Keikhlasan Hati Anita

Keikhlasan Hati Anita
#118 Tangis Arumi


__ADS_3

LANJUT YA


//*


Di sebuah hotel yang ada di Negara tetangga Indonesia, nampak seorang wanita yang sedang mondar mandir gelisah sambil mengotak atik handponenya.


Clek....


Seorang pria baru keluar kamar mandi terlihat heran melihat istrinya yang sedang gelisah "Kamu kenapa sih mondar mandir gak jelas begitu?".Tanya Dito kepada istrinya.


Arumi menoleh "Iya nih mas, dari beberapa hari lalu aku hubungi nomor Anita tetapi tidak aktif".Ucap Arumi


Saat ini Arumi ikut dengan suaminya untuk perjalanan bisnis di luar negeri.


"Mungkin saja dia ganti nomor kan".Kata Dito berjalan mendekati istrinya.


"Gak mungkin mas, Anita gak pernah ganti ganti nomor".


Arumi masih berusaha menghubungi nomor Anita namun tetap tidak aktif


(Nomor yang anda tujuh sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan).


Begitupun seterusnya selalu operator yang menjawab.


"Aku jadi takut mas, kalau terjadi apa apa dengan Anita".Ucap Arum terlihat cemas


"Heii, kamu positif thingking ya, Anita pasti baik baik aja kok".Dito berusaha menenangkan istrinya.


"Tapi perasaan aku gak enak mas".Kata Arum semakin cemas. "Dari kemarin loh mas gak aktif".Lanjutnya.


"Yasudah, siapa yang bisa kamu hubungi di sana untuk menanyakan keadaan Anita".Tanya Dito tenang.


Arumi terdiam berpikir.


"Karin!!!, iya Karin".Arumi segera mencari nomor Karin


"Nah dapat".Serunya


Tuuuttttt Tuuuuuuu Tuuuu


"Gimana?".Tanya Dito


"Aktif tapi gak ada yang jawab".Katanya mencoba menghubungi lagi


Tuuuuu Tuuuuuu


Hingga akhirnya Karin mengangkat panggilannya


"Halo Rum".Suara Karin dari seberang sana.


"Maaf ganggu Rin, cuman mau nanya kok nomor Anita gak aktif dari beberapa hari yang lalu ya?".Tanya Arumi langsung


Karin terdiam


"Halo Rin, kamu mendengarku kan?".


"Rin".Panggil Arum


"Hikssss Rum".Terdengar Karin menangis


"Kenapa Rin, apa semuanya baik baik saja?".Tanya Arum mulai cemas lagi


"Enggak Rum hiks, Aa..nita....".


"Anita kenapa?".Arumi sangat panik


"Hiks Anita koma Rum".Terdengar tangis Karin pecah


Deg......


Seakan mendapat benturan keras, air mata Arumi menetes begitu saja.


Tuk


Handpone yang tadinya berada di tangannya kini terjatuh ke lantai untungnya handponenya tidak rusak. Dadanya seakan sesak.


Bagaimana mungkin sahabatnya sedang tidak baik baik saja dan ia tak mengetahui hal itu.


"Mas kita pulang sekarang".Pinta Arumi terdengar pilu


"Kamu tenang dulu ya, kita akan pulang".Dito memeluk istrinya berusaha menenangkan.


Tak pikir panjang mereka yang seharusnya masih tinggal beberapa hari lagi di sana harus segera pulang ke tanah air.


Mereka langsung menuju bandara

__ADS_1


Air mata Arum tak hentinya menetes hingga sampai bandara bahkan saat di atas pesawatpun ia masih menangis dan tak berucap sepatah katapun.


Dito hanya bisa memeluk istrinya untuk memberi ketenangan.


"Lebih baik kamu tidur dulu".Pinta Dito


"Aku gak ngantuk mas".Ucap Arum lirih


Selama perjalanan, Arumi hanya menatap jauh keluar jendela pesawat yang dikelilingi awan putih.


Hingga beberapa jam kemudian, Arumi sudah tiba di bandara Soekarno Hatta.


Mereka langsung menuju rumah sakit setelah mengetahui rumah sakit mana Anita dirawat.


Arumi berjalan tergesa gesa menuju mobil yang sudah menunggunya sampai sampai Dito tertinggal di belakang "Hati hati sayang".Teriak Dito


"Cepat mas".Balas Arum dengan teriakan


Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Arumi sudah terlihat sedikit tenang namun dalam hatinya berbeda. Gelisah, takut, dan sedih bercampur jadi satu.


"Cepat pak".Pinta Arum kepada supirnya


"Siap bu".


"Hati hati pak".Dito bersuara.


"Iya pak".


"Kalau begini saya yang bingung pak, bu".Batin supir.


Hingga tak lama kemudian, sampailah mereka di rumah sakit. Tanpa pikir panjang Arumi langsung turun meninggalkan suaminya


Melihat istrinya berlari, Dito jadi cemas "Pelan pelan sayang, nanti kamu jatuh".Teriak Dito namun tak dihiraukan Arumi.


Setelah menanyaka ruang rawat Anita, Arumi langsung mencarinya.


Dengan tergesa gesa, Arumi menelusuri setiap lorong tanpa menghiraukan pandangan orang orang. Air matanya mulai turun lagi.


Hingga dari kejauhan ia melihat Karin dan juga Doni di sana, segera ia menghampiri mereka.


"Karin".Teriaknya


Karin dan Doni menoleh "Rum".Seru Karin langsung berhambur ke pelukan Arumi


"Hiks, Anita Rum".Tangis Karin.


"Saat itu aku gak tau harus ngapain, pikiranku kacau, aku takut Anita kenapa napa".Jelas Karin


"Sebenarnya apa yang terjadi".


"Anita kecelakaan Rum, mobilnya jatuh ke jurang".Ucap Karin


Arumi melepas pelukannya lalu berusaha menghapus air matanya.


Arumi beralih menatap datar Doni sejenak lalu melenggang masuk ke ruangan Anita tanpa mengucap sepatah katapun


Clek...


Deg.....


Air mata Arum kembali menetes menatap sahabatnya terbaring kaku di atas ranjang. Danil yang sedang berada di ruangan itu melihat kedatangan Arum langsung berdiri.


Arumi mendekat, ke arah Anita. Saat berpapasan dengan Danil yang hendak keluar ia melirik sinis ke arah Danil. Tatapan yang mengisyaratkan sebuah kebencian.


Saat Danil sudah keluar, barulah Arumi duduk. Ia menatap intens wanita yang selama ini selalu kuat kini kaku tak berdaya.


1 detik


2 detik


3 detik


1 menit


"AAAGHHHHHH, Nit kamu jahat banget tau gak hiks hiks hiks".Tangis Arum pecah memeluk tubuh pucat Anita.


"Kamu sakit tetapi tak memberitahuku hiks".


"Kamu tidak baik baik saja hiks, tetapi tak ada yang memberitahuku hiks".


"Nit bangun".Guncang Arumi namun tak mendapat respon.


Arumi tertunduk lesuh seraya menggenggam tangan itu "Maafkan aku, aku telat mengetahui keadaanmu".Ucap Arum lirih lalu mengecup dalam tangan Anita.


"Kamu kuat, aku yakin itu".

__ADS_1


"Hiks hiks hiks, Nit".Raung Arumi.


"Anitaaa, jangan seperti ini dong, ayo bangun".Lirihnya


Namun sama sekali tak mendapat respon dari Anita. Arumi menunduk melipat kedua tangannya sebagai penyangga. Ia memejamkan matanya yang selalu mengeluarkan air mata.


Sungguh ia sangat terpukul melihat keadaan sahabatnya yang semengerikan ini.


Clek....


Seseorang masuk membuat Arumi mendongak


"Permisi, saya ingin memeriksa keadaan Anita dulu".Ucap sang dokter


"Silahkan dok".Arumi mundur selangkah memberi ruang untuk dokter


Tahap demi tahap yang dilakukan dokter memeriksa Anita, tak pernah luput dari pandangan Arumi hingga dokter selesai dengan tugasnya.


"Bagaimana dok?".Tanya Arumi penuh harap.


Dokter menoleh "Belum ada perubahan".


"Kamu siapanya".Tanya dokter yang memang sedari kemarin tidak pernah melihat Arumi


"Saya sahabatnya dok, saya baru saja pulang dari Amerika dok".Jelas Arumi


Dokter terlihat mangguk mangguk "Baik, tetap ajak dia bicara karena itu adalah hal yang bisa membantunya cepat sadar dari komanya. Apapun yang kita ucapkan akan didengarkan olehnya".Pinta dokter.


"Baik dok".


"Yasudah, saya permisi dulu".Pamit dokter


"Terima kasih dok".


"Sama sama".


Selepas kepergian dokter, Arumi kembali duduk.


"Aku yakin kamu bisa, kita lewati sama sama ya Nit. Aku sayang banget sama kamu, aku tidak bisa kehilangan kamu".Bisik lirih Arumi dibarengi dengan air mata yang kembali menetes.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2