
YOK LANJUT
SELAMAT MEMBACA
//*
Wahyu memang lebih dulu masuk ke rumah sakit Muara Kasih daripada Dini, jadi wajar jika ia bertanya seperti itu.
Beberapa menit kemudian,sampailah mereka disalah satu restoran yang tak jauh dari rumah sakit
"Kamu mau pesan apa?".Tanya Dini
"Samain aja".Jawab Wahyu singkat
Dini segera memesan makanan untuknya dan juga Wahyu. Sambil menunggu pesanan, mereka berbincang sejenak "Sekarang tinggal sama siapa?".Tanya Dini.
"Sendiri".Jawabnya singkat.
"Orang tua?"Tanya Dini lagi
"Ada kok, tapi aku tinggal di apartemen".Jelasnya
"Kenapa gak tinggal sama orang tua aja?".Tanya Dini semakin penasaran dengan kehidupan Wahyu
"Yah gak kenapa napa".
Hingga makanan mereka pun tiba "Silahkan tuan,nona".Ucap pelayan
"Terima kasih".Ucap Wahyu
Mereka menyantap makanan tanpa bersuara.
Ting ting
Disela sela makan, suara pesan masuk berasal dari handpone Wahyu membuatnya beralih fokus "Lo di mana sekarang?".Tanya pengirim pesan yang ternyata Kenan.
"Lagi di luar, makan siang".Balasnya
"Sama siapa?".
"Dokter Dini, teman kerja".
"Gila lo, terus Anita lo anggurin".Seru Kenan
"Gue cuman diajak".Tulisnya tak lagi mendapat balasan dari Kenan.
Sedangkan di tempat Kenan, kembali dari makan siang di luar, saat akan masuk ke ruangannya, ia melihat Anita yang masih berada di tempatnya seperti saat akan pergi tadi "Gak makan siang Nit".Tanya Kenan meski masih terkesan datar.
Anita mendongak malas"Enggak pak, lagi gak lapar".Balasnya singkat.
Melihat raut wajah Anita yang tak seperti biasanya, Kenan memilih tak lagi menanggapi dan berlalu masuk ke ruangannya.
Karena masih penasaran, Kenan memilih menghubungi Wahyu.
Setelah menghubungi Wahyu, sepertinya Kenan mulai paham terhadap apa yang membuat mood Anita jadi gak enak.
__ADS_1
"Gue harap,lo gak lakuin sesuatu yang bakal buat hubungan lo dengan Anita rusak".Gumam Kenan membaca pesan terakhir dari Wahyu.
//*
Setelah selesai makan, Wahyu dan Dini kembalibke rumah sakit.
Saat akan berpisah di loby rumah sakit, Dini menarik lengan Wahyu sehingga membuat Wahyu menoleh "Kenapa?".Tanya Wahyu seraya menatap tangan Dini yang masih berada di lengannya.
Dini melepas tangannya "Makasih yah, untuk hari ini".Katanya kemudian berlalu.
Selepas kepergian Dini, tanpa pikir panjang Wahyu masuk keruangannya. Hal pertama yang ia lakukan adalah menghubungi Anita.
Tuuuttt tuuu
Nomornya aktif tetapi sang empunya tidak menjawab "Kok gak diangkat ya".
Tuuuuut tuuuu
Belum ada jawaban, Wahyu beralih mengirim pesan "Pulang kerja, aku pengen ketemu".
"Aku tau kamu salah paham sekarang, semuanya akan aku jelaskan nanti".
"Aku harap kamu mau ya"
"Aku tunggu di taman dekat kantormu".
Tulis pesan beruntun Wahyu.
Anita yang kembali sibuk bekerja, menoleh melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata orang yang sama yang merusak moodnya hari ini.
Hingga beberapa pesan masuk, meski malas,tapi rasa penasarannya lebih besar. Anita membuka pesan dari Wahyu yang ternyata ingin mengajaknya bertemu. Tidak berniat untuk membalas, Anita meletakkan kembali handponenya kemudian kembali fokus.
Tak mendapat balasan pesan dan hanya dilihat oleh Anita,membuat Wahyu gelisah dan kembali menghubungi Anita.
Tuuut tuut tuuut
Sekali lagi Anita tak menjawab, membuat Wahyu meletakkan kembali handponenya. "Semoga nanti Anita mau ketemu".Ucapnya.
Singkat..
Hingga jam pulang tiba, Wahyu segera menuju ke tempat yang ia maksud untuk menemui Anita.
Sesampainya di taman, belum ada tanda tanda Anita datang "Apa Anita gak datang ya".Gumam Wahyu.
Masih berharap Anita akan datang, Wahyu memilih menunggunya.
1 menit
2 menit
3 menit
Hingga setengah jam sudah Wahyu menunggu di sana tetapi Anita tak kunjung datang.
Wahyu mengusap kasar wajahnya lalu beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Saat akan melangkah, seseorang dari belakangnya menghentikannya "Maaf aku telat".
Wahyu menoleh kemudian tersenyum "Aku kira kamu gak bakal datang".
Anita langsung duduk tanpa disuruh, sehingga Wahyu juga ikut duduk di sampingnya. "Nit..."
"Langsung saja mas, aku gak suka basa basi".Ucap Anita tanpa menoleh.
Huuuuuf."Dia dokter Dini,rekan kerjaku di rumah sakit, kami tidak memiliki hubungan apa apa".Jelas Wahyu
"Kalaupun punya juga gak masalah kok".Jawab Anita datar masih menatap lurus ke depan.
"Kok kamu ngomong gitu sih, aku dan dia memang tak memiliki hubungan apapun selain rekan kerja, tadi dia mengajak aku makan siang. Aku gak enak aja untuk menolak".Jelas Wahyu lagi menatap Anita yang tak mau menatapnya.
Anita menoleh sejenak kemudian kembali menatap lurus ke depan "Aku kan udah bilang,mau kalian punya hubungan juga gak masalah buat aku, kan kita memang tak punya hubungan apa apa jadi itu hak kamu kok kalau mau dekat ama siapapun".Kata Anita sedikit sendu.
Wahyu mengusal wajahnya kasar "Aku mencintaimu Anita, tak ada wanita lain di hatiku selain kamu".
Anita tak bergeming "Yah kamu memang benar, kita memang tak punya hubungan apapun saat ini,jadi ayo kita resmikan hubungan kita".Ucap Wahyu serius.
Anita menoleh "Maksud kamu?"
Wahyu berdiri diikuti Anita yang juga ikut bediri "Kenapa aku tak pernah mengajakmu untuk pacaran, karena aku ingin memiliku sah secara Agama dan Negara, jadi...."
Wahyu terdiam sejenak
"Aku tau ini jauh dari kata romantis,tapi inilah aku yang apa adanya"
Anita hanya diam mematung mencerna setiap kata yang diucap oleh Wahyu
"Anita Az zahra, WILL YOU MERRY ME?".Ucap Wahyu serius seraya meraih tangan Anita.
Deg....
Jantung Anita berdetak kencang, ia tak mampu mengeluarkan kata apapun.
Sungguh semuanya secara mendadak,ia tak pernah membayangkan Wahyu akan mengajaknya menikah.
"Apa kamu mau?".Tanya Wahyu sekali lagi.
Tanpa sadar Anita menitikan air mata lalu mengangguk pelan "Yes, I Well".
Melihat Anita menerimanya, tanpa ragu Wahyu meraih tubuh mungil Anita untuk masuk ke dalam dekapannya "Terima kasih, aku sungguh mencintaimu".
Anita masih menitikan air mata haru "Aku juga mas".
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1