
//*
Dengan tatapan kosong Anita berdiri mematung menatap ruang yang sedari tadi tertutup.Anita sangat terpukul saat mengetahui bahwa anaknya mengalami kecelakaan tabrak lari.
"Sayang, duduk dulu yah".Ajak Danil memegang kedua pundak istrinya.
Anita menggeleng dengan air mata yang tak henti hentinya menetes "Enggak mas, aku gak bisa tenang sebelum mengetahui keadaan anak aku".Ucap Anita lirih.
"Kita sama sama berdoa yah, semoga anak kita baik baik saja".Kata Danil menenangkan.
Danil meraih tubuh ramping istrinya untuk masuk ke dekapannya untuk saling menguatkan.
Hingga tak lama kemudian munccullah seseorang dengan seragam putihnya "Keluarga pasien".Imbuhnya.
Segera mereka menghampiri sang dokter "Kami orang tuanya dok".Kata Danil cepat.
"Bagaimana keadaan anak kami dok".Kini Anita bersuara .
Dokter Reyhan menatap satu persatu kedua orang tua yang kini terlihat mengkhawatirkan keadaan anaknya.
Sebelum mengatakan sesuatu dokter Reyhan menghembuskan nafasnya kasar "Pasien mengeluarkan cukup banyak darah saat dalam perjalanan menuju rumah sakit sehingga membutuhkan segera transfusi darah".Jelas Dokter Reyhan.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk anak kami dok".Pinta Danil serius.
Anita hanya bisa terdiam memikirkan keadaan anaknya yang kini sedang kritis.
"Begini pak bu, stok darah di rumah sakit ini kebetulan habis untuk golongan darah anak kalian".Ucap Dokter Reyhan lagi.
"Ambil darah saya dok".Kata Anita tiba tiba.
"Golongan darah saya sama dengan anak saya".Lanjutnya.
Dokter Reyhan tersenyum tipis "Baik bu, kita akan melakukan pemeriksaan dahulu sebelum melakukan langkah selanjutnya".
Tanpa membuang waktu, Anita langsung menuju ruang pemeriksaan untuk melakukan beberapa langkah sebelum diputuskan apakah layak untuk melakukan transfusi darah.
Setengah jam berlalu setelah melakukan pemeriksaan, dokter Reyhan segera menghampiri ke dua orang tua Gea.
Dokter Reyhan menyampaikan bahwa Anita tidak bisa melakukan transfusi darah untuk saat ini dikarenakan tekanan darahnya sangat rendah sehingga jika dipaksa untuk tetapmelakukan donor darah akan berakibat fatal terhadap pendonor.Mungkin karena kelelahan dan banyak pikiran,Anita tidak bisa menjadi pendonor untuk anaknya sendiri.
Mendengar penuturan dari dokter membuat Anita syok untuk kesekian kalinya "Mas, bagaimana dengan anak kita".Lirih Anita dalam dekapan suaminya.
"Tenang ya sayang, apapun akan kita lakukan demi anak kita".Kata Danil menenangkan meskipun tak di pungkiri saat ini ia juga sangatlah terpukul.
"Apa yang harus kita lakukan dok".Tanya Danil masih dengan posisi mendekap istrinya yang tak henti hentinya menangis.
"Waktu kita hanya 1 jam pak Danil dan harus segera mendapatkan pendonor kalau tidak....."
"Kita harus mendapatkan pendonor bagaimana pun caranya".Bentak Danil memotong ucapan dokter Reyhan.
"Anak saya harus selamat".Lanjutnya.
"Kami akan berusaha pak Danil, kalau begitu saya permisi dulu".Pamit Dokter Reyhan segera meninggalkan keduanya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang,Danil segera memerintahkan seluruh bawahannya untuk pencari pendonor untuk putri semata wayangnya.
"Waktu kita hanya beberapa menit, kamu harus cari pendonor untuk Gea Don".Perintah Danil dalam telepon.
Danil tak bisa tinggal diam hanya menunggu kabar dari pihak rumah sakit maupun bawahannya sehingga dia sendiri ikut turun tangan menghubungi seluruh kolega dan kerabatnya di punjuru dunia dengan jaminan sebagian saham miliknya akan diberikan kepada siapapun yang bersedia mendonorkan darahnya untuk putri kesayangannya.
Golongan darah Gea termasuk golongan darah yang terbilang langkah sehingga sulit menemukan golongan darah yang cocok.
"Mas,biar aku saja yang menjadi pendonor untuk Gea".Melas Anita dengan wajah yang sangat pucat.
Dengan lembut, Danil mengelus wajah pucat sang istri "Kamu dengar sendiri kan tadi kata dokter sayang".Ucap Danil prihatin dengan keadaan istrinya yang sangat kacau.
Sebagai kepala keluarga Danil berusaha terlihat kuat di depan istrinya.
"Aku gak peduli mas dengan keadaan aku, yang penting Gea bisa selamat".kekeh Anita.
Danil menggeleng pelan"Enggak sayang, kamu gak boleh ngomong kayak gitu, putri kita pasti selamat, kamu harus yakin kepada sang pemilik hidup". Kata Danil menguatkan menarik istrinya masuk ke dekapannya.
"Aku takut mas".Lirih Gea
"Ssshtttt, kita harus yakin, anak kita pasti baik baik saja".
Beberapa menit berlalu, waktu semakin sempit namun belum ada kabar satu pun dari berbagai pihak membuat Anita dan Danil semakin gusar.
Tak mampu lagi berbuat sesuatu mereka hanya bisa berpasrah kepada pemilik hidup.Mereka yakin apapun yang terjadi kedepannya semua sudah menjadi kehendak yang di atas.
Waktu kurang 10 menit lagi transfusi darah harus segera dilakukan namun belum ada pendonor.
Tak..tak...tak...
Serempak Anita dan Danil menoleh.Dokter Reyhan menghampiri mereka dengan langkah pasti.
"Kami akan segera melakukan transfusi darah".Ucapnya langsung.
"Tapi belum ada pendonor dok".Kata Danil.
Dokter Reyhan tersenyum tipis " Ada seseorang yang bersedia menjadi pendonor untuk anak kalian".Jelas Reyhan.
Danil dan Anita saling pandang "Siapa dok".Kata mereka serempak.
Meski heran dan penasaran namun tak dipungkiri jiwa mereka seakan hidup kembali setelah mendapat secercah cahaya.
"Pendonor tak ingin identitasnya terbongkar".Kata Reyhan memberitahu.
"Beritahu saya dok, saya akan sangat berterima kasih kepada orang itu".Paksa Danil diikuti anggukan dari Anita.
"Kita tidak punya banyak waktu lagi untuk berbincang pak Danil, maka segeralah tanda tangani surat pernyataan ini".Doktee Reyhan menyerahkan surat kepada Danil sebagai penanggung jawab atas Gea.
"Berdoalah kepada tuhan".Dokter hendak meninggalkan mereka setelah mendapat persetujuan dari orang tua Gea untuk melakukan tindakan.
"Lakukan yang terbaik untuk anak kami dok".Kini Anita bersuara penuh harap mendapat anggukan meyakinkan dari Dokter Reyhan sebelum benar benar melenggang dari hadapan mereka.
****
__ADS_1
"Cari tahu siapa pendonor Gea Don".Ucap Danil.
Doni yang selalu setia di samping Danil saat dibutuhkan "Gue punya satu kecurigaan kepada seseorang, tapi gue harus mastiin dulu".Kata Doni selayaknya sahabat.
"Gue percayakan semuanya sama lo".Kata Danil menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
Doni meninggalkan mereka menuju ke suatu tempat di rumah sakit itu.
1 JAM KEMUDIAN
Operasi transfusi darah Geandra berhasil membuat Anita dan Danil bernafas lega.
"Alhamdulillah ya Allah".Tangis haru Anita
"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat, namun untuk saat ini belum bisa di jenguk".Jelas Dokter Reyhan.
Keduanya mengangguk mengerti
"Terima kasih dok".Kata Danil seraya menjabat tangan dokter Reyhan bergantian dengan Anita.
TEMPAT LAIN
Tak... Tak....takkk.
Suara langkah seseorang memecah keheningan dalam sebuah ruangan yang gelap dan sunyi.
Ruangan yang tak terdapat kehidupan di dalamnya, namun dari kejauhan terlihat sosok wanita yang sedang duduk diam membelakangi arah pintu sehingga tak menampakkan wajahnya.
Terlihat raga yang tak lagi tegak serta rambut terurai tak terawat.
Hening......
5 menit......
"Apalagi yang kau mau...."
.
.
.
.
.
.
Siapakah sosok itu??
Tunggu part selanjutnya,
kritik dan saran kalian sangat membantu author
__ADS_1
Jangan lupa like,vote,dan komen
HAPPY READING🖤🖤🖤🖤