
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE YA
########
"Kenapa harus pergi".
Sebelum mengucapkan kata yang bisa membuat Anita mengiyakan kemauannya Karin menunduk sejenak "Kenapa Rin..Kenapa harus pergi".Tanya Anita menelisik.
Dengan mata berkaca kaca Karin berusaha menatap Anita "Maaf Nit tapi aku mohon biarkan aku pergi..hiks..hikss".Bongkahan bening yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh begitu saja
"Aku tau kamu wanita baik, kamu menerimaku dalam hidupmu sangat tulus...Tapi kali ini aku mohon izinkan aku pergi..Hiks hiks hiks"
"Aku tak tau mau sampai kapan aku harus menumpang hidup kepadamu aku hanya ingin berusaha untuk tidak terlalu bergantung kepada siapapun".Ujarnya menggenggam tulus tangan Anita yang sedari tadi menatapnya nanar.
Anita menelisik dalam netra Karin yang di sana sangat jelas telihat sebuah harapan ya berharap ia mendapat isin darinya untuk pergi.
Memejamkan mata sejenak berusaha berpikir jernih apakah ia harus melepas Karin untuk masuk dalam kehidupan yang keras itu
Apakah sekarang adalah waktu yang tepat?
Apakah ia sudah rela kehilangan teman hidupnya beberapa bulan ini?
Apakah Karin mampu melawan kerasnya kehidupan?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya, Anita yang sudah merasakan bagaimana rasanya berjuang sendiri sungguh tak bisa ia bayangkan Karin yang juga akan mengalami hal itu.
Tapi apakah ia harus egois, Karin juga berhak untuk membangun kebahagiaannya sendiri.
Benar yang dikatakan Karin tak selamanya ia akan menumpang hidup kepada Anita, akan ada saatnya ia harus memilih jalan hidupnya sendiri dan mungkin sekaranglah waktunya sebelum ia benar benar bergantung hidup kepada Anita.
Sebelum mengucap Anita menarik dafas dalam kemudian menghembuskan pelan "Kamu serius dengan keputusanmu?".Tanya Anita serius
Karin mengangguk yakin "Iya, aku sangat yakin".
"Sebelum aku mengisinkanmu untuk pergi kamu harus tau ini, Karin aku mengajakmu masuk dalam hidupku dengan hati yang ikhlas, aku sudah mengganggapmu adik aku sendiri, aku tak pernah terpikirkan sampai kapan kita hidup bersama yang aku tau kau adalah tanggung jawabku karena aku yang membawamu masuk, jadi sampai kapanpun jangan pernah menganggap kau berhutang padaku".
__ADS_1
Sekali lagi Anita menghembus nafas berat sebelum melanjutkan "Baiklah, pergilah Karin, cari kebahagiaanmu sungguh aku tak berhak menahanmu".Meski berat Anita tetap mengisinkan Karin pergi.
"Ingatlah Rin, kapanpun kau butuh aku datanglah kemari pintu terbuka lebar untukmu".Ucapnya lagi meneteskan air mata.
Sungguh Karin sangat beruntung bertemu malaikat berwujud manusia seperti Anita "Terima kasih ...Terima kasih kau adalah orang penting dalam hidupku".Ucapnya berhambur kepelukan Anita.
Sejenak mereka berpelukan, beberapa bulan tinggal bersama sungguh sangat berat jika harus berpisah sekarang.
"Apa rencana kamu setelah ini".Tanya Anita melepas pelukannya.
Dari awal awal Karin sudah memikirkan jadi tanpa ragu ia menjawab "Aku akan ke Negara X".
"Baiklah itu lebih baik daripada di Negara yang keras seperti di sini".Tanpa protes Anita menyetujui. "Jadi kapan kamu akan berangkat".Tanyanya lagi.
"Rencana besok lusa, Sebelum kamu ke luar kota".Jawabnya.
"Baiklah, semoga ini yang terbaik untuk hidupmu".Ucap Anita tulus "Asal kamu tau,kamu baru akan memulai hidupmu jadi pintar pintarlah menghadapi hidup yang keras ini".Wejangannya.
"Iya, aku akan selalu mengingat pesanmu".Timpalnya kembali memeluk Anita.
"Kalau gitu aku ke atas ya..Ummmuaachh".Ucapnya mengecup pipi Anita sekilas lalu berlari kecil menaiki anak tangga.
Pov Anita
Setelah Karin masuk kekamarnya aku berfikir sejenak,apakah keputusanku mengisinkannya untuk pergi sudah benar atau tidak.
Sungguh dalam hati kecilku masih belum sepenuhnya merelakan ia pergi kenapa tidak? beberapa bulan dialah yang membuat hari hariku lebih ceria sebelum kedatangannya hanya kesepianlah yang kurasa sehabis pulang kerja.
Sikap cerewetnya, jailnya, perhatiannya serta hal hal kecil yang kadang membuatku geram dan terkadang juga membuatku ingin tertawa.
Setiap aku pulang kerja ada aja kelakuannya yang membuat letihku hilang
Hingga hari ini tiba tiba ia ingin pergi dengan dalih mencari kerja masuk akal sih tapi entah kenapa hati kecilku tak mampu menerimanya
Tapi aku tersadar bahwa sesungguhnya aku tak berhak atas hidupnya aku hanya membantunya keluar dari masalah yang menimpanya jika ia ingin pergi sungguh itu adalah haknya dan lagi lagi aku tak berhak untuk menahannya.
__ADS_1
Aku hanya berusaha meyakinkan hatiku bahwa ia akan baik baik saja di Negara sana, ya ia berniat untuk memulai hidup di Negara X tempat kelahiranku, Negara yang aku tinggalkan karena suatu masa lalu.
Saat ia mengatakan akan ke sana tanpa ragu aku mengisinkannya karena menurutku Negara X tidaklah terlalu keras cuman kita butuh pemikiran yang baik untuk menghadapinya.
Setelah lama termenung di ruang tamu aku kembali ke kamarku untuk mengistirahatkan pikiran dan badanku
P**ov off
***
Malam hari
Kini Anita tengah berada di kamar Karin sedang membantunya mengemasi barang barangnya serta sedikit mengobrol.
"Apa kamu sudah punya tempat tinggal di sana?".Tanya Anita sambil melipat pakaian dan dimasukkan ke dalam koper
Karin yang tengah memilih pakaian di lemari menoleh "Belum sih....Mungkin nanti jika sudah sampai di sana".Jawabnya kembali fokus.
"Kalau begitu mending kamu tinggal di rumahku yang ada di Jakarta".umUsulnya tanpa menoleh
"Enggak deh Nit aku cari kontrakan aja".Tolaknya hati hati takut membuat sang empu tersinggung
"Daripada gak ada yang nempatin mending kamu di sana jadi gak perlu sewa kontrakan mahal".Ujarnya "Emang gak papa".Tanya Karin serius.
"Yah gak papa lah, jadi kalau aku berkunjung ke sana gak perlu lagi cari alamat kamu".Ucap Anita.
"Oh iyaa bagaimana dengan pasword dan visa mu".Tanya Anita lagi. "Udah semua kok".Balas Karin.
Anita hanya mangguk mangguk mengiyakan.
"Udah nih,,kalau gitu aku kekamar ya...Selamat malam"
"Makasih yah..Selamat malam".
Kedua insan itu memilih beristirahat untuk menyambut hari esok.
__ADS_1
Bersambung...