Keikhlasan Hati Anita

Keikhlasan Hati Anita
#123 Rumah Baru


__ADS_3

LANJUT YA


//*


Berhari hari Anita lalui dalam fase penyembuhan. Beberapa hari ia hanya di dalam ruangan yang berbau khas obat obatan membuatnya bosan dan suntuk. Dengan sabarnya Danil menemani istrinya dan membantu segala keperluannya.Teman temannya juga bergantian datang menjenguknya.


Setelah beberapa kali merajuk untuk pulang, akhirnya tepat hari ini Anita sudah diperbolehkan pulang.


"Ayo sayang".Danil memegang tangan Anita hendak membantunya pindah ke atas kursi roda.


Anita tak merespon "Kenapa?".Tanya Danil heran


"Tunggu dulu".Kata Anita.


"Kenapa? bukankah ini yang kamu inginkan".Tanya Danil heran


"Arumi belum datang".


"Mungkin gak bisa datang sayang".Ucap Danil memberi pengertian.


"Tapi dia janji bakal datang jemput aku".Anita cemberut, tatapannya berubah menjadi sendu.


"Hei, kok sedih. Kan ada aku, nanti Arumi bakal nyusul kita. Oke".Tutur Danil tulus.


"Yaudah sekarang kita pulang ya".Ajak Danil


Anita mengangguk pelan kemudian turun dari ranjang dan pindah ke kursi roda.


Dengan sangat hati hati, Danil mendorong kursi roda Anita menuju loby rumah sakit. Diikuti oleh Doni dan suster yang selalu merawat Anita.


Sampai di depan rumah sakit, sudah ada mobil yang siap akan membawa mereka pulang.


"Ayo sayang, pelan pelan".Ujar Danil menuntun Anita untuk naik.


Saat sudah masuk ke dalam mobil, Anita menoleh menatap suster "makasih ya sus".Ujarnya seraya tersenyum


"Sama sama mba".Balas suster


Hingga mobil yang membawa mereka pelan pelan meninggalkan halaman rumah sakit dan masuk ke jalanan besar dengan Doni yang mengemudi.


"Kamu mau makan apa sayang".Tanya Danil menatap tulus istrinya.


Anita menggeleng "Aku gak lapar, langsung pulang aja".Tolak Anita


Sesekali Anita terlihat menguap dan itu tak pernah luput dari pandangan Danil.


"Yasudah, kamu tidur saja dulu, kalau sudah sampai aku bangunin".Pinta Danil seraya menepuk pahanya


Anita hanya mengangguk kemudian membaringkan kepalanya di atas paha Danil.


Dalam perjalanan Anita tertidur nyenyak sehingga ia sama sekali tak menyadari bahwa arah mereka bukan arah pulang ke rumahnya tapi menuju ke suatu tempat.


Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki kompleks area perumahan elit. Tak ada kendaraan yang berlalu lalang di sana kecuali kendaraan pribadi.


Hingga tak lama setelah melewati beberapa perumahan elit, mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah yang paling megah diantara rumah rumah lainnya yang ada di sana.


"Sayang bangun, kita sudah sampai".Danil menepuk pelan pipi istrinya.


"Heii, ayo bangun".Sekali lagi pelan ia membangunkan Anita.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Anita bergerak "Mmmm, udah sampai ya".Tanya Anita dengan suara khas bangun tidur seraya mengucek matanya.


"Iya kita sudah sampai, ayo bangun".Pinta Danil hendak membantu Anita bangun.


Anita membetulkan posisinya untuk duduk. Kemudian Danil turun duluan "Ayo turun".Ajaknya mengulurkan tangan.


Anita langsung menyambut tangan itu dan ikut turun. Anita menatap sekeliling bingung merasa asing dengan tempat itu "Kita di mana?".Tanyanya bingung.


"Di rumah kita".Jawab Danil tersenyum.


"Rumah kita?".Anita memastikan


"Iya sayang, sekarang kita akan tinggal di sini".Tutur Danil.

__ADS_1


"Kita??".Tanya Anita heran


"Iya siapa lagi kalau bukan kita, aku dan kamu".Tutur Danil gemas


Anita terdiam menatap sekeliling rumah mewah itu.


"Ayo masuk".Ajak Danil


Mereka berjalan beriringan menuju pintu utama dan Doni mengekor di belakang dengan membawa tas Anita.


"Ayo buka".Pinta Danil kepada istrinya


"Aku?".Anita menunjuk dirinya bingung.


"Iya kamu sayang".


Anita mengangguk pelan.Perlahan iya menggerakkan tangannya bergerak hendak menyentuh handle pintu.


Clek....


"SURPRISEEEEEE#&$^$^$^$^@&@&".Teriak mereka serempak membuat Anita terkejut.


Ya mereka, Arumi,Karin,Gea,dan Mega.


"Kalian!!".Seru Anita masih terkejut.


"Selamat datang tuan putri".Seru Gea dan Karin serempak


"Selamat datang nyonya Anita Wijaya".Selanjutnya ujar Arumi heboh menyerahkan sebuah buket bunga.


Masih dengan keterkejutannya, Anita menerima buket bunga itu dengan raut wajah bingung.


"Rum, rupanya kau di sini sehingga tak datang menjemputku".Ucap Anita tiba tiba cemberut.


Arumi tersenyum "Oh sayang, jangan cemberut gitu dong, aku di sini juga karena perintah dari suamimu itu".Tutur Arumi melirik sekilas Danil.


Anita menoleh menatap Danil cemberut. Melihat raut wajah istrinya membuat Danil cengengesan "Hehe, sudah sudah ayo kita masuk kamu harus istirahat".


Danil menunun istrinya yang masih dengan wajah cemberutnya untuk masuk dan lainnya mengekor di belakang.


Anita menatap sekeliling rumah yang super megah itu membuatnya bergidik ngeri."Serius kita akan tinggal berdua di sini".Bisik Anita kepada Danil.


"Iya serius sayang, memangnya kenapa?".Tanya Danil ikut berbisik


"Seluas ini cuman tinggal berdua?, kan ngeri".Ucap Anita menghendikkan bahu.


Danil tersenyum "Yaudah nanti kita cari beberapa pelayan buat bantu ngurus rumah".Bisik Danil.


"Hmmm, yaudah deh gimana kamu aja".Balas pasrah Anita.


Ting tong, ting tong, ting tong.


Semua menoleh serempak "Biar aku saja".Kata Arumi berdiri kemudian berjalan hendak membuka pintu.


Hingga tak lama kemudian, muncul Arumi dengan menenteng beberapa box makanan di tangannya.


"Banyak banget".Celetuk Anita


Arumi tersenyum terus berjalan melewati mereka menuju meja makan untuk meletakkan semua bawaannya "Tanya sama suami kamu, dia yang pesan sebanyak ini".Timpal Arumi


"Ini kan hari pertama kamu bisa pulang jadi hari ini kita makan makan dulu".Jelas Danil.


Anita hanya terdiam tanpa berniat menimpali lagi.


Karin dan Gea ikut membantu Arumi menata semua makanan. Hingga kini mereka semua pindah ke meja makan.


Ting tong


Suara bel kembali berbunyi


Ting tong


"Mungkin itu kak Mega dan pak Benny, aku akan membukanya".Ucap Gea berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Dan benar saja, muncullah Mega dan Benny serta tak lupa dengan baby boy mereka "Alfinn!!".Heboh Anita langsung berdiri.


"Pelan pelan sayang, kamu belum sembuh total".Tegur Danil khawatir.


Anita hanya menoleh dan tersenyum tetapi tetap berjalan menyambut Alfin.


"Kak pengen gendong".Rajuk Anita hendak meraih Alfin.


"Tidak sayang, kamu gak boleh banyak gerak dulu, gak boleh angkat angkat sesuatu dulu".Tegur Danil sangat protektif.


Raut wajah Anita langsung berubah, ia memajukan bibirnya kesal menatap suaminya "Kalau kamu sudah sembuh, kamu bisa kapan saja menggendong Alfin.Alfin juga sekarang makin berat".Ujar Mega.


"Tapi aku sudah sembuh kak".Protes Anita kesal.


"Iya tapi masih perlu banyak istirahat kan".Kata Mega.


"Sudah sudah, ayo duduk kita makan".Timpal Arumi dari belakang.


Semuanya duduk pada kursi masing masing, tak lupa dengan baby Alfin ikut mengambil posisi di atas kereta bayi.


Mereka menyantap makanan yang sudah dipesan Danil melalui Doni. Sesekali mereka melempar candaan bahkan Alfin terlihat ikut mengoceh seolah olah ia mengerti dengan ucapan orang dewasa


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2