
"Yeeyy, Bunda cudah puyang. Hole, Laka bica main cama Bunda hehe ...." sorak Raka penuh kegirangan.
"Uhh anak Bunda sayang." sahut Bulan yang langsung merentangkan tangannya, menerima tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Betapa bahagianya Raka saat Bundanya sudah pulang, mereka saling berpelukan dan mencium pipi satu sama lain. Sampai akhirnya Raka mengajak Bulan untuk mainan bersama, terlihat jelas ketika pertama kali Bulan meninggalkan Raka. Dia benar-benar seperti merindukannya, padahal dia hanya pergi sebentar. Apa lagi jika bekerja setiap hari? Apakah Raka sanggup dan tidak rewel ketika Bundanya pergi bekerja.
...*...
...*...
Malam hari Bulan memberitahu pada suaminya jika dia telah di terima bekerja di Perusahaan tersebut. Samudra hanya tersenyum dan bersyukur jika istrinya sudah di terima bekerja, sehingga dia bisa memulai langkah awalnya dengan tujuan menggapai keinginannya untuk membahagiakan anaknya.
"Alhamdulillah jika kamu sudah keterima kerja di Perusahaan itu, Mas hanya bisa mendoakan untuk kebaikan kita semua. Terutama kamu, supaya bisa selalu di berikan kelancaran rezekinya dan juga selalu di berikan kesehatan agar kelak keinginanmu segera terwujud. Aamin ya Allah."
Samudra tak lupa untuk selalu mendoakan istri serta keluarganya dengan setulus hati, agar kelak semua rezeki mereka bisa berlimpah untuk saling membahagiakan satu sama lain.
"Alhamdulillah, Mas. Terima kasih ya, Mas. Ini juga berkat doa darimu serta sikapmu yang mau sedikit mengalah demi mengizinkanku untuk bekerja. Pokoknya terima kasih, Mas. Insyaallah aku tidak akan mengecewakanmu, aku janji!"
"Sstt, yang penting sekarang kamu sudah bekerja. Mas hanya minta satu, jangan pernah lupakan tugasmu sebagai seorang Ibu. Setidaknya di dalam keadaan sesibuk apapun kamu dengan pekerjaan, harus tetap ingat kalau ada Raka, anak kita yang masih membutuhkan kasih sayang kita. Pahamkan?"
Bulan menganggukan kepalanya lalu memeluk suaminya cukup erat, rasanya Bulan benar-benar bahagia bisa memiliki suami yang sangat mengerti semua kemauannya.
Kemudian, mereka tertidur dan kembali terbangun untuk menunaikan ibadah shalat subuh. Setelah selesai shalat, Bulan segera bersiap-siap untuk berangkat kerja. Apa lagi, perjalanan dari rumah Bulan ke kantor membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam itu pun jika tidak terlalu macet.
Raka yang baru saja terbangun, langsung duduk dengan posisi mengucek kedua matanya. Cuman, saat melihat Bulan sudah rapi, membuat Raka menjadi bingung.
"Bu-bunda mau temana, tok agi-agi udah lapih?" tanya Raka dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Loh, Raka lupa ya. Sekarang 'kan, Bunda udah kerja sama kaya Ayah. Hanya saja Ayah kerjanya di sawah menanam padi, sedangkan Bunda di kantor. Jadi hari senin sampai hari jum'at Bunda kerja, bahkan mulai dari jam 6 lewat Bunda pun udah berangkat kerja." jawab Bulan, tersenyum.
"Hem, emangna Bunda tenapa itut-itut Ayah kelja. Bunda udah bocan main cama Laka di lumah? Atau Laka celing buat Bunda mayah teyus ya?"
Raka menatap wajah Bulan dengan tatapan sedikit berkaca-kaca. Sementara Bulan cuman tersenyum, lalu mencoba membuat putra kecilnya supaya mengerti.
"Sayang, dengerin Bunda ya. Mau Bunda kerja atau enggak, Bunda akan selalu nemenin Raka main kok. Pokoknya Raka harus ingat ya, sampai kapan pun Bunda enggak akan pernah bosen sama Raka, karena Raka itu segalanya buat Bunda dan Ayah. Jadi, Raka enggak boleh punya pikiran seperti itu lagi ya."
"Yang harus Raka tahu, kalau Bunda ini kerja supaya Bunda bisa membelikan Raka ayam biar nanti Raka bisa makan ayam goreng terus. Emangnya Raka enggak mau makan ayam goreng lagi, hem? 'Kan Raka udah lama enggak makan ayam goreng."
Dengan cepat dan penuh semangat, Raka langsung menggelengkan kepalanya. Lalu, dia berkata dengan lantangnya kalau Raka menginginkan semua itu, cuman terlihat terlintas sedikit keraguan diwajahnya.
"Ya, Laka mau aja makan ayam goyeng, Bunda. Cuman Laka ndak mau alo Bunda cama Ayah cedih, Laka ndak papah kok alo makan cama tahu acalkan Bunda cama Ayah ndak cedih teyus liat Laka."
Perkataan Raka mampu membuat hati Bundanya terkejut. Ternyata selama ini Bulan salah, banyak pria yang mengasuh anaknya sendiri dan malah dijadikannya sebuah mainan hanya demi menghibur dirinya.
Namun, kali ini berbeda. Samudra mengajari Raka tentang semuanya yang baik maupun yang salah, sehingga Raka bisa tumbuh menjadi anak yang jauh lebih mengerti tentang keadaan orang tuanya.
Bulan memeluk anaknya dan membawanya ke dalam gendongannya untuk beberapa menit sambil menciumnya. Kemudian Bulan menurunkannya dan segera berpamitan pada Ibunya.
"Bu, aku berangkat kerja dulu ya. Doakan aku semoga di hari pertama dan seterusnya aku bisa menjalani semua pekerjaanku dengan mudah." ucap Bulan sambil mencium tangan Ibunya.
"Pasti, Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu yang penting kamu harus semangat dan juga jangan lupa jaga diri baik-baik ya." sahut Ibu Dara sambil mengelus kepala anaknya dan tersenyum.
Bulan pun mengangguk dan ikut tersenyum. Setelah itu, dia kembali memeluk Raka, kemudian Bulan berjalan keluar rumah diantar oleh suaminya.
"Bunda, Laka itut!" rengek Raka, berlari dan langsung memeluk kaki Bulan dari belakang.
__ADS_1
"Ehhh, Raka. Ada apa, Sayang?" Bulan berbalik, lalu menatap anaknya yang saat ini sedang memeluk kakinya.
"Emangnya Raka enggak ngantuk? Ini masih pagi loh, nanti Raka capek gimana? Soalnya tempat kerja Bunda jauh banget." ucap Bulan, menatap anaknya.
"Ndak, Bunda. Laka mau itut, pokokna Laka itut hiks ...." Raka menangis sambil terus pelukan kaki Bulan.
"Emangnya Raka enggak ngantuk? Ini 'kan asih pagi loh, apa lagi tempat kerja Bunda jauh banget." ucap Bulan, sedikit mengkhawatirkan anaknya.
Tangis Raka malah bertambah kencang, lantaran dia ingin sekali ikut Ayahnya untuk mengantar Bundanya kerja. Dengan sedikit terpaksa, Samudra langsung menggendong anaknya dan berusaha untuk menenangkannya.
"Cup, cup, cup. Anak Ayah enggak boleh cengeng dong, 'kan Raka jagoan, anak yang pintar dan juga kuat. Jadi enggak boleh rewel ya!" titah Samudra, menghapus air mata sang anak.
"Hiks, a-api Laka mau itut Bunda, Ayah. Pokokna Laka mau ikut cetiap Ayah antelin Bunda kelja, bial Laka bica again Bunda uga. Alo anti ada yang natkal tan Laka bica noyongin Bunda, bial Bunda ndak di apa-apain. Boyeh ya Ayah, Laka janji ndak akalan natkal cius piss Ayah, Bunda ya ya ya ...."
Raka terus mengoceh dengan nada memohon, bahkan kedua tangannya pun melipat di dada untuk meyakinkan kedua orang tuanya.
Bulan yang melihat anaknya begitu gemoy, langsung menatap suaminya. Dimana mereka pun saling tatap menatap satu sama lain, sedangkan Raka tak henti-hentinya memasang wajah melas agar dia di perbolehkan oleh orang tuanya untuk ikut mereka setiap paginya
Dan benar saja, kedua orang tuanya pun tersenyum lalu mengizinkan Raka untuk ikut bersama Samudra mengantar Bulan.
"Ya udah Raka boleh ikut, tapi janji ya Raka enggak boleh marah kalau sewaktu-waktu misalkan nanti Ayah dan Bunda ninggalin Raka pas Raka masih tertidur. Cuman kalau Raka udah bangun lebih dulu, Ayah dan Bunda tidak masalah jika Raka mau ikut. Janji?" ucap Raka menatap anaknya.
"Oteh, Ayah. Laka janji, alo Laka mcih bobo Ayah cama Bunda boyeh pelgi duyuan. Uman alo Laka bangun duyuan, Raka itut ya!" ucap Raka diangguki oleh Samudra.
"Ayah sama Raka tunggu di depan dulu ya, Bunda mau ambil jaket Raka dulu biar enggak masuk angin."
Bulan pergi ke arah kamarnya, untuk mengambil jaket sang anak. Sementara Samudra tetap menggendong Raka, terus dia pun mulai berpamitan dengan Ibu mertuanya sambil menunggu Bulan.
__ADS_1
Sekembalinya Bulan, dia segera bergegas memakaikan Raka jaket dengan wajah Raka yang terlihat sangat bahagia. Setelah itu mereka pun menaiki motor sambil memberikan lambaikan tangan pada Ibu Dara.
...***Bersambung***...