Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Menggiurkan


__ADS_3

Terlihat jelas, bahwa keadaan rumah tangga mereka semakin hari semakin terlihat romantis dan juga manis. Bahkan jika ada yang melihat kebersamaan mereka pun, pasti akan sangat iri.


Bagaimana tidak, banyak wanita yang ingin di perlakukan bagaikan seorang Ratu oleh pasangannya. Cuman, tidak banyak wanita yang beruntung mendapatkannya. Sementara Bulan, adalah salah satu wanita yang beruntung memiliki suami seperti Samudra.


Setelah itu, Samudra berpamitan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh istrinya. Meski Samudra merupakan pria yang sangat bertanggung jawab atas pekerjaan. Tidak menutup kemungkinan bahwa Samudra ini, adalah seorang pria yang memiliki bakat memasak yang rasanya hampir menyerupai masakan Chef hebat yang ada di Restoran ternama.


...*...


...*...


Kurang lebih 20 menit, masakan Samudra pun sudah matang. Dia langsung menaruh masakannya di mangkuk yang besar sesuai dengan permintaan istrinya.


Sementara Bulan yang dari tadi jenuh menunggu suaminya selesai masak, beberapa kali bolak-balik pergi ke dapur mengejutkan suaminya. Semua itu karena Bulan hanya mau mengambil dessert di kulkas.


Samudra yang terganggu sedikit menggelengkan kepalanya, dia mencoba untuk melarangnya, semua itu bukan berarti tidak boleh. Hanya saja Samudra berjaga-jaga, bagaimana jika makanan yang dia buat ini tidak habis? Pasti akan sayang dong, kalau di buang.


Namun, mau bagaimana lagi. Namanya juga Bumil, pasti jika semakin di larang, maka dia akan semakin membuatnya ingin segera mendapatkannya.


Samudra membawa masakannya ke ruang keluarga, dimana dari jauh dia melihat istrinya sedang menyemil tanpa henti.


"Assalammualikum, Cantik. Makanan sudah siap nih. Udah ya nyemilnya, sekarang makan dulu. Takut nanti enggak habis loh, sayang. Ini banyak banget, sesuai dengan pesenan Tuan Putri. Masa iya mau dibuang sih, aku capek-cepek masa tahu."

__ADS_1


Perlahan Samudra meletakkan mangkuk besar tersebut ke atas meja, membuat mata Bulan langsung berbinar.


"Wahh, sepertinya masakannya enak nih. Dari aromanya pun sudah menggiurkan, aaa ... Aku jadi laper, ayo makan, Mas!"


Bulan yang dari tadi duduk di atas karpet berbulu langsung mengambil sendok dan juga garpu. Ketika Bulan lagi semangat-semangatnya menyendokkan mie, suaminya malah langsung menahan dan melenggelengkan kepalanya.


"Etts, sebelum makan lebih baik kita baca doa terlebih dahulu. Ingat, makan tanpa membaca doa itu tidak berkah bahkan nikmat. Sebanyak apapun kamu makan itu tidak akan mengenyangkan, berbeda kalau kamu baca doa mau sedikit atau banyak pasti makanan itu akan terasa mengenyangkan."


Samudra menasihati istrinya, sambil menjelaskan kesalahannya secara lembut agar tidak menyinggung perasaan istrinya. Apa lagi Bumil itu sangat sensitif dalam menerima ucapan, sedikit saja Samudra salah. Maka akan membuat Bulan kembali menangis.


Sementara Bulan yang menyadari semua kesalahannya, dia langsung terkekeh kecil dan segera minta maaf. Sehabis itu mereka membaca doa dan perlahan memakan makanan yang sudah Samudra masak.


Sruup, sruup, sruup!


Berbeda sama Samudra yang lidahnya hampir terbakar saat mengikuti cara makan Bulan yang terlihat lahap.


"Astagfirullah, Dek. Istigfar loh, kamu ini kaya orang enggak makan berapa bulan aja. Padahal kamu habis makan dessert, kue dan makanan ringan lainnya. Lihat saja itu sampahmu menumpuk."


"Ingat, Dek. Makan berlebihan itu tidak baik, nanti perutmu akan terasa sakit loh. Mas enggak mau, sampai kamu kenapa-kenapa. Jadi, pelan-pelan ya makannya. Kalau enggak habis, gapapa jangan di paksakan. Setidaknya rasa keinginanmu untuk memakannya sudah terpenuhi."


Bulan menggelengkan kepalanya ketika suaminya terus menasihatinya dengan berbagai cara. Sebenarnya apa yang di katakan Samudra itu memang benar.

__ADS_1


Akan tetapi, setelah mencium aroma menggiurkan dari mie tersebut membuat Bulan yang awalnya sedikit kenyang malah menjadi lapar. Seakan-akan tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.


"Enggak kok, Mas. Udah Mas enggak perlu khawatir, aroma dari masakanmu ini seperti membuatku sangat lapar. Padahal tadi aku udah kenyang loh, cuman karena mie ini aku jadi laper."


"Udah akhh, makan itu enggak boleh banyak berbicara nanti tersendat sakit loh, apa lagi ini pedas."


"Ohya, Mas. Sebelumnya Bulan mau bilang terima kasih ya, Mas. Karena Mas sudah mau repot-repot memasakkan ini untukku. Padahal--"


Samudra yang melihat bibir istrinya belepotan oleh mie tersebut, membuatnya langsung membersihkannya menggunakan jarinya tanpa tisu.


"Tidak usah di teruskan lagi, sekarang makan yang kenyang ya. Kalau nanti mau apa-apa lagi, bilang sama aku. Biar aku yang masakin, aku enggak mau kamu dan anak kita kelelahan. Mengerti 'kan, sayang?"


Bulan tersenyum bahagia, menganggukkan kepalanya Kemudian dia melepas alat makan yang ada di tanggannya, lalu segera memeluk suaminya yang ada di samping begitu erat.


Samudra hanya bisa tersenyum membalas pelukan istrinya sambil mencium pucuk kepalanya. Rasanya semua beban yang sedang dia hadapi akhir-akhir ini tanpa sepengetahuan keluarganya, seketika hilang begitu saja.


Samudra memiliki harapan, semoga suatu saat nanti kalau mereka tidak bisa menikmati kehidupan yang lebih layak lagi dari ini. Samudra berharap sikap manja Bulan tidak akan berubah padanya, dan mereka akan terus saling menyayangi satu sama lain sampai akhir hayat.


Tak lama mereka kembali meneruskan makan bersama dalam satu bangkuk yang besar, dimana mereka saling menyuapi satu sama lain. Bagaikan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.


Tidak terasa, makanan tersebut habis tak tersisa. Padahalnya Samudra hanya memakannya sekitar 1 setengah mie, sementara Bulan. Dia menghabiskan semuanya tanpa sisa.

__ADS_1


Disini samudra tersenyum lebar, dia tidak menyangka bahwa istrinya bisa memakan sebanyak itu ketika hamil. Tetapi, tak masalah. Selagi mereka semua sehat, itu sudah lebih cukup dari apapun.


...***Bersambung***...


__ADS_2