Kawin Terpaksa

Kawin Terpaksa
Melihat Kelok Sembilan


__ADS_3

Setelah selesai makan mereka melanjutkan perjalanan,Pak Ridwan istirahat menyetir,Novi yang mengantikannya.Pak Ridwan tampak menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil di samping ibu Ros,Bintang dengan mengunakan kaca mata duduk di samping Novi.Ketika mereka melihat jembatan Kelok sembilan Bintang berteriak .


"Wah bagusnya apa itu bunda."


Novi tersenyum ia melihat anaknya sesaat.


"Itu kelok sembilan namanya nak."


"Wah ,bagus bunda!." Bintang berteriak


Novi melihat melalui sepion kaca bapak dan ibu Ros tertidur,Novi tersenyum.Di jalan Novi melihat banyak orang berhenti berselviia ingin selvi dan mencari tempat parkir ,apa lagi ia melihat banyak kedai di sana.


Novi memarkirkan mobilnya.ia membangunkan Buk Ros.


"Buk bangun,apa ibu mau berfoto di sini?"


Setelah dipanggil beberapa kali ibu baru bangun.ia melihat sekeliling.


"Kita di mana Novi."


"Di kelok sembilan buk,ibu mau berfoto di sini ngak,saya dengan Bintang mau turun,ada yang jual jagung panggang,juga buk."


"Jagung panggang,ibu mau." Ibu Ros berkata spontan.


Ibu Ros melihat keluar dilihatnya banyak yang jualan.ia melihat orang jualan jagung panggang.


"Novi ibu mau beli jagung panggang,apa kamu suka?"


Novi tersenyum ia mengangguk.


"Saya suka buk,."?


"ibu akan beli lima buah,apa cukup nak."


"Saya rasa lebih dari cukup buk,satu jagung bakar saja besar besar ukuran.."


"Bagaiman, berapa akan ibu beli Novi?"


"Tiga saja buk,itu sudah banyak."


"Baiklah nak ibu pesan dulu."


Bintang melihat kakeknya sedang tidur.


"Nenek ,Bintang bangunkan kakek nek?"


"Nanti saja nak,setelah jagungnya selesai di bakar,biarlah kakek tidur sebentar,kakek nampak capek tadi."


"Bintang memperhatikan kakeknya.Terdengar dengkuran kakek Bintang tersenyum.Setelah menutup pintu Bintang mau ke tempat ibunya.Melihat Bintang mau menyeberang Novi berteriak.


"Bintang tunggu Bunda,jangan menyeberang!"


Novi sangat cemas untung Bintang mendengarkan bundannya,Novi bergegas menyusul Bintang.


"Bunda takut sekali tadi nak,untung kamu mendengarkan bunda."


"Bintang selalu mendengarkan bunda,Bintang tak akan menyeberang jalan kalau tak ada orang tua,itukan kata bunda pada Bintang.?"


Novi tersenyum mengangguk.


"Ayo kita ke tempat nenek,lihat nenek kelihatan cemas."


Bintang melihat neneknya,ia melihat nenek melihat kearah mereka,mereka berdua menyeberang,sampai di seberang nenek memeluk Bintang.


"Kamu tidak apa apa nak."


Bintang tersenyum geli pada Nenek.

__ADS_1


"Kamu jangan tersenyum begitu,nenek takut tadi nak.." Nenek tampak kawatir.


"Nek,jangan kwatir Bintang tak apa apa,Bintang selalu ingat pesan bunda,tak boleh menyeberang kalau tak ada orang tua di dekat kita."


"Kamu memang anak yang pintar,ingatlah selalu pesan bunda itu."


Bintang menganggukan kepala.


Mereka mendekati pedagang yang menjual jagung bakar.


Sambil menunggu jagung selesai di panggang Buk Ros dan Novi selfi bersama kadang Bintang yang memoto mereka kadang Novi,mereka tampak gembira.


"Nenek bagaimana kalau kita ajak kakek berfoto,Bintang mau foto sama kakek di sini"


Buk Ros melihat pada Bintang ,cucunya itu sangat berharap bisa berfoto dengan kakeknya.


"Baiklah ,Novi coba kamu bangunkan bapak,jatakan padanya Bintang mau berfoto bersmanya."


"Kasihan bapak buk,biarkan saja bapak tidur,bapak mungkin letih membawa mobil tadi."


Mereka sedang asik berbincang pak Ridwan telah keluar sari mobil,Bintang melihatnya.


"Nek,bunda,itu kakek keluar dari mobil."


Mereka melihat pada pak Ridwan.


"Kakek..kakek!!." Kakek melihat pada cucunya ia melambaikan tanggannya ,Bintang membalas lambayan tangan kakeknya.


Buk Ros tersenyum melihat cucu dan suaminya saling melambaikan tangannya..


Setelah sampai di tempat cucunya Pak Ridwan menarik tangan cucunya untuk mengikutinya.


"Kakek mau kemana membawa cucunya kek."


Ibu Ros bertanya.


"Saya mau berforo sama cucu saya buk.' Kakek nenjelaskan


"Bunda mau ikut juga!." Novi ikut juga berjalan kearah kakek.


Akhirnya mereka berfoto bersama,Berbagai gaya yang mereka lakukan,kadang mereka tertawa bersama,ada pula foto pak Ridwan mengendong Bintang.Novi tampak tidak suka kakek nengendong Bintang.


"Pak,tak usah bapak menggendong Bintang,Bintang itu sudah besar,nanti pinggang bapak sakit pak." Novi berkata.


"Tak apa cucu bapak kan hanya Bintang saja".


Bintang merasa senangdigendong kakek.


"Bintang turun,kasihan kakek,nanti pinggang kakek sakit,kita tak jadi ke kota Pb."


Bintang bergegas turun dari gendongan kakeknya.


Setelah selesai berfoto mereka ke tempat penjual panggang jagung,mereka juga berfoto disana penjual jagung hanya tersenyum melihat tingkah mereka.


Setelah puas mereka melanjutkan perjalanannya.


Diatas Mobil Bintang memakan jagung sepotong,Novi memberi sepotong dulu.


"Jagungnya enak bunda."


Novi melihat jagung Bintang sudah habis.


"Kamu mau lagi,potongan jagung kamu masih ada". Nenek berkata.


Bintang mengangguk,menghadap nenek.


Novi melihat sesaat anaknya.

__ADS_1


"Perut kamu itu,berapa saja di kasih makanan tidak cukup."


Bintang tersenyum malu,ia melihat pada bundanya.


"Dari pada terbuang nanti bunda ,lebih baik di makan mumpung jagung masih hangat,bukan begitu kakek."


Bintang menghadap pada kakek.Kakek tersenyum,ia menunjukan jempolnya.


"Kamu benar Bintang,makan saja selagi kamu mau."


"Wah bapak berpihak pada Bintang." Novi protes.


"Tentu saja Bintang kan cucu kakek."Pak Ridwan tersenyum lucu.


Nenek hanya tersenyum mendengar ucapan Bintang kakek dan Novi.


Tanpa mereka sadari mereka telah masuk ke kota p sebelum magrib.


Mereka mencari hotel untuk bermalam,Novi yang mengurus semuanya.


Setelah berada di dalam Hotel Kakek membaringkan badannya,sedang Novi sekamar dengan Bintang berdua.


Novi membaringkan badannya baru saja ia membaringkan badannya hpnya berbunyi. Ketika melihat siapa yang menelepon Novi tersenyum,ia mengangkat teleponnya.


"Kamu sudah sampai sayang?" Roni bertanya.


Novi tersenyum di panggil sayang ia melihat kekanan kiri.


"Untung Bintang masih di kamar mandi."


Novi berkata dalam hati.


"Novi mengapa kamu diam saja sayang?"


Roni bertanya lagi.


"e..e..saya sudah sampai mas."


"Lho kok terbatah begitu menjawabnya sayang." Roni berkata lagi.


"Kamu jangan sering berkata sayang,nanti si dengar Bintang."


"Emangnya kalau di dengar Bintang kenapa?" Roni berkata lagi.


"Nanti ia marah lagi pada saya mas,saya tak ingin mencari gara gara dengan Bintang mas,nanti bisa menjadi penyebab ia tak mau menyapa saya mas." Novi menjelaskan.


"Bintang itu harus di biasakan mendengar panggilan sayang pada mamanya,kamu kan sebentar lagi menjadi istri saya."


Novi melihat lagi ke arah kamar mandi,ia takut Bintang mendengar pembicaraanya.


"Mas nanti saja kita lanjutkan pembicaraanya setelah Bintang tidur." Novi berkata sambil mengarap pada Roni.,Roni tersenyum.


"Baiklah sayang,kita seperti orang maling yang tak ingin tertangkap saja" Roni berkata tampak ia agak kesal.


"Nanti kita sambung Lagi ya mas,setelah Bintang tidur,ia sekarang di kamar mandi,saya tak ingin ia mendengar pembicaraan kita.." Novi berkata lagi.


"Tunggu dulu sayang,kamu tahu ngak saya sedang di mana." Roni berkata agak cepat.


"Memangnya mas dimana." Novi bertanya.


"Mas sebentar lagi lagi sampai di kota Pb"


"Kota Pb,berarti kita di kota yang sama ya mas." Novi tampak terkejut,ia melihat Roni,Roni tersenyum mengangguk.


"Ya! saya ingin berlibur bersama kamu."


"Pekerjaan mas bagaimana" Novi bertanya lagi.

__ADS_1


"Tak perlu kamu kwatirkan,Rumah sakit itu saya yang punya, tidak ada yang akan marah pada calon suamimu ini."


Roni bicara,tampak percaya diri,Novi tampak mencibir,Roni tertawa,tak lama Novi menutup teleponnya.


__ADS_2