Keikhlasan Hati Anita

Keikhlasan Hati Anita
#126 Beranjak Bahagia


__ADS_3

LANJUT YA


//*


Beberapa hari berlalu


Sesekali Anita ikut ke kantor suaminya di saat ia suntuk berdiam diri di rumah. Secara ia bukan lagi pegawai di kantor Benny.


Seperti hari ini, Anita berniat membawakan makan siang untuk Danil.


"Bibi saya pergi dulu ya".Ucap Anita meriah rantang yang berisi makanan di atas meja


"Iya non, hati hati".Balas bibi


Anita diantar oleh supir menuju kantor suaminya. Tanpa memberitahu Danil bahwa ia akan datang ke kantor.


Tak butuh waktu lama, kini Anita sudah berada di loby perusahaan. Keseringannya berkunjung ke sana membuat sebagian dari karyawan sudah mengenalnya namun buman sebagai istru CEO mereka melainkan kekasih.


"Siang bu Anita".Sapa petugas receptionis.


Anita melempar senyuman "Siang".Tanpa pikir panjang Anita langsung naik ke ruangan suaminya menggunakan lift.


Ting


Pintu lift terbuka. Tampak di sana sekretaris Danil yang masih berada di meja kerjanya.


Melihat kedatangan Anita, sekretaris Danil menunjukkan reaksi ketidaksukaannya terhadap Anita terlihat jelas dari raut wajahnya dan Anita menyadari hal itu. Setiap kali Anita datang dia sama sekali tidak pernah tersenyum melihatnya.


"Siang, pak Danil ada?".Tanya Anita ramah meski ia tau dengan ketidaksukaan sekretaris Danil terhadap dirinya


Tanpa berdiri bahkan tanpa mendongak "Ada".Jawabnya singkat


Tak ingin ambil pusing, Anita langsung masuk ke ruangan suaminya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Selepas kepergian Anita, sekretaris Danil yang diketahui bernama Laura itu menggerutu "Kecentilan banget sih jadi cewek, ngapain sih sering ke sini ganggu aja".Gerutunya


RUANGAN CEO


"Serius amat!!".Seru Anita menghampiri suaminya


Danil terkejut langsung mendongak "Sayang!! kau kemari kenapa tidak menhabariku dulu".Kata Danil berdiri menyambut istinya.


"Kamu sudah makan?".Tanya Anita setelah meletakkan rantang yang sedari tadi ia bawah


Danil menggeleng "Belum".


"Yasudah makan dulu".Ajak Anita sibuk menata makanan di atas meja


Danil duduk di samping istrinya "Kau yang memasaknya?".Tanya Danil


Anita mengangguk tersenyum "Iya".


Raut wajah Danil berubah menekuk "Sayang, akukan sudah bilang soal dapur biarkan bibi yang urus".Omel Danil


"Aku suntuk di rumah terus, makanya aku masak terus ke sini deh".Jelas Anita santai


"Tapikan...."


"Sudah sudah, makan dulu gih".Anita menyerahkan makanan yang sudah ia campur dengan lauk


"Makasih sayang".Danil menerima makanan itu


Meski sempat protes, namun tak bisa berbohong Danil sangat menikmati makanan buatan istrinya.


Anita hanya memperhatikan suaminya yang makan dengan sangat lahap "Kamu tidak makan".Tanya Danil


Anita menggeleng "Aku masih kenyang".


Danil menyendok makanannya lalu hendak menyuapi Anita "Ayo makan, aaaa".


"Enggak mas, kamu aja yang makan".Tolak Anita


"Ayo makan".Danil tetap memaksa barulah Anita menerima suapan dari suaminya.


Kedua pasutri itu terlihat sangat khidmat menyantap makanannya.


Setelah selesai, Anita membersihkan sisa makanan mereka.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu dari luar "Masuk".Teriak Danil


Dan muncullah Laura dengan sebuah map biru di tangannya "Permisi pak, ada berkas yang harus di tanda tangani".Ucap Laura menyerahkan map yang dibawahnya.


Laura melirik sinis ke arah Anita yang sedang duduk santai di sofa namun tak dihiraukan oleh Anita.


"Saya akan pelajari dulu, kamu bisa keluar".Ucap Danil.


"Baik pak".

__ADS_1


Tak lama selepas kepergian sekretaris Danil, Anita berniat pulang. "Mas kalau gitu aku pulang ya".Ucapnya seraya berdiri


"Kok cepat banget sayang".Danil ikut berdiri.


"Aku mau ke toko".Kata Anita


"Yaudah kamu gak nyetir sendiri kan".Tanya Danil


"Iya enggak, aku sama supir".Jelas Anita.


Setelah berpamitan kepada suaminya, Anita langsung keluar.


Clek...


Laura mendongak melihat pintu ruangan CEO terbuka.Lagi lagi ia terlihat kesal melihat Anita


Anita hanya tersenyum kemudian melewati Laura begitu saja.


Saat pintu lift terbuka, Anita segera masuk.


"Tunggu".Teriak Laura berusaha menahan pintu lift yang hendak tertutup. Laura ikut masuk ke dalam lift bersama Anita.


Awalnya hening, namun beberapa saat kemudian Laura membuka suara "Kamu kenapa sih sering ke sini".Tanya Laura tak suka


"Memangnya kenapa?".Tanya balik Anita santai


"Sebaiknya kamu gak usah ke sini, menganggu pak Danil saja".Ucap Laura tersenyum sinis


Anita tersenyum manis "Pak Danil saja tidak keberatan dengan keberadaanku".Ucap Anita santai.


"Halah pasti kamu cuman mau sama harta pak Danil kan".Tuduh Laura sinis


Anita hanya tersenyum tenang "Jika itu yang kau pikirkan maka biarlah seperti itu".Setelah mengatakan itu, Anita langsung keluar karena pintu lift juga sudah terbuka kembali.


Melihat respon santai Anita, membuat Luara semakin kesal.


//*


Selepas dari perusahaan suaminya, Anita langsung menuju toko


"Lagi dimana Rum".Tulis Anita dalam sebuah pesan


Ting


"Di toko, nih baru aja nyampe".Arumi


"Aku lagi di jalan mau kesitu".Anita


Arumi masih sering berkunjung ke toko jika ia tak ikut dinas bersama suaminya. Sama halnya dengan Anita.


Beberapa menit kemudian, sampailah Anita di depan toko. Sebelumnya ia mampir sebentar membeli makanan untuknya dan juga Arumi.


"Bapak pulang aja, nanti saya pulang bareng Arumi".Kata Anita.


"Baik bu".


Anita langsung masuk menuju lantai atas.


Clek....


"Heii".Sapa Anita


Arumi menoleh "Sudah datang Nit, bawa apaan tuh".Tanya Arumi menatap sesuatu yang dibawah Anita.


"Nih tadi aku mampir beli martabak dulu".Anita meletakkan martabak yang dibelinya di atas meja.


Mendengar kata martabak, Arumu langsung semuringai "Tau aja gue pengen banget makan martabak". Arumi langsung mengambil martabaknya lalu melahapnya.


Anita menelan kasar ludahnya melihat Arumi makan sangat rakus "Pelan pelan Rum, entar keselek".


"Enak banget Nit, beli di mana".Dengan mulut penuh Arumi bertanya


"Deket kok dari sini, sebelum belokan di depan sana".Ucap Anita menatap dongkol Arumi


"Entar aku mau beli lagi ah".Kata Arumi


"Ooaggh, enaknya".Arumi mengelus perutnya setelah menghabiskan semua martabak tanpa menyisakan Anita.


Anita menatap kosong bekas Arumi makan tanpa menyisakannya. Arumi menghabiskan martabak jumbo sebanyak dua porsi.


"Kamu sehat Rum".Tanya Anita menyentuh kening Arumi.


"Enggak panas".Gumam Anita


"Aku gak sakit Anita".Protes Arumi


"Kamu makan seperti orang kelaparan tau gak".Celetuk Anita


"Hehehe, gak tau nih akhir akhir ini aku sering merasa lapar meskipun baru aja aku habis makan".Tutur Arumi juga merasa heran dengan dirinya

__ADS_1


"Sekarang aja aku sudah mulai merasa lapar lagi".Celetuk Arumi


"HAAAHH".Pekik Anita


Arumi tersenyum semringai.


"Kamu hamil?".Tanya Anita tiba tiba


Senyum Arumi langsung surut "Hamil".Gumamnya


"Iya Rum, kan biasanya orang hamil yang kek gitu dikit dikit lapar".Ucap Anita.


"Aku hamil?".Gumam Arumi


"Coba deh kamu periksa dulu, siapa tau kamu beneran hamil".Usul Anita


Arumi mengangguk serius "Temenin aku ya buat periksa".


"Kenapa gak ajak suami bun".Kata Anita.


"Aku gak mau dia berharap lebih kalau aku ajak buat periksa kehamilan. Gimaana kalau enggak hamil kan dia pasti kecewa".Jelaa Arumi


"Iya juga sih".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2