
Remon merasa pusing ketika bangun dari tidurnya,ia melihat sekeliling,tak lama kemudian ia duduk ia melihat jam hari menunjukan jam 8 pagi..
"Saya telah berada di rumah saya lagi di Jakarta." Remon berkata perlahan
Remon termenung ,terbayang olehnya kejadian di rumah pak Ridwan.Ia terbayang wajah anaknya.
"Bintang maafkan ayah nak,karna kesal ayah tidak jadi bertemu dengan mu,ayah sudah membeli pesawat yang kamu minta."
Remon tampak sedih,ia teringat anaknya.
Remon mengambil teleponnya ia menghubungi pimpinan perusahaan yang ada di tempat anaknya berada.
"Pak,tolong kamu beri tahu sopir yang sering membawa saya disina,beri tahu ia untuk memberikan barang yang saya bawa kemarin ke tempat anak saya,tapi ingat jangan sampai mereka tahu saya mempunyai perusahaan di sini."
"Baik pak,saya akan mengirimkan barang melalui sopir,saya akan melaksanakan apa yang bapak inginkan."
Baru saja Remon akan ke kamar mandi teleponnya berdering,ia melihat siapa yang meneleponnya.Remon tertegun ketika ia melihat telepon dari pak Ridwan,Remon belum juga menganggkatnya,telepon pun berhenti,telepon berdering lagi begitulah beberapa kali. Remon hanya memperhatikan hpnya,telepon berhenti lagi.tapi tak lama ada pesan yang masuk.Remon tak membacanya,ia langsung ke kamar mandi, setelah telepon tak lagi berbunyi.
Bintang tak berhenti menangis,ia di marahi Novi ketika menanyakan ayahnya.
"Bunda sama ayah jahat,Bintang hanya mau sama nenek dan kakek saja."
Novi diam mendengar ucapan anaknya.
"Saya mau tidur dengan nenek dan kakek."
Ibu Ros memeluknya,bintang masih terisak.
"Novi mengapa kamu memarahi anakmu,kasihan Bintang,ibu tidak suka kamu bicara seperti tadi ."
"Bintang,kamu makan dulu ya,nanti kamu sakit kalau tidak makan."
Bintang masih terisak."
"
"Bintang mau makan kalau nenek yang temani."
Novi memperhatikan saja anaknya.
Malam itu Bintang tidur dengan nenek dan kakeknya,ia tidur di antara kedua.
Lagi lagi Remon pulang mabuk,ia diantar asistennya. Mamanya mengetahui Remon mabuk,ia datang ke apartemen Remon ,seperti pagi itu ia telah berada di sana.mama Remon langsung masuk kekamarnya.
Mama melihat Remon masih tertidur,ia menunggu Remon bangun,setelah beberapa jam Remon bangun mama melihat pada Remon,Remon terkejut ketika ia melihat mamanya.
"Mengapa kamu mabuk lagi?"
Remon diam saja ,mama menatapnya.
"Kamu mabuk setelah bertemu istrimu."
"Mama bicara apa,saya tidak mengerti."
"Kamu jangan pura pura nak,mama tahu segalanya Serly yang mengatakan pada mama."
__ADS_1
Remon tampak geram mendengar serly telah mengatakan segalanya pada mamanya.
"Wanita itu,cepat sekali kalau mengadu!"
"Kamu jangan marah pada Serly".
"Apa lagi yang ia katakan pada mama?"
"Serly mengatakan bahwa,Novi telah menjalin hubungan dengan mantannya,katanya Novi mau mengurus surat cerai mama setuju sekali,mama setuju juga kalau kamu mau menikah dengan Serly,ia masih mau sama kamu."
Remon tampak kesal tapi ia diam saja.
"Kamu lupakan saja Novi nak!"
"Mama bicara apa,saya punyak anak, ma!saya tidak bisa berpisah darinya."
"Kamu kan bisa melihat dia sesekali,sudahlah putuskan saja berpisah dengan wanita itu."
"Ma! saya tidak ingin berdebat dengan mama,saya mohon ma,kepala saya sakit,mama jangan menambah rasa sakit saya ma.. "
Mendengar ucapan Remon,Mama terdiam.
Mereka berdua diam beberapa saat.
"Remon mama harap tadi malam yang terakhir kamu mabuk."
Remon melihat pada mamanya ,ia mengangguk.
"Ayo kita makan,mandilah supaya kamu segar!"
Mama menunggu Remon di meja makan,bermacam makanan terhidang di sana ,tak lama kemudian Remon datang.
"Maaf ma,mama harus menunggu saya."
Mama tersenyum pada Remon.
"Makanlah,mama telah menyuruh mbak masak makanan kesukaanmu,kamu kelihatan agak kurus nak."
"Apa betul ma,saya rasa saya biasa saja,badan saya seperti biasa"
Remon bicara sambil melihat ke badannya.
"Mama tahu perubahan anak mama nak,karna mama selalu memperhatikan anak anak mama."
Remon melihat mamanya ia tersenyum pada mamanya.
"Saya percaya ma,mama selalu perhatian dengan anak anak mama."
Mama tersenyum senang mendengar ucapan mamanya.
"Ayo kita makan nanti keburu dingin makanannya."
Mereka makan,Remon tampak lahab sekali makannya,mama tersenyum,ia tanpak senang.Setelah selesai makan Remon berdiri dari meja makan.
"Remon kamu lebih baik gabung tinggal sama mama,mengapa kamu sendirian di sini,nanti mama akan buatkan makanan kesukaanmu setiap hari."
__ADS_1
Remon melihat pada mama ia terdiam sesaat.
"Oyolah nak,jangan panjang sekali berpikir,mumpung mama masih hidup dan kamu kan tinggal sendiri sekarang,lebih baik sama mama dan adikmu wulan kita tinggal bersama,kamu akan ada kawan ngobrol dan bercanda." Remon berpikir sesaat,tak lama ia melihat pada mamanya.
"Baiklah ma,kita akan kumpul bersama,besok saya pindah." Remon menyetujuinya.
"Jangan besok nak,kita sama sama meninggalkan apartemen hari ini."
Akhirnya Remon mematuhi mamanya ia pindah ke rumah yang di buatnya untuk wulan.
Melihat kedatangan Remon wulan dan anaknya merasa senang.
"Apa betul mas akan tinggal di sini kami sangat senang sekali mas,lihatlah mas Pratama senang sekali.
Remon melihat keponakannya,ia memeluk pratama dan menciumnya.
"Bagaimana sekolahmu pratama,apa kamu masih rajin seperti dulu?"
Pratama tersenyum malu.
Remon tersenyum melihatnya.
"Anak kamu ini masih malu malu seperti dulu."
"Lihat saja nanti mas,sebentar lagi ia akan seperti pakdenya,digilai cewek."
"Kalau saya digilai perempuan istri saya tidak minggat Wulan."
"Wanita itu saja yang lain,kamu saja menikahi wanita yang salah." Mama rwmon menyela.
Remon melihat ke wulan,wulan mwmberi kode untuk tidak memperdulikan mamanya.
"Ini yang membuat saya tidak ingin gabung tinggal bersama mama,saya tak suka mama menyalakan Novi,ia ibu anak saya ma."
"Bela saja dia!." Mama berdiri dari duduknya ia masuk kekamarnya.
Remon langsung mengurut dadanya.
"Sudahlah mas,tak usah acuhkan perkataan mama,mama kita memang begitu kita maklum saja mas."
"Kamu tahu wulan,Novi ingin minta cerai dari mas,mas yakin ia tak mau bersama mas lagi karna ucapan pedas mama padanya."
"Sudah lah mas jangan di pikirkan,yang penting mas bisa berjumpa dengan Bintang,mas harus memikirkan anak mas."
"Ya, kalau Novi bersikeras ingin cerai tidak apa yang penting anak mas dekat dengan mas,saya akan memperioritaskan anak saja."
"Saya senang mendengarnya mas,mas tidak perlu mabuk mabuk,coba mas pikirkan,kalau mas mabuk ada wanita yang tidur dengan mas dan hamil bagaimana? kalau besar nanti,Bintang akan menduga perangai mas memang seperti itu wajar bundanya meninggalkan mas .
karna mas menelantarkan bundanya."
Remon terdiam mendengar ucapan Wulan
"Mas kalau wulan boleh menyarankan,mas fokus saja sama Bintang,masalah mbak Novi,tak perlu membuat mas kacau begitu,kita lihat saja,takdir dari Tuhan kalau ia jodoh mas ia akan kembali pada mas,kalau tidak jodoh,ia tidak akan menjadi istri mas walau mas berusaha semaksimal mungkin mengejarnya.
Remon terdiam ia sepertinya membenarkan ucapan Wulan,Wulan diam sambil memperhatikan masnya.
__ADS_1