Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Gulung Tikar


__ADS_3

Tak lama mereka kembali meneruskan makan bersama dalam satu bangkuk yang besar, dimana mereka saling menyuapi satu sama lain. Bagaikan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.


Tidak terasa, makanan tersebut habis tak tersisa. Padahalnya Samudra hanya memakannya sekitar 1 setengah mie, sementara Bulan. Dia menghabiskan semuanya tanpa sisa.


Disini samudra tersenyum lebar, dia tidak menyangka bahwa istrinya bisa memakan sebanyak itu ketika hamil. Tetapi, tak masalah. Selagi mereka semua sehat, itu sudah lebih cukup dari apapun.


...*...


...*...


Hari demi hari semakin berganti, jam pun selalu berputar mengikuti waktu yang terus berjalan. Tak terasa saat ini, kehamilan Bulan sudah jalan 5 bulan.


Belum lama ini, mereka baru saja selesai melakukan acara nuju bulan. Dimana pesta tasyakuran itu dibuat sedikit berkesan dan juga mewah, semua dilakukan karena ini adalah anak pertama mereka.


Jadi, apapun akan Bulan dan Samudra wujudkan. Selagi mereka tidak merasa kekurangan, karena dengan acara seperti ini mereka pun bisa saling berbagi.


Mereka hanya mengundang anak panti asuhan, tetangga, keluarga atau kerabat serta teman kantor Samudra. Kurang lebih ada 500 orang yang datang ke acara tersebut.


Acara di mulai dari jam 10 pagi sampai jam 3 sore, serangkaian acara upacara dilakukan demi sang buah hati.


Berbagai tradisi seperti biasa mereka jalani, dengan tujuan demi keselamatan anak yang ada di dalam kandungan serta kelancaran dalam proses kelahirannya nanti.


Sebenarnya ini acara yang kedua bagi mereka, karena ketika usia kandungan Bulan sudah memasuki 4 bulan. Mereka juga melakukan tasyakuran sederhana, sama halnya yang dilakukan semua orang.


Semenjak kehadiran sang buah hati, keadaan rumah tangga mereka semakin manis dan terkesan lebih romantis akibat Bulan selalu manja pada suaminya.


Akan tetapi, semua itu ternyata tidak sampai bertahan lama. Tanpa sepengetahuan Bulan dan Ibu Dara, Samudra sebenarnya sedang mengalami sebuah masalah yang tidak bisa dia jelaskan untuk 3 bulan terakhir ini.


Semua itu Samudra pendam seorang diri agar dia tidak sampai membuat keluarganya kepikiran, karena setiap pikiran jelek yang selalu terngiang dipikirannya membuat Samudra merasa tidak tenang. Dia selalu gelisah memikirkan nasibnya dan kelurganya untuk ke depannya akan menjadi seperti apa.


Namun, siapa sangka. Apa yang dia pikirkan itu benar-benar terjadi tepat di hari ini. Samudra melakukan sebuah meeting besar bersama CEO dan rekan kerja lainnya mengenai masalah yang ada di dalam pekerjaannya.

__ADS_1


"Sebelumnya saya, selaku CEO di Perusahaan ini. Ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh karyawan dan juga staf lainnya disini. Karena saya harus menutup Perusahaan ini, hampir semua aset yang di miliki Perusahaan telah habis begitu saja untuk membayar semua hutang-hutang yang pernah kita pinjam ke Bank!"


"Saya tidak menyangka bahwa Perusahaan ini bisa bangkrut seperti ini hanya karena kecerobohan dalam memilih karyawan. Orang yang selama ini saya kasih keperyaan lebih untuk mengurus keuangan, ternyata telah mengkhianati saya hingga mengambil uang Perusahaan tanpa sepengetahuan kita semua!"


"Semua khasus ini telah di tangani oleh beberapa pihak berwajib, agar sang pelaku cepat tertangkap entah dimana keberadaannya. Maka dari itu saya minta maaf, jika kelalaian saya ataupun yang lainnya bisa membuat kita semua kehilangan sumber mata pencarian!"


"Namun, mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur, dan tidak mungkin menjadi nasi kembali. Saya pun rasanya sangat berat sekali untuk menghadapi semua ini. Akan tetapi, saya tidak bisa menjadi pria yang lemah. Mungkin saya harus memulai semuanya dari nol sampai suatu saat nanti saya bisa kembali bangkit!"


"Kalian tidak perlu khawatir, mungkin selama 3 bulan ini saya menundak gaji kalian bukan karena saya tidak bertanggung jawab atas kerja keras kalian dalam membantu Perusahaan ini. Hanya saja, saya sedang mencari cara bagaimana saya bisa memberikan hak kalian secara rata!"


"Jadi, untuk itu. Saya akan memberikan uang gaji dan pesangon kepada kalian semua agar kalian bisa kembali meneruskan langkah kalian. Semoga kelak kita bisa kembali bertemu dan bekerja sama. Sekian dari saya, kurang lebih saya minta maaf yang sebesar-besarnya kalau kabar ini menjadi kabar terduka bagi kalian semua!"


"Saya tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi, selebihnya saya akan mendoakan semoga kalian semua bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi. Terima kasih, saya akan serahkan semuanya pada Samudra biar dia yang akan mengurus semuanya bersama HRD lainnya. Saya pamit, permisi!"


Meeting besar yang dilakukan oleh semua staf penting di ruangan bersama CEO, ternyata mengandung bawang yang tidak bisa mereka jelaskan. Hanya ada bulir-bulir air yang menetes, yang bisa menjelaskan betapa sakit, kecewa dan hancurnya mereka semua.


Hanya karena 1 karyawan, membuat ratusan karyawan lainnya harus kehilangan pekerjaan dan juga membuat CEO Perusahaan harus gulung tikar untuk kembali memulai semuanya dari nol.


Sepertinya CEO itu, tumpahlah kekesalan di dalam hati mereka hingga ada beberapa yang dendam oleh karyawan yang telah berkhianat tersebut. Mereka mengamuk tidak karuan hanya demi mengutarakan hak-haknya.


Semua perlahan membubarkan diri dari ruangan meeting dengan tampang sedih penuh kekecewaan, sehingga membuat karyawan lainnya merasa bingung dan juga penasaran.


Isu-isu tentang kebangkrutan Perusaan itu semakin membuat semuanya menjadi panik, sampai Samudra harus turun tangan untuk membuat semuanya mengerti tentang kondisi saat ini.


Mau tidak mau, terima tidak terima mereka hanya bisa pasrah dengan hidupnya masing-masing. Mau bagaimana lagi, sudah tidak ada harapan bagi mereka untuk meneruskan pekerjaan di saat Perusaha sudah hancur berantakan.


Setidaknya mereka masih bisa menerima hasil kerja kerasnya selama ini, meskipun tidak seberapa tetapi itu sudah lebih dari cukup.


Semua pulang ke rumahnya dalam keadaan wajah murung layaknya seseorang yang baru saja di tolak kerja, sama seperti wajah Samudra yang muruh.


Hanya saja, Samudra cuma bisa berserah diri pada yang Maha Kuasa. Mungkin ini sudah jalan yang harus dia tempuh atau bisa jadi karena Samudra kurang dalam hal berbagi atau bersedekah sehingga membuat rezekinya sedikit tertutup.

__ADS_1


...*...


...*...


Sesampainya di rumah, Samudra pulang dalam keadaan wajah masam dan juga sedikit berusaha tegar atas semua yang terjadi di dalam hidupnya.


Rasanya Samudra tidak kuat jika harus menatap wajah istri serta mertuanya yang terlihat bahagia, ketika menyambutnya pulang kerja.


"Assalammualikum!" ucap salam, Samudra.


Kakinya langsung melangkah memasuki pintu utama menuju ruang keluarga. Dimana matanya langsung menatap istri serta mertuanya yang sedang kumpul sambil menonton sebuah film.


"Loh, Mas. Kok sudah pul---"


"Assalammuaikum ...." ucap Samudra kembali sambil tersenyum dan bersalaman dengan Ibu mertuanya.


"Waalaikumsalam, tumben sudah pulang, Nak." ucap Ibu Dara tersenyum kecil.


"Hehe, iya, Bu. Lagi pulang cepat hari ini." jawab Samudra kikuk, sambil bersalaman dengan istrinya dan duduk tepat di sampingnya.


"Ini masih jam 1 siang loh, Mas. Bahkan bukannya ini jam-jam istirahat ya. Cuman, kenapa Mas sudah pulang? Apakah Mas mau makan di rumah?" tanya Bulan dengan wajah penasarannya.


Samudra hanya tersenyum menatap istrinya, lalu dia segera berpamitan pada mereka untuk ke kamar lebih dulu karena tubuhnya merasa sedikit kurang enak.


"Bu, Sam pamit ke kamar dulu ya. Badan Sam capek banget, sebelumnya Sam minta maaf enggak bisa nemenin Ibu ngobrol." ucap Samudra menatap mertuanya.


"Iya, enggak apa-apa, Nak. Lebih baik Kamu istirahat aja, mungkin tubuhmu terlalu lelah di pakai kerja terus setiap hari hampir 24 jam. Nanti Ibu buatkan ramuan jamu biar badanmu lebih enakan." jawab Ibu Dara.


"Kamu kenapa, Mas? Sakitkah?" tanya Bulan, khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Dek. Cuman sedkit lelah aja, mungkin karena banyak bergadang. Ya sudah kamu temani Ibu saja, aku ke kamar dulu ya. Assalammualikum!"

__ADS_1


Samudra pun tersenyum berdiri sambil berpamitan pada mereka berdua, lalu melangkahkan kedua kakinya menuju kamar.


...***Bersambung***...


__ADS_2