
Novi menunggu Remon dengan keadaan cemas,karna hampir dua jam Remon belum juga datang,padahal jarak sekolah tidak begitu jauh.
Pak Ridwan melihat Novi terlihat gelisah ia mendekati Novi.
"Ada apa Novi,bapak lihat kemu gelisah,apa yang kamu pikirkan?"
Novi melihat pada pak Ridwan,ia memaksakan dirinya untuk tersenyum
"Mas Remon, tak perna membawa kendaraaan apa lagi membawa motor,sudah dari tadi ia mengantar Bintang belum juga ia pulang,saya cemas terjadi sesuatu padanyapak.." Novi tampak cemas.
"Doakan saja suamimu,jangan berpikir yang tidak tidak,ayo ke toko,orang banyak yang belanja."
Pak Ridwan sengaja memgajak Novi untuk ke toko,supaya Novi tidak cemas walau ia sendiri sebenarnya cemas juga.
Tiba tiba telepon berdering,jantung Novi berdetak,ia tampak takut menerima telepon,Pak Ridwan memberi isyarat pada Novi
"Angkatlah teleponnya nak,jangan cemas seperti itu."
Tangan Novi agak gemetar mengangkat telepon,ia lihat telepon dari orang asing.
Novi memperlihatkan hp pada pak Ridwan
"Angkat saja nak."
"Ini nomor yang tidak saya kenal pak."
"Angkat saja siapa tahu penting."
Dengan perasaaan deg degan Novi mengangkat telepon.
"Alaikumusalam,mas Roni saya kira siapa tadi,baru beberapa hari.hem"
Setelah itu Novi mendengarkan saja Roni bicara sampai akhirnya ia mengahiri pembicaraaanya
Pak Ridwan tampak penasaran,ia tampak menunggu cerita Novi.
"Siapa yang menelepon nak?. Novi melihat pada pak Ridwan.
"Mas Roni pak."
"Ooo."
Hanya itu yang di ucapkan pak Ridwan,ia sepertinya tak ingin menanyakan lebih banyak.
Tanpa mereka sadari Mobil Remon masuk kehalaman rumah.pak sopir turun.
"Assalamualaikum."
Pak Ridwan saling pandang dengan Novi,mereka berdua keluar,Novi terkejut,melihat sopir Remon yang keluar dari mobil
"Mana mas Remon pak?" Novi tak sabar,ia bertanya sama sopir
"Tadi pak Remon jatuh dari honda buk,ia tak sadarkan diri sekarang,saya tak melihat telepon bapak untuk menghubungi ibuk,saya lansungbkesini,untung ada pegawai yang melihat bapakJatuh tadi buk.
"Bagaimana dengan anak saya,tadi mas Remon yang mengantarnya?"
"Bapak kecelakaanya arah pulang buk,mungkin Ia pulang mengantar Bintang."
"Tunggu sebentar,antar saya kesana."
Novi tampak panik,pak Ridwan masuk memberi tahu istrinya
Buk Ridwan tergopih gopoh mendatangi Novi.
"Bagaimana suamimu nak?."Tampak cemas di wajah ibu Ridwan
__ADS_1
Mas Remon kecelakaan setelah mengantar Bintang buk."Novi menjelaskan pada ibunya.
"Bapak tutup toko dulu." Bapak bergegas ke toko.
Setelah selesai menutup toko,Dengan di hantar sopir ,Novi dan orang tuanya menuju ke rumah sakit.
Telah banyak karyawan Remon datang kesana,sebahagian besar karyawannya belum tahu Novi telah menikah kembali dengan Remon,pak Sopir memperkenalkan Novi dengan seorang bapak yang tampak gagah dan berwibawa.
Bapak itu menyambut hormat Novi
"Bapak Remon telah sadar buk,tangannya patah,sebentar lagi tangannya di operasi,kata Dokter pasang pen." Novi mendengarkan penjelasan asisten Remon tadi.
"Apa ada lagi yang patah pak,atau cidera?"
"Hanya itu saja buk,kalau ibu mau melihat bapak,tak apa,dokter sudah memperbolehkannya.."
"Ya saya mau melihat mas Remon."
"Ibu bergantian saja sama bapak karna tak boleh banyak yang masuk."
Novi mengangguk,dan ia melangkah masuk kedalam ruang dimana Remon di rawat
Ketika matanya beradu pandang dengan Remon Novi tak bisa membendung airmatanya
Novi berdiri sesaat saat sampai di dekat Remon berbaring,air matanya jatuh bercucuran.
Remon mengulurkan satu tangan seperti ingin merangkul istrinya,ia kelihatan meringis menahan sakit,sedang tangan yang satu lagi seperti tidak bisa digerakan.
"Kalau sakit jangan di gerakan mas." Novi tampak cemas.
"Duduklah dekat mas." Novi mendekat duduk dekat Remon.
"Kamu jangan bersedih begitu,mas tidak apa apa, "
Novi terdiam ia memperhatikan tangan Remon.
Novi melihat pada Remon
"kita sepertinya masih di uji." Remon berhenti sesaat ia melihat pada istrinya.
"Mas menginginkan malam ke dua mas seperti ini gagal lagi,sepertinya kita berpuasa lagi,kita akan lambat berbuka."
Novi yang menyadari maksud Remon mengerutkan keningnya.
"Sakit sakit masih genit juga." Remon tersenyum ,ia seperti menahan sakit
"Bagaimana tidak genit sayang,sudah lama menginginkannya harus puasa lagi"
Remon sengaja mengoda Novi,supaya istrinya itu tidak terlampau kwatir melihat keadaannya.padahal,tangan yang patah sangat sakit bila ia bergetak.
"Mas kata bapak yang diluar tadi,hari ini akan di operasi tangan mas."
"Iya.. " Remon mengangguk
"Banyak orang di luar mas,sepertinya karyawan mas banyak yang datang"
"Sepertinya merehka harus dipotong gajinya karna membolos."Remon sengaja bicara asal,ia tersenyum melihat reaksi istrinya
Novi tampak tak suka dengan perkataan Remon..
"Ini bos aneh,karyawan melihat bos kecelakaan kok di kurangi gajinya"
Remon sepertinya ingin mengangkat badan karna ia kurang nyaman,tidur seperti sekarang.
"Novi mendekat tapi ia terlihat takut menolong Remon,karna badan Remon tinggi dan besar"
__ADS_1
Saya tidak bisa mengangkat mas,saya takut badan mas akan sakit kalau saya menolong"
"Tolong panggilkan orang diluar atau beri tahu dokter tangan mas sakit sekali sekarang.
Novi terlihat panik dan takut,ia berlari ke luar.
"Tolong panggilkan Dokter,mas Remon merasa kesakitan." asistennya bergegas memanggil Dokter
Dokter datang memasuki ruangan di mana Remon berbaring.
Novi mendekati asisten Remon.
"Tolong beri tahu sopir untuk menjemput Bintang ke sekolah." Novi mengkwatirkan anaknya
Asisten itu mengangguk hormat
Novi di izinkan menunggu Remon,ia di temani kedua orang tuanya dan asisten Remon.
"Ibu bapak pulanglah,temani Bintang,mas Remon biar saya yang menunggu dengan ditemani asisten mas Remon."
Setelah memberikan pengertian kedua orang tuanya bersedia pulang
"Baiklah besok ibu dan bapak akan kesini membawa pakaian ganti."
Akhirnya kedua orang tua menigggalkan Novi dan asisten suaminya.
"Ibu masuklah kedalam,biar saya menunggu disini,."
"Coba minta tolong orang di kantor,untuk menemani bapak."
"Jangan kawatir buk,sopir bapak yang akan menemani saya bu,besok gantian orang kantor menunggu bapak buk, kalau ibu ingin istirahat malam ini biar diantar Sopir pulang,besok kesini lagi.
Novi tersenyum.
"Mana mungkin saya meninggalkan mas Remon,saya tak akan bisa tidur,ingatan saya pasti kesini terus,lebih baik saya menunggu mas Remon,hati saya akan puas."
"Bintang tak apa berpisah tidur dengan ibu?"
Asisten tahu Bintang sangat dekat dengan Novi dan Ayahnya.
"Tadi sudah di beri pengertian,ia tampak mengerti,walau tadi agak susah membujuknya untuk di rumah"
"Saya terkejut mendengar bapak kecelakaan tadi,dengan honda lagi,saya umpama tak perna melihat bapak naik honda bapak jarang membawa mobil" Novi menarik nafas
"Mas Remon selalu mengikuti keinginan anaknya,tadi sudah saya larang,saya tahu ia kurang istirahat dan tidak biasa membawa honda,tapi ia tak mendengarkan saya malah mendengarkan keinginan anaknya."
"Mungkin karna mereka lama berpisah,saya penah melihat ketika Bintang telepon,ia bergegas menemui Bintang,padahal kami sedang rapat."
"Sifat mas seperti itu yang saya tak suka,sangat memanjakan anak, "
Novi melihat beberap orang berbaju putih datang kearah mereka.
"Buk,pak,bapak Remon akan segera di operasi,kami akan membawa bapak"
Novi mengangguk.
Perawat membawa Remon
"Buk ibu di sini saja,biar kami yang menunggu bapak operasi,nanti ibu letih disana,setelah operasi nanti bapak kesini lagi."
Novi menimbang akhirnya ia menganggu.
Sebetulnya kaki Novi sakit tadi terantuk sesuatu karna bergegas ke rumah sakit.
Novi membaringkan badanya,ia duduk lagi sambil memijit kakinya,setelah terasa agak kurang sakitnya ,ia membaringkan badannya.
__ADS_1
Mungkin karna letih Novi tertidur.