Keikhlasan Hati Anita

Keikhlasan Hati Anita
#88 Ikutlah Denganku


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


//*


Mentari pagi menghantarkan langkah Arumi yang akan menuju bandara.Ditemani oleh suami tercinta tetapi hanya sampai bandara karena Arum melarang suaminya untuk ikut karena hanya akan menemui Anita sedangkan suaminya juga sangatlah sibuk.


"Kamu hati hati ya".


"Iya mas, kalau gitu aku pergi dulu ya".Ucap Arum seraya menyalami suaminya.


"Iya, kabarin kalau sudah sampai".


"Iya mas, daaa".Arum melambaikan tangannya sampai ia tak lagi melihat suaminya.


Tanpa ada yang menyadari, seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka menimbulkan banyak pertanyaan dibenaknya "Kenapa suaminya tidak ikut?".Tanya pria itu.


Ya dia adalah Doni, kebetulan ia ke bandara untuk mengantar seseorang dan tidak sengaja melihat sahabat Anita yaitu Arumi.


Doni tau bahwa besok adalah hari pernikahan Anita dilangsungkan tetapi ada hal yang mengganjal di pikirannya, kenapa Arumi pergi sendirian,ke mana Karin, kenapa suaminya tidak ikut. Semua pertanyaan mengganjal di pikirannya.


Tanpa pikir panjang ia menghubungi mata matanya yang ada di Negara K untuk menyelidiki masalah ini.


"Halo, kamu cari tau wanita yang ada di foto itu, besok adalah hari pernikahannya, saya mau informasi semua tentangnya masuk di emailku besok pagi". Ucap Doni


"Siap bos".


Setelah menghubungi orang suruhannya, Doni memilih meninggalkan bandara dan kembali ke kantor.


Singkat..


Beberapa jam menempuh perjalanan, kini Arumi telah berada di Bandar Udara Heartword.


Tak ingin mereporkan Anita untuk menjemputnya, ia memilih naik taxi sesuai alamat yang diberitahukan oleh Anita "Pak ke alamat ini ya".Ucap Arum menyerahkan sebuah alamat.


"Baik mba".


Hingga taxi yang membawa Arum telah berhentu tepat di depan sebuah rumah yang masih terbilang besar.


"Sudah sampai mba".Ucap supir menoleh.


"Oh iya, ini pak".


Arumi turun kemudian menatap nanar ke arah rumah yang ada di depannya.Tanpa pikir panjang Arumi melangkah kemudian menekan bel yang ada di sana.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Anita yang sedang mengurung diri di kamar, tak menyadari seseorang di bahwa.


Karena tak mendapat jawaban, Arumi memilih menghubungi Anita.


Tuuuuuuuuut tuut


"Halo Nit, aku di depan rumah kamu nih".


Anita terlonjak "Hah, kamu serius?".Ucapnya tak percaya.


"Iya aku serius, buruan bukain pintu, aku udah jamuran nih di sini".Gerutu Arum.


"Yaudah bentar aku turun".


Tut


Tak lama kemudian.

__ADS_1


Clek..


"Aruumm".Pekik Anita seraya memeluk sahabatnya itu.


"Kamu gak mau ajak aku masuk dulu nih, kaki aku pegel tau berdiri mulu".


"Hehehe, lupa. Ayo masuk".


Anita menuju dapur untuk membuatkan sahabatnya minuman.


"Nih minum dulu".


Arumi meraih gelas yang diberikan Anita kemudian meneguknya hingga tandas.


Setelah itu, suasana menjadi hening.Arumi menatap serius wajah Anita.


"Kenapa?".Tanya Anita.


Seketika Arum menarik sahabat itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Dan benar saja, air mata Anita menetes begitu saja.


"Aku tak pantas mendapatkan cinta".Ucap lirih Anita.


Arumi semakin mempererat pelukannya seakan menyalurkan kehangatan kepada sahabatnya.


"Shutt, kamu gak boleh ngomong gitu, kamu wanita luar biasa".Kata Arumi.


"Dia yang gak pantas mendapatkan cintamu yang luar biasa itu".Lanjutnya.


"Aku gak sanggup Rum".Ucap Anita masih menangis. Arum yang melihat keadaan sahabatnya itu, ikut merasakan sakit dan tanpa sadar ia juga ikut menitikan air mata.


"Aku percaya kamu wanita hebat, kamu pasti bisa melewati semuanya".


"Kamu gak boleh terlihat lemah".Lanjut Arum.


Anita terdiam sejenak untuk menjernihkan pikirannya.


Anita mengangguk "Iya, tetapi mungkin pernikahannya tetap berjalan besok tapi bukan dengan aku".Ucap lirih Anita.


"Yasudah kamu sabar ya, dia memang tidak pantas untukmu".Ucap Arumi mengelus lembut bahu Anita.


Krrruuuuuuk


Suara cacing yang tengah kelaparan mengejutkan Anita. "Kamu belum makan?".Tanya Anita.


Arumi hanya mengangguk tersenyum lebar "Yaudah kita pesan makanan aja ya, belum sempat masak soalnya".Ucap Anita seraya menghapus sisa air matanya.


"Iya".


Di lain sisi.


Doni masuk ke ruangan Danil untuk mengecek keadaan bos sekaligus sahabatnya itu.Karena semenjak mengetahui bahwa Anita akan segera menikah, Danil hanya sering melamun saat di kantor.


"Lo kenapa lagi".Tanya Doni langsung duduk di depan Danil.


Danil mengusap wajahnya kasar."Besok Anita akan menikah dengan pria lain, sudah tidak ada lagi kesempatanku untuk mengajaknya kembali".


"Yaudahlah, ikhlasin aja biarkan dia bahagia dengan pilihannya".Ucap Doni.


"Iya gue mau dia bahagia, tetapi gue belum bisa merelakan dia bersama pria lain".


"Kalau jodoh gak bakal ke mana kok....Yaudah gue keluar dulu ya, Tinggal satu minggu waktu kita untuk mempersiapkan keberangkatan kita, jadi gue harap lo bisa fokus lagi".Ucap Doni kemudian melenggang keluar meninggalkan Danil.


Selepas kepergian Doni, Danil seperti berpikir "Benar kata Doni, gue gak bisa begini terus, sebentar lagi gue harus ke luar Negeri".Sejenak Danil melupakan tentang Anita dan kembali fokus kepada pekerjaannya.


//*


"Ayo makan dulu".Ajak Anita setelah menerima pesanan makanannya.

__ADS_1


"Oh iya sebentar".


Mereka berdua melahap makanan yang telah Anita pesan.


"Apa Karin tau kalau kau kemari?".Tanya Anita di sel sela makannya.


"Iya dia tau, awalnya dia mau ikut tapi aku melarangnya".


Anita hanya mangguk mangguk kemudian kembali fokus ke makanannya.


Hingga beberapa menit kemudian, setelah membereskan bekas makanannya, kini mereka sedang bersantai di taman belakang rumah Anita.


"Selama ini kamu tinggal sendiri di rumah besar ini?".Tanya Arumi.


Anita menatap lurus ke depan "Iya, mungkin aku sudah terbiasa dengan kesendirian".Ucapnya tanpa menoleh.


"Kenapa gak cari pembantu, supaya ada yang menemani".Tanyanya lagi.


"Awalnya sih mau, tapi semakin ke sini aku pikir kayaknya gak usah, selagi aku bisa mengerjakan semuanya sendiri".Ucapnya.


Arumi tak lagi melontarkan pertanyaan sehingga suasana kembali hening.


1 menit


2 menit


"Ikutlah denganku Nit".Ucap Arum tiba tiba


Anita menoleh "Maksud kamu?".


"Iya ikutlah denganku, kembalilah ke Negara asalmu".Ucap Arum serius.


Anita kembali menatap lurus ke depan "Aku tak memiliki alasan lagi untuk kembali Rum".


"Di sini bukan tempatmu Nit, apakah kau tak merindukan kedua orang tuamu?".


"Aku merindukannya sangat merindukannya".


"Kalau begitu ayolah kembali bersamaku, kau bisa setiap saat menjenguk mereka...Apa kau tidak merindukan suasana tempatmu dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh orang tuamu?".


"Aku merindukan semuanya".Anita mendongak sebisa mungkin menahan air mata yang hendak terjatuh.


Arum meraih tangan sahabatnya itu "Sudah cukup kamu mengasingkan diri disini, waktunya kamu pulang, kita bisa bareng bareng lagi".Ucapnya penuh tulus.


"Tapi apa aku bisa meninggalkan Negara ini, tempatku kembali menemukan kehidupan".


"Kamu bisa, di saat kamu memilih meninggalkan tanah kelahiranmu aku yakin kamu juga mampu meninggalkan Negara ini".Ucap Arum meyakinkan.


Anita membalas tatapan Arum "Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya".


"Aku akan menunggumu, di saat kau sudah siap, barulah kita kembali".Ucap Arum


"Suamimu?".


"Dia akan mengerti".Ucap Arum yakin.


Anita kembali memeluk Arum menumpahkan segala perasaannya di dalam dekapan sahabatnya itu.


"Terima kasih".Ucap lirih Anita.


"Tidak ada kata terima kasih dalam persahabatan, kau adalah saudaraku".


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2