
Entah mengapa mendengar perkataan suaminya itu, berhasil membuat hati Bulan terasa begitu tentram.
Selang beberapa detik, mereka pun masuk ke dalam rumah. Awalnya Bulan ingin sekali melihat kondisi Ibunya, cuman Samudra menahannya karena mertuanya itu baru bisa tertidur dengan pulas.
Jadi, mau tidak mau Bulan pergi ke kamar bersama suami dan anaknya. Tak lupa dia juga membersihkan tubuhnya, kemudian beristirahat karena hari sudah sangat larut malam.
...*...
...*...
1 Minggu telah berlalu, kondisi Ibu Dara semakin tidak karuan. Keadaannya mulai melemah, hingga rasa pusing di kepalanya semakin meningkat. Sampai akhirnya Samudra dan Bulan membawa Ibu Dara ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi.
3 hari ini Ibu Dara sudah di rawat di rumah sakit dengan kondisinya yang masih begitu saja, bahkan penyakit darah tingginya tidak kunjung stabil membuat sang dokter sedikit khawatir.
Entah mengapa penyakit yang selama ini di derita oleh Ibu Dara tak kunjung mereda, biasanya setelah dirawat atau minum obat secara rutin itu bisa memulihkan penyakitnya.
Namun, kali ini tidak bisa. Akibat tekanan darah yang semakin meninggi membuat Ibu Dara mengalami stroke tubuhnya seakan mati rasa sampai berita terakhir dia mengalami pecahnya pembuluh darah di kepalanya.
__ADS_1
Disitulah Bulan benar-benar drop, sering kali dia menangis dan pingsan, sampai kerjaannya pun terbengkalai hanya untuk selalu menemani dan juga menjaga Ibunya.
Sementara Raka, di rawat oleh Oma dan Opanya walaupun sering kali Raka menanyakan bagaimana kondisi sang Nenek, serta beberapa kali dia ingin pulang ke rumah bertemu dengan keluarganya.
Hanya saja, Oma serta Opanya selalu bisa menahannya dengan cara mengajak Raka keliling kota guna mengalihkan rasa kangennya pada keluarganya.
Semua itu di lakukan supaya Raka tidak sampai bersedih, jika tahu tentang kondisi Nenek kesayangannya saat ini sudah berada diantara hidup dan ma*tinya.
Begitu juga dengan Dzaky, dia memaklumi tentang kondisi keluarga Bulan saat ini. Jadi dia masih memberikan Bulan waktu cuti untuk mengurus Ibunya.
Awalnya kondisi Ibu Dara perlahan mulai membaik, hanya saja entah bagaimana caranya tiba-tiba saja ketika di tensi darahnya langsung melesat tinggi mencapai 250/100 mmHg.
Tepat di pagi hari, di ruangan ICU Bulan datang menjenguk Ibunya dengan segala kesedihannya bersama Samudra yang selalu ada di sampingnya tanpa rasa lelah.
Rangkulan tangan suami, memang sangatlah dahsyat. Seakan-akan Samudra sedang mentransfer semua sumber kekuatannya untuk sang istri, agar dia bisa lebih kuat lagi menghadapi semua ujian ini.
Sesampainya mereka berdua di depan bangkar Ibu Dara, Bulan langsung memeluknya perlahan menempelkan kepalanya di dada Ibu Dara sesekali Bulan mencium keningnya.
__ADS_1
Air mata Bulan, sudah tidak terbendung lagi ketika melihat keadaan Ibu Dara yang kepalanya terbalut kain kasa, mata tertutup, wajah pucat dan beberapa alat medis terpasang rapi di tubuhnya. Seolah-olah, hidup Ibu Dara hanya tergantung dengan semua alat medis tersebut.
"Bu, Ibu harus kuat ya. Ibu enggak boleh tidur terus, Bulan mohon Ibu harus bangun. Ibu enggak pengenkah, liat Raka cucu kesayangan Ibu tumbuh menjadi pria dewasa, pria yang sangat tampan dan juga sukses, hem?"
"Apa Ibu lupa, Raka pernah bilang. Kalau dia sudah kerja nanti, dia akan membawa kita ke tanah Suci. Apakah Ibu tega, mematahkan impian cucu Ibu sendiri? Pasti hati cucu Ibu akan hancur, ketika melihat Neneknya seperti ini hiks ...."
"Jika Ibu pergi, terus siapa yang nanti akan menasihatiku, Bu? Ibu tahu bukan, bagaimana keras kepalanya putri kecil Ibu ini? Terus nanti siapa yang menggantikan Ibu?"
"Lihatlah menantu Ibu, dia tidak sedikit pun marah padaku jika aku salah. Dia selalu menasihatiku dengan penuturan kata yang lembut, berbeda dengan Ibu. Terus jika suamiku yang menasihatiku, apakah aku bisa senurut itu, seperti aku nurut pada Ibu?"
"Terus bagaimana cucu Ibu, kalau Bulan kerja siapa yang akan merawatnya nanti Bu? Ibu tahu 'kan, Bulan sedang berusaha membahagiakan Raka dan juga kalian. Tapi, kenapa Ibu begini. Bulan tidak kuat, Bu. Bulan tidak tega harus menyaksikan Ibu hidup tergantung dengan semua benda ini!"
"Bulan tidak mau, Ibu pergi. Bulan mohon sama Ibu, please bangun Bu. Bangun, hiks ... Bulan takut Bu, Bulan takut jika tidak ada Ibu, Bulan bingung harus sama siapa lagi. Keluarga yang Bulan punya hanya Ibu, Mas Sam dan Raka. Jika Ibu pergi, terus siapa yang nasihatiku kalau aku lagi bertengkar sama Mas Sam. Siapa, Bu. Siapa! Hiks ...."
Bulan menangis sesegukan sambil memeluk Ibunya dengan sangat erat. Rasanya Bulan tidak tega jika dia harus kehilangan orang yang dia sayangi sejak kecil.
Namun, siapa sangka. Samudra hanya terdiam mengelus punggung istrinya sambil menyaksikan Bulan mengungkapkan isi hatinya kepada Ibunya sendiri.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Samudra langsung mengambil alih Bulan dan memeluknya begitu erat sambil mencium keningnya.
...***Bersambung***...