
HAPPY READING🖤
//*
Mereka tiba di Jakarta saat suara adzan magrib baru saja dikumandangkan, Danil segera menurunkan barang barang Andrian yang ia bawah dari panti.
"Sayang, kamu duluan yah ajak anak anak masuk".Pinta Danil
"Iya mas,Ayo sayang".Ajak Anita kepada kedua anaknya.
Gea yang masih dengan rasa kantuknya tak menghiraukan saudara barunya. "Assalamu alaikum".Salam Anita seraya menggandeng kedua anaknya.
"Waalaikumussalam".Balas para pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
"Wah anak penghuni baru nih".Celetuk Bi Marni riang selaku kepala pelayan di sana.
Kedatangan Andrian menjadi bagian dari keluarga wijaya disambut dengan suka cita oleh para penghuninya.
"Kenalin, ini Andrian abangnya Gea".Kata Anita mengenalkan Putranya kepada seluruh pelayannya.
"Selamat datang den Andrian".Sapa bi Marni mewakili.
Andrian hanya tersenyum canggung sebagai balasan sapaan untuk mereka.
"Yasudah, Gea anter abang ke kamarnya yah".Pinta Anita kepada putrinya.
Gea tersenyum menatap abang barunya "Ayo bang, Gea tunjukin kamar baru abang".Ajak Gea riang langsung meraih tangan Andrian tanpa menunggu jawaban dari sang empunya.
Melihat mood Gea yang seketika berubah membuat Anita menggeleng seraya tersenyum bahagia. Tak lama semua pelayan kembali ke pekerjaan masing masing.
"Sayang".Tegur Danil dari arah belakang.
Anita menoleh "Iya mas".
"Anak anak mana?".Tanyanya seraya merangkul pundak istrinya.
"Tadi aku suruh Gea anter abang ke kamarnya".Kata Anita.
"Permisi tuan, barang den Andrian di simpan di mana?".Tanya mang Damang tiba tiba muncul dengan beberapa barang di tangannya.
Kedua pasangan itu menoleh serempak "Oh, langsung aja bawah ke kamar Andrian mang, entar bi Marni yang tolong beresin".Kata Anita.
"Baik nyonya".
Danil dan Anita memilih kembali ke kamarnya membiarkan kedua anaknya saling mengenal lebih dekat.
KAMAR ANDRIAN
Sesampainya di lantai atas, Gea menghentikan langkahnya di depan sebuah kamar "Ini kamar Gea".Katanya memberitahu seraya menunjuk pintu kamarnya. "Dan yang di ujung sana, kamar ayah dan bunda".Lanjutnya seraya menunjuk kamar orang tuanya.
Andrian hanya mengikuti arah perginya telunjuk Gea.
Gea kembali melanjutkan langkahnya ke depan sebuah kamar tepat di samping kamarnya.
Clek....
"Taraaaa, dan ini kamar abang". Seru Gea setelah membuka sempurna pintu kamar langsung menarik tangan abangnya masuk.
Andrian mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Sedari kecil hidup di panti asuhan dengan kehidupan yang sederhana tentu membuatnya takjub melihat ruangan yang akan menjadi kamarnya nanti.
"Abang suka kan?".Tanya Gea girang.
Andrian mengangguk cepat "Suka".Katanya tersenyum.
"Gea loh yang milihin warnanya".Kata Gea membanggakan dirinya seraya mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
"Terima kasih dek".Kata Andrian berhasil membuat Gea seketika menatapnya.
"Adek??".Tanya Gea memastikan.
Andrian lagi lagi mengangguk melempar senyuman kepada adeknya "Iya adek, kan Gea panggil Andrian abang, jadi harusnya Andrian juga panggil Gea adek kan".Jelas Andrian yang baru kali ini berucap cukup panjang.
Mata Gea berkaca kaca mendengar penuturan Andrian, tanpa kata ia langsung menghambur ke pelukan abangnya itu "Akhirnya Gea punya abang".Ucapnya lirih.
Dengan senang hati Andrian membalas pelukan adeknya.
Dari balik pintu yang tak sepenuhnya tertutup, tanpa sadar Anita yang sedari tadi menyaksikan kedua anaknya yang sudah mulai dekat dan berusaha untuk menerima kehadiran masing masing.
Senyum Anita seketika terbit...
Cukup lama Anita bardiri di balik pintu tanpa berniat mengganggu keduanya yang kini saling mendekap menyalurkan kasih sayang satu sama lain.
Sangat jelas Anita mendengar percakapan percakapan random dari mereka sebagai awal pengenalan.
"Nanti abang yang jagain Gea di sekolah yah, soalnya Gea selalu di serbu kayak artis aja".Celoteh Gea dari balik kamar.
"Hihiiiikk".Anita cekikikan mendengar celotehan putrinya. Tanpa sadar suaranya terdengar sampai ke dalam kamar.
Gea yang merasa mendengar suara ketawa seseorang langsung menoleh ke arah pintu.
Timbullah senyum Gea ketika menyadari siapa yang berada di balik pintu.
"Abang sini".Panggil Gea tanpa bersuara.
Tanpa pikir panjang Andrian mendekati adeknya.Gea membisikkan sesuatu ke telinga abangnya sehingga membuat Andrian cengengesan.
"Hmm, bisikin apa sih".Anita tiba tiba masuk menghampiri mereka.
"Bunda".Tegur Gea.
"Bunda ngintipin kami yah".Tuduh Gea menyipitkan matanya.
"Iih bunda nyebelin deh".Kata Gea merajuk.
Anita yang gemas dengan tingkah putrinya dibuat menggeleng "Bunda cuman becanda sayang".Bujuk Anita.
Andrian yang sedari tadi hanya diam menatap kedua wanita di depannya.
"Gimana sayang, suka kan kamarnya".Kini Anita beralih ke putranya yang sedari tadi hanya diam.
"Suka kok tan...eh bunda".Jawab Andrian sedikit canggung.
Tangan Anita terangkat mengusap lembut kepala putranya "Mulai sekarang abang harus terbiasa manggil bunda yah, ayah juga".Pinta Anita.
"Iya bunda".
Tok tok tok
Terdengar dari luar suara ketukan pintu "Masuk!".Pinta Anita sedikit berteriak.
Clek....
"Permisi nyonya, makan malam sudah siap".Kata bi Marni
"Oh iya bi, mas Danil sudah turun?".Tanya Anita.
"Belum nyonya, selepas dari sini baru saya akan ke kamar Tuan".Kata bi Marni sopan.
"Kalau begitu bibi anter anak anak saja, biar saya yang panggil mas Danil".
"Baik nyonya".
__ADS_1
Anita beralih ke kedua anaknya "Kalian turun duluan yah bareng bi Marni, bunda mau panggil ayah dulu".
"Baik bunda".Kata mereka serempak.
Gea dan Andrian turun duluan ke meja makan, sambil menunggu kedua orang tuanya datang mereka mengobrol sejenak.
Tak
Tak
Tak
Suara langkah kaki menuruni anak tangga "Malam anak anak ayah".Sapa Danil seraya mencium kening anaknya satu per satu.
"Malam ayah".Balas mereka.
Dengan telaten Anita melayani suami dan kedua anaknya.Setelah piring ketiganya terisi, barulah Anita mengisi piringnya. "Selamat makan".Ucap Anita hingga akhirnya mereka menyantap makan malam yang dihidangkan para pelayan.
"Tambah lagi sayang".Pinta Anita kepada putranya.
Andrian menggeleng "Enggak bunda".Tolak Andrian.
"Yasudah kalau begitu, Gea mau tambah".Beralih ke putrinya dan juga mendapat gelengan "Enggak juga bunda hehe".Ucapnya cengengesan.
Makan malam selesai, Danil memerintahkan kepada kedua anaknya untuk segera beristirahat mengingat perjalanan yang tadi mereka tembuh cukuk jauh dan tentunya membuat mereka lelah.
Setelah memastikan kedua anaknya masuk ke kamar masing masing, kini Danil dan Anita memilih bersantai di luar balkon kamarnya.
"Kapan kita urus kepindahan sekolah Andrian mas".Tanya Anita seraya menyerahkan secangkir kopi yang sempat ia buat sebelum menghampiri suaminya.
Danil menampilkan senyum manisnya "Terima kasih sayang".Ucapnya meraih secangkir kopi buatan istrinya.
"Aku sudah suruh Doni bicara dengan pihak sekolah".Lanjut Danil selepas menyerup kopinya
"Kalau bisa secepatnya, agar Andrian tidak ketinggalan banyak mas".
"Iya sayang kamu tenang saja".Kata Danil.
"Oh ya mas, berhubung besok weekand aku mau ajak anak anak belanja buat perlengkapan sekolah, boleh kan?".Seru Anita
"Iya sayang".Danil meraih tubuh mungil istrinya agar bersandar di bahunya.
Kini kedua pasangan itu menatap ke arah langit yang begitu indah menggambarkan betapa indahnya skenario tuhan.
..."*Seharusnya tak perlu ada cemas perihal takdir, karena selembar daun yang jatuhpun sudah tuhan atur"...
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih selalu suport author
Jangan lupa like,vote,dan komen yah
Sampai jumpa di part selanjutnya
__ADS_1
HAPPY READING🖤🖤🖤*