangkat jempol.Atun twrsenyum.


"Itu bagus Yem" Mereka berdua tersenyum.


Atun dan iyem masuk ke dalam rumah,di susul dengan pembantu yang lainnya.


Novi sangat senang ketika melihat Bunga mengunjungi mereka.seperti sahabat karib yang lainnya, mereka bertiga sangat heboh ketika baru bertemu.


"Novi kamu masih kelihatan cantik." Bunga memuji Novi,ia mencubit pipi Novi.


Novi berteriak.


"Aaw sakit bunga!" Novi membalas mencubit Bunga,Bunga pun menjerit,Melati terawa.Akhirnya mereka tertawa bersama.


"Kamu masih cantik Bunga, apa kamu sudah menikah?" Novi bertanya pada Bunga.


Bunga mengangguk.


"Bagaimana kabarmu Novi,bagaimana anakmu.? Bunga bertanya.


Novi tersentak,temannya terkejut.


"Ada apa Novi,mengapa kamu kelihatan terkejut?" Kedua temannya cemas.


"Saya melupakan anak saya,saya belum memberi kabar kalau saya sampai." Novi berkata.


Novi bergegas mengambil hpnya ia menelepon.


Maaf pak,saya lupa menelepon bapak,dan saya juga lupa mengabarkan saya sampai,maafkan saya pak." Novi berkata.


"Kalau bapak tidak di beri kabar tak apa, bapak mengerti,tapi anakmu,ia merengek minta diteleponkan kamu,mengapa telepon kamu tak bisa di hubungi."

__ADS_1


"Maaf pak,saya mematikan teleponnya."


"Ya sudah nanti kamu telepon Bintang ya?" Bapak berkata lagi.


"Bintangnya mana pak?" Novi bertanya lagi.


"Ia sedang bersepeda dengan ayahnya." pak Ridwan berkata.


"Bapak dan ibu pergi juga ke rumah mas Remon?"


"Bapak dan ibu sekarang.." Bapak terhenti.


Bapak ragu mengatakan dimana ia berada sekarang.


"Bapak sedang dimana?"Novi mengulangi pertanyaanya.


Bapak menoleh pada ibu,ibu mengisyaratkan tak usah di katakan kalau ia di Jakarta.


"Bapak sedang..."


Belum sempat bapak melanjutkan pembicaraannya,Bintang datang,ia mendekati kakeknya.


"Kek telepon mama ya?" Bintang turun dari sepeda ia mendekati kakek.


Kakek mengangguk,ia meberikan telepon pada Bintang,saat Bintang telah berada disampingnya.


"Bunda mengapa bunda tidak menelepon Bintang,bunda tidak sayang lagi sama Bintang." Bintang langsung membicarakan isi hatinya.


"Bunda sayang Bintang,masak sama anak tidak sayang,maafkan bunda karna terlambat menelepon Bintang."


"Bunda, Bintang sekarang bersepeda dengan ayah."


"Hati hati ya nak." Novi tak marah pada Bintang.


"Iya bunda." Setelah berkata begitu Bintang mendekati ayahnya yang mulai letih mengayuh sepeda,maklum jarang berolah raga,ia tidak bisa mengimbangi kecepatan Bintang bersepeda.


Roni gelisah Novi tak mau mengangkat teleponnya,ia belum pulang karna nenek masih di rawat di rumah sakit.


"Mengapa Novi tak mau mengangkat teleponnya,waktu pergi ia masih mau bicara,kenapa sekarang tak mau mengangkat telepon saya." Roni kelihatan cemas,ia bicara sendiri.


Roni masuk lagi ke kamar dimana neneknya di rawat.Mamanya hanya memperhatikan tingkah Roni.


"Ma saya mau kerja,tak mungkin saya lama di sini." Tiba tiba Roni berkata.


"Roni kamu kenapa,nenek kamu tidak sadar malahan kamu ingin meninggalkannya." Mama tampak tidak setuju.


"Ada pasien saya yang mau operasi ma." Roni memberi alasan.


"Ala! kamu jangan mencari alasan,kamu ingin menyusul Novi bukan? jujur saja nak." Mama tampak marah.


Roni hanya diam,ia tak menjawab pertanyaan mamanya.


"Nak,lihatlah nenekmu,apa kamu tidak merasa kasihan padanya,gara gara kamu ingin menikah dengan Novi,ia dirawat di sini nak!"


Mama berkata lagi,ia nampak agak marah.


Roni menatap neneknya yang belum sadarkan diri,ia tampak bingung.

__ADS_1


__ADS_2