
Sementara Raka di jagain oleh Ibu Dara di ruang tengah dalam keadaan mereka tiduran di atas karpet bulu yang nyaman untuknya.
Samudra yang sudah dibukakan pintu oleh istrinya segra bersalaman dan langsung pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya. Tak lupa dia pun langsung melaksanakan shalat Ashar, yang belum dia lakukan saat di sawah.
Meski sawah tempatnya terbilang seperti itu, akan tetapi banyak petani yang tidak meninggalkan shalat 5 waktunya. Salah satunya adalah Samudra, dia selalu melaksanakan shalat dimanapun berada selagi tempat itu nyaman untuknya agar tidak meninggalkan shalatnya.
...*...
...*...
Beberapa tahun berlalu, saat ini usia Raka sudah memasuki usia 4 tahun. Sementara Samudra berusia 31 tahun, dan usia Bulan 27 tahun.
Sudah hampir beberapa bulan terakhir ini, di Desa tersebut sedang mengalami panceklik. Banyak keluarga yang kekurangan makanan, dagangan sepi dan lain sebagainya.
Banyak hasil pertanian yang hancur karena hama selalu merusak tanaman itu, membuat para petani rugi berkali-kali lipat. Ditambah lagi, saat ini memasuki musim hujan yang tiada henti semakin membuat lahan pertanian tidaklah subur.
Sama halnya seperti Samudra, dia sudah rugi puluhan juta hingga tanaman kebunnya pun mulai tidak karuan.
Saat beberapa kali, Samudra panen dia mndapatkan keuntungan yang berkali-kali lipat. Cuman baru kali ini dia merasa kerugian untuk yang pertama kali, hingga rugi berpuluh-puluhan juta.
Namun, semua itu tidak membuat Samudra mengeluh. Dia tetap tersenyum menghadapi cobaan ini dan selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan padanya.
Tepat di pagi hari, Samudra tidak pergi ke sawah, dia hanya berada di rumah sambil bermain bersama Raka yang sudah mulai pintar berbicara.
Sampai akhirnya tak sengaja Raka mendengar suara yang membuat dia terkejut.
Tin, tin!
Klakson mobil Alphard berbunyi sangat nyaring, membuat Raka yang lagi asyik bermain mobil-mobilan bersama Ayahnya seketika berdiri dan sambil melompat girang.
__ADS_1
"Holee, ada Oma cama Opa datang. Yeey, Laka bica main baleng cama meleka haha ...."
Raka bersorak girang, Samudra yang melihatnya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena cuman Om dan Tantenya yang bisa membuat Raka seperti ini.
Tanpa berlama-lama lagi Raka berlari setelah mendengar suara Oma dan Opanya yang mengucapkan salam.
"Assalammualaikum ...."
"Wakumcayam, huaa Oma Opa." Raka berlari dengan wajah bahagianya penuh keceriaan, sambil merentangan kedua tangannya.
Tante Dena langsung berlari dan berjongkok, untuk menangkap makhluk kecil menggemaskan itu.
Hap!
Raka langsung memeluk Tante Dena begitu erat. "Uluhh, uluhh .. Cucu Oma makin tampan aja nih. Aaa, Oma kangen."
Tante Dena yang sering datang berkunjung ke rumah Samudra bersama suaminya, membuat Raka mulai terbiasa akan kehadirannya. Dia seperti memiliki 1 Kakek dan 2 Nenek, hanya berbeda panggilan saja.
Mereka benar-benar terlihat begitu bahagia, bagaikan seorang cucu dan Oma yang sesungguhnya.
Setelah itu mereka semua masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa biasa, yang saat ini sudah setengah kroak atau gompal-gompal.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Samudra.
"Alhamdulillah kami baik, maaf ya pagi-pagi kami udah ke sini. Maklum saja, Tantemu ini lagi kangen-kangennya sama Raka. Bahkan dia rencananya mau nginep disini, bawa baju aja kaya orang pin--"
"Yakk, Papah apaan sih. Jangan buat Mamah malu ya, namanya juga kangen sama cucu sendiri ya gimana. 'Kan Papah tahu anak kita itu jarang pulang, ya Mamah kangenlah. Apa lagi Raka ini mirip banget sama anak kita ketika masih kecil."
"Nahkan, langsung ngegas. Begitulah wanita kalau sudah kangen pasti udah kaya reog haha ...."
__ADS_1
"Isshh, Papah!"
Tante Dena merengek layaknya Raka ketika dia ingin meminta sesuatu, sementara Samudra cuman bisa tersenyum kecil melihat perlakuan Om dan Tantenya membuat dia sangat rindu dengan kedua orang tuanya.
"Oma kalo ambek cama kaya Laka minta cucu cama Bunda hahaha ...." ledek Raka, membuat Tante Dena terkejut.
"Ehh, dasar nakal ya. Masih kecil sudah bisa ngeledeki Omanya, hem. Terima ini anak nakal," serunya langsung mengelitiki Raka hingga dia tertiduran di sofa, sambil menendang-nendang merasakan kelitikan tangan Tante Dena sangat geli.
Mereka tertawa gemas ketika mendengar Raka sudah mulai cerewet, begitu juga Samudra dia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya yang sangat random.
Di saat mereka lagi asyik bercanda tiba-tiba saja, Om Faisal langsung menanyakan sesuatu padanya.
"Bagaimana keadaan sawah dan kebunmu, apakah semuanya baik-baik saja?" tanyanya.
"Alhamdulillah, Allah lagi memberikan aku cobaan. Jadi aku harus bisa menikmati semua rezeki yang Allah kasih, walaupun aku mengalami kerugian yang cukup besar. Akan tetapi, insyaallah aku bisa menjalaninya dengan ikhlas." Jawab Samudra, tersenyum.
"Sabar ya, semoga Allah berikan gantinya yang jauh lebih baik lagi. Aamin," cicitnya.
"Aamin, Allahhuma Aamin ...." balas Samudra, sesekali melihat ke arah anaknya yang masih asyik bercanda dengan Tante Dena.
Ketika Om Faisal sedang berbincang dengan Samudra dan Tante Dena bermain bersama Raka, terdengar suara seseorang yang memberikan salam.
Semuanya langsung menoleh menatap ke arah pintu, diman Bulan dan Ibu Dara baru saja datang dari arah luar akibat mereka baru saja selesai belanja.
Ibu Dara dan Bulan terkejut dengan kedatangan Om Faisal serta Tante Dena, mereka tidak menyangka jika pagi-pagi begini sudah kedatangan tamu spesial.
Yang lebih anehnya lagi, mereka melihat betapa asyiknya Raka bermain dengan Omanya. Ada rasa senang dan ada juga rasa iri, dari dalam hati Bulan.
Sementar Ibu Dara langsung menyambut mereka dan meminta tolong pada Bulan untuk menyiapkan minuman buat mereka semua serta cemilan. Dimana tadi pagi-pagi sekali Ibu Dara membuatkan tempe mendoan untuk cemilan mengganjal perut mereka semua.
__ADS_1
...***Bersambung***...