
//*
"Udah lama ya, kerja dengan Kenan".Tanya Wahyu tiba tiba.
Anita mendongak "Ha? mm enggak juga, mungkin baru satu tahunan lah".Jawab Anita.
"Oww".wmWahyu mangguk mangguk paham.
"Maaf ya kalau aku jadi sok deket ama kamu, kamu pasti risih ya". Kata Wahyu lagi yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Anita.
Anita sedikit gelagapan "Oh,mm enggak kok,santai aja".Dengan senyum tipisnya.
Setelah merasa cukup lama di sana, tak ada perbincangan penting cuman sesekali Wahyu melontarkan pertanyaan, Anita berniat pamit pulang duluan.
"Mm kalau gitu aku duluan ya, udah mau magrib".Katanya seraya berdiri
Wahyu mendongak ikut berdiri "Oh yaudah kalau gitu, aku juga udah mau pulang, mau bareng?".Tawar Wahyu, rasa canggungnya sudah berangsur hilang.
"Terima kasih, tapi aku bawa mobil".Tolaknya pelan.
"Oh yaudah, sampai ketemu di lain waktu".
"Iya".
Anita melenggang pergi meninggalkan Wahyu yang masih berdiri di sana.
"Enggak seburuk yang kupikir sih".Batin Wahyu.
Tiba tiba Wahyu teringat sesuatu "Adduh kok aku lupa ya minta nomor handponenya".Seraya menepuk jidatnya.
"Oh iya, nanti aku minta sama Kenan aja".Katanya lagi lalu berjalan keluar dari cafe itu.
//*
Anita sampai di rumah tepat saat suara adzan berkumandang, segera ia membersihkan diri kemudian menunaikan shalat magrib seorang diri.
Setelah selesai, barulah ia turun hendak memasak untuk makan malamnya.
Anita membuka kulkas ingin melihat bahan makanan yang akan ia masak "Ya kosong, gak ada yang bisa dimasak".Ucapnya kembali menutup kulkas.
Jadilah ia memesan makanan lewat online lalu makan malam sendiri dengan tv menyala yang menemaninya.
Setelah makan, Anita belum beranjak dari ruang tengah, ia membuka aplikasi di hp nya kemudian mencari nama kontak sahabatnya yang jauh di sana.
__ADS_1
*T**utt tutttttt tuuuu*
Panggilan pertama langsung mendapat jawaban"Ya halo Nit".Ucap orang di seberang sana.
"Hai apa kabar".Tanya Anita
"Baik, kamu sendiri??...Jarang banget nelpon".Kata Arumi.
"Hehe maaf, soalnya aku sibuk banget, takut juga ngeganggu kamu".Cengenges Anita.
"Apaan sih, gak ganggu lah".Protes Arumi.
"Iya iya maaf, gimana kabar Karin di sana?".Tanyanya lagi.
"Karin udah kerja di cafe yang dekat dari toko".Kata Arumi.
"Bagus deh kalau gitu".
"Kak Arum ada yang nyariin diluar". Ucap seseorang dari seberang sana
"Oh iya sebentar ya"
"Halo Nit, udah dulu ya, ada yang nyariin katanya diluar".Kata Arumi.
"Yaudah, salam buat anak anak di sana ya".
Tut
Sedangkan di tempat Wahyu terlihat kesal dengan sahabatnya Kenan yang selalu saja mengejeknya.
Wajar sih karena baru saja Wahyu meminta nomor telepon Anita dan itu membuat Kenan jadi heboh.
"Cie cieee ada yang jatuh hati nih".
"Semoga berhasil ya".
"Gue pasti dukung kok".
"Anita itu baik, cocok sama lo".
Kira kira seperti itulah kata demi kata yang dilontarkan Kenan.
*Apa benar yang dikatakan Kenan?
__ADS_1
Ah bodoh amat yang penting nomornya udah gue dapat*.Gumam Wahyu
Waktu demi waktu, Wahyu semakin mencari celah untuk mendekati Anita, tetapi dia sendiri bingung dengan perasaannya sendiri.
"Entahlah, ikuti aja alurnya, apapun yang terjadi nanti akan aku jalanin".Kata Wahyu menatap nanar langit langit kamarnya.
Tak lama kemudian ia teringat sesuatu, kemudian Wahyu bangkit menarik laci yang ada di dekat tempat tidurnya lalu meraih sebuah bingkai foto.
Wahyu menatap wajah seseorang yang ada dibalik bingkai itu "Hai, kamu apa kabar di sana".Kata Wahyu mengajak bicara seseorang dibingkai itu, terlihat naif bukan, tapi itulah Wahyu seringkali mengajak istrinya berbicara walau lewat foto.
"Aku sangat merindukanmu Dev, dan akan selalu seperti itu".
"Apa kamu marah jika aku menemukan wanita lain selain dirimu? aku harap kamu tidak marah ya".
"Kamu memiliki tempat lain di hatiku, mungkin sudah saatnya aku membuka hatiku untuk mengisi kekosongan separuhnya, aku tidak pernah menghianatimu Dev, kamu akan tetap ada, tapi aku hanya minta restui aku Dev".
"Berbahagialah disana, Aku merindukanmu".Ucapnya menaruh kembali bingkai foto itu di tempatnya.
Setelahnya itu, Wahyu kembali merebahkan dirinya di atas kasur king size, mengusap wajahnya kasar "Ya aku yakin dengan hatiku".
*Semoga ini jalan yang terbaik untukku kedepannya, entahlah hanya saja hatiku selalu meyakinkan pikiranku bahwa sudah saatnya aku memulai membuka hati lagi.
Aku juga berhak bahagia ya bahagia, sudah cukup aku menutup diri selama ini*.
Beberapa kali mama Wahyu mengenalkan wanita kepada putranya itu, tetapi Wahyu selalu menolak dengan berbagai macam alasan, dan dengan terpaksa mamanya harus mengiyakan saja dengan keputusan putranya itu.
Tak lama beradu dengan pikirannya sendiri, Wahyu pun terlelap dengan posisi telentang.
Berbeda dengan Anita, belum ada tanda tanda bahwa ia mengantuk memilih mengotak atik hpnya tidak jelas.
Hingga tanpa sengaja ia melihat akun sosial media seseorang yang baru tadi ia temui
"Inikan dokter Wahyu".
Tanpa sadar jari lentiknya itu menekan tombol biru yang bertulislan follow, kemudian ia beralih pada postingannya, satu persatu ia memperhatikan setiap foto, sangat jelas di sana dominan khas dokternya.
Saat sudah mulai bosan Anita menaruh hpnya kemudian berusaha memejamkan matanya hingga tak lama kemudian Anita terlelap
.
.
.
__ADS_1
.
*T**o be continue*