
Namun, siapa sangka. Samudra hanya terdiam mengelus punggung istrinya sambil menyaksikan Bulan mengungkapkan isi hatinya kepada Ibunya sendiri.
Setelah dirasa cukup, Samudra langsung mengambil alih Bulan dan memeluknya begitu erat sambil mencium keningnya.
"Suutt, yang sabar, Dek. Ingat, apapun yang terjadi nanti, itu adalah takdir Ilahi, kita tidak bisa mengubahnya. Setidaknya kita telah berusaha melakukan apapun yang terbaik buat Ibu, meski aku bukan anak kandungnya. Cuman bagiku, Ibu adalah orang yang sangat aku hormati."
"Maka dari itu, jikalaupun Tuhan memanggilnya. Kita harus tetap tegar melewati semuanya, meskipun hati kita menangis, tetapi jiwa kita tetap harus kuat. Semua itu demi Raka, karena semakin kita berlarut itu akan semakin membuat Raka bersedih."
"Apapun yang terjadi kedepannya, ingatlah. Bahwa Mas akan selalu ada buat kamu, Mas akan selalu menjadi tongkat di saat kamu sedang rapuh, sehingga kamu bisa bangkit kembali dan berjalan menggunakan tongkat tersebut."
"Dengar baik-baik, Sayang. Semua ujian yang kita dapatkan, itu bukanlah akhir dari segalanya. Ujian merupakan jalan menuju kebahagiaan, jika sudah waktunya tiba Allah akan memberikan semuanya tanpa disangka-sangka. Ya walaupun kita pernah merasakan kehilangan, Allah akan tetap menggantikannya yang jauh lebih baik lagi."
"Jangan pernah merasa kalau kamu akan selalu sendirian menghadapi semua ujian ini. Kamu masih punya Mas untuk bersandar dan kamu masih punya Raka sebagai sumber kekuatanmu. Jadi, stop menjadi wanita lemah, karena Mas dan Ibumu tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi orang yang hidup tanpa semangat dan juga tujuan!"
Nasihat demi nasihat yang suaminya katakan membuat tangis Bulan pecah di dalam pelukannya. Perasaan Bulan benar-benar sudah wangat kacau, dia tidak menyangka jika apa yang tidak diinginkan selama ini, malah tiba-tiba terjadi begitu saja.
Kondisi Ibu Dara sekarang, berhasil membuat Bulan sangat hancur. Hanya saja, Bulan masih punya suami yang selalu ada dan berusaha untuk menguatkannya, karena Bulan sangat tahu bagaimana sayangnya Samudra pada mertuanya itu.
Sehingga, Bulan bisa merasakan betapa sedihnya suaminya ketika melihat kondisi mertuanya sudah tidak berdaya lagi.
Ibaratkan Ibu Dara sudah Samudra anggap sebagai Ibunya sendiri. Jadi rasa sedih yang teramat mendalam di rasakan Bulan, Samudra juga ikut merasakaan. Hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya, cukup di pendam dan dirasakan di dalam hati.
__ADS_1
Semua itu Samudra lalukan, supaya tidak membuat istrinya semakin menangis dan juga bersedih. Sebab jika itu terjadi, maka sangat sulit untuk bisa pastikan Bulan tidak akan sampai rapuh serta depresi berat.
Apa lagi di saat yang seperti ini, Bulan benar-benar sangat membutuhkan perhatian dan juga kekuatan yang sangat lebih. Supaya kelak, Bulan juga bisa merasakan betapa tegarnya suaminya ketika menghadapi semua ujian yang Allah berikan.
Beberapa menit kemudian, dirasa Bulan sudah mulai tenang dan mendingan tidak seperti tadi. Pelukan keduanya pun mulai di lepaskan, Bulan dan Samudra bergantian untuk berpamitan keluar dari ruangan karena jam besuknya sudah habis.
Namun, tidak berhenti disitu. Sang dokter dan suster yang berjaga di ruangan, hanya memperbolehkan sehari dijatahkan 3 sampai 4 kali pertemuan antara mereka berdua dan Ibu Dara.
Waktu yang singkat itu, merupakan waktu yang sangat berharga untuk Bulan. Jadi, mau tidak mau dia harus memanfaatkan waktu tersebut dengan baik, sebelum merasakan penyesalan yang teramat mendalam.
Setelah selesai berpamitan, meraka keluar dari ruangan pas banget sama ponsel Bulan yang bunyi. Ternyata itu dari Raka, dia memanggil menggunakan video call di ponsel Bulan yang baru. Jadi mereka bisa saling melihat keadaan satu sama lain.
Ponsel itu Bulan beli ketika dia masih memiliki sisa gaji, di tambah juga panen Samudra di bulan ini benar-benar sangat bagus. Sehingga dia mendapatkan keuntungan dari pada kebuntungan.
Semua itu karena Samudra, dia lebih mementingkan tentang kondisi keuangan keluarganya dan juga biaya rumah sakit. Cuman untungnya, biaya rumah sakit dibantu oleh Om dan Tantenya.
Sampai akhirnya, mereka sedikit tenang dan hanya fokus dengan kesembuhan Ibu Dara yang entah sampai kapan dan bagaimana caranya dia bisa terbangun kembali dengan segala kesehatannya.
[Acalammualaikum, Bunda Ayah!] ucap Raka dengan wajah bahagianya, saat dia bisa melihat wajah kedua orang tuanya yang sudah beberapa hari ini tidak dia lihat.
[Waalikumsalam, Pangeran kecil Ayah]
__ADS_1
[Waalaikumsalam, jagoan Bunda]
[Laka angen cama Ayah, Bunda teyus uga Nenenk. Gimana Nenek, Ayah Bunda? Nenek udah puyang dari lumah cakit 'kan? Coalna kata Oma ini udah lebih dali 3 hali, jadi Nenek pasti udah puyang. Api, napa Laka ndak di jemput-jemput. Laka tan kangen cama Nenek loh.]
[Sabar ya, Sayang. Nenek masih harus istirahat, soalnya Nenek masih sakit, nanti klo udah sembuh baru Raka bisa pulang kita main lagi. Okay? Anak Ayah 'kan pintar, jadi Raka doain saja supaya Nenek bisa sehat lagi. Jangan lupa Raka di sana enggak boleh bandel ya!]
[Iya, Ayah. Laka ndak akan bandel, api maca dicini banyak foto Ayah loh. Aya pas kecil anteng banget cama kaya wajah Laka cekarang hihi ....]
Degh!
Samudra terdiam mendengar perkataan anaknya, dia tidak menyangka jika Raka bisa sampai menemukan foto masa kecilnya dirumah Om dan Tantenya itu.
Sementara Bulan, dia hanya terdiam dengan pandangan sedikit kosong saat dia masih memikirkan tentang kondisi Ibunya.
Samudra segera mengalihkan Raka, lalu mereka mengobrol hingga kurang lebih 1 jam kurang. Di tambah Raka seperti mengkhawatirkan Bundanya sata melihat matanya begitu sembab.
Namun, Samudra tetap membuat anaknya agar tidak sampai memiliki banyak pikiran. Tugas anak kecil hanyalah bahagia, senang, main, makan, tidur serta tertawa dengan Oma dan Opanya. Dari pada Raka harus disini menyaksiakn semua kesedihan yang teramat menyakitkan hati.
Setelah itu Samudra menutup ponsel istrinya dengan alasan bahwa dia sedang dipanggil sang dokter, padahal nyatanya Samudra ingin kembali menenangkan hati istrinya yang masih terpurung.
Pelukan Samudra membuat Bulan sangat nyaman, sampai akhirnya dia mengajak istrinya untuk makan lebih dulu, agar mereka tidak sampai jatuh sakit.
__ADS_1
Semua itu demi kelancaran kesehatan mereka, karena mereka harus menjaganya benar-benar. Supaya bisa menjaga Ibu Dara 24 jam, lantaran kesehatan mereka berdua sangatlah penting untuk membantu memantau keadaannya agar tidak sampai kecolongan.
...***Bersambung***...