Keikhlasan Hati Anita

Keikhlasan Hati Anita
#119 Empat mata


__ADS_3

LANJUT YA


//*


Berselang lama, Arumi berniat keluar hendak menemui suaminya


Tak tak tak


Clek...


"Mas".Serunyaa


Semuanya menoleh meski hanya Dito yang dipanggil.Arumi berjalan mendekati suaminya


"Kamu pulang duluan ya, aku akan tetap di sini".Pinta Arumi


"Tidak mau pulang dulu?".Tanya Dito


Arumi menggeleng "Enggak mas, aku akan nemenin Anita di sini".


"Kamu harus istirahat".Kata Dito


"Iya Rum kamu pulang dulu aja".Ucap Karin menimpali.


Arumi menoleh lalu kembali menatap suaminya "Kamu duluan aja ya mas".


"Mas akan kembali lagi ke Amerika malam ini".Ucap Dito


"Tunggu besok aja mas".Pinta Arum


"Gak bisa sayang, mas ada meeting besok....Habis dari sini mas langsung ke bandara".Kata Dito


"Maaf ya mas, aku tidak bisa nganter sampai bandara".Melas Arum menatap nanar suaminya


Dito tersenyum mengusap pelan kepala istrinya "Mas juga gak bakal ngisinin kamu nganter mas ke bandara, yasudah mas berangkat dulu ya".


"Hati hati ya mas, kabarin kalau sudah sampai".


Dito mengangguk.


Dan akhirnya Dito kembali ke Amerika malam itu juga dan Arumi akan tetap tinggal menemani Anita.


Tak berselang lama kepergian Dito, muncullah Gea. "Arum, sejak kapan datangnya".Tanya Gea sesampainya di sana.


"Baru aja kok".


"Yaudah, aku masuk dulu ya mau nyimpen ini".Ucap Gea seraya menunjukkan paper bag


"Iya".


Hari sudah mulai gelap, namun mereka sama sekali tak beranjak dari sana. Semuanya masih stanbay di depan ruangan Anita termasuk Danil. Sedangkan Doni beberapa menit yang lalu pamit pulang untuk mengambil baju ganti untuknya dan Danil.


"Bisa kita bicara?".Seru Danil tiba tiba membuat ketiga wanita itu menoleh.


Tatapan Danil tertuju kepada Arumi sehingga semuanya tau bahwa Arumi yang sedang Danil ajak bicara "Sebentar saja".Ucap Danil lagi penuh harap


Arumi tampak berpikir lalu beralih menatap Gea dan Karin "Kalian tetap di sini ya".Pintanya mendapat anggukan dari keduanya.


Tanpa mengucap sepatah kata, Arumi pergi dan Danil mengekor di belakang. Mereka berjalan menuju taman rumah sakit.


TAMAN


"Bicaralah".Pinta Arumi setelah mendudukkan bokongnya.


Danil ikut duduk tepat di depan Arumi "Aku akui aku salah, tapi aku sudah menyesali perbuatanku".


Arumi masih menyimak "Aku menyesal Rum, sungguh hatiku sakit melihatnya seperti sekarang ini".


"Aku hanya ingin menebus semua kesalahan kesalahanku di masa lalu terhadapnya".


Danil menunduk terdiam


Hening


"Tidakkah kau sadar perbuatanmu dahulu sangat melukainya hah".Pekik Arumi seketika mulai naik pitam


"Tidakkah kau sadar karenamu dia harus korban perasaan dan korban materi sampai sampai harus pindah Negara HAH".


"Kamu bodoh Danil, sungguh Anita tak pantas kau miliki".Emosi Arumi


Terdengar nafasnya yang naik turun menandakan bahwa dia sangat emosi


"Aku akui aku salah, aku ingin menebus kesalahanku".Ucap Danil lirih.


"Hiks, kamu lihat sendiri bukan? saat ini Anita terbaring koma".Tangis Arumi pecah seketika.

__ADS_1


"Sudah banyak penderitaan yang ia rasakan selama ini hiks".


Danil terdiam membiarkan Arumi mengeluarkan semua unek uneknya.


"Kamu orang yang paling bodoh danil".


"Kamu orang yang paling jahat".


"Anita tak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu".


"Aghhhh hiks hiks".


Arumi menangis sejadi jadinya, setelah mengeluarkan semuanya.


"Bantu aku Rum".Kata Danil tiba tiba


Arumi seketika terdiam.


"Bantu aku, aku ingin menebus semua kesalahanku, aku ingin memberinya kebahagiaan, aku mencintainya Rum, sangat mencintainya".Ucap Danil serius.


"Kamu pikir aku bodoh hah, membiarkan Anita kembali lagi bersamamu".Ucap Arum sinis.


"Jangan harap aku akan membiarkan itu terjadi".


Tiba tiba Danil bersimpuh di depan Arumi sehingga membuat Arum terlonjak "Aku mohon Rum, cuman kamu yang bisa bantu aku".Mohon Danil dengan mata yang mulai berkaca kaca


"Apa yang kamu lakukan, berdiri Danil".Pinta Arumi sedikit berteriak


"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu mau janji".Ucap Danil memohon


"Tidak Danil itu tidak akan terjadi".Arumi mengalihkan pandangannya kesembarang arah.


"Aku mohon Rum".Danil menunduk lesuh


Hening


1 menit


2 menit


3 menit


"Apa yang ingin kamu lakukan".Ucap Arumi tiba tiba


Danil berdiri dan kembali duduk di tempatnya


"Apa kamu yakin Anita akan menerimamu kembali".Tanya Arumi penuh selidik


"Aku yakin, asalkan kamu menyetujuinya".


"Kenapa harus persetujuan dari aku?".Tanya Arumi


"Karena kamu sahabatnya, jika kamu tidak setuju akan lebih sulit lagi untuk menyakinkan Anita".Jelas Danil


Arumi berpikir dan Danil terdiam menunggu respon Arum.


Tiba tiba Arumi berdiri membuat Danil ikut berdiri "Baiklah".Ucapnya singkat lalu melenggang pergi dari sana.


Seakan mendapat angin segar, Danil tersenyum hatinya bahagia. Selangkah menuju cintanya berhasil ia taklukkan.


//*


Hari kelima


Semenjak kedatangannya, ia sama sekali tak pernah meninggalkan Anita.Bahkan untuk makan dan baju gantipun Karin ataupun Gea yang akan membawakannya.


Seperti biasanya,Ia duduk di samping ranjang, meraih tangan itu lalu menciumnya tulus.


"Aku merindukanmu".Ucapnya lirih.


"Bangunlah Nit, banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu".


"Banyak hal yang ingin aku ceritakan".


Hening


Arumi menatap nanar wanita yang terbaring kaku itu.


"Hei, sampai kapan kamu akan membiarkanku bicara seorang diri seperti ini".


"Biasanya meski aku bicara sedikit kamu langsung berkomentar, tapi sekarang aku sudah bicara banyak kamu malah diam".


"Hiks Nit bangun".Tak bisa menahannya, Arumi kembali menangis.


"Anitaaaaaa!!!!!".Teriaknya

__ADS_1


"Bangun Nit".Arumi mengguncang tubuh itu namun lagi lagi tak mendapat respon.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuatnya menoleh dan muncullah Gea.


"Dokter mau bicara".Ucapnya.


Arumi menangguk lalu berdiri dan ikut keluar. Di sana semuanya berkumpul kecuali Benny dan Mega.


"Baiklah apakah semuanya sudah hadir?".Tanya dokter.


Dokter yang menangani Anita merasa kagum dengan solidaritas dari mereka semua. Meskipun bukan anggota keluarga tetapi mereka dengan setianya menemani Anita yang notabenenya sebatang kara.


"Bicaralah dok".Pinta Arum


Semua terdiam menunggu ucapan dari dokter.


"Jadi begini, sepanjang yang saya pelajari keadaan Anita tidak menunjukkan perubahan.....".Dokter menggantung ucapannya


"Saat ini hanya alat yang membantunya bertahan hingga masih bisa dikatakan ia masih hidup".Dengan berat dokter mengatakan hal itu


Semuanya terdiam syok.


"Apa yang harus kita lakukan dok".Tanya Arumi lirih berusaha menahan air matanya.


"Dengan berat hati saya mengatakan ini, jika besok masih tidak menunjukkan perubahan maka dengan terpaksa kami akan melepas semua alat alat bantu yang melekat di tubuhnya".


Deg.......


Tak mampu lagi menahan tubuhnya, Arumi terduduk lesuh, air mata yang sedari tadi ia tahan kini lolos jatuh ke pipinya.


Karin dan Gea ikut duduk lalu memeluk Arumi. Seketika tangis mereka pecah.


"AAAAAGGGGHHHHH, gak mungkin".Pekik Arumi


Sedangkan Danil, matanya terlihat memerah. Tak lama kemudian dia memilih pergi dari sana meninggalkan semuanya.


Semuanya syok, belum bisa menerima kenyataan jika suatu waktu hal yang tak diinginkan terjadi.


Tiba tiba Arumi berdiri "Saya mohon dok, tetap pasang alat yang bisa membantunya dok".Ucap Arumi memohon.


"Memasang alat alat terlalu lama juga akan menyakiti dirinya".Jelas dokter


Arumi kembali terdiam


"Kalau begitu saya permisi".Pamit dokter.


"Terima kasih dok".Kata Doni.


"Sama sama".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2