Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Sebagai Obat Untuk Bulan


__ADS_3

Sebenarnya Bulan sudah mengetahui bagaimana keadaan suaminya, hanya saja dia berusaha untuk tidak mengingatnya. Bulan berharap bila itu hanyalah sebuah mimpi, bukanlah kenyataannya.


"Raka!" ucap Bulan sedikit membentak dan berhasil membuat Raka terkejut.


"A-ayah bi-bisa meninggal Bunda, Laka enggak mau sampai Ayah pelgi kya Nenek. Laka enggak mau, pokoknya Lak enggak mau. Makannya sekalang Laka mau bantuin Opa cali dodol hati buat Ayah hiks ...."


Duaaarrr!


Hati Bulan sangat hancur mendengar penjelasan anaknya. Ibarat gelas kaca yang jatuh, cuman akan meninggalkan serpihan kaca yang berserakan, tanpa tahu bagaimana caranya kembali menyusun pecahan tersebut.


"Ma-mas Sam? Di-dimana Mas Samku berada? Aku mau ketemu sama dia, pokoknya aku mau ketemu sekarang! Dimana kamu, Mas. Dimana! Hiks ...."


Bulan menangis meraung-raung sambil berusaha untuk turun dari bangkarnya, tetapi langsung di tahan oleh kedua mertuanya.


Sebisa mungkin mereka menahan semua itu, agar Bulan tidak sampai turun dari bangkarnya dalam kondisi masih sangat lemah.


"Sabar, Sayang. Sabar, Mamah mohon jangan seperti ini. Jangan siksa dirimu sendiri, karena saat ini kamu sedang mengandung. Kami tidak mau sampai ada hal buruk yang terjadi pada cucu ke-2 kami. Jadi Mamah mohon, please. Turunin ego kamu, demi anak yang saat ini sedang berjuang bertahan di dalam perutmu."


Degh!


Lagi-lagi Bulan kembali di kejutkan oleh kenyatan yang sama sekali tidak ada di dalam pikirannya. Bagi Bulan, dia tidak pernah sedikitpun merasakan gejala kehamilan seperti ketika dia hamil Raka pertama kali.


Bulan langsung terdiam dalam keadaan wajah sedikit menunduk, lalu tangan kanannya perlahan mulai mengusap perutnya. Rasanya Bulan masih tidak percaya, bila di dalam perutnya ini terdapat anak ke-2 mereka.


Bulan tidak tahu, apakah dia harus bahagia atau dia harus sedih. Semua kejadian ini tepat ketika Bulan mendapatkan musibah, kalau suaminya sedang diuji oleh sebuah penyakit yang sangat membahayakan.


Raka yang tidak tega melihat Bundanya menangis, langsung saja naik ke atas bangkar Bulan dan dia memeluk Bulan dari arah samping kanan.


"Bunda jangan sedih lagi ya. Laka mohon, Bunda halus tersenyum. Doktel cantik bilang, kalau Bunda nangis itu bisa membuat Dedek hilang dali perut Bunda. Laka enggak mau kehilangan Dedek, Laka pengen banget punya Dedek."


"Pokoknya Bunda janji ya, Bunda halus kuat. Laka juga akan kuat, bial Bunda juga kuat. 'Kan Ayah pelnah bilang kalau Laka ini sama sepelti obat, jadi Laka bisa menyembuhkan Ayah dan juga Bunda dengan kekuatan cinta yang ada di dalam hati Laka."


Bulan menoleh ke arah kanan menatap sendu mata Raka. Dimana awalnya Bulan merasa sangat sedih dan juga hancur.

__ADS_1


Namun, entah kenapa disaat mendengar perkataan anaknya. Berhasil membuat sebuah kekuatan tidak tahu dari mana asalnya, langsung hadir di dalam tubuh Bulan.


Benar apa kata Samudra, Raka ini sudah seperti obat. Di saat Bulan sangat rapuh dan ingin menyerah sama keadaan saat ini, dia kembali di berikan semangat karena menatap wajah Raka.


Tanpa basa-basi lagi, Bulan segera memeluk Raka begitu erat. Tangisnya langsung tumpah, ketika Bulan kembali mengingat kejadian disaat Samudra di PHK dari kantornya.


Disitu Bulan sempat menyesal hamil ketika keadan ekonominya masih pasang-surut, tetapi Samudra terus menyemangati dan menasihatinya bila seorang anak akan memiliki rezeki tersendiri.


Jika tidak dari segi harta, tetapi bisa dari segi cinta yang dia miliki. Terbukti bukan, cinta Raka yang sangat besar itu berhasil menjadi obat bagi Bundanya.


"Terima kasih banyak, Sayang. Bunda sangat-sangat bersyukur bisa memiliki anak seperti Raka. Bunda mohon, Raka sehat-sehat ya. Raka enggak boleh sakit, karena saat ini Bunda sangat membutuhkan Raka."


"Hanya Raka yang bisa menguatkan Bunda. Disaat Ayah sedang sakit dan juga adikmu yang belum bisa apa-apa. Jadi, Bunda mohon Laka jangan tinggalin Bunda ya. Janji?"


Melihat Bulan sudah mulai jauh lebih membaik, membuat Oma Dena tersenyum sambil menangis. Opa Jerome yang tidak bisa melihat istrinya terus menangis, segera merangkulnya penuh kasih sayang.


Oma Dena menatap suaminya dengan tatapan sedikit terkejut, dipenuhi kebahagiaan. Opa Jerome cuman bisa tersenyum serta mencium kening istrinya dan kembali menatap menantu serta cucunya.


Ya, walaupun mereka dihadapi 2 kabar saling bertolak belakang antara baik maupun buruk, mereka tetap bersyukur. Mungkin Allah memberikan ujian buruk melalui penyakit Samudra yang cukup mema*tikan.


Ingat! Tidak semua ujian buruk hasilnya tetap buruk. Jangan lupa, bila setiap badai datang pasti akan ada pelangi yang akan menunggu. Sama halnya seperti sekarang, Allah memberikan ujian melalui Samudra dan Allah juga mengirimkan kebahagiaan melalui Bulan. Maha adil bukan? Ya, itulah keajaiban dan juga takdir.


Setidaknya, meskipun mereka selalu sedih melihat keadaan Samudra yang terbaring lemah diatas bangkar. Mereka pun akan tetap di buat tersenyum oleh anggota baru yang benerapa bulan lagi, akan datang menjadi pelengkap keluarga kecil mereka.


Dimana ada Ayah, Bunda, Kakak dan juga Adik. Akan tetapi, harapan itu bisa saja meleset menjadi Bunda, Kakak dan juga Adik. Cuman, mereka tetap akan usaha bagaimana pun caranya Samudra bisa kembali pulih.


"Laka janji, Bunda. Laka akan selalu ada di samping Bunda, nemenin Bunda dan juga jagain Bunda sama Dedek. Asalkan Bunda juga janji, Bunda tidak boleh sedih lagi. Kita beldoa saja, supaya Ayah bisa bangun dali tidulnya. Nanti kita sama-sama cali dodol hati buat Ayah, sama Opa. Bunda mau bantuin?"


Raka tersenyum menatap Bundanya setelah dia melepaskan pelukannya. Bunda hanya bisa tersenyum mengangguk ketika mendengar kelucuan anaknya saat ini.


Tangan Bulan tidak berhenti, terus mengelus wajah Raka yang cukup mirip ole suami tercinta.


"Donor hati, Sayang. Donor bukan dodol. Mengerti, hem?" ucap Bulan tembut sambil tersenyum menatap manik mata indah anaknya.

__ADS_1


"Sudah biarkan saja, Mamah juga sudah menjelaskannya. Anakmu aja yang ngeyel, di suruh donor malah dodol. Dikata hati Ayahnya lembet kek dodol kali." celetuk Oma Dena, yang dari tadi menahan rasa kesalnya.


Bulan melihat Oma Dena sekilas, dan kembali menatap anaknya sambil membenahi rambut Raka yang sedikit berantakan.


"Coba bilang lagi, Sayang. Donor hati, gimana?" ucap Bulan berusaha membimbing anaknya untuk berbicara dengan baik dan benar.


"Eee ... Do ... Do ...."


"Dodollah tuh!"


"Isshh, Oma!"


"Apa? Emang bener 'kan, dari tadi suruh bilang donor aja malah dodol mulu. Dasar cucu ngeyel!"


"Ckk, Dasal Oma nyebelin!"


"Bunda, lihat itu Oma. Dalintadi malah-malah mulu sama Laka."


Raka merengek sambil mengadu pada Bundanya atas perlakuan Omanya yang menyebalkan untuknya.


"Gapapa, Sayang. Raka pasti bisa, ayo buktiin sama Bunda, Oma dan Opa kalau Raka bisa. Sebentar lagi Raka 'kan mau jadi Kakak, jadi harus bisa dong. Yuk, coba yuk!"


Raka terdiam sejenak menatap wajah Bundanya dan Opa Jerome yang tersenyum sambil mengangguk. Berbeda sama Oma Dena, dia menatap sinis ke arah cucunya, sehingga membuat Raka menjulurkan lidah padanya.


"Oke, Laka buktiin ya. Kalau Laka bisa bilang ... Eee, a-apa tadi namanya?"


"Donor hati, Sayang." Bulan kembali menuntun anaknya supaya dia bisa mengatakannya, walaupun masih terdengar cadel.


Degh!


Bulan, Oma Dena dan Opa Jerome langsung merasa penasaran. Jantung mereka berdetak tidak karuan menunggu respon dari Raka. Apakah dia bisa mengatakan semua itu? Atau Raka akan kembali mengatakan hal yang sama seperti apa yang ada dipikirannya Oma Dena saat ini?


Entahlah, apa yang akan Raka katakan nanti. Ikuti saja terus kisah mereka. Karena tepat pukul 7 malam nanti slot di tutup ya, dan author akan mengumumkan siapa PEMENANG GIVEAWAY di jam 10 malam. Terima kasih, jangan lupa terus semangat untuk mengikuti novel baru author yang akan rilis setiap bulannya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2